NovelToon NovelToon
Ratu Yang Memilih Takdirnya

Ratu Yang Memilih Takdirnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cintapertama
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Langit sore menggantung kelabu ketika bel pulang berbunyi. Arcelia berjalan lebih lambat dari biasanya. Tasnya terasa lebih berat, atau mungkin pikirannya yang terlalu penuh.

Sepuluh menit yang hilang itu terus berputar di kepalanya. Ia yakin bukan halusinasi.

Tanah yang retak.

Gerbang batu.

Sosok berjubah itu.

Semua terasa terlalu nyata untuk disebut mimpi.

“Lia.”

Suara itu membuat langkahnya terhenti.

Kaelion berdiri tak jauh dari gerbang sekolah. Jasnya dilepas, hanya kemeja hitam yang ia kenakan. Tangannya dimasukkan ke saku, tapi sorot matanya serius.

“Kaelion?” Arcelia terkejut. “Kamu ngapain di sini?”

“Aku bisa tanya hal yang sama. Kamu kenapa pucat?”

Arcelia menoleh ke arah lain.

“Aku cuma capek.”

“Jangan bohong.”

Nada suaranya rendah. Bukan marah. Tapi tegas.

Arcelia terdiam.

Ia ingin mengatakan semuanya. Tapi bagaimana kalau itu terdengar gila?

Kaelion melangkah mendekat.

“Kamu kehilangan waktu sepuluh menit.”

Arcelia membeku.

“K-kamu tahu?”

“Aku menunggumu di luar. Kamu berdiri di lapangan. Diam. Seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang tidak ada.”

Jantung Arcelia berdetak lebih cepat.

“Kamu… lihat apa, atau bagaimana?”

“Tidak.” Kaelion menatapnya dalam. “Tapi aku bisa merasakannya.”

Angin sore berhembus pelan di antara mereka. Untuk pertama kalinya, Arcelia merasa tidak sendirian.

Ia menarik napas panjang.

“Aku lihat gerbang, batu besar, dan ada seseorang di depannya.”

Tatapan Kaelion berubah.

“Simbol lingkaran?” tanyanya pelan.

Arcelia mengangguk pelan.

Kaelion menutup matanya sejenak. Seolah memastikan sesuatu yang sejak lama ia takutkan.

“Aku harus bilang sesuatu padamu.”

Arcelia menegang.

“Tapi kamu harus janji, setelah ini kamu tidak panik.”

“Aku sudah melewati tahap panik,” jawab Arcelia lelah.

Mereka berjalan menjauh dari gerbang sekolah, menuju taman kecil yang lebih sepi.

Kaelion berhenti di bawah pohon rindang.

“Simbol itu bukan sekadar gambar,” katanya pelan. “Itu lambang perjanjian lama.”

“Perjanjian apa?”

“Antara keluargamu… dan sesuatu yang tidak pernah benar-benar pergi.”

Arcelia menatapnya tak percaya.

“Kedengarannya seperti dongeng.”

“Semoga memang cuma dongeng.”

Hening.

“Ulang tahun Elvarin yang ke-13 kemarin itu,” lanjut Kaelion. “Itu bukan angka biasa.”

Arcelia langsung teringat kata-kata di mimpinya.

Waktu semakin tipis.

“Gerbang akan terbuka,” bisiknya.

Kaelion menatapnya tajam.

“Kamu juga dengar itu?”

Arcelia tidak menjawab.

Ia hanya mengangkat rambutnya perlahan. Dan memperlihatkan simbol di belakang lehernya.

Kaelion membeku.

Simbol itu berpendar samar.

Bukan tinta.

Bukan bayangan.

Itu hidup.

Kaelion mengangkat tangan seolah ingin menyentuhnya, tapi berhenti sebelum jarinya benar-benar menyentuh kulit Arcelia.

“Sejak kapan?”

“Semalam.”

Napas Kaelion terasa berat.

“Aku tidak mau kamu sendirian mulai sekarang.”

“Kamu pikir ini bisa dihentikan?”

“Tidak.” Kaelion jujur. “Tapi bisa dihadapi.”

Arcelia tersenyum tipis. “Dan kamu yakin kita tahu apa yang sedang kita hadapi?” tanyanya

Kaelion tidak langsung menjawab.

Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu mereka hanya melihat permukaan.

