"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"
Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.
Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.
Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Guru yang Gila dan Kesetiaan yang Berdarah
Seol-Ah terkulai lemas, kepalanya tertunduk. Namun di balik rambutnya yang acak-acakan, ia berbisik lirih.
'Ternyata mereka lebih takut pada ayahmu daripada mencintaimu, Han-Seol... maafkan aku, rencana ini gagal.'
****
Berita tentang Han-Seol menyebar ke seluruh kediaman seperti wabah yang mematikan. Oh Myung-Ja berlari kencang menyusuri lorong paviliun medis, langkahnya goyah dan wajahnya basah oleh air mata yang tak terbendung.
Begitu ia masuk ke ruangan, pemandangan itu menghancurkan hatinya: Han-Seol terbaring kaku, napasnya pendek dan berbunyi parau, sementara kulitnya mulai berubah menjadi biru keunguan di bawah cahaya lampion yang redup.
"Tuan Muda!"
Myung-Ja jatuh berlutut di depan Master Baek Si-On, memegang ujung jubah putih sang tabib dengan jemari yang gemetar hebat. "Hamba mohon... selamatkan dia! Dia adalah satu-satunya alasan hamba masih mengabdi di rumah ini. Jangan biarkan dia mati seperti ibunya!"
Master Baek hanya bisa menghela napas berat, matanya menyiratkan luka yang sama dalam. Ia perlahan namun pasti menarik ujung jubahnya dari genggaman Myung-Ja.
"Maafkan saya, Nyonya Oh," ucap Master Baek, suaranya parau dan hampir hilang. "Saya sudah mencoba segala ramuan, tapi racun Gwiseol-cho ini bukan menyerang darah... ia menyerang energi hidup. Racun ini sedang mencoba masuk ke dalam gerbang energi Han-Seol, namun gerbang itu terkunci rapat oleh segel ayahnya."
Myung-Ja tertegun, matanya membelalak. "Lalu... apa artinya itu?"
"Artinya, racun itu terjebak di antara segel dan raga," Master Baek menunjuk ke arah dada Han-Seol yang terus bergejolak. "Seperti api yang dikurung dalam wadah kayu. Jika segel itu tidak dibuka agar racunnya bisa didorong keluar oleh energi sihir, tubuh Han-Seol akan hancur dari dalam. Dia akan meledak karena tekanan energinya sendiri."
"Maka buka segelnya! Hamba mohon, buka saja!" teriak Myung-Ja histeris.
"Saya tidak bisa!" Master Baek membalas dengan nada yang tak kalah emosional. "Hanya Han-Gyeol atau seseorang dengan kekuatan yang setara dengannya yang bisa menghancurkan segel itu tanpa membunuh Han-Seol seketika. Jika saya memaksanya, saya hanya akan mempercepat kematiannya."
Myung-Ja merosot, terduduk di lantai dengan tatapan kosong. Di atas ranjang, Han-Seol kembali mengerang hebat, darah hitam mulai mengucur dari sudut matanya.
"Han-Gyeol... pria kejam itu," bisik Myung-Ja dengan kebencian yang mendalam. "Bahkan saat putranya sekarat, tangannya yang kaku masih mencekik leher anak ini dari kejauhan."
Master Baek memalingkan wajah, tak sanggup melihat penderitaan itu lagi.
Di luar ruangan, Do-Kwang berdiri di kegelapan koridor, mendengar setiap isak tangis itu dengan tangan yang mengepal kuat hingga berdarah. Konflik antara ketakutan pada Han-Gyeol dan rasa sayang pada Han-Seol kini menjadi lubang hitam yang siap menelan mereka semua.
****
Master Baek menatap tangan Han-Seol yang mulai mendingin. Detik terus berjalan, dan setiap tarikan napas Han-Seol terdengar seperti gesekan amplas di atas kayu—menyakitkan dan sekarat.
"Persetan dengan aturan Han-Gyeol," desis Master Baek. Suaranya yang semula parau tiba-tiba berubah menjadi dingin dan penuh tekad.
Myung-Ja mendongak, matanya yang sembab menatap sang tabib dengan penuh tanya. Master Baek kemudian duduk bersila di belakang tubuh Han-Seol yang kaku. Ia memejamkan mata, memusatkan seluruh sirkulasi udaranya pada satu titik di ulu hati.
"Master, apa yang akan Anda lakukan?" tanya Myung-Ja dengan suara bergetar.
