Dibuang ibu kandungku, disiksa keluarga tiriku. Tapi itu belum cukup...
Saat Lania beranjak dewasa, ia justru harus menggantikan kakak tirinya untuk menjadi tunangan pria yang tidak dikenalnya.
Penyiksaan itu terus berlanjut sampai Lania benar-benar menikahi pria itu. Karena sebuah kesalahpahaman, suaminya terus menyiksanya karena kebencian yang tidak seharusnya ia terima.
Sabar... sabar... sabar... hanya satu kata itu yang bisa menguatkan Lania dalam menjalani kehidupannya yang sangat keras.
Akankah kehidupan Lania menjadi lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersikap Profesional
Daley sangat geram saat mendapatkan informasi dari Frans bahwa Lisa memaksakan diri untuk melakukan syuting. Pria itu tidak habis pikir jika kondisi Lisa yang masih belum baik-baik saja justru tetap melakukan pekerjaan.
"Apa uang begitu penting untuknya sampai ia tidak memikirkan kondisi tubuhnya sendiri? wanita ini benar-benar serakah," celetuk Daley.
Tok.tok.tok...
Pintu ruangan kerjanya diketuk, Daley sontak mempersilahkan masuk. Malik melangkahkan kakinya mendekati Daley.
"Tuan muda ada apa? kenapa wajah anda terlihat sangat marah?" tanya Malik.
Daley memperlihatkan ponselnya pada Malik.
"Lihatlah wanita serakah ini pak. Ia bahkan memaksakan diri untuk melakukan pekerjaannya saat kondisi tubuhnya tidak baik-baik saja."
Malik menyunggingkan senyumnya, "anda marah karena mengkhawatirkannya."
"Sama sekali tidak, aku justru semakin tahu jika uang adalah segalanya untuk wanita ini. Artinya aku harus lebih hati-hati lagi saat sudah menikah dengannya. Wanita yang serakah seperti ini pasti akan berusaha menguras uang keluarga Jamiko."
Malik kembali tersenyum, namun ia tidak berkomentar lagi.
"Tuan muda, ini laporan yang anda butuhkan. Ada beberapa laporan kerja beberapa tahun milik pak Zubeir, pak Sefri dan pak Rudy."
"Apa ada yang mencurigakan dari mereka?"
Malik menggelengkan kepalanya, "laporan itu sangat bersih hingga tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali. Tapi ada beberapa yang aneh dengan pengeluaran keuangan perusahaan beberapa tahun yang lalu. Ini baru aku temukan setelah pak Aston pensiun."
Daley segera melihat semua berkasnya, pria itu mulai fokus dengan pekerjaannya dan melupakan masalah Lisa. Daley menyipitkan matanya saat melihat laporan keuangan perusahaan dengan laporan keuangan pengeluaran mereka.
"Pak Zubeir lebih bermasalah, apa pak Malik bisa lebih menyelidiki detailnya?"
Malik menganggukkan kepalanya, "tentu saja tuan muda. Aku akan menyelidiki sampai tuntas. Jika dilihat dari laporan tersebut, ia sangat mencurigakan. Jika aku boleh berspekulasi, mungkin saja uang itu digunakan untuk membayar pak Kurdi. Tapi kita harus tetap menyelidikinya agar lebih tepat."
Daley menganggukkan kepalanya, "tapi tunggu, lihatlah transaksi pengeluaran pak Sefri."
Malik segera mengambil berkas itu lagi lalu melihatnya. Ada beberapa transaksi pengeluaran sebesar 10 juta beberapa kali dalam waktu yang cukup singkat.
"Jika ditotalkan, bukankah sama dengan pengeluaran yang dilakukan pak Zubeir?" tanya Daley.
"Anda benar juga tuan muda. Sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan tanpa sepengetahuan perusahaan. Aku benar-benar bodoh karena baru mengetahuinya," kata Malik.
"Anda cukup sibuk dengan urusan kakek. Anda sama sekali tidak bodoh pak."
Malik menghela nafas panjang, "tuan muda, transaksi pak Rudy biasa saja. Tapi kita tidak bisa melepaskannya begitu saja. Begini saja, ada beberapa staf perusahaan yang berpihak pada kita. Aku akan meminta bantuan mereka untuk menyelidiki hal ini."
"Bapak yakin mereka bisa dipercaya?"
Malik menganggukkan kepalanya, "sangat yakin tuan muda."
"Baiklah, lakukan apa yang menurut pak Malik yakin."
"Siap. Oh ya tuan muda, bagaimana dengan persiapan pernikahan anda dengan nona Lisa? bukankah 3 hari lagi?" tanya Malik.
"Apa yang perlu dipersiapkan? pernikahan itu akan dilakukan secara tertutup dan hanya dihadiri beberapa orang saja di gereja. Tidak perlu persiapan sama sekali pak. Dan aku juga tidak menganggap pernikahan ini sungguhan. Jika bukan karena perjanjian kakek dengan kakeknya, aku tidak akan mau menikah dengan wanita seperti itu."
Malik kembali menyunggingkan senyumnya.
"Apa ada lagi yang ingin dibicarakan pak?" tanya Daley.
Malik menggelengkan kepalanya, "sudah tidak ada lagi tuan muda."
"Pak Malik, bolehkah aku meminta sesuatu?"
"Tentu saja silahkan."
"Aku selama ini sudah memikirkannya, bisakah anda memanggilku Ley saja? aku benar-benar tidak nyaman jika anda yang memanggilku tuan muda."
"Maaf tuan muda, itu tidak bisa aku lakukan."
"Oh ayolah pak."
"tuan Ley saja."
"Hm... apa bedanya?" gerutu Daley.
