Mahesa seorang OB culun dan miskin mendapatkan kitab sakti dan merubah hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Pertolongan Alena
Malam itu juga, setelah menyaksikan sendiri bagaimana kondisi kesehatan Nenek yang begitu memprihatinkan di dalam rumah petak yang pengap, hati Alena bergejolak hebat. Rasa empati yang telah meningkat pesat di dalam dadanya tidak membiarkan dirinya tinggal diam begitu saja. Sebagai putri tunggal dari seorang triliuner, Alena tahu persis bahwa ia memiliki kekuatan finansial dan koneksi yang bisa mengubah nasib seseorang dalam sekejap mata.
Sambil tetap duduk bersimpuh di atas tikar pandan usang, Alena merogoh ponsel pintar berlogo apel tergigit dari saku hoodie-nya. Dengan cekatan, jemari lentiknya mendial sebuah nomor kontak VIP.
"Halo, Dokter taufik? Ini Alena Subroto," sapa Alena dengan nada suara yang sengaja dibuat berwibawa namun tetap santun. "Saya mau minta tolong, Dok. Malam ini juga, tolong siapkan satu kamar paviliun VVIP terbaik di Rumah Sakit Pusat Medika. Kirimkan satu unit ambulans beserta tim medis lengkap ke alamat gang yang akan saya kirimkan setelah ini. Iya, sekarang juga, Dok. Semua biaya administrasi dan penanganan medisnya langsung masukkan ke rekening pribadi saya."
Mahesa yang sejak tadi berdiri diam di dekat pintu tripleks langsung tersentak mendengar percakapan telepon tersebut. Indra pendengaran supernya yang disokong hawa murni Kitab Inti Jagat menangkap setiap kata dengan sangat jelas. Mahesa langsung bergeser maju, dan berlutut di samping Alena dengan raut wajah yang mendadak dipenuhi oleh gejolak rasa tidak enak yang teramat sangat.
"Nona Alena, mohon maaf sebelumnya, tapi tindakan Nona ini sudah terlalu jauh melampaui batasan hubungan kerja kita," bisik Mahesa dengan suara yang terdengar berat, tegas, namun sarat akan penolakan yang halus. "Saya tidak bisa menerima bantuan sebesar ini dari Nona. Merawat Nenek adalah tanggung jawab pribadi saya seutuhnya sebagai seorang cucu."
Alena menurunkan ponselnya, lalu menoleh menatap sepasang mata elang Mahesa dengan tatapan mata indahnya yang kini memancarkan ketegasan yang tak terbantahkan. "Mahesa, lu lihat sendiri kan kondisi Nenek lu kayak gimana? Beliau butuh penanganan medis secepatnya dari dokter spesialis, bukan cuma dikasih bubur ayam sama obat warung!" ketus Alena dengan sisa-sisa watak manjanya yang keras kepala, walau kali ini tujuannya murni demi kebaikan.
"Saya tahu kondisi Nenek saya, Nona. Dan saya sudah merencanakan untuk membawa beliau ke rumah sakit besar setelah gaji pertama saya dari Pak Subroto keluar minggu depan," balas Mahesa dengan intonasi suara yang sangat teratur, mencoba mempertahankan harga diri maskulinnya di depan sang nona besar. "Untuk saat ini, tabungan saya belum mencukupi untuk membayar uang muka rumah sakit swasta terbaik pilihan Nona."
Alena mendengus kencang, menatap Mahesa dengan pandangan kesal yang manja sekaligus gemas. "Minggu depan lu bilang?! Lu mau nunggu sampai kondisi Nenek lu makin parah baru lu mau bertindak, hah?! Lu beneran egois banget ya jadi orang, Mahesa!" omel Alena dengan kalimat yang sengaja ditinggikan untuk mematahkan argumen pria di depannya. "Gua nggak peduli soal gaji lu belum keluar atau apa! Sekarang gua nanya sama lu, harga diri lu yang kaku itu lebih penting daripada nyawa Nenek lu sendiri?!"
Mendengar hantaman kalimat lurus dan menusuk dari mulut Alena, Mahesa mendadak bungkam seribu bahasa. Lidahnya terasa kelu, dan aliran hawa murni di dalam rongga dadanya seolah berputar melambat. Kata-kata Alena barusan laksana sebuah tamparan realitas yang telak menghancurkan benteng pertahanan egonya. Pria tegap sekeras baja karang itu akhirnya menundukkan kepalanya perlahan, menatap lantai semen dengan perasaan yang berkecamuk hebat.
