NovelToon NovelToon
PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Anak Genius
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Malam Pembantaian di Basemen Dua

Bab 28: Malam Pembantaian di Basemen Dua

​Langkah kaki mereka berdegup kencang, berkejaran dengan gema suara tembakan yang masih bersahutan dari lantai atas Aula Grand Gala. Bau khas basemen yang lembap, bercampur aroma bensin dan semen dingin, langsung menyengat indra penciuman begitu mereka menembus pintu besi tebal menuju area parkir Basemen Dua. Jalur ini adalah rute logistik dan pembuangan limbah hotel—sebuah labirin beton yang minim pencahayaan, hanya diterangi oleh lampu neon kuning yang berkedip redup setiap beberapa detik sekali.

​Rendra berjalan di paling depan dengan pistol Glock-17 yang terkokang di tangan kanannya. Kepala keamanan klan Dirgantara itu bergerak dengan waspada, menyisir setiap sudut pilar beton yang besar. Di tengah formasi, Kenzo dan Keira berlari dengan napas yang mulai memburu, sementara Aline melangkah di paling belakang, bertelanjang kaki, membiarkan kulit telapak kakinya merasakan setiap getaran mikro di atas lantai semen yang dingin.

​Tangan kiri Aline mencengkeram erat tongkat besi dekoratif pembatas antrean yang tadi ia curi. Di balik kegelapan lorong, sosok gadis desanya menguap separuh. Matanya bergerak liar layaknya radar militer, menghitung jarak pantulan suara, sudut-sudut mati (blind spot), dan mencari jalur pelarian alternatif jika rute yang dipimpin Rendra ternyata sudah dikompromikan oleh musuh.

​"Rendra," suara Kenzo memecah kesunyian lorong, nadanya sangat datar namun dingin. "Jangan lewat jalur pintu logistik luar. Sistem pelacak digital di tabletku menunjukkan ada tiga kendaraan utilitas asing yang terparkir statis di sana. Mesin mereka menyala, tapi tidak ada aktivitas GPS. Itu posisi perimeter penembak jitu klan Valerius."

​Rendra mendadak menghentikan langkahnya tepat di balik sebuah pilar beton nomor 4B. Ia melirik ke arah tablet kecil yang dipegang Kenzo, lalu mengumpat pelan di dalam hati. Anak berusia lima tahun ini baru saja menyelamatkan nyawa mereka dari jebakan garis tembak (firing line).

​"Kita memutar lewat terowongan utilitas pipa air di sebelah barat," putus Rendra cepat. "Nona Sanyoto, tetap rapatkan tubuhmu dengan dinding! Jaga anak-anak di belakangmu!"

​"B-Baik, Pak Rendra... Saya takut sekali, Pak... Kaki saya perih..." cicit Aline, mendadak memunculkan kembali logat desanya yang gemetar saat Rendra menoleh ke arahnya. Ia sengaja meringis canggung sambil membetulkan letak kacamata emas tipisnya yang miring karena keringat.

​Namun, belum sempat mereka memutar arah, suara deru ban mobil yang mencicit keras bergema dari arah tikungan lorong basemen barat.

​SCREEECHHH!

​Sebuah mobil van hitam dengan kaca gelap meluncur kencang, lalu berputar 180 derajat hingga memblokade terowongan utilitas pipa air yang hendak mereka tuju. Pintu geser van tersebut terbuka dengan kasar dari dalam, dan lima orang pria bertubuh tegap dengan rompi taktis hitam dan topeng balaklava langsung melompat turun. Di tangan mereka, moncong submachine gun MP5 sudah terarah lurus ke posisi Rendra.

​"Tiarap!" teriak Rendra liar, langsung melepaskan tembakan beruntun dari Glock-nya.

​DOR! DOR! DOR!

​Dua orang penyerang di barisan depan van tumbang dengan peluru bersarang di dada, namun tiga orang lainnya langsung membalas dengan rentetan peluru otomatis yang masif.

​TATATATATATATATA!

​Peluru-peluru panas menyapu dinding beton, menciptakan percikan api dan pecahan semen yang berterbangan di udara. Rendra terpaksa melempar tubuhnya ke balik pilar untuk membalas tembakan, namun ia terisolasi dari posisi si kembar. Salah satu peluru musuh berhasil menyerempet bahu kiri Rendra, membuat pria paruh baya itu mengerang tertahan dan senjatanya sempat terlepas ke lantai.

​"Sialan! Mundur! Amankan Tuan Muda!" seru Rendra dengan napas tersengal, berusaha meraih kembali senjatanya di tengah hujan peluru.

​Aline melihat situasi telah berubah menjadi skenario kritis Kelas Alpha dalam hitungan detik. Dua orang penyerang klan Valerius mulai melangkah maju dengan taktis, mengarahkan moncong senjata mereka langsung ke arah pilar tempat Kenzo dan Keira meringkuk ketakutan. Jika ia terus berakting sebagai gadis desa yang pasrah, kedua anak ini akan mati, dan misinya untuk membongkar misteri Kak Rena akan terkubur bersama jasad mereka.

