NovelToon NovelToon
Dark Impulsif

Dark Impulsif

Status: tamat
Genre:Bad Boy / Tamat
Popularitas:70
Nilai: 5
Nama Author: Egi Kharisma

Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.

Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sentuhan Yang Tertunda

Sekolah diliburkan sementara akibat situasi wilayah yang memanas. Sinar matahari pagi menyaring lembut melalui tirai tipis di rumah Vino. Di sofa ruang tamu, Vino terbaring meringkuk dengan kaki kiri yang dibalut perban tebal hingga ke betis. Misca duduk bersandar di sofa tunggal di sudut ruangan, matanya terpejam rapat, wajahnya tampak lebam kebiruan di satu sisi. Sementara itu, Jeka terlelap di atas karpel lantai dengan selimut yang berantakan.

Tiba-tiba, suara bel pintu yang ditekan berulang-ulang dengan tidak sabar membangunkan Jeka. Ia segera tersentak bangun, mengucek mata, dan dengan sigap memastikan tidak ada sisa bercak darah atau peralatan medis yang berceceran di lantai.

"Siapa pagi-pagi begini?" gumam Vino, terbangun dengan rintihan kecil karena kakinya berdenyut.

"Biar aku yang buka," bisik Jeka sambil merapikan kaosnya.

Di depan pintu, Dhea dan Raya berdiri dengan raut wajah yang tidak bisa menyembunyikan ketegangan. Dhea, kekasih Vino, terlihat sangat khawatir hingga jemarinya gemetar. Raya, gadis tomboy yang selalu menjadi pelindung tak resmi bagi Misca, menatap Jeka dengan mata tajam yang menuntut penjelasan.

"Ada apa dengan kalian? Kenapa pesan kami sejak malam tidak ada yang dibalas satu pun?" tanya Dhea, langsung menerobos masuk tanpa menunggu dipersilakan.

Dhea berlari menuju sofa dan melihat kondisi Vino. Seketika, rasa terkejut melanda Dhea. Ia melihat memar di wajah kekasihnya dan, yang paling mengerikan, lilitan perban tebal yang menutupi betis Vino.

"Vino! Astaga! Apa yang terjadi padamu?!" Dhea menjerit tertahan, matanya seketika berkaca-kaca. Ia menyentuh kaki Vino dengan sangat hati-hati, rasa khawatir seorang kekasih meledak begitu saja. "Kenapa kakimu sampai seperti ini?! Kalian bertarung lagi? Kenapa harus selalu berakhir seperti ini, Vino?!"

Vino berusaha memaksakan sebuah senyuman, mencoba menyembunyikan kengerian duel melawan Dian semalam.

"Tenanglah, Sayang. Ini tidak apa-apa. Hanya... hanya kecelakaan kecil saat latihan tadi malam. Aku terjatuh saat mencoba gerakan baru yang agak sulit. Terlihat parah ya?"

Dhea menggeleng keras, ia tidak percaya sedikit pun. Ia memukul pelan bahu Vino sambil terisak. "Jatuh apanya?! Aku tahu ini luka tusukan, Vino! Kamu selalu saja berbohong! Berjanjilah padaku, Vino, berjanjilah kalau kamu tidak akan mencari masalah lagi!"

Dhea mulai menangis sesenggukan dan memeluk Vino dengan sangat erat. Vino membalas pelukan itu, merasa sangat bersalah karena harus menyembunyikan kebenaran tentang pengkhianatan Dian dan ancaman The Phantom, namun ia tahu ia harus melindungi Dhea dari kekacauan yang terjadi.

Sementara itu, Raya berjalan mendekati Misca. Misca baru saja membuka matanya, menatap langit-langit atap dengan pandangan dingin yang sulit diartikan.

Raya tidak berteriak histeris seperti Dhea. Ia hanya berdiri di samping sofa Misca, menatap Misca dalam diam. Namun, di balik diamnya, mata Raya dipenuhi oleh kekhawatiran.

