"Gak usah sok baik sama gue. Ingat, lo tuh orang yang paling gue benci," sewot Niar saat berhadapan dengan bos sekaligus mantan saat SMA dulu. Takdir macam apa ini? mau resign sayang gaji dan fasilitas penunjang, bertahan juga harus menyiapkan mental bertemu dengan dia setiap hari.
"Gak usah jutek gitu. Nanti minta balikan," ledek Gesta yang memang senang sekali bisa bertemu dengan mantan pacar yang terpaksa putus, padahal masih sayang.
Akankah mereka akur dan bisa profesional? happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTAK ENCER
Gesta tersenyum melihat Niar yang begitu lancar memberikan beberapa ide untuk membuat bisnis. Sampai kantor dia mengatakan pada Jaka, sebentar lagi ada kejutan yang dibuat Dion dan Wilona, harus siap sedia. Dia juga langsung chat pada Niar untuk ke ruangannya, maklum kemarin belum sempat diskusi juga.
Niar menyanggupi saat makan siang, karena dia sedang menjalani tugas pendampingan Zifa shooting produk di outdoor. Begitu makan siang tiba, Gesta sudah duduk di cafe tempat mereka janjian. "Sori, telat!" ujar Niar dengan nafas ngos-ngosan, biasa kerja di lapangan tentu menguras energi.
"Santai, kayak sama siapa aja!" ujar Gesta menyodorkan sebotol air mineral, dan Niar langsung menegaknya. Gesta tersenyum, semandiri-mandirinya cewek, kalau merasa nyaman sama seseorang ternyata gak jaga image.
"Mau diskusi apa?" tanya Niar setelah beres order makanan. Gesta pun menceritakan kekhawatiran tindakan Om Dion, dan kini terjadi. Sang papa malah lebih lega, Gesta melepas perusahaan, dan membiarkan Dion kembali. Gesta juga menyebut, bukan karena papa pilih kasih, tapi lebih tepatnya agar Gesta selamat saja. Sang papa mungkin sudah mencium niat buruk Dion dan Wilona, jadi lebih baik Gesta mengalah saja.
"Yah, atasan gue ganti Om Lo, Ges?" tanya Niar kecewa.
"Kemungkinan sih, cuma gue belum mau mundur, sebelum Om bertindak dan melihat hasil putusan rapat dewan," ujar Gesta.
"Nanti kalau jadi ganti, gue resign. Gue gak mau jadi anak buah orang jahat seperti mereka," kata Niar sudah punya gambaran.
"Ya iyalah, gue paksa resign. Kan lo gue rekrut jadi pendiri bisnis gue! Gajinya gue samaain sama gue juga!" janji Gesta.
"Rencananya mau bikin apa?" tanya Niar mengulik minat Gesta, kalau pemikiran Niar dia juga punya impian cuma keterbatasan modal saja.
"Latar belakangku komputer dan manajemen bisnis, jadi aku mau berkaitan dengan IT, mungkin aku mau bikin start-up, membuat website marketplace," ujar Gesta yang memang pernah menjalaninya saat kuliah di luar negeri. Saat itu ia dan temannya, membuat website penjualan barang impor fashion, dilepas oleh Gesta karena ia harus kembali ke Indonesia. Namun, ia masih punya 35% modal di sana, sehingga tiap quartal dia mendapat profit dari temannya.
"Keren! Jadi uang kamu gak hanya dari perusahaan?" tanya Niar tiba-tiba semangat bahas uang. Gesta mengangguk.
"Kenapa?"
"Aku kira kamu hanya single income, ternyata," Niar layaknya perempuan pada umumnya, akan berbinar bila bahas side income begini.
"Dih, kelihatan banget mata ijo kamu bahas uang!" sindir Gesta dan membuat Niar tertawa.
"Rencananya bagaimana?" tanya Niar kembali bahas rencana Gesta. Jadi, Gesta akan membuat website penjualan yang bisa diakses oleh semua penjual dari sabang maupun sampai merauke, baik produk fisik maupun digital.
"Lalu perbedaan website kamu dengan website lainnya?" tanya Niar, karena ia pun sering memakai marketplace saat beli online yang ia pikir menguntungkan untuk pembeli, nyatanya mencekik penjual.
"Pertama kerja sama dengan pihak ekspedisi untuk potongan ongkir, kemudian biaya adminnya jangan terlalu tinggi. Tidak ada pembiayaan lain, agar menarik traffic UMKM masuk ke web penjualan saya, selain itu saya berikan space untuk iklan, nah saya pakai ini untuk mendulang keuntunga," terdengar sekali kalau Gesta menguasai bidang ini.
"Tugasku?" tanya Niar, kok merasa dirinya gak ada peran dalam usaha Gesta kali ini.
