NovelToon NovelToon
Istri Polos Untuk Sang Mafia Dingin

Istri Polos Untuk Sang Mafia Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Xavier Volkov, adalah seorang pemuda tampan yang dikenal dingin dan sangat sulit didekati. Namun ia memiliki sisi gelap sebagai seorang mafia yang ditakuti banyak orang. Meski banyak wanita yang mendekatinya, Xavier sama sekali tidak tertarik pada cinta ataupun hubungan serius. Namun hidupnya berubah saat sang ibu memaksanya untuk segera menikah. Karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita hasil pilihan keluarganya, Xavier akhirnya memilih menikahi seorang mahasiswi polos yang bernama Lyko. Bagi Lyko, pernikahan itu bukan tentang cinta. Ia membutuhkan uang untuk bayar hutang dan pengobatan ibunya. Dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Xavier dan masuk ke dalam kehidupan pria yang sama sekali berbeda dari dunianya. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Xavier tetap bersikap dingin dan cuek pada Lyko. Tetapi semakin lama tinggal bersama, Xavier mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh dihati. Di saat perasaan itu mulai tumbuh, berbagai macam bahaya mulai datang menganggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24 : 1 minggu?!

Malam perlahan turun menyelimuti kota. Di salah satu rusun tua yang kini terlihat jauh lebih sepi dibanding biasanya, sebuah lift terbuka dengan bunyi pelan namun menggema.

TING

Seorang pria keluar dari dalam lift dengan langkah sempoyongan. Bau alkohol begitu kuat menguar dari tubuhnya. Rambutnya berantakan, kemejanya kusut, dan wajahnya memerah akibat terlalu banyak minum.

Pria itu adalah Ayah Lyko, Liam Cyras. Dengan mata yang sedikit buram, ia berjalan menyusuri lorong rusun.

Langkahnya tidak stabil. Beberapa kali tubuhnya bahkan hampir menabrak dinding. Namun ia tetap berjalan menuju satu tujuan, yaitu unit rusun yang dulu ditempati Bunda Diana dan Lyko.

BRAK!

Tubuhnya menabrak pintu rusun. Liam kemudian langsung menggedor dengan keras.

"Diana!"

BRAK! BRAK! BRAK!

"Buka pintunya!"

Ia kembali menggedor.

"Lyko!"

Namun tidak ada jawaban. Lorong tetap sunyi dan tidak ada suara sedikitpun dari dalam rusun itu.

Pria itu terlihat mulai kesal.

"Diana! Lyko! Aku tahu kalian ada didalam! Cepat buka pintunya!”

Tangannya langsung memutar gagang pintu.

CEKLEK

Pintu terbuka, tu langsung masuk. Namun langkahnya mendadak berhenti. Matanya membelalak terkejut.

Ruangan itu kini sangat kosong sekali. Dan kini sudah tidak ada lagi barang-barang pribadi. Yang tersisa hanyalah ruangan kosong dengan dinding pucat.

Liam berdiri terpaku, diwajahnya terlihat rasa terkejut muncul di wajahnya.

"Diana, Lyko!”

Tidak ada jawaban. Ia berjalan ke seluruh ruangan, namun hanya ada kekosongan yang terlihat.

"Kalian berdua keluar lah!”

Suara teriakannya menggema di dalam unit rusun yang kosong itu. Namun tetap sama, tidak ada yang menjawab.

Dan memang tidak ada siapa pun di sana.

Perlahan wajahnya berubah menjadi sangat emosi.

BRUGH!

Liam memukul tembok dengan sangat keras hingga muncul beberapa retakan. "Sialan! Berani-beraninya kalian berdua pergi! Awas kalian!”

Ia langsung keluar dari unit tersebut. Dengan wajah merah dan rahang mengeras.

***

Di dalam kamar mansion, terlihat Lyko sedang duduk di atas tempat tidur didalam kamarnya.

Di depannya terbuka beberapa buku mata pelajaran dan juga buku tulis catatan. Sementara di layar laptop di depannya, terlihat wajah Kelly dan Ruby yang sedang sibuk mengerjakan soal.

Mereka sedang melakukan video call. Sesuai rencana saat pulang kampus tadi.

Ditengah keheningan itu tiba-tiba Kelly mengeluarkan suara. "Astaga tetap saja salah!” Kelly terlihat mengacak rambutnya sendiri.

Lyko kemudian mendongakkan kepalanya menatap layar, “ada apa Kelly?” tanyanya sambil menatap wajah Kelly yang ada di laptop.

“Nomor 25 susah sekali!” katanya.

Ucapan Kelly tersebut diangguki oleh Ruby. "Ah benar, aku juga sudah mencoba rumus yang berbeda namun semuanya tetap saja salah, bahkan sampai aku lewati dulu.”