"Kamu... baik-baik saja?" tanya Raya dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti bisikan.

Misca menatap wajah Raya. Di sana, ia melihat gurat kelelahan dan ketakutan yang nyata—sama seperti yang ia rasakan sendiri saat berhadapan dengan Arsen dan Kris. Misca tersadar bahwa yang membuat Raya gemetar bukan hanya luka memar di tubuhnya, melainkan rasa cemas yang mendalam melihat betapa kejamnya dunia yang kini menyeretnya semakin jauh.

"Aku baik," jawab Misca singkat. Ia tidak mungkin menceritakan tentang deklarasi perang Unit Execution atau bagaimana Dian kabur bersama para pengkhianat. Bagi Misca, berbagi ketakutan itu adalah sebuah beban pikiran yang tidak perlu dilakukan.

Raya hanya mengangguk pelan, seolah mengerti tanpa perlu penjelasan lebih lanjut. Ia segera berbalik untuk mengalihkan suasana yang menyesakkan itu. "Baiklah. Ayo kita masak sesuatu di dapur. Kalian bertiga pasti kelaparan dan belum makan dengan benar sejak semalam. Aku tidak mau tahu, kalian harus makan yang sehat!"

Misca, Vino, dan Jeka hanya bisa saling pandang dalam diam. Mereka mungkin berhasil menyembunyikan detail bentrokan hebat semalam, tetapi mereka tidak akan pernah bisa lari dari ketulusan perhatian orang-orang yang mereka sayangi.

Lima remaja itu kini berkumpul di dapur. Vino yang duduk dengan satu kaki diselonjorkan ke kursi, Dhea yang menjadi koki utama, Raya yang memotong sayuran dengan kecepatan tinggi, Jeka yang bertugas membersihkan piring, dan Misca yang bertugas... mengawasi.

Misca, bahkan membawa obsesi kesempurnaan ke dalam urusan dapur.

"Raya, potongan wortel itu tidak seragam," kritik Misca sambil menunjuk papan talenan Raya dengan tatapan tajam. "Jika kita ingin masakan matang secara bersamaan dan merata, semua potongan harus sama rata. Kematangan yang pas menuntut kerapian bentuk pada setiap bahan."

Raya mendengus kesal, hampir saja mengarahkan pisau ke arah Misca dengan gemas. "Ini bukan sedang merancang rencana besar atau menyusun strategi serangan, Misca. Ini hanya sup ayam sederhana. Selama rasanya enak, siapa yang akan peduli dengan bentuk potongan sayuranmu itu?"

Dhea tertawa kecil melihat perdebatan kecil antara Misca dan Raya. "Sudahlah, Misca. Biarkan Raya bekerja dengan tenang. Kamu duduk saja diam, kepalamu juga habis kena hantam kan?"

"Aku masih sanggup membantu," jawab Misca datar, meskipun ia sebenarnya tidak berdaya melawan perintah Dhea.

Kekacauan dimulai saat Vino, yang merasa bosan hanya duduk diam, mencoba membantu mengambil botol bumbu di rak paling atas. Ia berdiri dengan tumpuan satu kaki dan mencoba menggapai rak tersebut.

"Aduh!" Vino menjerit pelan karena kakinya kehilangan keseimbangan. Untuk menghindari jatuh, ia secara refleks meraih teko berisi air panas di atas kompor yang baru saja mendidih.

Byur! Air panas itu tumpah menggenangi lantai.

"VINO!" teriak Dhea dan Raya secara serempak dengan nada panik.

Jeka, sang Ahli Perlengkapan, bergerak cepat. Ia segera mengambil kain pel dan membersihkan tumpahan air panas itu dalam hitungan menit sebelum mengenai kaki siapa pun. "Vino! Kamu itu aset penting Kuadran Presisi sekarang, jangan merusak dirimu sendiri dan juga dapur ini!" omel Jeka.

"Itu adalah cara kerja yang sangat berantakan, Vino," komentar Misca sambil menggelengkan kepalanya dengan gaya sok tahu.

