Iago Verbal tiba di Citywon, ibu kota Cirland, dengan niat sederhana: mencari pekerjaan dan memulai hidup baru. Namun, kota megah yang awalnya menjanjikan ketenangan itu justru menyimpan bayang-bayang masa lalunya yang hilang.
Secara bertahap, kilasan ingatan yang terpecah-pecah kembali menghantuinya, diikuti kehadiran orang-orang misterius yang mengaku mengenalnya, termasuk putri kerajaan yang penuh curiga dan organisasi bawah tanah yang mengerikan.
Iago pun terseret dalam pusaran konspirasi dan kekerasan, memaksanya menyadari satu
kebenaran yang mengerikan: identitas aslinya bukanlah pemuda desa yang polos, dan kedatangannya ke kota ini mungkin bukanlah sebuah kebetulan, melainkan tahap terakhir dari rencana gelap yang bahkan ia sendiri sudah lupa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asap
Perlahan, api biru mulai menjalar dari tempat Draven berdiri, merambat di lantai batu, menjilat-jilat celah di antara ubin dengan suara desis yang nyaris tak terdengar. Otto mengepalkan gagang belatinya yang tersisa dengan erat, keringat dingin membasahi telapak tangannya. Tubuhnya sedikit menunduk, pusat gravitasi turun ke kaki, pandangannya terkunci pada Draven.
Api biru, ya? pikir Otto cepat, mengamati warna api itu, memperhatikan bagaimana cahayanya yang kebiruan memantul di dinding-dinding batu. Ia membandingkannya dengan ingatannya tentang api Stella saat ia berhadapan dengan Lavernus. Menarik.
Draven tidak memberi waktu lebih lama untuk berpikir.
Dengan kecepatan yang membuat udara bersiung, ia menarik pedang panjangnya dari tanah dengan gerakan yang cair lalu mengayunkannya ke arah Otto dalam satu busur lebar. Bukan tebasan biasa—karena di ujung ayunan itu, api biru yang sedari tadi menjalar di kakinya ikut terlontar ke depan, melesat membentuk gelombang panas yang mengejar Otto.
Otto melompat ke samping dengan refleks yang terlatih. Tubuhnya berputar di udara, menghindari hantaman langsung, namun tidak sepenuhnya sempurna. Ujung jubah cokelatnya yang longgar tersambar api biru itu, dan dalam sekejap, kain itu terbakar dengan rakus, apinya menjalar cepat ke atas.
Saat kakinya menapak tanah kembali, Otto refleks menunduk, tangannya yang gemetar menepuk-nepuk kain yang terbakar dengan panik namun terkendali. Api biru itu susah padam—lengket di jari, panasnya menusuk hingga ke tulang, dan terus menjalar meski sudah ditepuk berulang kali.
Dan Draven tidak tinggal diam.
BURR! BURR! BURRR!
Draven mulai melemparkan api birunya secara bertubi-tubi, tanpa jeda, tanpa ampun, dengan ritme yang semakin cepat. Setiap lemparan menciptakan gelombang panas yang menyebar ke segala arah, membakar lantai batu hingga retak-retak, membakar udara hingga bergetar, membakar apa pun yang tersentuh dalam radiusnya.
Dalam hitungan detik yang singkat, lapangan latihan yang tadinya luas dan dingin itu berubah menjadi lautan api biru yang menari-nari dengan ganasnya. Kabut asap kebiruan mulai menebal dengan cepat, memenuhi ruangan, mengaburkan pandangan hingga jarak satu lengan saja menjadi kabur.
Otto berlari. Ia berlari membentuk lingkaran tak beraturan, tubuhnya condong ke depan untuk mempertahankan keseimbangan di lantai yang mulai panas dan licin oleh abu. Kakinya berpijak di antara sela-sela api yang berkobar, mencari celah sekecil apa pun. Dan tanpa disadari oleh Draven yang sibuk menyerang, lingkaran yang ia tempuh semakin mengecil, semakin mendekat ke pusat badai, ke titik di mana Draven berdiri dengan percaya diri.
Draven menyadarinya ketika sudah terlambat.
Dengan satu lompatan yang nyaris seperti teleportasi, ia menghilang dari tempatnya berdiri dan muncul tepat di depan Otto, tepat di jalur lari yang sedang ia tempuh. Pedangnya sudah terayun tinggi di udara, siap membelah punggung lawan yang tak menyangka.
