NovelToon NovelToon
Antara Batas Dan Nafas

Antara Batas Dan Nafas

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

​“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”

​Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Di Ambang Batas dan Lembaran Persetujuan

Pintu ganda ruang resusitasi Instalasi Gawat Darurat (IGD) tertutup dengan bantingan kedap yang berat, memisahkan dua dunia yang mendadak jungkir balik.

Di dalam, pertarungan melawan waktu dimulai dengan ritme hiruk-pikuk. Di luar, keangkuhan seorang Narendra Pradipta runtuh menjadi puing tak berharga di atas lantai koridor yang dingin.

Narendra masih terduduk bersandar pada dinding rumah sakit yang kaku.

Kedua lututnya ditekuk, menopang siku tangannya yang gemetar tanpa henti. Pria itu menatap telapak tangannya sendiri dengan pandangan kosong.

Di sana, sisa kosmetik beige milik Alika telah mengering, berbaur dengan noda darah samar yang sempat merembes dari bibir istrinya.

Aroma antiseptik yang tajam menusuk hidungnya, mendesak rasa mual yang pekat naik ke kerongkongan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Narendra merasa benar-benar tak berdaya.

Uang di rekeningnya yang tak berseri, pengaruh politiknya, dan nama besar Artha Group yang biasanya mampu membungkam siapa saja, kini tak lebih dari sampah tak berguna di hadapan maut yang sedang mengintai Alika.

Ting.

Ponsel di saku celananya bergetar hebat.

Layar digitalnya menyala, menampilkan nama Lisa, sekretaris pribadinya, berulang kali mencoba menghubungi. Ada belasan pesan masuk yang mengingatkan tentang rapat pemegang saham eksekutif dan penandatanganan akuisisi perusahaan properti sore ini.

Nilainya ratusan miliar rupiah. Rapat yang beberapa jam lalu dianggap Narendra sebagai poros hidupnya.

Dengan gerakan kasar, Narendra merogoh ponsel itu.

Tanpa melihat layarnya, ia membanting benda persegi itu ke lantai pualam hingga layarnya retak seribu dan mati total. Pria itu mencengkeram rambutnya sendiri, membiarkan dadanya naik-turun menahan sesak yang teramat sangat.

"Alika... kumohon..." bisik Narendra parau, suaranya tercekat di tenggorokan.

Setiap kilasan ingatan tentang bagaimana ia mengabaikan rintihan Alika, bagaimana ia menuduh istrinya bersandiwara, kini berubah menjadi cambuk berduri yang menguliti egonya tanpa ampun.

Di balik dinding kaca yang buram, dr. Raditya memimpin tim medis dengan ketegangan yang berada di titik didih.

Monitor pemantau tanda vital berbunyi dengan nada melengking yang konstan, mengindikasikan situasi code blue yang mengancam nyawa.

"Saturasi masih tertahan di delapan puluh empat persen dengan NRM lima belas liter!" seru seorang perawat senior, suaranya berpacu dengan bunyi bip monitor yang kian cepat.

"Tekanan darah drop, sembilan puluh per enam puluh. Nadi seratus tiga puluh kali per menit, takikardia!"

"Siapkan alat intubasi dan ventilator!" perintah Raditya, suaranya terdengar tegas meski pelipisnya sudah dibanjiri keringat dingin.

Ia menempelkan stetoskop ke dada Alika, mendengarkan dengan saksama. "Suara napas menurun di lobus bawah kanan dan kiri. Ini bukan sekadar pleuritis biasa, sudah terjadi efusi pleura masif. Paru-parunya terendam cairan."

Raditya menatap wajah Alika yang pucat pasi di bawah siraman lampu operasi yang terang.

Ruam kupu-kupu di wajah wanita itu kini tampak semakin memerah keunguan, kontras dengan kulitnya yang mendingin.

Ketiadaan obat imunosupresan selama berhari-hari telah membuat antibodi Alika mengamuk secara sistemik, tak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga mulai merusak pembuluh darah gastrointestinalnya.

"Dok, ada hematemesis lagi!" perawat lain berteriak saat cairan berwarna merah pekat bercampur kehitaman kembali keluar dari sudut mulut Alika yang tak sadarkan diri.

"Lakukan suction sekarang! Jangan sampai cairan masuk ke saluran napas!" bentak Raditya.

"Pasang IV line kedua. Mulai terapi pulse-dose Metilprednisolon seribu miligram sekarang juga melalui infus. Kita harus menekan sistem imunnya secara agresif sebelum organ vitalnya mati total! Berikan juga IV Omeprazole dosis tinggi untuk menghentikan pendarahan di lambungnya."

Jemari Raditya bergerak dengan kecepatan terlatih, memasang jalur infus baru pada pergelangan tangan Alika yang membengkak dan kaku.

Di dalam hatinya, Raditya terus merapalkan doa medis.

Ia tahu, tingkat keberhasilan terapi pulse-dose ini sangat bergantung pada seberapa kuat tubuh Alika mampu bertahan menerima gempuran steroid dosis tinggi dalam kondisi sekritis ini.

Dua puluh menit yang menyiksa berlalu sebelum pintu ruang resusitasi akhirnya terbuka.

