NovelToon NovelToon
Subosito

Subosito

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: eko yepe

Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.

Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.

Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka

Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.

Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?

Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Naga dan Rembulan

Gema sorak-sorai penonton yang tadinya membahana saat kemenangan Subosito tiba-tiba luruh, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.

Angin yang berembus di Alun-Alun Utama Trowulan terasa berubah tajam, membawa kristal-kristal hawa dingin yang menusuk tulang.

Di tengah arena yang dibenahi ulang akibat pertarungan sebelumnya, dua sosok berdiri berhadapan, menciptakan kontras yang mengerikan bagi siapa pun yang memandangnya.

Kala Dirja, Sang Kesatria Naga Sisik Perak, melangkah maju. Setiap pijakannya di pasir arena meninggalkan jejak embun beku yang memutih.

Zirah peraknya memantulkan cahaya matahari dengan kemilau yang angkuh, seolah-olah dia adalah peralihan dari logam dingin yang tak tersentuh emosi.

Di seberangnya, Larasati berdiri tegak. Pakaian putihnya berkibar pelan, tongkat cendananya tertanam di pasir, dan wajahnya menunjukkan ketenangan air telaga yang dalam.

Subosito, yang kini duduk di tribun peserta dengan tubuh yang masih berdenyut akibat sisa pertarungannya melawan Roh Macan Putih, bertepuk tangan.

Pandangan tak lepas dari kedua sosok itu. Pemuda itu tahu kebenaran yang tidak diketahui oleh ribuan penonton di sana: dan itu adalah pertemuan dua jiwa yang pernah bernaung di bawah atap yang sama.

Dua murid Resi Bhaskara yang dipisahkan oleh takdir dan ambisi sang guru. Yang satu menjadi naga perak yang haus darah, dan yang satunya lagi menjadi rembulan yang terluka namun tetap bersinar dalam keheningan.

“Gadis buta dari masa lalu,” suara Kala Dirja menggema, dingin dan datar. "Bhaskara selalu mengatakan bahwa kau adalah kegagalan yang indah. Sebuah pualam yang retak. Harusnya kau tetap abadi dalam keabadian padepokan itu bersama kenanganmu!"

Larasati tidak membalas hinaan itu dengan amarah. Gadis buta itu sedikit menutup kepalanya, mendengarkan getaran hawa dingin yang memikat dari zirah Kala Dirja.

"Zirahmu memang perak, Kakang. Tapi jiwamu sudah berkarat karena kebencian. Kau bukan kesatria; kau hanyalah cangkang kosong yang dikendalikan oleh ambisi orang lain!"

Kala Dirja mendesis, dia menarik pedang peraknya dari sarung, suaranya seperti akurasi es yang memecah kesunyian.

"Mari kita lihat, apakah ketenangan airmu bisa menahan badai naga!"

Pengadil menjatuhkan bendera.

Serangan pertama.

Kala Dirja melesat seperti kilat perak. Pedangnya terayun secara mendatar, mengincar leher Larasati dengan kecepatan yang mustahil diikuti mata biasa.

Namun, Larasati hanya sedikit menekuk lututnya. Gadis buta itu memutar tubuhnya searah jarum jam, membiarkan mata pedang itu lewat hanya satu jari di atas kepalanya. Desiran angin dingin dari pedang itu memotong beberapa helai rambut Larasati, namun dia tetap tak bergeming.

Serangan kedua.

Kala Dirja memutar gagang pedang dan menusuk ke arah jantung Larasati. Larasati menggunakan tongkat cendananya untuk menangkis.

Trak!

Benturan itu mengeluarkan percikan cahaya biru yang membekukan pasir di sekitar kaki mereka. Larasati menggunakan momentum benturan itu untuk meluncur mundur, kakinya seolah-olah menari di atas udara.

Subosito menahan napas, dia bisa merasakan betapa dahsyatnya tekanan batin yang dikeluarkan Kala Dirja. Sang Naga tidak hanya menggunakan fisik; dia melepaskan aura naga yang mampu melumpuhkan saraf lawan. Jika Larasati melakukan satu kesalahan kecil, nyawanya akan melayang.