Namun Otto sudah mengantisipasi langkah itu sejak detik pertama. Ia meluncur rendah, menyusup di celah sempit antara kedua kaki Draven yang terbuka. Pedang Draven hanya membelah udara kosong dengan suara swoosh, ujungnya yang tajam menancap ke lantai batu dengan suara KRAAK! yang nyaring dan memekakkan, meninggalkan retakan panjang yang menganga di permukaan batu yang kokoh.
Otto berguling-guling di lantai yang panas, menyerap momentum jatuhnya dengan bahu dan punggungnya, lalu dalam satu gerakan terlatih ia sudah kembali dalam posisi berlutut, satu tangan menopang tubuhnya yang terhuyung. Napasnya terengah-engah, dada dan perutnya yang telanjang naik turun dengan cepat, penuh debu dan abu.
Pakaiannya—jubah cokelat, kemeja linen—sudah compang-camping, hangus di sana-sini, meninggalkan kulitnya yang pucat terbuka. Ia melihat ke lengannya: api biru masih menjalar di sana dengan rakus, membakar kulitnya yang mulai melepuh, meninggalkan bekas kehitaman yang mengerikan.
Dengan cepat, ia menepuk-nepuk lengannya dengan telapak tangan yang juga mulai melepuh. Rasa sakit menjalar dari ujung jari ke bahu, tapi ia tidak berteriak, tidak mengeluh. Hanya napasnya yang semakin berat.
Kecepatannya masih sama, pikir Otto sambil mengamati Draven yang dengan gerakan lambat namun penuh tenaga mencabut pedangnya dari lantai batu yang retak. Api birunya tidak meningkatkan kecepatan geraknya.
Draven berjalan mendekat dengan langkah yang terhuyung. Lalu—whoosh!—ia muncul lagi tepat di hadapan Otto dengan kecepatan yang masih mengesankan meski mulai menurun.
KLANG!
Otto menahan tebasan itu dengan belatinya yang tersisa, hanya dengan satu tangan. Api biru mulai menjalar dari pedang Draven ke belati Otto, merambat pelan, membakar gagang kayunya yang sudah mulai hangus, memanaskan logamnya hingga memerah.
"Cih..." Draven mendesis pelan, matanya menyipit namun senyum tipis masih bertahan di bibirnya. "Kenapa belatimu begitu kuat? Benda apa itu? Apa kau juga menggunakan sihir untuk memperkuatnya?"
"Tidak," jawab Otto. "Kecepatanmu sudah berkurang, Draven. Itu sebabnya belatiku tidak langsung hancur seperti yang pertama."
"Huh? Apa maksudmu?"
"Untuk menciptakan serangan yang kuat, kau harus menggabungkan kekuatan fisik dengan kecepatan maksimal. Seperti saat kau menyerangku di awal pertandingan dengan tinju." Otto menatapnya lekat-lekat dari balik topeng yang mulai retak parah. "Tapi sekarang kau terlalu fokus pada apimu. Kecepatanmu turun drastis."
Draven tertegun untuk beberapa detik yang terasa lama. Ia lupa bahwa mereka sedang bertarung, bahwa tangannya masih menekan pedang ke bawah, bahwa api biru masih berkobar di antara mereka.
Lalu, dengan gerakan tiba-tiba yang penuh amarah dan frustrasi, ia membuang ludah ke arah topeng kelinci Otto. Ludah itu mengalir pelan di permukaan topeng yang mulai retak, meninggalkan jejak basah di antara debu dan darah kering. Draven tertawa sinis.
"Kau tidak buruk, Steve." Suaranya rendah, hampir seperti bisikan. "Tapi jika kau terus meremehkanku seperti ini, aku tidak akan ragu lagi. Aku akan membunuhmu."
Api biru itu menjalar semakin cepat di sepanjang belati Otto. Kini kedua lengannya mulai terbakar—kemeja lengan panjang yang tersisa hangus dalam sekejap, kulitnya yang pucat melepuh dan memerah, asap tipis mengepul dari pori-porinya. Namun Otto tidak berteriak. Tidak mengeluh. Tidak merintih. Ia hanya terus menahan pedang Draven dengan belatinya.
Melihat itu, Draven tertawa lagi, lebih keras. "Sudahlah, menyerah saja. Kau sudah membuktikan kemampuanmu. Aku bahkan akan mengakuimu sebagai prajurit yang layak di sini. Kau tidak perlu sampai mati hanya untuk harga diri."