Lyko yang mendengar itu kemudian membalik halaman buku nata pelajaran nya kemudian membaca dan melihat ulang jawabannya tentang soal nomor 25 tersebut.

"Oh... soal itu mudah saja,” katanya degan nada santai dan sangat polos.

Kelly dan Ruby langsung terdiam saat mendengar itu. Hal itu mungkin memang sudah lumrah bagi mereka, karena Lyko memang siswi yang selalu cepat tanggap dalam setiap mata pelajaran apapun.

Kelly menghela napas. “Sudahku duga... pasti anak sudah paham duluan dengan soalnya.”

Ruby tertawa kecil. “Lyko keren sekali,” pujinya. “Apa boleh ajari kami sedikit? Aku benar-benar tidak paham soalnya.”

Lyko tersenyum, “tentu saja boleh.”

Kemudian Lyko mulai menjelaskan soal itu. Mulai dari logika soal, rumus yang harus dipakai, dan apa inti yang harus diambil. Ia terlihat menjelaskan dengan sangat detail dan lembut.

Ruby yang mendengarkan juga perlahan mulai mengangguk. "Oh... ternyata begitu, aku mengerti sekarang,” ujar Ruby.

Namun di sisi lain Kelly justru terlihat semakin lama semakin terlihat linglung. Matanya menyipit, alisnya berkerut, dan kepalanya terlihat sedikit miring.

Seolah otaknya sedang berusaha memahami perkataan kedua temannya yang lebih mirip bahasa kuno.

Sampai akhirnya Lyko selesai menjelaskan. Ruby terlihat langsung mengambil pulpen.

"Oke, aku mengerti sekarang, terimakasih banyak Lyko,” ucapnya sambil tersenyum.

Lyko mengangguk. “Sama-sama, Ruby.”

Lalu Lyko mulai mengerjakan soal lagi.

"Aku tidak paham!!” teriak Kelly mendadak.

Hal itu langsung membuat Lyko dan Ruby sampai terkejut.

"Aku tidak mengerti satu kata pun!” ucapnya sambil memegang kepalanya.

Kelly kemudian melihat kearah layar. "Kalian ini sedang berbicara dengan bahasa manusia atau bahasa alien sih?! Aku bingung tahu!” ucapnya.

Lyko langsung tertawa sambil menutup mulutnya.

“Kelly... Kelly, Lyko sudah menjelaskan sedetail itu loh, masa kamu masih tidak mengerti? Tapi itu wajar,” ucap Ruby sambil terus menulis dibukunya.

Kelly menaikan satu alisnya. “Wajar? Maksudmu?”

Ruby kembali menatap kearah layar. “Iya wajar, karena otakmu kan pendek,” ucapnya dengan polos.

Lyko dan Kelly langsung terdiam saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut gadis itu.

Lyko terlihat langsung menutup mulutnya dengan tangan.

“Hei aku ini tidak paham karena matematika itu sangat susah, dan itu hal yang lumrah tahu,” ucap Kelly yang kesal.

Ruby kembali menjawab, “kalau aku tak salah ingat... sepertinya hampir semua pelajaran tidak ada yang benar-benar kamu pahami satupun, makanya nilaimu buruk.”

DEGH!

Kelly langsung terdiam dan tidak dapat mengcounter ucapan Ruby barusan, ia tampak terkena ulti yang sangat menusuk hati dari temannya sendiri.

Sementara Lyko tampak sudah tidak kuat lagi, ia langsung menutup wajahnya dengan buku tulis. Bahunya bahkan sampai bergetar karena tertawa. “Hahahaha,” suara tawanya sedikit ia kecilkan.

Ruby memang terlihat pendiam, lembut, dan sangat imut. Dari penampilannya juga ia jauh terlihat lebih feminin dari kedua temannya itu.

Namun ketika mengeluarkan komentar dan ucapan, kata-katanya sangat tajam dan menusuk. Ucapannya bahkan lebih tajam daripada Kelly.

Kelly akhirnya mengeluarkan suara, “wajah imut tapi mulut tajam sekali, bingung aku denganmu,” ucap Kelly.

Ruby hanya tersenyum manis. "Terimakasih."

"Itu bukan pujian!"

Lyko kembali tertawa. Kemudian ia kembali menjelaskan soal tersebut kepada Kelly. Kali ini sedikit lebih pelan dan bertanya dulu apa Kelly sudah paham atau belum.

Sampai barulah Kelly mulai mengerti. "Ohhhh! Aku mengerti sekarang!”

Kini mereka kembali fokus mengerjakan tugas.

Sampai tiba-tiba terdengar ketukan pelan dari pintu kamar.

TOK! TOK! TOK!

“Lyko ada Xavier!” ucap Bundanya dari luar kamar.