Raditya melangkah keluar dengan jas dokter yang sedikit berantakan dan masker yang sudah diturunkan ke dagu. Wajahnya memancarkan kelelahan luar biasa, namun sepasang matanya masih menyala oleh sisa amarah.

Mendengar bunyi pintu terbuka, Narendra langsung tersentak bangkit dari lantai.

Ia menerjang maju, mencengkeram kedua bahu Raditya dengan cengkeraman begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Bagaimana Alika? Katakan padaku dia baik-baik saja, Raditya! Katakan!" tuntut Narendra dengan mata yang memerah dan suara yang bergetar hebat.

Keangkuhan sang CEO telah lenyap, menyisakan seorang pria yang mengemis harapan.

Raditya tak membalas cengkeraman itu. Ia justru menatap Narendra dengan tatapan dingin yang sarat kemuakan.

Dengan satu gerakan kasar, Raditya menyentakkan bahunya, melepaskan diri dari cengkeraman Narendra hingga pria itu terhuyung mundur.

"Jika kau ingin tahu apakah dia baik-baik saja, jawabannya adalah tidak, Narendra. Istrimu sama sekali tak baik-baik saja," ucap Raditya, setiap katanya dijatuhkan seperti hantaman palu sidang.

"Saat ini kami sedang memasang alat bantu napas mekanis ke tenggorokannya. Paru-parunya terendam cairan akibat komplikasi Lupus yang kau anggap sebagai 'drama' itu."

Narendra melangkah mundur, tubuhnya mendadak terasa lemas seolah seluruh tulangnya telah diloloskan dari tubuhnya. "Paru-parunya... terendam cairan?"

"Bukan hanya itu," sambung Raditya, sengaja menekankan setiap kalimat agar rasa bersalah itu menguliti Narendra hidup-hidup.

"Tindakan bodohmu yang memaksanya menelan pil zat besi dosis tinggi saat lambungnya sedang meradang hebat telah memicu pendarahan saluran cerna akut. Alika memuntahkan darah di dalam sana. Tubuhnya sedang digerogoti dari dua arah berbeda, dan semuanya terjadi karena kau memenjarakannya dan menghentikan obatnya!"

Seorang perawat keluar dari ruang IGD, membawa selembar papan klip berisi beberapa lembar dokumen formal. "Dokter Raditya, ini berkas persetujuan tindakan invasif dan pemindahan ke ruang ICU khusus (HICU)."

Raditya mengambil papan klip itu, lalu menyodorkannya tepat ke depan dada Narendra. Penanya diselipkan di antara sela jari Narendra yang kaku.

"Tandatangani ini, Narendra Pradipta," ujar Raditya dengan nada rendah yang mengancam.

"Ini adalah surat persetujuan untuk melakukan tindakan intubasi dan memasukkan Alika ke ruang perawatan intensif. Biasanya tanganmu menandatangani kontrak bisnis bernilai miliaran rupiah untuk memuaskan egomu. Sekarang, mari kita lihat apakah tangan yang sama memiliki keberanian untuk menandatangani lembaran yang menentukan apakah istrimu akan hidup atau mati malam ini."

Narendra menatap lembar kertas putih di hadapannya.

Huruf-huruf cetak tebal mengenai risiko medis, gagal napas, dan komplikasi fatal seolah menari-nari di matanya, mengaburkan pandangannya yang mulai digenangi air mata penyesalan.

Tangan yang biasanya begitu kokoh dan ditakuti di dunia korporat itu kini gemetar hebat saat mencoba menggoreskan tanda tangan di atas garis hitam yang disediakan.

Setitik air mata Narendra jatuh, membasahi kertas dokumen medis itu tepat di samping namanya. Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, ia menyelesaikan goresan penanya dan mengembalikan papan klip itu kepada Raditya.

"Lakukan apa saja... kumohon," bisik Narendra, suaranya pecah menjadi sebuah rintihan yang menyedihkan.

"Pindahkan dia ke fasilitas terbaik, panggil dokter terbaik dari luar negeri jika perlu. Aku akan membayar berapa pun, Raditya. Tolong selamatkan Alika..."

Raditya mengambil berkas itu dengan sentakan dingin.

Ia menatap Narendra sejenak dengan pandangan yang tak lagi bersahabat. "Simpan uang dan kekuasaanmu, Narendra. Di dalam ruangan ini, hal-hal itu tak ada harganya. Yang bisa menyelamatkan Alika sekarang hanyalah mukjizat dan keinginan tubuhnya sendiri untuk tetap hidup setelah kau siksa habis-habisan."

Tanpa menunggu balasan lagi, Raditya berbalik dan kembali menerobos masuk ke dalam ruang resusitasi, meninggalkan Narendra yang kembali jatuh berlutut di lorong rumah sakit yang sepi.

Pintu ganda itu kembali menutup, dan malam yang panjang bagi penyesalan sang tiran baru saja dimulai di bawah hitungan detik yang kian kritis.

1
SecretS
Penyesalan memang selalu di akhir kalau di awal itu pencegahan 👍
SecretS
Lanjut kak, Alika bakal selama apa enggak itu.. 😯😯
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor☺👈✍️
ilmuwankecil
seru kalk, update lagi kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!