Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.
Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.
Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.
Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.
Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.
Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.
Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Dia Tidak Pernah Memilih Selain Kamu
Shafiya melangkah ke meja di sudut kamar. Menuangkan air dari teko keramik ke dalam gelas kaca. Separuh saja. Ia membawa gelas itu ke hadapan Sagara. Menyerahkannya.
Sagara tidak langsung menerima. Ia hanya menatap saja gelas kaca itu, datar.
"Izinkan saya melakukan satu pengabdian kecil saja," kata Shafiya tanpa menarik tangannya lagi.
Sagara membawa pandangannya naik ke wajah Shafiya. "Pengabdian?"
"Mengambilkan kamu minum." Shafiya tersenyum. Tipis. Singkat. Tapi itu cukup.
Cukup membuat Sagara menerima gelas kaca itu. Meneggak airnya. Dan hanya menyisakan sedikit saja.
"Saya tau kamu tidak bisa tidur," kata Shafiya kemudian. "Saya juga."
Sagara tidak menyela. Ia menanti apa yang akan dikatakan perempuan itu selanjutnya.
"Dan penyebabnya mungkin sama." Shafiya menunduk sejenak. "Sidang tadi."
"Kamu mungkin sedang bersikeras untuk membuktikan anak ini.." Tanpa sadar tangan Shafiya menyentuh perutnya sendiri. "...Sebagai milikmu, dengan data yang tidak bisa dibantah."
"Dan saya." Tatap mata Shafiya langsung berubah sendu. "Bersikeras ingin tahu, anak ini milik siapa yang sebenarnya."
Dan Sagara menatap tepat pada bola mata itu. Tak ia temukan apa pun di sana selain kejujuran dan luka. Shafiya benar-benar tidak tahu tentang ihwal anak yang dikandungnya--bukan sedang menyembunyikan sesuatu.
"Cara pandang kita memang tidak sama, Sagara. Tapi bukan berarti kita tidak bisa bekerja sama." Shafiya menatap Sagara. Menanti responnya.
"Lanjutkan. Saya dengar."
"Kita bekerja sama untuk temukan kebenaran. Kamu, dengan usahamu untuk membuktikan dengan data--tapi tolong jangan dimanipulasi."
Sagara tidak menyela, meski ada yang berubah pada sorot matanya.
"Dan saya, dengan meminta pertolongan dari-Nya," lanjut Shafiya.
"Dia? Siapa?" Sagara akhirnya bertanya.
"Pemilik Takdir. Yang Mengatur semua ini terjadi." Hening sejenak. Shafiya menanti. Tapi Sagara tak bereaksi.
"Kami percaya, setiap hal yang ingin diraih, harus seimbang antara usaha dan doa." Shafiya melanjutkan ucapannya.
Sagara membuang pandangan ke lain arah. Meski ia tidak mengatakan apa pun, tapi Shafiya tahu itu bentuk penolakan halus.
Shafiya tidak mundur.
“Mungkin bagimu, doa itu bukan apa-apa. Tidak punya peran sama sekali. Tapi bagi saya, doa itu senjata.”
Sagara mengembalikan pandangannya.
Tidak lagi menghindar.
Menatap tepat ke arah Shafiya.
“Kalau itu yang membuatmu tetap berdiri…gunakan." Suaranya tetap datar.
Satu detik ia diam.
“Tapi saya tidak akan bergantung pada sesuatu yang tidak bisa saya ukur," lanjutnya kemudian.
Shafiya tidak langsung menjawab.
“Saya tidak minta kamu bergantung,” ucapnya pelan.
“Hanya… jangan menutup kemungkinan bahwa tidak semua hal bisa kamu kendalikan.”
"Anak ini, ia tidak serta merta ada. Pasti ada sebab kenapa ia ada." Kali ini ada tekanan emosi dalam ucapan Shafiya.
