Franceska wanita cerdas berpendidikan tinggi, berparas cantik dan berprofesi sebagai guru matematika. Suatu kombinasi yang melengkapi penampilannya yang good looking, cemerlang dan bersinar dari keluarga sederhana.
Prestasi akademik, serta kecerdasannya mengola waktu dan kesempatan, menghentarkan dia pada kesuksesan di usia muda.
Suatu hari dia mengalami kecelakaan mobil, hingga membuatnya koma. Namun hidupnya tidak berakhir di ruang ICU. Dia menjalani penglihatan dan petualangan dengan identitas baru, yang menghatarkan dia pada arti kehidupan sesungguhnya.
》Apa yang terjadi dengan Franceska di dunia petualangannya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Petualangan Wanita Berduri."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. PWB
...~•Happy Reading•~...
Pak Murai ingat kepergian Hernita setelah beradu mulut dengan wakil kepala sekolah. Hal itu tidak bisa hilang dari ingatannya. "Siapa dia yang bernama Hernita ini, hingga membuat kita semua kumpul di sini?" Semua mata langsung menatap Pak Muria.
"Anda mengatakan guru di sini, tapi tidak tahu siapa Hernita?" Ketua yayasan jadi marah kepada Pak Murai.
Pak Murai tersenyum dalam hati, karena pancingannya berhasil. "Justru saya tahu siapa dia. Sejak jadi murid, berulang kali dia menaikan pamor sekolah ini, dengan prestasinya di berbagai kejuaraan. Hingga kita harus lakukan seleksi ketat pada murid baru yang datang mendaftar."
"Tapi apa yang sekolah lakukan padanya beberapa waktu belakangan ini?" Pak Murai mau mengingatkan ketua yayasan, atas kebijakannya yang mulai berubah setelah sekolah diintervensi oleh beberapa orang tua murid kaya.
"Memberikan dia beasiswa? Sekolah yang lain pun bisa lakukan itu padanya." Pak Murai berkata dengan nada lebih tinggi.
"Sekarang bapak bertanya mengapa dia keluar. Apakah dia tidak terima, tidak jadi utusan sekolah ini. Ini mencerminkan kita telah salah menilai dan memperlakukan dia."
"Saya kembali bertanya seperti hari itu setelah dia keluar dari ruang guru. Apa yang telah dia lakukan hingga diperlakukan seperti itu? Apa tidak bisa bicara baik-baik dengannya?"
"Hari itu saya hanya melihat seorang murid cerdas ditabrak mobil dengan tidak diutus tanpa seleksi, lalu digilas lagi oleh perkataan guru yang tidak bijak."
"Ke mana arogansi kita? Hari itu tidak memperhitungkan dia jadi utusan sekolah dengan tidak adakan seleksi. Hari ini sangat panik hingga adakan rapat darurat, karena ada sekolah yang mengangkat dia sebagai utusan sekolah mereka."
"Kata anak-anak jaman sekarang, tenang saja, Pak. Apa hebatnya Hernita hingga membuat kita takut, dia jadi utusan sekolah lain?"
"Kita sudah punya utusan yang jempolan. Fokus saja buat utusan kita." Pak Murai mengeluarkan yang sudah ditahan, sekalian menampar pengambilan keputusan.
Pak Murai tidak menyangka, sarannya agar Hermina tetap bersekolah, langsung direspon dan jadi utusan. Sehingga jadi senjata untuk menghukum pihak-pihak yang arogan.
'Dia baru jadi utusan sekolah lain, sudah membuat ketua yayasan panik. Apa lagi dia keluar sebagai pemenang. Mungkin akan ada perang mulut atau lomba cari kambing hitam.' Pak Murai membatin.
Apa yang dikatakan Pak Murai bagaikan pedang tajam yang memotong selubung dan menguak kesepakatan ketua yayasan dengan Mama Lenox dan Juke.
Kini ketua yayasan makin takut, akan ada gelombang protes dari orang tua lain jika mengetahui keputusannya untuk mengutus Lenox dan Juke tanpa seleksi, berhasil negatif dan mengecewakan.
Melihat ketua yayasan terdiam, kepala sekolah mengambil alih rapat. "Ada yang mau berikan pendapat untuk apa yang terjadi ini?"
"Saya, Pak." Salah satu guru yang mengajar matematika mengangkat tangan.
"Silahkan, Ibu Ida." Kepala sekolah mempersilahkan, tapi wakilnya ketar-ketir mengetahui ada guru yang mulai bersuara.
"Terima kasih, Pak. Saya hanya mau menambahkan pada apa yang dikatakan Pak Murai. Dan saya minta maaf, kalau yang saya katakan agak bergeser dari agenda rapat darurat ini." Ucapan Ibu Ida membuat semua melihatnya.