​Persetan dengan penyamaran, batin Aline, sepasang matanya berkilat sedingin es di balik lensa kacamatanya.

​Aline melepaskan genggaman tangan si kembar. Dengan satu sentikan pergelangan tangan yang penuh tenaga, ia mengayunkan tongkat besi dekoratif di tangan kirinya. Kain gaun sutra hitamnya yang robek tinggi hingga ke paha kiri berkibar di udara saat tubuhnya melesat keluar dari balik pilar bagai bayangan badai yang tak kasat mata.

​Pria penyerang pertama yang sedang memegang MP5 bahkan tidak sempat menyadari dari mana datangnya ancaman. Aline merangsek masuk ke dalam zona buta (blind spot) pria itu dalam waktu sepertiga detik.

​BUAK!

​Ujung tongkat besi di tangan Aline menghantam pergelangan tangan pria itu dengan akurasi matematis, membuat tulang ulna-nya retak seketika dan senjatanya terpental ke lantai. Belum sempat pria itu berteriak, Aline memutar tubuhnya 360 derajat, memanfaatkan momentum putaran gaun sutranya untuk melepaskan tendangan tumit berputar (spinning hook kick) yang bersarang telak di pelipis sang penyerang. Pria bertubuh besar itu langsung tumbang berdebum ke lantai marmer, pingsan dalam sekali serang.

​Pria kedua yang berada di dekat van hitam tersentak kaget melihat rekannya dilumpuhkan oleh seorang wanita bergaun malam dalam sekejap mata. Ia dengan panik mengalihkan moncong MP5-nya ke arah Aline.

​TATATATA!

​Peluru-peluru menyapu lantai semen, namun Aline sudah melakukan manuver luncuran rendah (low slide) di atas lantai basemen yang licin karena tumpahan oli. Belahan gaunnya yang robek tinggi memberikan kebebasan mutlak bagi kedua kaki pualamnya untuk bergerak. Saat tubuhnya meluncur tepat di bawah selangkangan musuh, Aline mengayunkan tongkat besinya dengan sapuan horizontal yang brutal, menghantam kedua tulang kering pria tersebut.

​KRAK!

​"ARRGHKK!" Pria itu menjerit histeris saat keseimbangannya hancur total. Sebelum tubuhnya menghantam tanah, Aline bangkit berdiri dengan tumpuan satu kaki, meraih kerah rompi taktis pria itu dengan tangan kanannya, lalu membanting seluruh bobot tubuh pria tersebut ke atas kap mesin mobil van dengan teknik judo seoi-nage yang sempurna.

​BRAAAM!

​Kap mesin mobil tersebut ringsek, dan pria kedua tak lagi bergerak, memuntahkan darah segar dari mulutnya yang tertutup topeng balaklava.

​Aline berdiri di tengah koridor basemen yang kini mendadak sunyi, hanya menyisakan suara mesin van yang masih menderu. Gaun sutra hitamnya sedikit ternoda abu semen, rambut sanggulnya kini terurai sebagian membingkai wajahnya yang dingin tanpa ekspresi. Tangan kirinya masih memegang tongkat besi yang kini sedikit bengkok, sementara tangan kanannya dengan tenang menyesuaikan letak kacamata emas tipisnya yang sempat bergeser.

​Kenzo dan Keira yang menyaksikan seluruh pembantaian senyap itu dari balik pilar beton benar-benar terpaku. Keira membuka mulutnya lebar-lebar dengan mata bulat yang berbinar penuh pemujaan, sementara Kenzo menghentikan seluruh pergerakan jemarinya di atas tablet, menatap pengasuh mereka dengan pandangan yang tak lagi bisa didefinisikan sebagai sekadar "respek." Wanita ini bukan lagi pelayan cerdas; dia adalah seorang predator puncak yang mematikan.

​"Kak Aline..." bisik Keira, suaranya bergetar penuh kekaguman. "Kakak... Kakak itu sebenernya pahlawan super ya?"

​Mendengar suara Keira, kesadaran taktis Aline langsung tersentak kembali. Ia melirik ke arah Rendra yang masih meringkuk di balik pilar seberang, berusaha membalut luka bahunya dengan saputangan, beruntung posisi Rendra terhalang oleh sudut pilar sehingga tidak melihat koreografi tempur Aline secara detail.

​Dalam waktu satu detik, Aline mengembalikan seluruh topeng penyamarannya. Ia menjatuhkan tongkat besi di tangannya hingga menimbulkan bunyi dentang yang nyaring, lalu melompat mundur sembari memegang dadanya sendiri dengan wajah yang mendadak berubah menjadi pucat pasi dan ketakutan luar biasa.

​"A-Astagfirullah! Gusti Allah...!" jerit Aline dengan suara melengking cemas, air matanya kembali mengalir dengan akting yang luar biasa dramatis. Ia duduk bersimpuh di lantai, memeluk lututnya sendiri sembari menunjuk dua jasad penyerang dengan jari yang gemetar hebat.