"Aku hanya lapar!" rengek Vino sambil menyengir lebar, mencoba mencairkan suasana.

Di tengah kekacauan itu, tawa akhirnya pecah. Misca, Vino, dan Jeka menyadari betapa kontrasnya situasi mereka saat ini. Di luar sana, perang besar melawan The Phantom sedang menanti, namun di sini, mereka hanyalah remaja biasa yang bertengkar karena potongan sayur dan tumpahan air. Suasana hangat ini menjadi jeda yang sangat berharga dari dunia kekerasan.

Setelah makan siang, Misca menjauh sebentar untuk menelepon orang tuanya. Ia harus memastikan alasannya kuat agar orang tuanya tidak curiga. Misca menyusun setiap kata dengan sangat hati-hati di kepalanya.

"Halo, Misca. Ada apa, Nak? Tumben menelepon jam segini," terdengar suara Ibunya, Laras, yang tenang dari seberang telepon.

"Bu, Misca menelepon untuk memberitahu bahwa Misca akan menginap lagi malam ini di rumah Vino," kata Misca dengan nada datar yang terkontrol.

"Lagi? Kenapa? Ada tugas kelompok yang sangat mendesak?"

"Bukan begitu, Bu. Misca hanya ingin menghemat tenaga," jawab Misca dengan alasan yang sudah ia siapkan. "Vino sedang tidak enak badan, dan Jeka juga menginap di sini. Jika Misca pulang sekarang, besok pagi Misca harus menempuh perjalanan jauh lagi ke sini untuk mengurus keperluan teman-teman. Mengingat cuaca yang diperkirakan akan sangat dingin, rasanya tidak perlu membuang-buang waktu di jalan."

Ibunya tertawa kecil. "Astaga, Misca. Selalu saja pakai hitung-hitungan. Ya sudah, Nak. Jaga dirimu baik-baik, dan tolong jaga dirimu juga. Jangan lupa istirahat. Kabari Ibu lagi besok ya."

"Baik, Bu. Misca akan pulang besok pagi tepat waktu. Sampai jumpa." Misca menutup teleponnya dengan perasaan lega. Kebohongan yang paling meyakinkan adalah kebohongan yang terdengar sangat masuk akal.

### Malam Hari

Vino sudah tertidur pulas di sofa depan, Jeka sedang asyik membaca buku di sudut ruangan. Misca duduk sendirian di meja makan dapur saat Raya masuk membawa kotak P3K.

"Aku akan membersihkan luka-lukamu," kata Raya dengan nada yang tidak menerima penolakan sedikit pun.

Misca hanya diam, tidak membantah. Ia duduk di kursi dapur, sementara Raya mulai membersihkan memar di pelipis dan sudut bibir Misca menggunakan kapas dan antiseptik. Raya, yang biasanya terlihat tomboy dengan gerakan yang kasar dan cepat, kini bergerak dengan sangat lembut. Jari-jarinya yang hangat terasa di kulit wajah Misca. Raya mencondongkan tubuhnya ke depan, fokus sepenuhnya pada memar di wajah Misca.

Misca menatap wajah Raya dari jarak yang sangat dekat. Ia bisa melihat setiap detail wajah gadis itu, mencium aroma lembut sampo dari rambutnya yang jatuh menutupi sebagian pipinya.

Misca, yang biasanya selalu bersikap tenang dan tegas, tiba-tiba merasakan hatinya bergejolak. Di tengah kesunyian, ia melihat sisi lembut dan pesona Raya.

"Ini... apakah terasa sakit?" bisik Raya dengan nada penuh kekhawatiran.

"Tidak," jawab Misca dengan suara yang tiba-tiba menjadi serak. Sebenarnya ia ingin mengatakan, "Tidak, karena kamu yang melakukannya," namun egonya mencegahnya.

Secara tidak sadar, Misca mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Raya. Raya tersentak, menghentikan gerakannya. Wajah mereka kini sudah begitu dekat. Kehangatan kulit wajah Raya di telapak tangan Misca menjadi satu-satunya hal yang memenuhi pikiran Misca saat itu.

