Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(REVISI) BAB 12
Musim hujan belum benar-benar pergi dari Seoul.
Langit pagi menggantung rendah dengan warna kelabu yang terasa berat, seolah menahan sesuatu yang belum jatuh sepenuhnya. Jalanan masih basah oleh hujan semalam, dan genangan kecil memantulkan bayangan gedung-gedung tinggi yang berdiri diam tanpa ekspresi.
Kim Ae Ra melangkah cepat melewati trotoar yang licin, payung hitamnya sedikit miring tertiup angin. Ujung rok kerjanya terkena cipratan air dari kendaraan yang melintas, namun ia tidak memperlambat langkah. Sepatunya berderap ringan, teratur, seirama dengan napasnya yang stabil.
Ia sudah terbiasa.
Tanpa benar-benar menyadarinya, rutinitas baru telah membentuk dirinya datang lebih awal, memastikan semuanya siap sebelum orang lain bahkan sempat mengeluh tentang hari yang baru dimulai.
Begitu memasuki lobi Aegis Corp, hangatnya udara dalam ruangan langsung menyambutnya. Ia menutup payung, merapikannya dengan gerakan rapi, lalu berjalan menuju lift dengan langkah pasti.
Beberapa staf yang baru datang menyapanya.
“Pagi, Ae Ra.”
“Pagi.”
Senyumnya ringan, profesional, namun tidak dingin. Ia sudah mulai dikenal sebagai seseorang yang bisa diandalkan, tenang, cepat, dan tidak banyak bicara.
Lift terbuka. Ia masuk.
Dan ketika pintu tertutup, untuk sesaat, dunia terasa sunyi.
Saat sampai di lantai atas, Ae Ra langsung menuju mejanya. Ia meletakkan tas, menyalakan tablet, lalu membuka agenda harian yang sudah ia susun malam sebelumnya.
Jari-jarinya berhenti. Ia menatap layar beberapa detik lebih lama dari biasanya. Hari itu terasa… tenang. Tidak ada perubahan mendadak. Tidak ada pesan darurat. Tidak ada jadwal tambahan yang tiba-tiba muncul seperti hari-hari sebelumnya. Semuanya… rapi.
Ae Ra menghela napas pelan. Dan entah kenapa, justru itu membuatnya sedikit waspada. Karena dari pengalaman yang tidak banyak, tapi cukup untuk membuatnya belajar ketenangan seperti ini biasanya tidak bertahan lama.
*Beep.*
Suara interkom memecah pikirannya.
“Masuk.”
Ae Ra segera berdiri. Ia mengambil tablet, merapikan blazer-nya sekilas, lalu berjalan menuju ruang CEO dengan langkah yang terukur.
Ia mengetuk dua kali sebelum membuka pintu.
Hyun Jae Hyuk sudah berada di sana.
Seperti beberapa hari terakhir, ia belum mengenakan jasnya. Hanya kemeja putih dengan lengan tergulung hingga siku, memperlihatkan garis lengan yang tegas namun tidak berlebihan. Ia berdiri di dekat meja, membaca laporan dengan ekspresi datar yang sulit ditebak.
Ae Ra masuk dan berdiri di posisi biasa.
“Ada perubahan jadwal?” tanyanya langsung.
Jae Hyuk tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan satu halaman laporan, menutupnya perlahan, baru kemudian mengangkat pandangan.
“Ada.”
Ae Ra bersiap mencatat.
“Kita makan siang dengan tim legal.”
“Jam berapa?”
“Dua belas lewat tiga puluh. Ruang rapat utama.”
Ae Ra mengangguk kecil, jari-jarinya bergerak cepat di atas tablet. Namun sebelum ia berbalik keluar, suara Jae Hyuk menghentikannya.
“Kau terlihat lelah.”
Ae Ra sedikit terdiam. Kalimat itu sederhana. Nada suaranya pun datar. Tapi entah kenapa… terasa berbeda. Ia menoleh, lalu tersenyum kecil.
