NovelToon NovelToon
Garis Tangan Nona Kedua

Garis Tangan Nona Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Spiritual / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: ImShio

Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.

Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.

Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hutang

Wu Wei mengerutkan kening.

“Adikku tidak mungkin terlihat seperti ini.”

“Lalu seperti apa menurutmu aku seharusnya terlihat?” Kumuh? Ketakutan? Selalu menunduk agar tidak mengganggu perasaan orang lain?”. Tanya Wu Zetian balik, suaranya kini mengandung sedikit ironi. Kata-kata itu menghantam Wu Wei tanpa ampun.

Bagaimana bisa dia tahu?

“Zetian… Jika kau benar-benar adikku… mengapa kau tidak menyapaku?” gumam Wu Wei pelan, seolah menguji nama itu di lidahnya.

Wu Zetian tersenyum kecil.

“Menyapa? Seperti dulu, saat aku mencoba menyapamu dan kau berpaling?”

Wu Wei terdiam.

Kilasan masa lalu muncul di benaknya. Seorang gadis kecil berdiri di kejauhan, membawa bunga liar, sementara ia melangkah pergi setelah Selir Bao Yu menarik lengannya dan berbisik bahwa Wu Zetian adalah anak pembawa sial.

Tangannya mengepal.

Aku… aku dulu memang menjauhinya. Aku.. Aku tidak tahu kau akan berubah sejauh ini.”

Wu Zetian mengangkat bahu ringan.

“Aku tidak berubah. Aku hanya berhenti berharap.”

Nada itu lebih tajam daripada bentakan.

Hening kembali turun di antara mereka. Air kolam memantulkan cahaya matahari siang, teratai bergoyang pelan.

Wu Wei akhirnya menarik napas panjang.

“Kenapa kau kembali setelah sekian lama?" tanyanya

"Ini rumahku. Lalu kenapa aku harus memberimu alasan untuk sekadar pulang ke rumahku sendiri!". Ucap Zetian sarkas.

"Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya penasaran dengan kepulanganmu." ucap Wu Wei.

Wu Zetian memalingkan pandangan sejenak ke arah koridor yang menuju kamar Selir Zhen Zu.

“Aku datang untuk menagih,” jawabnya singkat.

“Menagih apa?”

“Hutang.”

Wu Wei menatapnya tajam. “Hutang siapa?”

Wu Zetian kembali menatapnya, sorot matanya dingin dan penuh makna.

“Hutang darah, hutang penderitaan, dan hutang pengkhianatan.”

Tubuh Wu Wei menegang.

“Zetian… apa yang kau bicarakan?”

Wu Zetian melangkah mendekat satu langkah. Tidak ada ancaman fisik, namun aura yang mengalir dari tubuhnya membuat udara di sekitar terasa lebih berat.

“Kau tahu,” ucapnya pelan, "selama dua tahun terakhir, Selir Zhen Zu tidak bisa bangun dari ranjangnya. Ia diracuni sedikit demi sedikit oleh seseorang yang haus akan tahta."

Wajah Wu Wei memucat.

“Itu.. itu tidak mungkin. Ayah tidak akan membiarkan itu.."

“Wu Zheng membiarkan banyak hal, termasuk membiarkan anaknya sendiri hidup seperti bayangan.” Potong Wu Zetian dingin.

Wu Wei terdiam, rahangnya mengeras.

“Dan kau... Kau hanya memilih diam.” Lanjut Wu Zetian.

"Maaf. Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi di dalam kediaman ini karena sibuk menyelesaikan pendidikanku."

Wu Wei mengepalkan tangan.

“Jika semua ini benar… Mengapa kau tidak langsung melaporkan mereka?” suaranya menurun saat menatap mata Wu Zetian.

Wu Zetian tersenyum penuh perhitungan.

“Karena keadilan yang terburu-buru hanya akan melahirkan pelarian.”

Ia melangkah mundur setengah langkah.

“Aku ingin mereka terjebak oleh rencana mereka sendiri.”

Wu Wei menatapnya lama, lalu tertawa kecil tanpa humor.

Adik kecilku ternyata jauh lebih berbahaya dari yang kukira. Gumam Wu Wei.

Hening kembali menyelimuti mereka.

Beberapa detik kemudian, Wu Zetian menoleh ke arah kamar Selir Zhen Zu.

“Aku harus kembali. Obatnya hampir selesai bekerja.”

Wu Wei refleks berkata, “Aku ikut.”

Wu Zetian berhenti sejenak, lalu menoleh dengan tatapan tajam.

“Untuk apa?”

Wu Wei terdiam, lalu berkata pelan, “Untuk menebus Ketidaktahuanku.”

Wu Zetian tidak langsung menjawab. Setelah beberapa detik, ia berkata singkat,

“Kalau begitu, jangan menghalangiku.”

Ia melangkah pergi, meninggalkan Wu Wei berdiri di atas jembatan kecil itu, menatap punggung adiknya. Punggung yang dulu rapuh, kini tegak dan tak tergoyahkan.

Zetian...

___________________

Wu Zetian melangkah kembali ke dalam kamar Selir Zhen Zu dengan langkah tenang namun waspada. Daun pintu tertutup perlahan di belakangnya, meredam suara koridor luar. Aroma obat yang sebelumnya menyengat kini telah jauh berkurang, digantikan oleh bau air hangat dan ramuan herbal ringan.