Subosito sudah bersiap-siap, jika dia melihat Larasati terdesak, pemuda itu akan mengumpulkan seluruh api Garuda di punggungnya, tidak peduli jika seluruh pembaca pikiran kerajaan akan menangkapnya saat itu juga. Baginya, nyawa Larasati lebih berharga daripada penyamarannya.

Serangan ketiga.

Kala Dirja menghentakkan kakinya ke tanah. Duri-duri es tajam mencuat dari bumi menuju ke arah Larasati. Gadis itu melompat tinggi, berputar di udara bagaikan pusaran seorang penari langit. Di puncak lompatannya, gadis buta itu memukul udara dengan telapak tangan, melepaskan gelombang energi prana yang memecahkan duri-duri es tersebut menjadi butiran debu.

Serangan keempat.

Kala Dirja tampak mulai kehilangan kesabaran. Dia mengangkat pedangnya ke langit. Bayangan naga perak raksasa muncul di belakangnya, membuka mulutnya lebar-lebar. Kesatria Naga itu mengarahkan pedangnya ke bawah dengan kekuatan yang sanggup membelah bukit.

Larasati menancapkan tongkat cendananya ke pasir dan menciptakan kubah energi transparan. Benturan itu menciptakan ledakan hawa dingin yang menyapu seluruh arena, membuat para penonton di baris depan tersentak.

Serangan kelima.

Asap dingin mengepul pekat, Kala Dirja muncul dari balik kabut asap, bersiap untuk serangan pamungkas yang akan meruntuhkan perlindungan Larasati. Dia sudah memusatkan seluruh energi peraknya di ujung pedang.

Namun, tepat sebelum serangan itu dilepaskan, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Larasati menarik kembali energinya. Gadis buta itu mengangkat tangan setinggi-tingginya ke arah Singgasana Maharaja.

“Aku menyerah,” ucap Larasati dengan suara yang jernih dan lantang, memecah ketegangan yang nyaris meledak.

Seluruh arena sunyi senyap, Kala Dirja menghentikan pedangnya hanya satu jengkal tepat dari dahi Larasati. Napasnya memburu, matanya yang tanpa pupil berkilat penuh amarah dan kebingungan.

"Kenapa! Kau masih punya kekuatan untuk bertahan!"

Larasati tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh rahasia. "Kemenangan di arena ini bukan tujuanku, Kakang. Aku sudah mendapatkan apa yang kucari. Aku sudah merasakan getaran jiwamu, dan aku tahu..., kau masih memiliki satu sudut kecil yang merindukan cahaya matahari. Tugasku selesai!"

Larasati berbalik, mengambil tongkat cendananya, dan berjalan tenang meninggalkan arena tanpa menoleh lagi. Pengadil dengan ragu, mengumumkan kemenangan Kala Dirja.

Sorak-sorai penonton terdengar hambar; mereka kecewa karena pertarungan yang dianggap akan menjadi duel maut itu berakhir begitu mendadak.

Subosito mengembuskan napas panjang. Dirinya merasa lega, sekaligus bertanya-tanya. Mengapa Larasati menyerah? Apakah dia menyadari sesuatu yang berbahaya jika dia terus bertarung? Ataukah dia melakukan itu demi melindungi Subosito agar tidak memaksa mengungkap identitasnya?

***

Matahari mulai condong ke ufuk barat, mewarnai langit Trowulan dengan semburat ungu dan jingga yang dramatis. Pertandingan babak 16 besar terus berlanjut hingga sore hari. Dari tiga puluh dua peserta awal, kini hanya tersisa empat orang yang akan melaju ke babak semifinal esok hari.

Keempat peserta itu adalah: Kala Dirja , Sang Kesatria Naga yang ditakuti; Subosito (Sura) , sang kuli misterius yang kini menjadi buah bibir; dan dua orang pendekar aneh yang sejak awal kualifikasi hampir tidak pernah berbicara.

Salah satunya adalah seorang pria bertubuh bungkuk yang wajahnya selalu tertutup caping lebar, membawa keranjang rotan yang mengeluarkan suara desisan ular.

Satunya lagi adalah seorang wanita muda dengan pakaian serba hitam yang gerakannya menyerupai bayangan; dia menang tanpa mengeluarkan setetes keringat pun, seolah-olah lawannya menyerah karena ketakutan yang tak terlihat.

