Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.
Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.
Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.
Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Lampu laboratorium berdengung dengan nada rendah, terasa seperti degupan jantung yang tidak teratur, cahaya neon putih yang biasanya menjelaskan setiap sudut ruangan kini tampak suram dan mengancam.
Axel berdiri di depan meja sentrifugasi yang berdiri kokoh di tengah ruangan, matanya terpaku pada tabung reaksi kecil yang berisi cairan merah terang—hasil dari darahnya sendiri yang baru saja ia tarik dari lengannya beberapa menit yang lalu. Darah itu bukan lagi sekadar cairan kehidupan yang mengalir dalam pembuluh manusia; ia telah mencampurkannya dengan formula X-112, sebuah modifikasi nekat dari riset genetika Samuel yang dulu mereka sepakati untuk tidak pernah diterapkan pada manusia.
Jemarinya yang memegang tabung itu bergetar hebat, menandakan betapa tubuhnya sedang bergelut dengan ketegangan yang melampaui batas. Ia bisa merasakan denyut nadi yang berlari kencang di lehernya, seperti ingin melarikan diri dari apa yang akan ia lakukan.
"Dokter, Anda yakin dengan ini?"
Suara Ana terdengar dari balik bahunya, penuh dengan kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan lagi. Ia berdiri di pintu ruang isolasi, kedua tangan menggenggam baki alat medis dengan erat. Matanya memancarkan rasa khawatir yang mendalam, menatap tabung di tangan Axel seolah itu adalah bom yang siap meledak kapan saja.
Axel tidak segera menjawab. Ia hanya menatap cairan merah yang bergolak di dalam tabung, melihat bagaimana partikel-partikel kecil di dalamnya bergerak seperti serangga yang sedang berlarian. Pikirannya berputar cepat—ingatan tentang percobaan sebelumnya yang selalu berakhir dengan kegagalan menyakitkan, tentang bagaimana Lusy harus merasakan sakit yang luar biasa setelah setiap pemberian cairan yang salah. Tapi kali ini berbeda, ia meyakinkan diri sendiri berkali-kali. Kali ini pasti berhasil.
"Ini satu-satunya cara, Ana..." Ia tidak berpaling, tetap fokus pada tabung di tangannya. "Darah asing tidak lagi bekerja dengan baik. Tubuhnya mulai menolaknya lebih cepat dari yang aku harapkan. Darahku... darahku mengandung sesuatu yang ia kenal—memori genetik tentang siapa dia sebenarnya."
Ia bisa merasakan bagaimana napas Ana menjadi lebih cepat di baliknya, seolah sang perawat sedang berusaha menahan tangisan yang ingin keluar. Namun, Ana hanya mengangguk perlahan, tidak berani membantah keputusan yang sudah jelas ia tekuni dengan keras kepala.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Axel melangkah menuju pintu ruang isolasi dengan langkah yang terasa berat. Pintu baja yang tebal terbuka dengan suara menggelegar.
Di dalam ruangan, Lusy terbaring tak berdaya di atas brankar yang ditutupi seprai putih bersih. Tubuhnya yang kurus dibalut selimut tebal untuk menghadapi dingin yang selalu merembes dari dalam tulangnya, namun badannya tetap saja berkedinginan. Tangan-tangannya yang kecil terikat lembut pada rel brankar dengan tali kain lembut agar tidak melukai dirinya sendiri saat serangan datang. Dada ia naik turun dengan irama yang pendek, menandakan betapa sulitnya ia bernapas dengan normal.
Axel mendekat dengan hati-hati. Ia menjatuhkan selimut yang menutupi Lusy sedikit demi sedikit, melihat kulitnya yang pucat seperti kain kertas yang sudah lama kering. Di bawah cahaya lampu yang redup, urat-urat biru yang menyilang leher dan lengannya tampak lebih jelas, berdenyut dengan ritme yang tidak teratur.
"Maafkan aku, Sayang," bisik Axel dengan suara parau, mencium dahi Lusy yang berkeringat dingin. Ia mengusap lembut rambut Lusy yang kusut di pelipisnya, merasa bagaimana beberapa helai rambutnya lepas dan jatuh ke tangannya. "Ini demi kesembuhanmu. Hanya sedikit lagi, lalu kita akan bisa kembali seperti dulu."
Lusy tidak merespons—mata nya masih tertutup rapat, napasnya sesak dan tidak teratur. Axel mengambil selang suntik yang sudah ia siapkan, mengeluarkan udara yang terkandung di dalamnya dengan hati-hati agar tidak menyebabkan rasa sakit tambahan. Ia mencari vena di lengannya yang sudah ia kenal seperti bagian dari tubuhnya sendiri, namun kali ini pembuluh darahnya tampak menyusut dan sulit ditemukan akibat kondisi tubuhnya yang lemah.
Setelah beberapa saat, ia akhirnya menemukan salah satu pembuluh yang masih bisa digunakan. Tangan nya gemetar saat menusukkan jarum suntik ke dalamnya, dan Lusy sedikit menggeliat seolah merasakan sentuhan yang tidak nyaman. Cairan merah dari tabung mulai mengalir perlahan ke dalam tubuhnya, dan untuk beberapa saat, tidak ada yang terjadi. Ruangan kembali sunyi hanya dengan bunyi mesin yang bekerja jauh di luar.