Di kantor Papa Alveron,

Ruang rapat terasa lebih panas dari biasanya.

Salah satu direktur senior meletakkan berkas dengan wajah tegang.

“Saham kita turun drastis sejak pagi.”

Papa Alveron tetap tenang.

“Alasannya?”

“Ada isu kebocoran data. Dan investor asing mulai menarik diri.”

Papa Alveron menatap layar proyektor.

Grafik merah.

Turun tajam.

Tidak masuk akal

Seolah ada yang sengaja menggerakkannya.

“Selidiki sumber isu itu,” katanya tegas.

Namun saat ia berdiri, lampu ruangan berkedip sebentar. Hanya sepersekian detik. Tapi cukup membuatnya teringat pada masa lalu.

Simbol itu.

Perjanjian itu.

Apakah semuanya… benar-benar mulai bersamaan?

Sore semakin gelap,

Di taman kecil,

Arcelia memejamkan mata. “Kalau ini tentang keluargaku… kenapa aku?”

Kaelion menatapnya lama. “Karena kamu mungkin bukan hanya bagian dari perjanjian.”

“Apa maksudmu?”

“Kamu mungkin kuncinya.”

Kata itu membuat udara terasa lebih dingin.

Tiba-tiba—

Tanah di bawah kaki mereka bergetar ringan. Arcelia membuka mata. Daun-daun di pohon bergetar tanpa angin. Dan di udara, samar-samar, terbentuk lingkaran cahaya tipis.

Hanya sepersekian detik.

Lalu hilang.

Kaelion menggenggam pergelangan tangan Arcelia secara refleks.

“Kita tidak punya banyak waktu.”

Arcelia menatapnya. “Untuk apa?”

Kaelion menelan napas. “Untuk mencari tahu bagaimana cara menutup gerbang sebelum ia benar-benar terbuka.”

Dan jauh di tempat yang tidak mereka lihat, sosok berjubah itu tersenyum tipis.

Karena gerbang itu… Tidak pernah menunggu untuk dibuka. Ia hanya menunggu untuk diingat.

Taman kembali sunyi.

Seolah getaran barusan hanya ilusi.

Tapi genggaman Kaelion pada pergelangan tangan Arcelia belum terlepas. Ia baru menyadarinya beberapa detik kemudian, lalu perlahan melepaskan.

“Maaf.”

Arcelia menggeleng pelan.

“Tidak apa-apa.”

Namun jantungnya belum tenang.

“Kamu bilang gerbang itu harus ditutup sebelum terbuka,” Arcelia menatapnya serius. “Bagaimana kalau sebenarnya gerbang itu sudah terbuka… sedikit demi sedikit?”

Pertanyaan itu membuat Kaelion terdiam.

Karena jauh di dalam dirinya, ia memikirkan hal yang sama.

Angin sore berhembus lagi.

Tapi kali ini lebih dingin.

Arcelia memeluk dirinya sendiri.

“Ada sesuatu yang berbeda sejak tadi siang,” katanya pelan. “Bukan cuma bayangan itu. Rasanya seperti… aku bisa mendengar sesuatu.”

“Mendengar apa?”

“Seperti suara jauh. Banyak suara. Tapi bukan manusia.”

Kaelion menegang.

“Suara dari mana?”

“Seperti… dari dalam tanah.”

Hening.

Daun-daun di atas kepala mereka bergetar pelan. Arcelia tiba-tiba memejamkan mata.

Tanpasadar

Dan saat ia membukanya, pandangan di depannya berubah. Taman itu tetap ada. Tapi retakan-retakan samar terlihat di tanah.

Tipis.

Seperti garis cahaya merah di antara rumput.

Arcelia terhuyung satu langkah.

“Lia?”

Kaelion tidak melihat apa-apa.

“Ada retakan…” bisiknya.

“Apa?”

“Tepat di bawah kita.”

Kaelion melihat ke bawah.

Tanah biasa.

Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Arcelia berlutut. Tangannya menyentuh tanah. Dan untuk sepersekian detik, Lingkaran cahaya terbentuk di bawah telapak tangannya. Tanah bergetar lebih kuat.

Kaelion langsung menariknya menjauh.

“Lia, hentikan!”

Arcelia terengah.

Lingkaran itu hilang. Retakan itu juga menghilang. Semua kembali normal.