Melihat Mahesa yang terdiam pasrah, kelembutan batin Alena kembali mendominasi. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh lengan kekar Mahesa yang dibalut kemeja hitam gulung secara perlahan, memberikan sebuah sentuhan emosional yang sangat menenangkan.
"Mahesa... dengerin gua," tutur Alena dengan nada suara yang melembut, kehilangan seluruh aksen galaknya yang tadi. "Gua ngelakuin ini bukan karena gua mau pamer kekayaan atau mau ngerendahin lu. Gua ngelakuin ini karena gua bener-bener peduli sama Nenek lu, dan gua pengen lu bisa fokus jagain gua tanpa harus kepikiran kondisi rumah setiap saat. Anggap aja ini investasi gua buat pengawal pribadi terbaik yang pernah gua punya, oke?"
Mahesa mendongakkan kepalanya perlahan, menatap lekat-lekat ke arah wajah cantik Alena yang berada dalam jarak begitu dekat di bawah temaram lampu bohlam lima watt rumah petaknya. Di dalam lubuk hati yang paling dalam, Mahesa merasakan getaran terharu yang teramat sangat merayap masuk ke dalam jiwanya. Belum pernah ada satu pun orang asing, apalagi seorang majikan dari kalangan borjuis, yang sudi mengulurkan tangan dengan ketulusan semurni ini untuk menolong keluarganya yang miskin.
Detik itu juga, di balik keteguhan jiwanya yang biasa sedingin es, Mahesa mulai merasakan adanya sepercik perasaan lain yang tumbuh terselubung terhadap sang nona besar—sebuah rasa kagum bercampur getaran hangat yang melampaui batas profesionalisme kerja seorang bodyguard. Namun, Mahesa yang memiliki kedewasaan berpikir tingkat tinggi segera menepis jauh-jauh pikiran tersebut dari benaknya.
Jangan berpikir terlalu jauh, Mahesa. Status kalian berdua laksana langit dan bumi yang takkan pernah bisa bersatu, batin Mahesa mengingatkan dirinya sendiri dengan sangat disiplin, mengunci perasaan aneh itu rapat-rapat di sudut hatinya demi menjaga kehormatan tugas.
"Terima kasih... Terima kasih banyak, Nona Alena. Kebaikan batin Nona malam ini tidak akan pernah bisa saya lupakan seumur hidup saya," ucap Mahesa akhirnya dengan nada suara berat yang bergetar emosional, sepasang mata elangnya menatap Alena dengan rasa hormat yang kini telah bertransformasi menjadi sebuah kesetiaan mutlak.
Alena tersenyum sangat manis hingga kedua matanya menyipit indah. "Nah, gitu dong dari tadi! Nurut apa kata gua kan nggak bikin lu rugi!" sahut Alena dengan gaya manja khasnya yang renyah, membuat suasana tegang di dalam rumah petak itu seketika mencair sepenuhnya.
Tidak kurang dari tiga puluh menit kemudian, suara sirine ambulans premium dari Rumah Sakit Pusat Medika terdengar memecah keheningan gang sempit tersebut. Beberapa petugas medis dengan seragam lengkap dan peralatan darurat profesional segera masuk ke dalam rumah petak dengan sigap berkat koordinasi cepat dari Dokter Taufik.
Mahesa dengan cekatan membantu mengangkat tubuh ringkih neneknya ke atas tandu dorong ambulans, sementara Alena memastikan seluruh jalur keluar gang steril dari hambatan warga sekitar. Proses pemindahan medis berjalan dengan sangat lancar dan profesional tanpa ada sedikit pun kegaduhan yang berarti.
Hingga menjelang larut malam, Nenek akhirnya berhasil dipindahkan ke kamar paviliun VVIP yang sangat mewah dan berfasilitas lengkap di lantai teratas rumah sakit. Setelah tim dokter spesialis memberikan suntikan suplemen dan memastikan kondisi Nenek telah stabil dalam fase pemulihan yang aman, barulah Alena dan Mahesa bisa bernapas lega di ruang tunggu paviliun yang dilengkapi sofa kulit premium tersebut.
Alena tampak duduk bersandar di sofa sembari memejamkan matanya yang kelelahan setelah seharian penuh menghadapi drama emosional. Sementara Mahesa tetap berdiri tegak dua langkah di samping sofa, bertindak sebagai perisai hidup yang konsisten menjaga ketenangan malam sang putri mahkota.
Hubungan di antara keduanya kini telah resmi melangkah jauh lebih dekat, merajut seutas benang kepercayaan yang sangat kokoh di atas retakan dinding keangkuhan masa lalu, bersiap menghadapi segala badai intrik dari Wijaya Group yang masih terus mengintai di hari-hari esok.