"Jika aku tidak bisa menghancurkan segel itu dari luar, maka aku akan membanjirinya dari dalam," jawab Master Baek tanpa membuka mata.
"Aku akan menyalurkan seluruh energi sihirku ke dalam tubuhnya. Aku akan menjadi 'wadah' sementara bagi racun itu sebelum ia menyentuh segelnya."
"Tapi itu artinya... racun itu akan mengalir ke tubuh Anda juga!" Myung-Ja memekik horor.
Master Baek tidak menjawab. Ia mengangkat kedua tangannya, memposisikannya tepat di atas ulu hati Han-Seol. Perlahan, kelembapan di udara Seojukwon seolah tersedot; butiran air mulai mengkristal dan berputar cepat di antara telapak tangannya, membentuk bola energi yang bergejolak layaknya pusaran air kecil yang terperangkap.
Begitu tangan itu menyentuh kulit Han-Seol, sebuah dentuman energi yang sunyi namun dahsyat menggetarkan dinding paviliun. Cahaya biru berpendar terang, menyapu kegelapan ruangan sejenak sebelum meresap masuk ke dalam pori-pori Han-Seol.
"HAHHHH!"
Han-Seol tersentak bangun, menarik napas panjang yang tajam seolah baru saja muncul dari kedalaman samudera yang menyesakkan.
Matanya terbuka lebar, pupilnya bergetar hebat mencari pegangan pada realita. Warna kebiruan yang sempat menghiasi wajahnya perlahan luruh, digantikan oleh semburat merah kehidupan yang hangat.
Ia terengah-engah, dadanya naik turun dengan liar mencoba mengisi paru-paru yang sempat mati rasa.
"Tuan Muda!" tangis Madam Oh pecah. Ia jatuh bersimpuh, air matanya kini murni merupakan luapan rasa syukur yang tak terlukiskan.
Di sisi lain ranjang, Master Baek jatuh terduduk. Tubuhnya merosot ke lantai, napasnya tersengal berat dengan wajah seputih kertas. Keringat dingin membasahi seluruh jubahnya, namun seulas senyum tipis terukir saat melihat Han-Seol kembali bernapas.
Han-Seol menatap tangannya yang masih bergetar hebat, lalu perlahan meraba dadanya sendiri. Di balik tulang rusuknya, ia merasakan sesuatu yang asing—sebuah denyut halus, hangat, dan bertenaga yang selama dua puluh tahun ini tertidur lelap di balik belenggu.
"Master... Baek..." suara Han-Seol terdengar lirih, serak oleh rasa sakit yang tersisa.
"Jangan banyak bicara, Seol," potong Master Baek dengan suara yang hampir habis. "Kau selamat... untuk saat ini."
Namun, di balik kelegaan yang fana itu, Master Baek merasakan firasat buruk yang mencekam. Tindakannya barusan bukan sekadar pengobatan; ia telah meninggalkan jejak energi sihir yang pekat di dalam tubuh Han-Seol. Segel Han-Gyeol memang tidak hancur sepenuhnya, tapi kini telah retak.
Jika Do-Kwang yang berjaga di luar sempat merasakan anomali ini dan melaporkannya, badai besar akan menghantam Cheon-gi Won jauh lebih cepat dari yang bisa mereka antisipasi.
–––
Langkah kaki Han-Seol menggema di lorong bawah tanah Cheon-Gi Won yang lembap dan berbau karat besi. Meskipun tubuhnya belum pulih sepenuhnya, ia mengabaikan rasa pening yang sesekali menyerang kepalanya. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama: Seol-Ah.
Ia kini mengerti. Racun yang diberikan gadis itu bukanlah sebuah pengkhianatan, melainkan sebuah pertaruhan nyawa yang nekat. Seol-Ah tahu bahwa para penyihir di Cheon-Gi Won tidak akan pernah membuka segel energinya kecuali dalam keadaan hidup dan mati. Gadis itu telah menarik pelatuk yang sangat berbahaya demi masa depan Han-Seol, dan sekarang, Seol-Ah-lah yang harus membayar harganya.
Han-Seol berhenti di depan sebuah pintu besi berat yang dijaga oleh dua pengawal. Dengan otoritas sebagai putra pemimpin, ia memerintahkan mereka menyingkir. Saat pintu itu terbuka, pemandangan di dalamnya membuat jantung Han-Seol seolah berhenti berdetak.
"Seol-Ah!"