​"Tuan Muda... Nona Muda... itu... itu tadi orang jahatnya kenapa bisa jatuh sendiri toh? Saya tadi cuma panik... saya ayun-ayunkan tongkat besi ini karena takut mereka tembak anak-anak... Kok... kok mereka langsung pingsan? Duh, Gusti... apa saya ndak sengaja bunuh orang? Saya takut dipenjara, Tuan Muda... hiks... hiks..."

​Kenzo menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis yang sangat langka. Ia tahu betul Aline sedang melakukan kebohongan publik tingkat tinggi, namun bocah genius itu memilih untuk ikut bermain dalam sandiwara ini demi melindungi "calon ibu baru" mereka.

​"Tenang saja, Kak Aline," ucap Kenzo datar, melangkah keluar dari balik pilar dengan gaya tenang seorang bangsawan kecil. "Mereka hanya pingsan karena menabrak tongkat besi yang Kakak ayunkan secara acak. Itu namanya... keberuntungan orang saleh. Benar kan, Keira?"

​"I-Iya! Benar! Kak Aline tadi cuma asal ayun-ayun tongkat kok! Keira lihat sendiri!" sambung Keira sigap, mengangguk berkali-kali dengan wajah polos buatan yang sangat kompak dengan kakaknya.

​Rendra akhirnya berhasil bangkit berdiri sambil memegang bahunya yang berdarah. Ia melangkah mendekati area van dengan tatapan bingung dan skeptis. Ia melihat dua orang terlatih klan Valerius lumpuh dengan luka hantam yang teramat presisi di titik saraf vital mereka. Sesuatu di dalam kepala Rendra berbisik bahwa ini tidak mungkin dilakukan oleh seorang gadis desa yang mengayunkan besi secara asal.

​Namun, sebelum Rendra sempat menginterogasi Aline lebih jauh, pintu lift basemen di ujung lorong mendadak terbuka dengan dentuman keras.

​Adrian Dirgantara melangkah keluar dari dalam lift. Kemeja putihnya kini sudah basah oleh darah musuh, ekspresi wajahnya begitu gelap dan dipenuhi oleh aura kemurkaan yang tak tertandingi. Ia memegang senjata laras panjang M4 yang ia rampas dari salah satu mayat penyerang di lantai atas.

​Mata elang Adrian memindai kekacauan di Basemen Dua. Ia melihat dua penyerang klan Valerius yang tergeletak lumpuh di dekat van hitam, Rendra yang terluka, dan... Aline yang sedang menangis tersedu-sedu di lantai sembari memeluk Kenzo dan Keira dengan gaun sutranya yang robek compang-camping.

​Adrian menurunkan senjatanya, melangkah cepat mendekati posisi mereka. Ketegangan taktis di tubuh sang mafia mendadak runtuh saat melihat kedua anaknya aman tanpa lecet sedikit pun. Namun, pandangan matanya kembali terkunci rapat pada Aline.

​Ada perang batin yang luar biasa hebat di dalam dada Adrian. Laporan forensik siber yang menyatakan Aline tidak memiliki foto masa kecil di desa terus berputar di kepalanya, ditambah dengan pemandangan dua pembunuh profesional yang lumpuh secara misterius di hadapan gadis ini. Namun, melihat bagaimana Aline bertelanjang kaki, mengorbankan gaun mewahnya, dan menangis ketakutan demi mendekap erat anak-anaknya di atas lantai semen yang dingin... ada sesuatu yang mengetuk dinding pertahanan hati Adrian yang paling dalam.

​"Rendra, bawa mobil cadangan sekarang. Kita kembali ke mansion," perintah Adrian, suaranya melembut satu oktav—sebuah anomali yang belum pernah didengar oleh Rendra sepanjang sejarah ia bekerja untuk klan Dirgantara.

​Adrian kemudian membungkuk di hadapan Aline. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tangan kekarnya yang besar menyelinap di bawah lutut dan punggung Aline, lalu mengangkat tubuh mungil gadis itu ke dalam sebuah gendongan ala bridal style yang teramat kokoh.

​Aline tersentak, memekik pelan dengan wajah yang mendadak merona merah sejati karena keterkejutan fisik yang murni. "T-Tuan Besar... apa yang Tuan lakukan toh? Saya bisa jalan sendiri... kaki saya cuma agak perih..."

​"Diam, Aline," potong Adrian rendah, suaranya bergaung tepat di dada bidangnya yang merapat pada pipi Aline. "Lantai ini penuh pecahan kaca dan semen tajam. Kau sudah melakukan tugasmu menjaga anak-anakku malam ini. Sekarang... biar aku yang membawamu pulang."

​Aline terpaksa menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Adrian, menyembunyikan senyuman kemenangan taktis yang bercampur dengan debaran aneh yang mulai mengikis dinding kebenciannya. Di belakang mereka, si kembar Kenzo dan Keira berjalan beriringan dengan senyuman licik yang super lebar, tahu bahwa Babak 2 dari misi perjodohan mereka baru saja mencetak poin kemenangan mutlak.

1
M. T🌻
aku mampir ya thor, semangat. jangan lupa mampir juga👍☺
gendiz: terimakasih 🙏 aaasiiiaaappp
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!