Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.
Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Mas Kalasugih
"Eh-eh-eh! Copot, copot!"
Alhasil, Kiano kehilangan keseimbangan dan langsung terjun bebas dari atas pohon. Pemuda itu spontan memejamkan mata erat-erat, bersiap menyambut hantaman tanah yang keras.
Namun, sebelum tubuhnya menyentuh tanah, sebuah dekapan yang tak terduga kokohnya langsung menyambar tubuh Kiano di udara. Itu adalah si pemuda berkumis palsu alias Putri Arum.
Grep! Brukk!
Dengan gerakan tangkas ala pesilat ulung, Arum mendarat mulus sambil menggendong Kiano dengan gaya bridal style di pangkuannya. Sadar bahwa posisi mereka terlalu intim dan memalukan, Arum langsung menjatuhkan tubuh Kiano ke tanah dengan kasar tanpa perasaan.
"Aduh! Sialan, pelan-pelan napa!" pekik Kiano, mengaduh kesakitan sambil mengusap bokongnya yang mendarat duluan.
"Kau menyusahkan saja. Mau turun pohon saja tidak becus," cibir Arum ketus sembari membersihkan debu di pakaian jelatanya.
Kiano melongo. Ia mendongak, menatap pemuda jelata berkumis yang tingginya ternyata hanya sebatas dadanya sendiri. "Heh, Mas! Lo ikhlas kagak sih nolongin gue? Lagian gue jatuh juga gegara gempa bumi dari kucing garong jadi-jadian itu, ya!"
"Ini semua juga ulah kalian!" Arum balik menunjuk Kiano dengan bengis. "Karena kalian sudah lancang mengusik jin penunggu pohon Malaka Hitam itu, dia jadi mengamuk. Waktu istirahatku terganggu total gara-gara kau dan kedua temanmu itu!"
Mendengar tuduhan itu, mata Kiano semakin melotot. "Heleh! Kalau gue kagak butuh buah itu, gue juga ogah jauh-jauh datang ke hutan angker begini! Lagian, siapa suruh Lo istirahat di atas pohon? Istirahat tuh di kamar, di atas kasur empuk, bukan di atas pohon beringin. Mas... jangan-jangan lo ini jin gembel yang kagak punya rumah, ya?!"
Tuduhan frontal Kiano sukses membuat mata Arum membelalak sempurna. Harga dirinya sebagai seorang putri mahkota seketika terusik.
"Kau bicara seenaknya padaku! Asal kau tahu, aku ini berasal dari kal—"
Ucapan Arum terhenti seketika. Jantungnya berdesir hebat. Ia nyaris saja keceplosan menyebutkan bahwa dirinya berasal dari kalangan keluarga Kerajaan Gunung Kidul.
Kiano menaikkan sebelah alisnya, menatap penuh selidik sembari menunggu kelanjutan kalimat tersebut. "Kal apa? Kalong? Tuh kan, beneran jin gembel sejenis kalong wewe!"
Arum menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam kekesalannya agar penyamarannya tidak berantakan. "Ah, maksudku... aku ini adalah Kalasugih! Iya, itu namaku. Aku memang seorang rakyat biasa yang suka berpindah-pindah tempat, tapi aku bukan gembel seperti yang kau tuduhkan!"
Kiano sontak langsung tertawa terbahak-bahak. "Nama lo aneh banget, Mas! Tapi bentar deh... gue perhatiin muka lo oke juga, ya. Jarang banget ada rakyat jelata yang tampangnya mulus kayak abis perawatan klinik kecantikan begini."
Kiano menyipitkan mata, mencondongkan tubuhnya ke depan untuk mengamati wajah di hadapannya dengan lebih saksama.
Seingat Kiano selama terdampar di dunia bunian ini, ia tidak pernah melihat wajah pemuda dari kalangan rakyat biasa yang luar biasa rupawan seperti ini.
Paling banter, kalaupun ada yang wajahnya lumayan, anggota tubuh mereka yang lain pasti agak aneh bin seram—entah telinganya yang runcing, tangannya yang bersisik, atau kakinya yang terbalik.
Bagi Kiano, wajar saja jika kaum bangsawan atau keluarga kerajaan memiliki visual yang rupawan dan sempurna. Namun, untuk ukuran seorang pemuda jelata kelana yang mengaku tidak punya rumah tetap, penampilan sosok di depannya ini benar-benar tidak masuk akal. Kulitnya terlalu bersih, dan struktur wajahnya terlalu halus untuk ukuran rakyat jelata yang sering kepanasan di jalanan.