“Saya baik-baik saja.” Jawabannya otomatis. Jawaban yang selalu ia gunakan.
Namun saat ia keluar dari ruangan itu, langkahnya sedikit melambat. Ia tidak sadar sejak kapan pria itu mulai memperhatikan hal-hal sekecil itu. Dan lebih dari itu ia tidak yakin bagaimana harus menanggapi perhatian semacam itu.
Menjelang siang, kantor kembali dipenuhi aktivitas.
Suara langkah kaki, percakapan singkat, dan bunyi ketukan keyboard membentuk ritme yang hidup. Beberapa staf berjalan cepat membawa dokumen, sebagian lain berdiskusi dengan nada yang sedikit lebih serius dari biasanya.
Nama “Haesung” semakin sering terdengar.
Ae Ra mendengarnya di lorong, di pantry, bahkan di ruang rapat kecil yang pintunya tidak tertutup rapat. Ia belum memahami seluruh gambaran konflik itu. Namun dari potongan-potongan percakapan yang ia tangkap ini bukan sekadar persaingan biasa. Ada sesuatu yang lebih besar. Lebih tajam. Lebih… berbahaya.
Saat makan siang bisnis dimulai, Ae Ra duduk sedikit menjauh dari meja utama, seperti biasa. Ia membuka tablet, siap mencatat setiap poin penting tanpa mengganggu jalannya diskusi.
Seorang pengacara perusahaan berbicara dengan nada serius.
“Jika Haesung terus menekan harga pasar seperti ini, mereka jelas mengincar dominasi cepat. Ini bukan strategi jangka panjang biasa.”
Beberapa orang mengangguk. Suasana meja menjadi sedikit tegang. Lalu Jae Hyuk berbicara.
“Mereka boleh mencoba.” Nada suaranya tidak tinggi. Tidak ada tekanan berlebihan. Namun cukup untuk membuat seluruh ruangan menjadi sunyi.
Ae Ra mengangkat pandangan, memperhatikannya diam-diam.
Pria itu duduk dengan tenang, punggung tegak, ekspresi tetap datar. Tidak ada tanda kekhawatiran. Tidak ada emosi yang bocor. Dan justru itu yang membuatnya terlihat paling berbahaya.
Ae Ra mulai mengerti sesuatu. Di balik sikap dingin dan jaraknya, Hyun Jae Hyuk adalah tipe orang yang tetap tenang bahkan saat semua orang lain mulai goyah.
Dan mungkin… justru karena itulah ia berada di posisi itu sekarang.
Sore datang lebih cepat dari yang ia sadari.
Langit semakin gelap, hujan kembali turun lebih deras, menghantam kaca jendela dengan suara ritmis yang terus berulang. Ae Ra sedang merapikan dokumen ketika lampu kantor tiba-tiba meredup selama beberapa detik. Ia terkejut kecil. Refleks. Sangat singkat. Namun cukup jelas.
Kilatan petir menyusul, membelah langit dengan cahaya putih yang tajam. Dan tanpa ia sadari tubuhnya sedikit menegang.
Pintu ruang CEO terbuka.
Jae Hyuk keluar, langkahnya terhenti ketika melihat Ae Ra masih berdiri di tempatnya.
“Kau takut petir?" Pertanyaan itu datang begitu saja.
“…Tidak,” jawab Ae Ra cepat. Seolah ingin menutup sesuatu.
Namun kilatan berikutnya datang lagi. Dan kali ini, reaksinya tidak bisa sepenuhnya disembunyikan.
Jae Hyuk menatapnya beberapa detik. Tidak mengatakan apa-apa. Tidak mendesak. Hanya… melihat.
“Kau boleh pulang lebih awal hari ini.”
Ae Ra langsung menggeleng. “Pekerjaan belum selesai.” Nada suaranya tenang, tapi tegas.