Beberapa siswa yang masih lewat menoleh heran.

“Kamu barusan…” Kaelion menatapnya dengan campuran cemas dan kagum.

“Aku tidak sengaja,” Arcelia berbisik. “Aku cuma… merasa marah.”

“Marah?”

“Aku tidak suka dikendalikan. Tidak suka ada yang berbisik di kepalaku.”

Kaelion menatapnya lama.

Itu bukan hanya ketakutan.

Itu reaksi.

Respon alami terhadap sesuatu yang mencoba masuk.

“Kalau ini tentang perjanjian lama,” kata Arcelia pelan, “kenapa Papa tidak pernah cerita?”

Kaelion terdiam.

Karena ia tahu jawabannya.

“Karena mungkin dia pikir dengan diam… semuanya akan tetap terkubur.”

Di rumah Virellia,

Papa Alveron berdiri sendirian di ruang kerjanya malam itu. Lampu meja menyala redup.nDi depannya, kotak kayu hitam terbuka. Liontin perak itu tergeletak di atas meja. Simbol lingkaran terukir jelas. Tangannya menyentuhnya pelan. Sudah 20 tahun. Sejak perjanjian itu diwariskan padanya.

Ia mengira semua sudah berakhir saat istrinya memilih untuk menjauh dari bagian kelam sejarah keluarga mereka.

Ia mengira anak-anaknya aman. Tapi pagi tadi, saat ia melihat wajah Arcelia, ia merasakan sesuatu. Getaran yang sama seperti dulu.

Tiba-tiba ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor anonim.

“Kau tidak bisa mengingkari darahnya, Alveron.”

Rahangnya mengeras.

“Gerbang akan memilih generasi berikutnya.”

Papa Alveron berdiri. Siapa pun ini, bukan sekadar pengirim pesan. Mereka tahu masalah ini, tapi terlalu banyak itu juga berbahaya

Ia menatap foto keluarganya di meja. Senyum Arcelia. Tawa Elvarin. Tatapan hangat istrinya.

“Aku tidak akan biarkan kalian menyentuh mereka,” gumamnya pelan.

Kembali ke taman,

Langit sudah hampir gelap. Kaelion berjalan berdampingan dengan Arcelia menuju mobil.

“Kita perlu cari tahu lebih banyak,” katanya.

“Dari mana?”

“Ada seseorang.”

Arcelia menoleh.

“Seseorang?”

“Orang yang dulu meneliti simbol itu. Dia menghilang bertahun-tahun lalu. Tapi aku punya alamat lamanya.”

“Kita mau ke sana?”

“Tidak sekarang.” Kaelion membuka pintu mobil untuknya. “Tapi, disaat keadaan sedikit lebih baik dulu ya… kita harus tahu kebenarannya.”

Arcelia masuk ke mobil, tapi sebelum pintu tertutup, ia merasakan sesuatu lagi.

Suara itu.

Lebih jelas.

Lebih dekat.

Bukan kau yang membuka. Kau yang dipanggil.

Papa Arcelia memejamkan mata sebentar. Lalu membuka kembali. Wajahnya berubah. Tidak lagi hanya takut. Ada tekad di sana.

“Kalau mereka pikir aku cuma kunci…” katanya pelan, hampir tak terdengar, “mereka salah.”

Kaelion menatapnya sekilas sebelum menyalakan mesin.

“Kenapa?”

Arcelia menatap lurus ke depan.

“Karena aku bukan pintu.”

Ia mengangkat tangan perlahan. Dan untuk sepersekian detik, simbol di belakang lehernya menyala lebih terang dari sebelumnya.

“Aku mungkin… penjaganya.”

Mobil melaju meninggalkan sekolah. Dan jauh di bawah tanah kota itu, retakan pertama terbentuk.

Tipis

Nyaris tak terlihat

Tapi nyata.

1
Anaya Barnes
siap kaka
makasih udah mampir🙏
mfi Pebrian
aku dah mampir yah.....cerita nya bagus.....tetap semangat.
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....
Raine
jujur ceritanya bagus, tapi sedikit bosan untuk saya, narasi author di setiap bab selalu mengulang kalimat dengan arti yg sama, kayak udah baca tadi trus di baca ulang lagi dan lagi
mfi Pebrian: mampir kak di novel saya"Dialah sang pewaris"
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!