Otto terdiam. Tidak ada jawaban. Hanya napasnya yang berat dan matanya yang tetap waspada di balik topeng.
Namun, tak lama kemudian, Otto mulai mendorong maju.
Belatinya yang berkobar api biru bergerak perlahan, inci demi inci, mendesak pedang Draven mundur melawan kehendaknya. Draven mundur selangkah, kakinya tergeser di lantai yang licin oleh abu. Lalu selangkah lagi. Matanya melebar, alisnya terangkat tinggi hingga ke dahi, mulutnya menganga tanpa suara.
"S-sial..." gerutunya dengan suara serak. "Kau... kau benar-benar berniat bertarung sampai mati di sini?"
"Tidak." Otto menjawab singkat, dan dengan satu dorongan terakhir, ia melompat mundur dengan cepat, menciptakan jarak aman beberapa langkah.
Lengan dan jubahnya terus terbakar meski sudah terlepas dari sumber api. Api biru itu rakus, tak kenal ampun, terus menjalar. Para prajurit elit yang menonton dari pinggir lapangan tak bisa berhenti menganga. Mulut mereka terbuka lebar, mata mereka terlalu fokus.
Keringat membasahi seluruh tubuh Otto, membentuk aliran-aliran kecil yang mengalir di antara luka bakar dan memar di kulitnya. Ia melepaskan jubah cokelatnya yang masih digerogoti api dengan gerakan kasar, melemparkannya ke lantai batu yang panas.
Kain itu jatuh dengan suara plesek basah, api biru masih menjilatnya dengan rakus. Lalu ia merobek sisa-sisa kemejanya yang terbakar dengan kedua tangan, membuangnya juga ke samping. Kini dadanya terbuka lebar—tubuh yang sedikit kurus namun berotot, penuh dengan luka memar kebiruan di sana-sini, luka bakar yang masih mengeluarkan asap tipis dari kulit yang melepuh.
"Kenapa kau tak menyerangku lagi, Draven?" Otto bertanya dengan nada datar. Ia berpura-pura berpikir sejenak, mencondongkan kepalanya ke samping. "Oh, aku dengar... pengguna sihir katanya menggunakan energi tubuhnya sendiri saat mengeluarkan sihir. Semakin besar sihir yang dikeluarkan, semakin cepat energi fisik terkuras. Apa itu benar?"
Draven tidak menjawab. Ia hanya bisa berlutut dengan satu lutut di lantai yang panas, dadanya naik turun cepat, napasnya tersengal-sengal. Keringat membasahi seluruh wajahnya yang pucat, menetes dari ujung hidungnya, jatuh ke lantai batu. Api biru yang sedari tadi menyala di sekelilingnya masih berkobar, namun kini lebih redup, lebih tak terkendali, bergerak-gerak tak menentu.
Rahangnya mengeras, otot-otot di rahangnya menonjol. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia mengangkat kedua tangannya yang gemetar hebat dan melemparkan seluruh api yang tersisa di tubuhnya ke arah Otto dalam satu serangan terakhir yang putus asa.
BURR! BURR! BURRR! BURRRR!
Gelombang api biru menerjang, memenuhi seluruh ruangan dengan panas dan cahaya yang menyilaukan. Api menjalar dan berkobar ke mana-mana dengan keganasan yang tak terkendali. Asap yang kini menebal hingga menjadi kabut pekat mulai menutupi seluruh area pertarungan. Suara hantaman api terus-menerus terdengar—BURR! BURR! BURRR!
Para pelayan Gereja Cahaya yang kebetulan lewat di lorong-lorong atas mulai berdatangan, tertarik oleh suara gemuruh dan cahaya biru yang menembus dinding-dinding batu. Mereka berkerumun di pintu masuk ruang latihan, berdesakan satu sama lain, menyaksikan dengan mata terbelalak pertunjukan gratis yang tak pernah mereka duga akan mereka saksikan hari ini.
Dentuman api tak kunjung berhenti. Asap semakin pekat, semakin panas, semakin sulit untuk bernapas.
"Oi, Draven!" teriak Alex dari kejauhan, suaranya nyaris hilang ditelan gemuruh api yang terus bergemuruh. "Cukup, woi, cukup! Dia bisa mati!"