Hening sesaat, Jae Hyuk menghela napas tipis. “Keras kepala.” Kali ini, Ae Ra hampir tertawa.
Namun ia menahannya, hanya membalas dengan senyum kecil sebelum kembali fokus pada dokumennya.
Malam datang bersama hujan yang belum juga reda. Dan seperti hari-hari sebelumnya langkah Ae Ra membawanya ke tempat yang sama. Toserba kecil dengan lampu neon hangat di sudut jalan itu kini terasa seperti bagian dari hidupnya yang tidak bisa dilepaskan begitu saja.
Begitu pintu terbuka—
*Klining…*
“Ae Ra!”
Bo Ram muncul hampir seketika, membawa sebungkus snack di tangannya.
“Kau datang tepat waktu, aku bosan sekali!”
Ae Ra tertawa ringan. “Bukannya selalu ramai?”
“Ramai iya, tapi pelanggan hari ini aneh-aneh semua,” keluh Bo Ram, dramatis.
Dari belakang kasir, Seo Jun mengangkat pandangan. Ia tidak langsung bicara. Hanya menatap Ae Ra beberapa detik, memastikan sesuatu. Lalu berkata pelan,
“Hujan makin deras.” Ia mengambil handuk kecil dan menyerahkannya. Gerakannya sederhana. Alami. Seolah sudah dilakukan berkali-kali.
Ae Ra menerimanya, sedikit terdiam. “Terima kasih… kau selalu siap ya.”
Seo Jun mengangkat bahu ringan. “Sudah kebiasaan.” Jawaban itu singkat.
Namun entah kenapa, terasa tulus. Mereka berbicara santai seperti biasa. Bo Ram mengeluh panjang lebar tentang pelanggan cerewet, Ae Ra menanggapi dengan sesekali tertawa, dan Seo Jun sesekali menyelipkan komentar pendek yang justru membuat suasana terasa lebih hidup.
Untuk beberapa menit dunia terasa sederhana lagi. Tidak ada rapat. Tidak ada tekanan. Tidak ada Haesung. Hanya percakapan ringan, lampu hangat, dan suara hujan di luar. Namun di luar toko seseorang berdiri di bawah payung hitam.
Kali ini bukan dari dalam mobil. Hyun Jae Hyuk berdiri di seberang jalan, diam, tanpa benar-benar mendekat. Ia sendiri tidak yakin kenapa ia turun. Mungkin hanya kebetulan. Mungkin hanya… ingin memastikan sesuatu.
Hujan membasahi ujung sepatunya. Namun ia tidak bergerak. Dari balik kaca, ia melihat Ae Ra. Tertawa. Senyumnya berbeda. Lebih lepas. Lebih… hidup. Tidak seperti yang ia lihat setiap hari di kantor. Tidak terukur. Tidak tertahan. Dan entah kenapa— itu membuat sesuatu terasa mengganjal di dalam dirinya.
Perasaan yang asing. Tidak nyaman. Tidak bisa dijelaskan. Ia menatap beberapa detik lebih lama. Lalu akhirnya berbalik. Tanpa masuk, tanpa suara. Seolah kehadirannya tidak pernah ada.
Di dalam toko, Seo Jun tiba-tiba menoleh ke arah pintu. Alisnya sedikit berkerut. Seperti merasakan sesuatu. Seseorang.
Namun ketika pintu dibuka, hanya suara hujan yang masuk. Tidak ada siapa pun. Ia kembali ke posisinya
Namun pikirannya tidak lagi sepenuhnya tenang. Ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang tidak terlihat namun terasa. Dan tanpa disadari siapa pun… batas antara dunia Ae Ra di kantor dan dunia kecilnya di sini perlahan mulai menghilang.
Garis yang dulu jelas kini mulai kabur. Dan di titik itu, tiga orang yang berbeda, dengan kehidupan yang seharusnya tidak bersinggungan, perlahan berjalan menuju garis yang sama.