"Kamu punya kuasa. Kamu sudah mencarinya dengan caramu, tapi..." Shafiya diam sejenak. "Belum berhasil."
Shafiya menarik napas pelan.
“Jadi saya akan minta pada yang kuasanya tidak terbatas, agar usahamu sampai."
Hening.
Sagara memutar gelas di tangannya. Air yang tersisa bergerak pelan di dalamnya.
Seperti pikirannya yang sedang menimbang--bukan menerima, tapi juga tidak lagi menolak sepenuhnya.
“Kita cari dengan cara masing-masing,” katanya akhirnya.
“Tapi hasilnya… harus satu.”
Shafiya menatapnya.
“Kebenaran.”
Sagara mengangguk tipis.
“Dan kalau cara kita bertabrakan?” tanya Shafiya pelan.
Sagara tidak menjawab langsung.
Tatapannya tetap tenang. Tapi kali ini… lebih dalam.
“Pastikan kamu tidak berada di jalur yang salah.”
Bukan ancaman.
Tapi juga bukan peringatan biasa.
Shafiya menarik napas pelan.
“Begitu juga kamu.”
Sagara kemudian melangkah menuju pintu. Tangannya sudah menyentuh gagang. Namun ia berhenti.
Pandangannya turun sesaat pada gelas kaca di tangannya.
Air yang tersisa tinggal seteguk.
Tanpa berkata apa-apa, Sagara berbalik.
Melangkah kembali ke meja di sudut kamar. Meletakkan gelas itu perlahan.
Bukan di tengah meja.
Tapi sedikit ke tepi.
Seperti dibiarkan belum selesai.
Shafiya memperhatikannya, dengan diam.
Sagara tidak menatapnya lagi.
Ia kembali berjalan menuju pintu.
Kali ini tanpa jeda. Pintu terbuka.
"Elara." Suaranya terdengar meski tanpa menoleh. "Kalau sudah selesai berdoa, tidurlah."
..
...
Agam melangkah masuk ke ruang kerja CEO Adinata Holding tanpa kata.
Langsung duduk di depan Sagara. Tanpa menunggu izin.
"Aku mau lapor." Agam membuka percakapan.
Sagara diam. Tatapannya tetap fokus pada tablet di depannya.
"Kaluna. Dia menolak diberhentikan."
"Apa aku butuh persetujuannya?" Sagara mengangkat pandangan. Tatap mata itu, sangat dipahami oleh Agam apa maksudnya.
"Dia punya sesuatu yang kita butuhkan." Agam tidak mundur. Ia melanjutkan laporannya. "Dia ingin menukarnya dengan tetap bekerja di sini."
Sagara diam. Tapi tatap matanya menuntut Agam untuk melanjutkan.
"Informasi. Dia bilang, dia yang memberitahukan Johan Petra tentang inseminasi Ariana."
Johan Petra--tangan kanan Ravendra--yang dalam sidang kemarin dijatuhkan sendiri oleh tuannya.
"Kalau hanya itu," kata Sagara. "Aku tidak butuh informasi dari Kaluna."
"Tapi kita juga tidak benar-benar tahu.." Agam menyahut dengan cepat. "...Ravendra mendapat info inseminasi itu dari mana."
Sagara diam.
"Lebih jauh dari itu," lanjut Agam. "Kaluna seperti menyimpan rahasia yang lebih spesifik lagi."
"Dia ingin menyampaikannya langsung padamu." Agam menatap lurus Sagara.
"Dengan catatan, posisinya di Adinata, aman."
"Dan kau percaya?"
"Dia teman kita, Sagara--"
"Justru itu." Sagara memotong. "Seharusnya dia tahu, bagaimana cara kerjaku."
"Dia sakit."
Sagara memejamkan mata sebentar. Seolah tak ingin hal itu masuk.
"Kanker darah. Stadium 3." Nyata sekali tekanan emosi di balik ucapan Agam.
"Karena itu kau melunak?"