Semua prajurit elit mulai bersorak dan berteriak, meminta Draven menghentikan serangannya yang sudah di luar kendali. Namun Draven sudah kehabisan akal sehat. Api terus keluar dari kedua telapak tangannya yang terbuka.
Hanya Thorne yang diam di tempatnya berdiri. Matanya yang biasanya penuh canda dan kelakar kini fokus memperhatikan setiap detail dari pertarungan yang terjadi di depannya.
Daya tahan yang luar biasa, batin Thorne. Bahkan tanpa sihir, orang ini bisa mengimbangi Draven. Mungkin... bahkan bisa mengimbangi Lavernus.
Tak seorang pun di ruangan itu yang menyadari bahwa di lantai atas, di sebuah balkon kecil yang tersembunyi dengan rapi di balik tiang-tiang batu pualam yang menjulang, tiga orang sedang menonton dengan napas tertahan.
Stella. Lyrian. Orion.
Mata mereka melebar, pupil mereka mengecil. Mulut mereka menganga, tapi tak satu pun dari mereka bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
BURR! BURR! BURRR!
Suara api akhirnya mereda perlahan, berganti dengan desisan asap yang keluar dari sisa-sisa kobaran. Draven terengah-engah dengan dada yang naik turun cepat, lututnya hampir menyentuh lantai batu yang kini hangus dan retak-retak. Keringat mengucur deras dari seluruh pori-pori tubuhnya, membasahi pakaiannya hingga basah kuyup. Matanya terasa berat, penglihatannya mulai kabur.
Asap masih menebal di tengah ruangan. Tak ada yang bisa melihat apa pun di dalam sana.
"Apa... apa dia sudah mati?" gumam Draven pelan.
Hening.
Lalu...
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki. Cepat. Mendekat.
Mata Draven melebar seketika. Ia refleks memutar tubuhnya dengan gerakan yang tersentak dan mengangkat pedangnya yang masih tergenggam tepat pada waktunya.
KLANG!
Belati Otto yang retak bertemu dengan pedang Draven yang mulai goyah. Percikan api berhamburan dari benturan logam yang memekakkan telinga.
"Sial!" Draven menjerit. "Kau masih hidup?! Bagaimana mungkin?!"
Dengan cepat, tanpa memberi kesempatan untuk bernapas, Otto melompat mundur dan menghilang lagi ke dalam asap yang tebal.
Draven gemetar hebat di tempatnya. Matanya menoleh ke kiri dan kanan dengan panik, mencari-cari target yang tak pernah bisa ia tebak dari mana akan muncul. Pedangnya yang berat terayun-ayun tak menentu, mencari musuh yang tak terlihat, yang bergerak bebas di dalam kabut yang ia sendiri ciptakan.
Tap. Tap. Tap.
KLANG!
Serangan lagi. Dari belakang, dari arah yang tak terduga. Namun Draven berhasil menangkis dengan refleks terakhir yang tersisa, tapi Otto sudah menghilang lagi sebelum ia sempat membalas.
Tap. Tap. Tap.
KLANG!
Draven menangkis lagi, napasnya tersengal-sengal, otot-ototnya bergetar kelelahan. "Sial! Jangan bersembunyi melulu, pengecut! Lawan aku secara terbuka kalau kau berani!"
Tapi tiba-tiba, di tengah kepanikan yang memuncak, sesuatu menyadarkannya dengan keras.
Asap. Api birunya sendiri. Kabut yang ia ciptakan dengan tangannya sendiri. Dia sendiri yang menciptakan asap ini dengan sihirnya yang tak terkendali.
"Jangan-jangan..." gumam Draven pelan, matanya membelalak. "Dia memang sengaja... dia sengaja memancingku... supaya asap ini muncul..."
Tap. Tap. Tap.
"Sial..."
Draven berputar cepat dengan seluruh sisa tenaganya, siap menangkis serangan yang pasti datang dari depan, dari arah yang paling mungkin. Tapi kali ini, yang datang bukan tebasan belati yang ia duga.
Sebuah tendangan. Dari belakang, tepat di punggungnya yang terbuka.
BRUAK!
Tubuh Draven terhempas ke depan. Pedang panjangnya terlepas dari genggaman yang sudah tak bertenaga, jatuh berdebum keras di lantai batu dengan suara logam yang menggema. Ia terkapar di tanah, tak bisa bergerak, hanya bisa menahan tubuhnya yang gemetar dengan kedua siku yang mulai lemas, nyaris tak mampu menopang beratnya sendiri.
