mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Pameran untuk Kenangan
Jakarta memasuki bulan September dengan langit yang kadang cerah, kadang mendung. Tapi di rumah Menteng, persiapan pameran lukisan Rara berlangsung dengan semangat yang tak terbendung. Dua bulan telah berlalu sejak kepergian Eyang Kusuma, dan keluarga ini belajar bahwa kesedihan bisa berubah menjadi karya.
Pagi itu, Rara sibuk di kamarnya, menyelesaikan lukisan terakhir untuk pameran. Ia sudah menghasilkan dua puluh karya—potret, pemandangan, dan yang paling istimewa, seri berjudul "Rumah yang Bernyanyi". Seri itu terdiri dari lima lukisan yang menggambarkan rumah Menteng dalam berbagai suasana: pagi yang hangat, sore yang teduh, malam yang sunyi, saat hujan, dan saat kemarau. Di setiap lukisan, selalu ada sosok Eyang Kusuma duduk di kursi malasnya, atau Pak Willem di beranda, atau Rarasati dan Asmara melayang di langit.
"Rara, sarapan dulu!" teriak Kalara dari bawah.
"Sebentar, Ma! Rara mau finishing dulu!"
Asmara yang sudah sarapan, berlari ke kamar Rara. "Kak, lihat! Asmara pakai baju bagus!" Ia memamerkan kemeja batik kecil yang dipilihkan Lastri untuk acara nanti.
"Wah, ganteng. Kayak Om Arsya."
Asmara tersenyum bangga. "Asmara mau jaga pintu, ya. Biar tamu pada masuk."
"Iya, Dek. Tugas penting itu."
Kiki ikut masuk, juga dengan baju batik. "Kiki mau bagi-bagi makanan!"
"Iya, Kiki juga penting."
Rara tersenyum. Adik-adiknya memang selalu menjadi penghibur di tengah kesibukan.
---
Pameran digelar di Galeri Cipta, sebuah ruang seni kecil di kawasan Kemang. Arsya yang memilih tempat itu—teman lamanya memiliki galeri dan bersedia memberikan ruang gratis untuk acara amal ini. Dekorasi ditata Nadia dengan sentuhan elegan: dinding putih, lampu sorot hangat, dan bunga-bunga segar di setiap sudut.
Lastri dan Kalara sibuk di dapur kecil galeri, menyiapkan makanan ringan. Raka mengurus sound system dan kursi tamu. Melati berlatih tari di sudut ruangan, memastikan setiap gerakan sempurna.
Asmara dan Kiki, dengan kostum lengkap, berjaga di pintu masuk. Mereka memegang papan petunjuk buatan Asmara—dari kardus bekas, bertuliskan "SELAMAT DATANG" dengan hiasan stiker dinosaurus.
"Kak, nanti Asmara bilang apa?" tanyanya pada Rara.
"Bilang 'Selamat datang'."
"Terus?"
"Terus... terserah. Yang penting senyum."
Asmara mengangguk, lalu berlatih senyum di depan cermin.
---
Pukul tiga sore, tamu mulai berdatangan. Mama Kalara dan Ayah Arsya datang lebih awal, membawa karangan bunga. Teman-teman Rara dari sekolah dan les lukis juga hadir. Beberapa kolega Arsya, pelanggan kafe Raka, dan tetangga kompleks memenuhi galeri.
Asmara menyambut setiap tamu dengan sungguh-sungguh. "Selamat datang. Silakan masuk. Lukisannya bagus-bagus." Kadang ia menambahkan, "Itu lukisan kakak saya, lho." Tamu-tamu tersenyum dan mengacungkan jempol.
Kiki, dengan nampan kecil berisi kue, berkeliling menawarkan. "Mau kue? Enak. Tante Lastri yang buat." Ia begitu imut sehingga hampir semua tamu mengambil kue, meskipun perut sudah kenyang.
Rara berdiri di dekat lukisan utamanya—seri "Rumah yang Bernyanyi". Ia gugup, tapi juga bangga. Kali ini ia tidak sendiri. Keluarganya ada di sekelilingnya.