Namun, detik berikutnya, tubuh Lusy tiba-tiba kaku seperti kayu. Dada nya terangkat tajam, kepalanya melengkung ke belakang dengan sudut yang tidak wajar. Monitor di dekat brankar tiba-tiba bersinar merah, suara alarm berbunyi keras dan menusuk telinga, mengguncang kesunyian yang selama ini membungkus ruangan.
"Lusy!" teriak Axel, mencoba menahan bahu Lusy yang mulai bergoyang-goyang hebat.
Matanya yang sebelumnya tertutup rapat kini terbuka lebar—pupilnya yang biasanya berwarna coklat hangat kini berubah menjadi merah darah pekat yang mengerikan, seperti bara api yang menyala di dalam rongga mata nya. Ia mengeluarkan suara seru yang tidak lagi seperti manusia, lebih mirip dengungan binatang buas yang lapar. Badan nya bergoyang dengan kekuatan luar biasa, menarik tali pengikatannya hingga hampir putus.
"Berhenti... Lusy, tolong..." bisik Axel, namun suaranya tersedak oleh rasa sakit yang menusuk hatinya. Ia mencoba menekan tubuh Lusy agar tidak bergerak terlalu banyak, namun kekuatan wanita itu jauh melampaui yang bisa ia kendalikan.
Lusy melengking keras, suara nya menusuk kedalam dinding ruangan. Tubuh nya bergoyang dengan kekuatan luar biasa, membuat brankar bergoyang dan beberapa alat kecil terjatuh ke lantai dengan suara berdecit. Kulitnya yang tadinya pucat mulai muncul bintik-bintik kemerahan yang menyebar dengan cepat.
"Hentikan Dokter! Dia tidak tahan lagi!" Jerit Ana yang tiba-tiba masuk ke ruangan, wajahnya pucat melihat kondisi Lusy yang semakin memburuk. Ia mencoba membantu menahan tubuh Lusy yang terus bergerak, namun kekuatan mereka tidak cukup untuk menahannya.
"Injeksi diazepam! Segera!" Perintah Axel dengan panik namun tetap jelas. Tangannya yang gemetar mencoba mengambil botol kecil dari meja samping, namun hampir menjatuhkannya karena tangan nya tidak stabil.
Ana segera mengambil alat yang dibutuhkan, menusukkan jarum suntik ke dalam vena Lusy dengan tangan yang gemetar namun tetap akurat. Cairan bening mulai mengalir ke dalam tubuhnya, dan perlahan, gerakan tubuh Lusy mulai mereda. Suara seru nya menghilang digantikan oleh napas yang sesak dan tidak teratur. Kulitnya yang kemerahan mulai memudar sedikit, meskipun masih tetap terlihat mengerikan.
Setelah beberapa saat, Lusy akhirnya rileks kembali, tubuhnya terkulai lemah di atas brankar. Matanya yang merah mulai kembali menjadi coklat muda yang lembut, namun kini tampak lebih kusam dari biasanya. Bibirnya yang masih sedikit terkena lipstik merah muda terlihat pucat dan pecah-pecah.
Axel mundur beberapa langkah, kedua tangan menutupi wajahnya yang penuh dengan rasa bersalah dan kehancuran. Ia merasakan bagaimana seluruh kekuatan dalam tubuhnya lenyap, menggigil seperti orang yang baru saja keluar dari dalam air dingin.
"Apa yang telah kulakukan?" bisiknya dengan suara hampa. Kakinya tidak mampu menopang berat badan lagi, membuatnya terjatuh duduk di lantai. Darah Lusy yang sedikit menyembur ke lantai membuatnya semakin merasa jijik pada dirinya sendiri. "Aku hampir membunuhnya. Aku pikir ini akan menyelamatkannya, tapi aku malah menyiksanya lebih jauh."
Ana berdiri di dekatnya, menatap Axel dengan pandangan penuh dengan rasa iba dan kekhawatiran. Ia ingin berkata sesuatu—memberikan kata-kata penghiburan atau meminta dia untuk berhenti dari kegilaannya ini. Namun, melihat bagaimana wajah Axel yang kuat dan percaya diri kini hancur oleh rasa bersalah, ia tahu tidak ada kata-kata yang bisa menghapus perbuatan yang telah dilakukan.
Di balik kaca ruang isolasi, Lusy tetap terbaring tak berdaya, dada nya naik turun dengan ritme yang lemah. Badan nya yang dulu penuh dengan semangat kini hanya menjadi tempat tinggal bagi sesuatu yang semakin jauh dari manusia.
Axel menyadari bahwa kejeniusannya yang dulu ia banggakan bukanlah alat penyelamat, melainkan sebuah rantai yang semakin mengikat erat mereka semua dalam kegelapan tanpa akhir. Ia bukanlah pahlawan yang menyelamatkan cinta nya—ia adalah penjaga neraka yang sendiri telah membangun dan menjaga dengan sia-sia.
Lantai laboratorium yang dingin menusuk tulang-belulangnya, namun rasa dingin itu tidak bisa menyamai rasa dingin yang kini membeku di dalam hatinya.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