"A-apa...?" bisiknya dengan suara serak.
Sementara itu, di luar gumpalan asap yang mulai menipis, para pelayan Gereja, prajurit elit, dan dua penasihat serta seorang putri masih menunggu dengan napas yang tertahan.
"Itu... pertempuran?" tanya Stella pada Lyrian di sampingnya.
Lyrian tidak segera menjawab. Matanya tetap terpaku pada gumpalan asap biru yang mulai memudar di bawah. "Entahlah, Tuan Putri. Mereka seharusnya hanya latihan ringan, bukan pertempuran hidup dan mati."
Perlahan, asap mulai memudar, terbawa oleh udara yang masuk dari celah-celah dinding.
Dan semua yang menonton membeku di tempat.
Di tengah lingkaran api yang mulai redup dan padam, berdiri Otto dengan tegap—tanpa baju, hanya bercelana panjang yang sudah compang-camping dan hangus di beberapa bagian.
Tubuhnya yang sedikit kurus namun berotot dipenuhi oleh debu, abu, luka bengkak yang membiru, dan luka bakar yang masih mengeluarkan asap tipis dari kulit yang melepuh. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, membuat kulitnya yang pucat berkilau di bawah cahaya api yang tersisa.
Di hadapannya, terkapar Draven dengan tubuh yang tak berdaya, napasnya tersengal-sengal, matanya setengah tertutup oleh kelelahan yang luar biasa.
Otto mengacungkan belatinya ke arah Draven yang hanya bisa menahan tubuhnya dengan kedua siku yang gemetar.
Napas mereka berdua terengah-engah, memenuhi keheningan yang tiba-tiba terasa begitu berat, begitu mencekam. Dan Otto, dengan santai, tetap berdiri di sana, belati teracung, menatap lawannya itu dengan tatapan yang datar.
Di balkon atas, Stella mencondongkan tubuhnya ke depan tanpa sadar, hampir jatuh dari pagar batu. Matanya melebar lebar, mulutnya terbuka.
"Steve..." gumamnya pelan. "Apa yang... apa yang kau lakukan di sana?"
Para prajurit elit di bawah tak berkedip. Mulut mereka terus terbuka, tak mampu berkata apa-apa, hanya bisa menyaksikan dengan mata terbelalak.
Namun di tengah keheningan yang mencengkeram itu, dua orang justru bereaksi dengan cara yang berbeda.
Lyrian tersenyum tipis di balkon atas. Thorne tertawa terbahak-bahak di pinggir lapangan, bertepuk tangan dengan keras dan berirama, memecah keheningan yang mulai terasa seperti kuburan.
Otto, dengan gerakan yang lambat, melepaskan topeng kelincinya yang sudah kotor, retak, dan nyaris hancur.
Rambut peraknya yang panjang tergerai keluar, jatuh lembut membingkai wajahnya yang pucat dan berlumuran keringat dan darah. Ia menatap Draven yang terkapar di depannya dengan mata yang terasa sangat lelah namun ekspresinya datar.
Ia lalu mengangkat kepalanya perlahan, menatap sekeliling ruangan yang penuh dengan orang. Semua mata tertuju padanya—para pelayan, para prajurit elit.
Dan saat pandangannya yang lelah bertemu dengan balkon di atas, matanya sedikit melebar untuk sesaat, sebelum kembali datar seperti sebelumnya.
Putri Stella? batinnya. Apa yang dia lakukan di sini?
Namun ia segera mengalihkan pandangannya kembali ke Draven yang masih terkapar di depannya. Tubuh Draven gemetar hebat di lantai yang dingin. Mulutnya berulang kali terbuka dan tertutup.
Otto menatapnya. Lalu, dengan suara datar, ia berkata, "Sepertinya aku jadi terkenal." Ia kemudian mengamati belatinya yang mulai retak dan nyaris hancur di tangannya. "Cih. Menyebalkan."
tapi karena di pf ini didominasi sama novel kultivasi atau fantim, novel ini jadi sepi. sayang sekali, padahal novel ini punya potensi besar.
novel ini saya kasih rating 9/10 lah. paling masalahnya itu pacing di 5 bab pertama. itu cukup lambat dan mungkin para pembaca ada yang langsung gak betah dan kabur.
tapi percayalah, kalau kalian sanggup membaca 5 bab pertama, kalian pasti akan ketagihan.