---
Acara dibuka dengan sambutan singkat dari Arsya. "Selamat datang di pameran pertama Rarasati Asmara, atau yang biasa kami panggil Rara. Usianya baru dua belas tahun, tapi lukisannya bicara lebih dari usianya."
Tepuk tangan riuh.
"Pameran ini istimewa karena seluruh hasil penjualan akan disumbangkan ke panti jompo dan panti asuhan. Rara ingin mengenang dua orang yang sangat berarti bagi kami: Eyang Kusuma dan Pak Willem. Mereka adalah orang tua yang mengajarkan kami arti keluarga."
Arsya berhenti sejenak, mengusap mata.
"Kami percaya, seni adalah cara terbaik untuk mengenang. Dan kami berterima kasih pada Rara yang telah memulai ini semua."
Rara dipanggil ke depan. Ia berdiri di samping Arsya, gemetar.
"Aku... Rara hanya ingin berterima kasih pada keluarga. Tanpa kalian, Rara tidak akan bisa melukis seperti ini. Tanpa Eyang dan Pak Willem, Rara tidak akan mengerti arti cinta."
Matanya berkaca-kaca.
"Pameran ini untuk mereka. Semoga mereka tersenyum dari sana."
Ia menunjuk langit. Tamu bertepuk tangan, beberapa ikut menangis.
---
Melati tampil dengan tariannya. Ia menari di tengah galeri, di antara lukisan-lukisan. Gerakannya lembut tapi penuh makna, seperti bercerita tentang kehilangan dan harapan. Musik mengalun pelan, lampu sorot menerangi setiap gerakannya.
Penonton terpaku. Beberapa mengusap air mata. Setelah tarian usai, tepuk tangan bergemuruh. Melati membungkuk, lalu berlari ke pangkuan Kalara.
"Ma, Melati nggak salah langkah," bisiknya bangga.
"Kamu hebat, Nak."
Asmara dan Kiki bertepuk tangan paling keras, meskipun tidak sepenuhnya mengerti.
---
Para tamu mulai berkeliling menikmati lukisan. Banyak yang terkesan dengan karya Rara—bukan hanya karena tekniknya, tapi karena emosi yang terpancar. Beberapa lukisan langsung terjual.
Seorang wanita paruh baya menatap lukisan "Kursi Kosong" dengan mata berkaca-kaca. "Ini... ini seperti ibu saya," katanya pada Rara. "Ia juga suka duduk di kursi seperti itu."
Rara tersenyum. "Ibu boleh beli, Bu. Uangnya untuk panti jompo."
Wanita itu membelinya tanpa tawar. Rara tersenyum lega.
Seorang bapak-bapak membeli lukisan "Pohon Beringin" untuk kantornya. "Saya suka pohon ini. Kuat, rindang. Seperti keluarga."
Rara mengangguk. "Itu pohon di rumah saya, Pak. Usianya sudah seratus tahun lebih."
"Wah, luar biasa."
Seorang kolektor seni menawar seri "Rumah yang Bernyanyi" untuk dibeli semua. Rara ragu—itu karyanya yang paling istimewa. Tapi Arsya membisikkan sesuatu, dan Rara mengangguk.
"Boleh, Pak. Tapi Rara minta satu syarat."
"Apa, Nak?"
"Rara boleh foto dulu sama lukisannya. Buat kenangan."
Kolektor itu tersenyum. "Tentu, Nak. Itu hakmu."
Rara berfoto di depan kelima lukisan itu. Seluruh keluarga ikut masuk dalam foto. Asmara dan Kiki tersenyum lebar, Melati melambaikan tangan, Rara di tengah, dikelilingi Arsya, Nadia, Kalara, Raka, Lastri. Di belakang mereka, lukisan rumah Menteng dengan kursi kosong di bawah pohon beringin.
---
Pameran berlangsung hingga sore. Dua puluh lukisan terjual habis. Uang terkumpul cukup besar—lebih dari yang Rara bayangkan.