"Cukup dampingi aku, asyek!" Niar langsung mengendus kesal, ya elah masih saja modus, dan Gesta tertawa akan hal itu. "Tugas kamu, bagian promosi dan list untuk syarat dan ketentuan menjadi seller, buyer, dan juga cara mendapatkan diskon yang tiap bulan akan ada program tertentu, khususnya saat hari belanja nasional, silahkan buat program selama 6 bulan awal, pakai feeling dan pengalaman kamu saat belanja online dan tidak kamu dapatkan saat beli di marketplace tertentu, satu lagi list ekspedisi yang menurut kamu paling oke, proposal nanti yang aku buat" ujar Gesta memberi intruksi. Terlihat dia adalah seorang leader yang berinovasi, sehingga Niar sudah punya gambaran apa yang akan ia kerjakan.
"Web developer begini, butuh biaya kan, Ges? Kamu punya uang?" tanya Niar memastikan. Uangnya pasti ada, hanya saja kalau memang dia putus dari perusahaan dan tidak punya aset karena dikuasai oleh Dion, kan kasihan. Setidaknya dia harus punya cadangan 300x lipat dari pemasukannya selama ini. Iya kalau langsung berhasil, kalau belum?
"Ada, aku juga mau cari investor kok, Cay. Nanti proposal investor aku juga yang buat. Nanti ada pembagian untuk kerja sama ekspedisi, investor dan juga rekruitmen karyawan, biar aku handle!" Niar mengangguk.
"Kamu minta gaji berapa?" tanya Gesta menatap Niar. Membahas gaji dengan teman sendiri, apalagi memulai dari awal, Niar juga merasa iba.
"Seikhlas kamu deh, Ges!" jawab Niar tanpa pikir panjang. Ya namanya iba pada mantan kekasih yang mau dari 0, setidaknya dia mendukung dengan tidak memberatkan pada gaji.
"Aku samaain dengan kantor, ya!" tawar Gesta.
"Hey, gak kebanyakan? Dua digit loh aku di kantor sekarang, kalau menurutku sih UMR dulu saja, toh masih belum banyak waktu untuk terjun, masih sebatas ide kan!"
"Melasnya, jangan menganggap aku semiskin itu napa, Cay!" sebal Gesta, sikap Niar mengira Gesta langsung jadi miskin.
"Ya gimana, Ges. Aku khawatir saja gak punya uang," Gesta tertawa kemudian menunjukkan salah satu mobile bankingnya. "Setidaknya aku masih punya penghasilan dari temanku lah, Cay!"
Niar mengintip, dan dia melongo saldonya berkali-kali lipat dari tabungannya apalagi dalam bentuk dolar. "Cukup kok kalau buat menafkahi kamu!"
"Modus terus, Pak!" sindir Niar.
"Pokoknya Cay, selama aku masih membangun ini, kamu harus di sampingku. Percaya gak, kalau cowok ada tujuan masa depan bakal lebih semangat, dan gak mau gagal!"
"Ya kalau aku masa depan kamu, Ges! Kalau enggak? Gak nyesel udah nungguin aku, ternyata aku dapat pangeran lain!"
"Kalau sampai itu terjadi, gue culik kamu. Gue sekap!"
"Huh, takut!" ledek Niar. "Ya maksud aku gini loh, Ges. Harapan, cita-cita, dan perubahan hidup itu jangan untuk seseorang, melainkan untuk diri kamu sendiri, agar tidak kecewa dan patah hati. Belum tentu orang yang kamu anggap sebagai tujuan akan sabar menunggu keberhasilan kamu."
Gesta tersenyum, "Iya aku paham, dengan begitu kamu mau bilang kan setiap berusaha sisakan porsi kecewa."
Niar mengangguk. "Aku pernah kecewa sama kamu, ketika kita dekat begini, aku juga menyisakan ruang kecewa bila suatu saat nanti kamu berubah sikap atau menemukan sosok perempuan yang lain, yang kamu anggap sangat pantas menjadi pendampingmu, apalagi soal hati bisa sangat cepat berubah juga!"
"Bijak banget sih," ledek Gesta sembari menjewer pipi Niar, spontan saja gadis itu menepisnya.
"Dih, dibilangin juga! Lagian aku pengen kerja sama kamu, dengan tidak terlalu mengedepankan perasaan, Ges!"
"Baik, Nyonya!"
lanjut pasti nya..
lanjotkan kak🤭
sama2 terbuka...
jadi nya enak...bisa nyari solusi bareng..
tapi niar harus kenal dulu siapa zaldy..
Biarin aja Gesta emg demennya ma cwe bekasan yg udh berbuntut.. Biar nyaho tuh gesta dapetin cewe sekenan 🤣
Btw ga pantes thor tu cwe dikasi nama angel, hrsnya devil aja 🤭