Mendapat tatapan menyelidik yang begitu dekat dari Kiano, pemuda yang mengaku bernama Kalasugih itu langsung berjengkit mundur.
Jantungnya sempat berdesir panik. Dengan gerakan cepat, ia memalingkan wajahnya ke samping demi menyembunyikan semburat merah yang mendadak muncul di pipinya, sekaligus memastikan kumis palsunya tidak lepas.
"K-kau... baru sadar, ya, jika aku memiliki wajah yang rupawan?!" sahut Arum dengan nada ketus yang dipaksakan. Ia berusaha keras menjaga suaranya agar tetap terdengar berat dan angkuh khas laki-laki, meski dalam hati ia sudah ketakutan setengah mati jika penyamarannya terbongkar saat itu juga.
"Oke, gue akuin, tampang lo emang lumayan," ucap Kiano sembari melipat kedua tangan di dada, mengangguk-angguk pasrah.
"Huh, tentu saja! Begini-begini juga, aku ini jago bela diri dan ilmu sihir," sahut Arum dengan nada sombong, sengaja membusungkan dadanya agar terlihat gagah layaknya seorang pria sejati.
"Oh, gitu ya? Kalau gitu gue mau bukti!" Kiano menantang dengan senyum miring. "Coba buktiin kalau lo emang jago bela diri sama ilmu sihir. Gue lihat juga kayaknya Mas ini enggak takut diem di hutan serem sendirian. Gimana kalau gue tantangin lo buat ngambil buah Malaka Hitam itu sekarang?"
Arum langsung mendengus kesal. "Kenapa harus aku? Kenapa tidak kau saja yang ambil sendiri?"
"Masalahnya, gue kagak punya kekuatan! Ada juga kemarin dapet transferan energi dari jin khodam gue, tapi gagal total gara-gara digagalin sama seseorang. Gara-gara itu juga dada gue jadi sesak dan muntah darah mulu tiap kali gue marah-marah. Nah, buah Malaka Hitam itu satu-satunya obat penawar buat penyakit gue ini," curhat Kiano panjang lebar dengan wajah melas.
Entah bagaimana caranya, Kiano bisa langsung percaya begitu saja pada pemuda asing di hadapannya ini. Padahal, mereka baru pertama kali mengobrol secara resmi di tengah hutan angker pada malam hari.
Arum sedikit terkejut saat mendengar penuturan jujur Kiano. Ia benar-benar tidak menyangka jika sosok pangeran di hadapannya saat ini sama sekali tidak memiliki kekuatan sihir ataupun ilmu bela diri.
Padahal, berdasarkan selentingan gosip yang ia dengar, Pangeran Wirasada dari Kerajaan Mandala Hyang itu sangat terkenal dengan kemampuan bela diri dan ilmu sihirnya yang luar biasa tinggi—bahkan setara dengan kemampuannya sendiri.
Menyadari ada celah yang menguntungkan, Arum menyipitkan mata. "Kalau aku berhasil mengambilnya, apa imbalannya untukku?"
"Kalau lo berhasil, gue bakal ngangkat lo jadi asisten pribadi gue! Eh, maksud gue... gue lagi butuh intel tambahan biar aksi balas dendam jin khodam gue ke Nini Kisut itu cepet kelar. Terus lo juga harus bantuin gue buat nyari pangeran yang asli. Dengan begitu, gue bisa lepas dari takdir ribet ini dan balik lagi ke dunia manusia, tempat asal gue yang sebenernya."
Arum sontak tertegun, matanya membelalak sempurna mendengar penuturan Kiano. "Maksudmu bagaimana? Bukankah kau ini Pangeran Bunian dari Negeri Mandala Hyang?"
"Bukan, Mas! Astaga...!" Kiano menepuk jidatnya frustrasi. "Gue ini sebenernya cuma manusia biasa, alias anak SMA dari Jakarta yang nyasar ke negeri bunian ini. Apesnya, semua orang di sini malah nyangka gue ini Pangeran Wirasada yang kabur dari kerajaan. Ya... gara-gara muka gue sama dia itu kembar identik mirip pinang dibelah kapak!"