"Kak, uangnya banyak!" seru Asmara, memegang amplop tebal.
"Iya, Dek. Nanti kita kasih ke panti."
"Boleh beli dinosaurus dulu, nggak?"
Rara tertawa. "Nanti Om Arsya yang beliin."
Arsya yang mendengar langsung menjawab, "Boleh. Om beliin T-Rex besar."
Asmara berjingkrak senang.
---
Malam harinya, mereka makan malam bersama di rumah Menteng. Tidak ada meja panjang seperti biasanya—mereka memilih lesehan di ruang keluarga, seperti waktu kecil dulu. Semua berkumpul di karpet, makanan diletakkan di tengah.
"Hari ini luar biasa," kata Kalara. "Rara, kamu hebat."
"Makasih, Ma. Tapi ini semua karena keluarga."
Raka memeluknya. "Ayah bangga. Ibu juga pasti bangga."
Nadia menambahkan, "Dan Eyang juga. Dan Pak Willem."
Mereka mengangkat gelas. Untuk Rara, untuk kenangan, untuk keluarga.
Asmara yang tidak sabar bertanya, "Om, kapan beli T-Rex?"
"Besok, Nak. Om antar."
"Asmara mau T-Rex yang besar! Bisa jalan!"
"Bisa. Tapi nanti mainnya di taman belakang, ya. Jangan di dalam rumah."
"Iya, Om!"
Kiki ikut memesan. "Kiki mau boneka unicorn!"
"Boleh. Unicorn warna apa?"
"Pink!"
Semua tertawa.
---
Setelah makan, Rara duduk di beranda belakang, sendirian. Ia menatap pohon beringin yang diterangi cahaya bulan. Angin malam berhembus, membawa wangi melati dari taman.
Arsya keluar, duduk di sampingnya.
"Om, Rara senang. Tapi juga sedih."
"Sedih kenapa?"
"Rara kangen Eyang. Kangen Pak Willem. Mereka nggak lihat pameran Rara."
Arsya meraih tangannya. "Rara, mereka lihat. Dari sana. Mereka pasti tersenyum."
"Om yakin?"
"Yakin. Kau tahu kenapa? Karena lukisanmu bukan hanya gambar. Lukisanmu adalah doa. Dan doa selalu sampai."
Rara menangis. Arsya memeluknya.
"Rara, Om bangga sama kamu. Kamu masih kecil, tapi sudah berpikir besar. Kamu mengubah kesedihan jadi karya, jadi kebaikan. Itu luar biasa."
Rara mengusap air mata. "Makasih, Om."
"Om yang berterima kasih. Kamu mengajarkan kami semua arti keikhlasan."
Mereka diam, menatap bintang.
Di dalam rumah, Lastri duduk di kursi Eyang—kursi malas yang dulu selalu ditempati Eyang Kusuma. Ia tidak sengaja duduk di sana, tapi lalu memilih untuk tidak pindah.
"Tante," bisiknya. "Lihat, cucu Tante hebat. Mereka baik-baik saja. Saya janji jaga mereka."
Angin bertiup, membawa wangi melati. Lastri tersenyum.
---
Beberapa hari kemudian, mereka menyalurkan hasil penjualan ke panti jompo dan panti asuhan. Rara ikut langsung, didampingi keluarga. Anak-anak panti menyambut dengan gembira, apalagi setelah tahu uang itu dari hasil lukisan anak seusia mereka.
"Kamu hebat, Dek," kata seorang anak panti, seusia Rara.
Rara tersenyum. "Ini bukan hanya aku. Ini dari keluarga."
Mereka berfoto bersama. Rara berjanji akan kembali, mungkin mengajar melukis suatu hari nanti.
---
Oktober tiba. Rumah Menteng kembali hangat. Bukan hangat yang sama seperti dulu, tapi hangat baru yang lahir dari kenangan dan kebersamaan.