"Empat besar telah ditentukan!" seru Panglima Kerajaan dari podium. "Esok, di bawah matahari tertinggi, Majapahit akan menyaksikan siapa yang layak menjadi Panglima Tertinggi!"

Para peserta dibubarkan, suasana di sekitar alun-alun mulai meredup seiring dengan matahari yang tenggelam. Subosito berjalan melewati kerumunan orang yang menyaksikan dengan campuran rasa hormat dan takut. Pemuda itu menuju ke penginapan kecil di pinggiran kota, tempat dia dan Jati menginap.

Pikiran Subosito berkecamuk, dia memikirkan dua kesatria aneh itu. Mereka tidak memancarkan hawa kesatria biasa; ada sesuatu yang gelap dan berbau sihir mistis pada mereka. Apakah mereka adalah mata-mata Mangkubumi? Ataukah mereka adalah bagian dari rencana besar Maharaja yang lebih kejam?

***

Sesampainya di penginapan, Subosito bertemu dengan Jati yang sudah menunggunya dengan cemas.

"Kakak! Kau selamat!" Jati memeluk pinggang Subosito. "Aku melihat tinju emasmu tadi. Gila! Seluruh pasar membicarakanmu. Tapi..., hati-hati, kak, banyak orang asing yang mulai berkeliaran di sekitar sini!"

Subosito mengelus kepala Jati dan memberi sinyal untuk segera tidur. Setelah Jati terlelap, Subosito duduk bersila di lantai kayu kamarnya. Pemuda itu membuka kain penutup punggungnya, merasakan bekas sayap emasnya yang terasa panas. Dia harus bermeditasi. Dia harus menstabilkan emosinya sebelum babak penentuan esok hari.

Malam semakin larut. Suara jangkrik dan burung hantu di keheningan menjadi teman Subosito. Dia memejamkan mata, mencoba masuk ke dalam relung sukmanya untuk berkomunikasi dengan energi Garuda.

Namun, di tengah kenyamanan itu, dia merasakan sebuah kehadiran. Bukan kehadiran musuh yang haus darah, melainkan aroma melati yang sangat lembut dan familiar.

Sebuah aroma yang membawa kembali ke masa-masa indah di Kadipaten sebelum badai fitnah menghancurkan segalanya.

Subosito membuka matanya perlahan.

Di ambang jendela yang terbuka, seorang wanita berdiri. Dia mengenakan pakaian kasar layaknya rakyat jelata, wajahnya ditutupi oleh cadar tipis, namun matanya jernih dan penuh wibawa.

Subosito tertegun, jantungnya berdegup kencang, lebih kencang dari saat dia menghadapi Roh Macan Putih.

“Putri Ayuwangi…?” gumamnya dalam hati, nyaris tak percaya.

Wanita itu melangkah masuk dengan sangat hati-hati, seolah-olah bayangannya sendiri bisa membocorkan keberadaannya.

Ayuwangi mendekati Subosito, lalu melepaskan cadarnya. Wajah cantik Dyah Ayuwangi tampak lelah namun penuh dengan tekad yang membara.

"Subosito, tak usah memakai gelar!” bisiknya, suaranya bergetar. "Aku menempuh perjalanan berbahaya ini demi menemuimu. Sayembara ini..., Sayembara Jagat Raya ini bukan untuk mencari pahlawan. Ini adalah ritual bagi para iblis!”

Kemunculan Putri Ayuwangi di tengah jantung Majapahit membawa teka-teki baru yang mengerikan. Di saat Subosito harus memusatkan seluruh kekuatan untuk babak semifinal, dia kini dihadapkan pada rahasia yang bisa meruntuhkan seluruh motivasinya untuk mengikuti kompetisi ini.

Rahasia apa yang dibawa oleh sang Putri? Dan siapakah sebenarnya dua pendekar aneh yang berhasil menembus empat besar bersamanya? Apakah Subosito mampu mempertahankan penyamarannya saat orang-orang dari masa lalunya mulai bermunculan satu demi satu?

Jangan lewatkan kelanjutan kisahnya dalam 'Subosito'.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!