Pandangan Wu Zetian langsung tertuju pada ranjang.

Selir Zhen Zu tidak lagi terbaring lemah seperti sebelumnya. Rambutnya yang tadi kusut kini telah disanggul sederhana, wajahnya tidak lagi sepucat mayat hidup. Meski masih tampak sedikit pucat, warna biru di bibirnya telah memudar. Dan wadah porselen sudah tidak berada disana.

Wu Zetian menghembuskan napas lega tanpa sadar.

Syukurlah…

Ia melangkah mendekat.

“Bibi… Apa tubuhmu sudah tidak sakit lagi?” Ucapnya lembut, nadanya jauh berbeda dari ketegasan yang ia tunjukkan pada orang lain.

Selir Zhen Zu menoleh, lalu tersenyum.

“Aku sudah merasa jauh lebih enakan sekarang, dengar, suaraku juga sudah bisa keluar dengan normal." Jawabnya pelan namun jelas. Suaranya sudah keluar yang sebelumnya hanya bisa membisu.

Ia bangkit sedikit dari ranjang, lalu menggerakkan kedua lengannya, bahkan menjejakkan kaki ke lantai dengan cukup stabil. Gerakannya memang belum sepenuhnya kuat, tetapi jauh berbeda dari kondisi tak berdaya sebelumnya.

“Lihat ini,” katanya dengan nada hampir ceria, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini nyata. Wu Zetian terkekeh kecil, rasa tegang di dadanya akhirnya luruh.

“Ahahaha, iya, iya, Bi, Aku sudah lihat. Syukurlah kalau kondisimu sudah membaik.”

Selir Zhen Zu menatap Wu Zetian lama. Matanya berkaca-kaca karena rindu dan kekhawatiran yang menumpuk selama bertahun-tahun.

“Terima kasih, Nak.." ucapnya lirih namun penuh ketulusan.

Tangannya yang sedikit gemetar menggenggam tangan Wu Zetian.

"Kau mengubah hidupku yang hampir padam menjadi hidup kembali. Aku benar-benar… sungguh-sungguh berterima kasih padamu.”

Wu Zetian membalas genggaman itu dengan lembut.

“Sama-sama, Bibi, Aku hanya melakukan sebisaku." jawabnya tenang.

Ia lalu bertanya dengan nada perhatian, “Apakah kau masih membutuhkan hal lain? Jika ada yang kurang nyaman, aku bisa..

“Sudah tidak, Nak,” potong Selir Zhen Zu sambil menggeleng pelan. Lalu tiba-tiba pandangannya bergeser ke arah pintu kamar.

Alisnya sedikit berkerut.

“Tunggu... Wu Wei?” katanya ragu.

Barulah saat itu ia menyadari sosok pria yang berdiri agak ke belakang, nyaris menyatu dengan bayangan dinding.

“Sejak kapan kau sampai di sini, Nak?” tanya Selir Zhen Zu dengan suara terkejut namun tidak keras.

Wu Wei tersentak ringan. Ia melangkah maju satu langkah, lalu menundukkan kepala dalam-dalam.

“Bibi…” ucapnya pelan.

Dadanya terasa sesak. Kata-kata yang ingin ia ucapkan selama dua tahun terasa berat di lidahnya.

“Aku… Aku minta maaf, Bi." Wu Wei menarik napas panjang untuk mengucapkan kata itu.

Selir Zhen Zu menatapnya terdiam.

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu selama ini,” lanjut Wu Wei, suaranya terdengar menyesal. Kepalanya semakin menunduk.

Ruangan itu hening. Beberapa detik berlalu sebelum Selir Zhen Zu menghela napas pelan.

“Bangkitlah, Wu Wei,” katanya akhirnya. Nada suaranya tidak marah, namun juga tidak sepenuhnya hangat.

________________

Yuhuuuu~🌹

Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, subscribe dan vote karya-karya Author💖

See you~💓

1
Murni Dewita
lanjut
Murni Dewita
double up thor
Murni Dewita
banyak-banyak up thor
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
hai kak mampir
Murni Dewita
double up thor
Murni Dewita
next
Murni Dewita
double up thor
Wahyuningsih
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Murni Dewita
double up thor
Murni Dewita
next
Murni Dewita
lanjut
Murni Dewita
👣
xiaoyu
gaaass truuss
Wahyuningsih
thor upnya dikit amat 😔😔 amat aja gk dikit 😄😄😄klau up yg buanyk thor n hrs tiap hri makacih tuk upnya thor sehat sellu thor n jga keshtn tetp 💪💪💪
Wahyuningsih
lanjut thor yg buanyk upnya thor n hrs tiap hri jgn lma2 upnya thor makacih tuk upnya thor sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Siaaap kak, dan terimakasih dukungannya🥰
Sehat selalu💖
total 1 replies
Wahyuningsih
mantap thor wu zetian dpt ruang dmensi mkin sru 😄😄😄
Wahyuningsih
thor hrs kasih bnuslah ruang dimensi biar mkin seru bikin wu zetian badaz abiz
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Hehe sabar yaa kak, nanti ada kok🤭
total 1 replies
Wahyuningsih
q mampir thor, moga2 jln critanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!