Rara sudah mulai melukis lagi. Kali ini untuk pameran berikutnya—ia ingin mengadakan pameran rutin setiap tahun, untuk amal. Arsya mendukung, Nadia ikut merancang, Kalara dan Raka membantu promosi.
Melati semakin serius menari. Ia ikut lomba tingkat provinsi dan meraih juara harapan. Ia menarikan tarian untuk Eyang, dan juri memuji kedalaman ekspresinya.
Asmara mendapat T-Rex besar yang bisa berjalan. Ia main di taman belakang setiap sore, ditemani Kiki yang mengendarai unicorn pinknya. Mereka berlarian di bawah pohon beringin, tertawa riang.
Lastri mulai menerima pesanan katering lebih banyak. Ia bahkan membuka kelas memasak kecil-kecilan untuk tetangga. Namanya mulai dikenal sebagai "Tante Lastri yang masaknya enak".
Arsya dan Nadia sibuk dengan proyek baru, tapi selalu menyempatkan waktu untuk keluarga. Mereka sering duduk di beranda belakang, menikmati kopi sambil melihat anak-anak bermain.
Raka dan Kalara semakin kompak. Raka membuka cabang kafe keempat, Kalara mendapat proyek desain hotel kecil di Bandung. Mereka berdua sibuk, tapi selalu pulang untuk makan malam bersama.
---
Suatu malam, saat hujan turun deras, mereka berkumpul di ruang keluarga. Listrik padam sebentar, tapi mereka tidak panik. Lilin dinyalakan, dan suasana justru hangat.
"Kayak zaman dulu," kata Kalara.
"Iya. Waktu pertama kita tinggal di sini, sering mati lampu."
Asmara dan Kiki senang dengan suasana baru. Mereka bermain bayangan di dinding, membuat bentuk dinosaurus dan unicorn.
Melati duduk di pangkuan Rara. "Kak, nanti kalau Melati besar, Melati mau jadi penari terkenal. Bisa?"
"Bisa, Ti. Kamu sudah hebat sekarang."
"Tapi Melati takut gagal."
Rara tersenyum. "Kak Rara juga takut. Tapi Kakak coba. Dan ternyata bisa."
Melati mengangguk. "Melati akan coba."
Asmara yang mendengar ikut nimbrung. "Asmara mau jadi pilot! Bisa terbang!"
"Pilot keren," kata Raka. "Nanti Ayah naik pesawat yang kamu terbangin."
Asmara tersenyum bangga.
Kiki berpikir keras. "Kiki mau jadi... chef! Masak kayak Tante Lastri!"
Lastri terharu. "Wah, Tanti tunggu, ya."
Semua tertawa.
Malam itu, mereka duduk bersama hingga larut. Lilin-lilin padam satu per satu, listrik menyala kembali, tapi mereka tetap di tempatnya. Tidak ada yang ingin pergi.
Arsya menatap semua orang—istrinya, adiknya, iparnya, anak-anak, Lastri. Ia tersenyum.
"Keluarga kita tumbuh," katanya.
"Dan terus tumbuh," sahut Kalara.
Rara menunjuk lukisan di dinding—lukisan terbarunya, "Rumah yang Bernyanyi" versi lain yang ia lukis setelah pameran. Di dalamnya, ada semua anggota keluarga, termasuk Eyang Kusuma dan Pak Willem, duduk di bawah pohon beringin, tersenyum.
"Rumah ini memang bernyanyi," kata Rara. "Selamanya."
Angin malam berhembus, membawa wangi melati dari taman.
Rumah Menteng sunyi.
Tapi tidak sepi.
Karena rumah ini bernyanyi.
Bernyanyi dengan suara anak-anak yang bermimpi.
Bernyanyi dengan suara orang tua yang mengajar.
Bernyanyi dengan suara cinta yang tak pernah padam.
Dan mereka yang telah pergi, tetap hadir.
Dalam lukisan.
Dalam tarian.
Dalam doa.
Dalam setiap napas yang dihembuskan dengan cinta.
Selamanya.
---
**Bersambung...**