Misca mendekat perlahan, niatnya kini sudah sangat jelas: ia ingin melanggar seluruh prinsip kendali dirinya untuk sesaat saja. Ia menutup mata secara perlahan...

Tepat ketika napas mereka mulai menyatu, sebuah suara keras dan ceria memecahkan keheningan malam yang romantis itu.

Vino dari ruang tamu terbangun mencoba berdiri, dia benar-benar lupa kalau kakinya sedang terluka. Ia berteriak. "AKU LAPAR LAGI, TAPI AKU JUGA INGIN NONTON FILM!"

Brak!

Vino, Dhea, dan Jeka tiba-tiba muncul di ambang pintu dapur secara bersamaan. Vino yang bertumpu pada satu kaki memimpin di depan, diikuti Dhea, dan Jeka yang berada paling belakang.

Mereka bertiga seketika membeku.

Misca dan Raya juga mematung di posisi mereka. Tangan Misca masih menempel di pipi Raya, dan wajah mereka kini hampir bersentuhan. Suasana hening seketika, hanya diselingi napas terengah-engah Vino yang kelelahan karena harus melompat-lompat dengan satu kaki.

Jeka, si ahli perlengkapan, adalah yang pertama kali sadar dari keterkejutan itu. Ia tidak berkata apa-apa, hanya mengangkat satu alisnya dengan ekspresi yang sangat sulit dijelaskan. Ia segera berbalik, menarik Dhea, dan membimbing Vino yang canggung untuk kembali ke ruang tamu.

"Baik, baik. Sekarang waktunya semua orang nonton film dan jangan mengganggu orang di dapur!" ujar Jeka, pura-pura tidak melihat apa pun, berusaha secepat mungkin meredakan situasi paling canggung yang pernah ia temui.

Misca menarik napas panjang dan dalam, menyumpahi ketidaksengajaan Vino yang datang di saat yang benar-benar tidak tepat. Raya, dengan wajah yang sudah semerah tomat, segera merapikan kotak P3K-nya dan menunduk dalam-dalam.

"Aku... aku sudah selesai membersihkannya," bisik Raya hampir tak terdengar.

Satu jam kemudian, Dhea dan Raya bersiap untuk pulang karena malam sudah semakin larut. Di ambang pintu, Dhea memeluk Vino sekali lagi.

"Jaga dirimu baik-baik. Aku akan kembali besok pagi."

Raya berdiri di hadapan Misca. Ia tidak membahas apa yang baru saja terjadi di dapur, namun tatapannya berbicara banyak hal.

"Misca," ujar Raya lembut. "Jangan mencari masalah lagi. Berjanjilah padaku kalau kamu akan istirahat dengan benar. Luka-luka itu... aku sangat tidak suka melihatnya di wajahmu."

"Aku janji," kata Misca. Ia tidak menjanjikan bahwa ia tidak akan berkelahi lagi, namun ia berjanji akan mengutamakan keselamatan dirinya. Itu adalah janji paling jujur yang bisa ia berikan.

Setelah Raya dan Dhea pergi, Jeka juga berpamitan. "Sampai jumpa besok. Aku akan membawa perlengkapan tambahan untuk kotak P3K-nya."

Misca dan Vino kini ditinggalkan sendirian di ruang tamu. Vino yang kembali berbaring di sofa menatap Misca sambil menyeringai nakal.

"Hampir saja ya, Misca?"

Misca hanya mendengus kesal dan duduk di seberang Vino. "Itu adalah gangguan di saat yang benar-benar tidak tepat, Vino."

Malam pun semakin larut. Di luar sana, deklarasi perang dari The Phantom sedang menunggu untuk meledak, namun untuk malam ini, Misca sang pemimpin hanya ingin beristirahat dari rasa lelah, dan dari gejolak perasaan yang ditimbulkan oleh kehadiran Raya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!