Sagara menatap miring.
"Dia tak punya siapapun." Suara Agam merendah. "Hanya kita, temannya."
Sagara akhirnya bersandar.
“Berikan pengobatan terbaik.”
Nada suaranya tetap dingin.
“Tapi keputusanku… tetap.”
Agam menggeleng pelan.
“Bukan itu yang dia mau.”
Tatapannya mengeras.
“Dia tahu waktunya tidak banyak.”
Agam menarik napas sesaat.
“Dia hanya ingin… tetap berada di dekatmu.”
Ada sesuatu yang berubah tipis di wajah Sagara mendengar itu.
Cepat. Hampir tak terlihat.
“Sepanjang mengenalmu,” lanjut Agam, kali ini dengan suara lebih pelan,
“dia tidak pernah memilih selain kamu.”
Sunyi menekan. Sagara tetap diam.
“Tolong.”
Agam menatap lurus.
“Ini permintaan seorang teman.”
“Ada berapa meeting lagi setelah ini?”
Sagara mengalihkan arah pembicaraan.
Agam tersenyum tipis.
Ia tahu--itu bukan sekadar pertanyaan.
Itu celah. Kaluna diberi kesempatan, meski tidak diucapkan.
“Dua lagi,” jawab Agam.
“Investor dari Singapura. Dan satu lagi dengan dewan komisaris.”
Sagara mengangguk sekali. Pendek.
Ia kembali menatap tabletnya.
Namun fokusnya kali ini tidak benar-benar utuh. Ada sesuatu yang datang lagi.
Datang dengan Pelan. Tapi pasti.
Nyeri itu.
Memang tidak langsung. Tidak tajam.
Tapi cukup untuk mengganggu ritme napasnya.
Sagara tidak bergerak.
Tidak mengubah posisi.
Tidak menunjukkan apa pun.
Jarinya tetap menelusuri layar.
Seolah semuanya terkendali.
Padahal tidak.
Agam masih duduk di depannya. Menunggu. Namun kali ini ia tidak bicara.
Ada yang ia tangkap dari ekspresi Sagara.
Meski tidak sepenuhnya.
Sagara menarik napas perlahan. Dalam.
Menahannya sepersekian detik.
Ia butuh istirahat. Sampai nyeri itu hilang. Tapi waktu tidak memberinya ruang.
Ia tahu itu.
Ada dua meeting penting.
Dua keputusan besar.
Dan kondisi tubuh yang mulai tidak bisa diajak kompromi.
Sagara memejamkan mata sebentar.
Hanya satu detik.
Dan dalam satu detik itu…
sebuah pola muncul.
Satu hal yang belakangan ini tidak bisa ia abaikan.
Shafiya.
Sagara membuka mata.
Tatapannya kembali tajam.
Keputusan sudah diambil.
“Agam.”
“Ya.”
“Jemput Elara.”
Nada suaranya datar. Tegas. Tidak membuka ruang untuk tanya.
Agam terdiam sepersekian detik.
Mencari alasan di balik perintah itu.
Namun tidak menemukannya.
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Jeda sesaat.
“Bawa dia ke sini.”
Tatapan Sagara kembali jatuh pada tabletnya. Seolah perintah itu adalah hal biasa. Padahal tidak.
Agam mengangguk pelan.
“Baik.” Ia bangkit.
Melangkah keluar ruangan.
Dan sepeninggal Agam,
Sagara tidak langsung melanjutkan pekerjaannya.
Tangannya berhenti di atas layar.
Diam beberapa saat.
Nyeri itu masih ada. Belum hilang.
Namun kali ini ia tidak melawannya.
Ia menunggu. Seolah tahu…
apa yang akan meredakan nyeri itu.
Shafiya.
Alhamdulillah, final baca bab-bab yg tertinggal. Lanjut, Kak Naj. Sambil ngopi & nongkrong ☕
Keren, Kak Naj...