Lyko langsung menoleh dan terkejut, kemudian ia melirik teman-temannya ternyata mereka tidak menyadarinya. Lyko kemudian menjawab. “Baik Bunda!”

Kemudian ia menatap kembali teman-temannya. “Teman-teman, aku ada urusan lain, aku tutup dulu ya.”

Kelly mengangguk. "Baiklah."

Ruby tersenyum. "Sampai nanti, Lyko."

Lyko tersenyum. “Sampai nanti, teman-teman.”

Panggilan pun berakhir.

.

.

Beberapa menit kemudian. Lyko menuruni tangga menuju ruang utama mansion.

Sesampainya di sana. Ia langsung melihat Xavier. Pria itu sedang duduk dengan tenang di sofa. Ekspresinya datar seperti biasa.

Lyko berjalan mendekat. “Xavier...” panggilnya.

Xavier menoleh.

Kemudian Lyko duduk di sofa seberangnya. "Ada apa kemari malam-malam?” tanyanya sambil tersenyum lembut.

Xavier kemudian memasukkan tangan ke dalam sakunya. Lalu mengeluarkan dua benda. Sebuah pulpen dan selembar kertas.

Lyko mengedip bingung. "Apa ini?"

Xavier meletakkan keduanya di meja. “Tuliskan desain pernikahan yang kau inginkan disini,” katanya.

Lyko langsung terdiam. Ia benar-benar tidak menyangka. Karena sejujurnya ia belum pernah membayangkan konsep pernikahannya sendiri.

"Aku tidak punya gambaran apa pun," jawab Lyko jujur.

Namun Xavier tetap tenang. "Tuliskan saja hal-hal yang kau sukai."

Lyko menatapnya beberapa detik. Kemudian akhirnya menghela napas kecil. Lalu mengambil pulpen tersebut.

Perlahan ia mulai menuliskan warna yang disukai, dekorasi sederhana, dan bunga favoritnya.

Setelah selesai ia kembali menyerahkan kembali kertas tersebut. Lalu Xavier menerimanya. Ia melihat sekilas. Kemudian melipatnya dan memasukkannya ke dalam saku jas.

Lalu ia kembali mengambil sebuah paper bag yang ada dibawah kakinya. Dan meletakkannya di depan Lyko.

Lyko menaikkan alis. "Apa lagi ini?"

Xavier menjawab dengan datar. “Perlengkapan untuk kuliah,” katanya. "Aku membelikannya karena takut ada yang kau butuhkan.”

Lyko langsung tahu. Kalau Xavier yang membeli maka isi paper bag itu pasti bukan barang biasa. Dan pasti sangat mahal.

"Kalau ada yang tidak kau sukai boleh kau buang.”

Lyko hampir tersedak. Membuang? Barang yang dibeli Xavier? Itu terdengar seperti membuang setumpuk kertas ke tempat sampah.

Namun melihat ekspresi Xavier yang tidak bisa dibantah ia akhirnya menerima paper bag tersebut. “Terima kasih."

Xavier hanya mengangguk.

Ia kembali berbicara. "Oh ya, Mama berkata kita dapat menikah satu minggu lagi."

Lyko membeku. "Apa? Satu minggu lagi."

Xavier hanya mengangguk.

1
Raicy Starmoonix
bnr lgi/Facepalm/
It's me Sky: efek trlalu kaya bgtu tuh/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
bohongnya nyambung lagi/Facepalm/
It's me Sky: bkn skrip dlu mrka/Slight/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
gmna g terpesona Lykonya aja cantik gituu/Sly//Rose/
It's me Sky: //Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
tegang tor, aura mafianya ada bgt/Shame/
It's me Sky: bulu kudup aman?/Blush/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
bagusss bgt ceritanyaa/Kiss//Kiss/
Raicy Starmoonix
si mc ganteng bgt tor/Drool/
It's me Sky: kiww🤭
total 1 replies
Raicy Starmoonix
Xavier tanggung jwb anak orng salting/Facepalm/
It's me Sky: xavier aja salting sendiri/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
salting.... saltingg/Smirk/
It's me Sky: gengsi... gengsi/CoolGuy/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
omak, terbakar cemburu dan posesif/Doubt/
It's me Sky: shhtt/Shhh/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
astaga diksih black card.../Doubt/
It's me Sky: iya dong/Casual/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
lyko nya polos bgt pilss/Proud/
It's me Sky: hu um, soalnya dya bukan batik/Tongue/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
pingin punya cowok spek Xavier ihh, royal bgt😍/Rose/
It's me Sky: heii aku jg mau lohh/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
wahh alurnya keren/Joyful/
Arditya
luar biasa mantap thor
It's me Sky: makasihh/Hey/
total 1 replies
Arditya
Mampir baca thor😍
It's me Sky: yuk¹ mampir/Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!