"Saya mau gunakan kesempatan berkumpul ini, untuk mengoreksi keputusan utusan yang sudah ditetapkan itu. Mengapa kita begitu panik mengetahui Hernita jadi utusan sekolah harapan? Apa utusan kita tidak dalam posisi aman?"
"Kita tidak pikirkan dan tindak lanjuti keputusan untuk mempersiapkan utusan kita. Apakah Lenox dan Juke sudah dibekali dengan cukup sebagai peserta kompetisi?"
"Seharusnya fokus mempersiapkan utusan kita, karena selama ini, mereka semua dibina oleh Ibu Franceska untuk ikut kompetisi."
"Sekarang setelah mereka ditetapkan, apakah sekolah sudah menentukan juga siapa yang akan mempersiapkan mereka?"
"Apa mereka sudah cukup siap untuk ikut kompetisi, jadi dibiarkan begitu saja? Saya bertanya ini, karena walau guru matematika, saya tidak punya kemampuan seperti Ibu Franceska yang punya spesialis seperti itu." Ucapan Ibu Ida membuat Pak Murai tersenyum dalam hati, karena mereka pernah bicarakan secara khusus setelah Hernita tidak jadi utusan sekolah.
Apa yang dikatakan Ibu Ida menyentak ketua yayasan, kepala sekolah dan wakilnya. Para guru yang lain juga menyadari, ada yang salah. "Saya minta bicara, Pak." Salah seorang guru jadi berani berbicara setelah mengerti yang dikatakan Pak Murai dan Ibu Ida.
Ketua yayasan makin panik, karena tidak siap membahas agenda rapat yang bergeser. Begitu juga dengan kepala sekolah dan wakilnya.
"Saya setuju yang dikatakan Ibu Ida. Lebih baik kita bicarakan utusan sekolah kita. Tidak perlu bahas peserta sekolah lain. Karena kita tidak bisa mengembalikan Hernita ke sekolah ini."
"Iya, Pak. Jangan pikirkan untuk mengembalikan Hernita ke sekolah ini. Kalau dia kembali juga, apa sekolah mau rubah keputusan untuk mengganti utusan?"
"Iya. Sedangkan panitia mungkin sudah tutup pendaftaran. Jadi kita fokus saja untuk persiapkan utusan kita."
"Untuk persiapannya, kita serahkan kepada pengambil keputusan. Selagi masih ada waktu, kerahkan sumber daya yang ada."
"Iya, kita fokus saja. Kalau tidak ada guru yang bisa tangani, kita cari dari luar."
"Tidak usah cari dari luar. Utusan kita mumpuni untuk ikut kompetisi. Silahkan ibu wakil tangani persiapannya."
Para guru bergantian memberikan pendapat dan usulan yang membuat ketua yayasan, kepala sekolah dan wakilnya jadi pusing dan sakit kepala.
~▪︎▪︎~
Di tempat lain ; Di ruang kerja kepala sekolah SMA Harapan, Hernita dan Jefase sedang serius mengerjakan soal. Mereka menggunakan waktu yang diberikan kepala sekolah untuk mempersiapkan diri.
"Nita, soal ini kau dapat dari mana?" Jefase heran melihat Hernita mencatat soal di papan tulis.
"Tenang saja, ini aku sudah dapat sebelumnya dan agak dikembangkan sedikit." Hernita menjawab yang bisa diterima Jefase, agar tidak curiga. Karena dia tidak bisa mengatakan Mamahnya memberitahukan soal yang sedang dia catat di papan.
"Oh, ok. Kau sudah pernah kerjakan dan dapat jawabannya?"
"Belum. Kita kerjakan bersama sesuai cara masing-masing. Kalau hasilnya sama, kita gunakan cara yang waktu lebih sedikit." Hernita jadi semangat melihat reaksi Jefase menyelesaikan soal untuk team.
"Ok. Kalau begitu, aku nyalakan waktu. Supaya kita bisa tahu berapa banyak waktu yang dibutuhkan."
"Ok. Ini aku nyalakan waktu juga. Jadi kalau selesai, masing-masing langsung tahu." Hernita setuju.
Tidak lama kemudian, mereka mengerjakan berbagai soal yang diberikan Ceska lewat Hernita. Jefase dan Hernita saling mengoreksi kesalahan untuk mendapatkan pola yang cepat dan benar.
Saking serius, mereka tidak menyadari waktu berlalu dan pintu ruang kepala sekolah yang dibuka perlahan. Mereka hanya berdiri di depan papan mengerjakan soal dan memeriksa waktu.
Kepala sekolah yang baru kembali dari pertemuan dengan ketua yayasan, tidak jadi masuk ke ruangan. Hatinya terharu melihat Hernita dan Jefase serius mempersiapkan diri.
Kepala sekolah menutup pintu perlahan lalu telpon penjaga, agar segera menyiapkan makanan dan minuman untuk mereka.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~•○¤○•~...