Malik terkekeh geli, "baiklah tuan Ley, aku harus mulai bekerja lagi."
Daley menghela nafas panjang, "baiklah, silahkan..."
Malik pun berpamitan keluar dari ruangan, sedangkan Daley justru kembali melihat foto-foto Lisa yang ada di ponselnya. Lisa yang sebenarnya adalah Lania.
...****************...
Di lokasi syuting...
Lania sudah melakukan beberapa adegan dengan profesional. Wanita itu berusaha agar ia tidak melakukan kesalahan sehingga harus melakukan adegan berulang-ulang. Lania memang lebih cerdas dari Lisa, ia selalu saja bisa menyelesaikan syuting lebih cepat.
Anne memperhatikan artisnya yang mulai terlihat tidak nyaman, wanita itu pun segera menghampiri sutradara untuk meminta waktu istirahat beberapa menit karena kondisinya.
Sutradara tersebut menyetujuinya dan melakukan break time selama 15 menit. Anne segera menghampiri Lania.
"Kenapa syutingnya berhenti? apa aku melakukan kesalahan Anne?" tanya Lania.
"Nona Lisa, aku mengkhawatirkanmu. Jadi aku meminta waktu istirahat pada sutradara."
"Aku baik-baik saja Anne. Aku ingin segera menyelesaikan syuting hari ini."
Anne melihat kaki Lania yang masih terbungkus perban, wanita itu terbelalak lebar saat melihat perban elastis itu basah seperti terkena darah. Anne segera membantu dan membawa Lania ke tempat duduknya.
"Nona Lisa, sebenarnya apa yang terjadi? kakimu terkilir atau terluka? sepertinya itu berdarah," kata Anne.
Lania membelalakkan matanya, pantas saja ia merasa kesakitan lagi, ternyata lukanya kembali berdarah. Lalu apa yang harus dikatakan pada Anne.
"Seingatku saat membawamu ke rumah sakit, kakimu itu sama sekali tidak terluka. Lalu sekarang..."
Lania menelan saliva-nya, "begini Anne, kemarin aku memaksakan diri untuk berjalan. Lalu tak sengaja menyenggol gelas yang ada di atas meja. Gelas itu jatuh lalu aku menginjak pecahan gelasnya."
Hanya itulah yang bisa dipikirkan oleh Lania, ia berharap manager Lisa bisa mempercayai ucapannya.
"Oh ya Tuhan, itu pasti menyakitkan sekali. Seperti ibarat kata sudah jatuh tertimpa tangga. Lalu kenapa kau tetap memaksakan diri untuk melakukan syuting? jika kau tidak tahan..."
"Anne... aku baik-baik saja. Bukankah kau tahu, jika aku membatalkan syutingnya lagi, itu akan berpengaruh pada perusahaan entertainment kita. Aku masih sanggup melakukannya. Luka ini tidak seberapa. Satu lagi, kau tidak perlu merasa bersalah. Aku yang ingin melakukannya."
"Lagi-lagi nona Lisa memperdulikan aku, ini kepribadiannya yang aku sukai," pikir Anne.
"Tapi nona, sepertinya darah yang keluar semakin banyak. Apa anda yakin tidak apa-apa?"
Lania menganggukkan kepalanya, ia benar-benar harus menyelesaikan syuting hari ini. Ia memang sudah tidak tahan lagi untuk menahan rasa sakitnya. Tapi jika ia pulang begitu saja, Amel dan Lisa pasti akan mengamuk padanya.
"Tidak apa-apa Anne, lebih baik kita segera menyelesaikannya."
"Tunggu sebentar nona," kata Anne seraya meninggalkan Lania.
Lania hanya bisa melihat Anne yang sedang berbicara dengan sutradara lagi. Entah apa yang sedang wanita itu bicarakan. Tak lama kemudian, Anne pun kembali mendekatinya.
"Nona Lisa, aku sudah bicara dengan pak Sutradara mengenai kondisi kakimu."
"Anne, jika kita tidak menyelesaikannya, aku..."
"Bukan tidak menyelesaikannya," sergah Anne, "tapi kita menundanya, kau hanya perlu menyelesaikan beberapa adegan lagi saja, pak sutradara sudah menyetujuinya. Syuting selanjutnya memang harus menambahkan beberapa adegan, tapi melihat anda yang berakting dengan baik, aku rasa itu tidak jadi masalah," imbuhnya.
"Oh tidak Anne. Kita harus menyelesaikan yang seharusnya diselesaikan hari ini. Aku tidak ingin menundanya," kata Lania.
"Tapi nona..."
"Apa kau ingin terus berdebat denganku?"
Anne menghela nafas panjang, "baiklah jika itu keinginanmu. Tapi jika kau tidak tahan lagi..."
"Aku bisa menahannya," sergah Lania.
"Baiklah."
Lania menghela nafas lega, ia memaksa Anne karena jika mereka sampai memotong adegan syuting hari ini, itu justru sangat berbahaya untuknya. Ia tidak ingin Amel dan Lisa terus menyalahkannya. Lania sudah lelah menerima semua kekasaran mereka.
Syuting pun dilanjutkan, para kru tersebut sangat senang karena Lisa adalah artis yang sangat profesional dan selalu bertanggung jawab. Namun mereka tidak tahu, jika Lisa yang mereka kenal selama ini sebenarnya adalah wanita lain, wanita pengganti yang tidak diizinkan memiliki identitasnya sendiri.
...****************...
Happy Reading All...
ngenes banget kamu Lisss nggak ada yang muasin 😄
harusnya minuminnya sekalian sama botol²nya tuh 😂
kasihan Lisa nungguin sampe karatan , eh yang di unboxing malah lania 🤣🤣🤣