NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Berondong

Terjerat Pesona Berondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Obsesi / Enemy to Lovers
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘

Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Pintu jati besar Mansion Widjaja berderit pelan, menciptakan gema yang terasa sangat nyaring di tengah sunyinya ruangan. Haura melangkah masuk dengan hati yang berdebar kencang, setiap langkahnya seolah menghujam jantungnya sendiri. Di ruang tengah, di balik cahaya lampu kristal yang memancar angkuh, Anggara Widjaja sudah berdiri tegak seperti hakim yang menunggu terdakwa. Wajah pria itu bukan lagi sekadar marah—itu adalah murka yang dingin dan mematikan.

"Papa..." sapa Haura lirih.

"Duduk, Haura." Suara Anggara rendah, namun getarannya sanggup membuat porselen hias di atas meja bergetar.

Haura melangkah mendekat, namun sebelum ia sempat menjatuhkan diri di sofa, sebuah gerakan kasar membuat segalanya hancur. Anggara melemparkan setumpuk foto ke atas meja kaca dengan dentuman keras. Foto-foto itu berhamburan—gambar-gambar jernih yang menangkap momen mereka di ruko: saat Marco menciumnya di lorong, saat mereka berbagi sarapan, hingga saat mereka berpelukan di parkiran.

"Jelaskan sama Papa apa maksud dari foto-foto ini?!" bentak Anggara. Urat-urat lehernya menonjol, matanya memerah menatap putrinya dengan jijik. "Apa ini yang kamu lakukan selama dua hari 'menginap' di ruko itu? Berzina dengan asisten magangmu sendiri?!"

Haura menatap foto-foto itu, hatinya mencelos. Dunianya yang baru saja terasa indah kini disapu badai. "Pa, itu... itu nggak seperti yang Papa lihat."

"Nggak seperti yang Papa lihat?!" Anggara mendekat, menunjuk wajah Haura dengan jari yang gemetar karena emosi. "Sudah berapa jauh kamu berhubungan dengan anak ingusan itu, Haura? Berapa kali kamu membiarkan dirimu dihina olehnya dengan cara serendah ini?"

"Pa, Marco bukan—"

"DIAM!" Suara Anggara menggelegar, membungkam Haura seketika. "Kamu gila, Haura! Kamu Papa jodohkan dengan pria matang yang mapan, pria yang setara dengan keluarga kita, malah kamu sibuk berpacaran dengan anak ini! Anak yang nggak punya sopan santun. Berandalan seperti dia! Kamu sadar nggak kalau kamu cuma jadi bahan tertawaan relasi bisnis Papa?"

Haura meremas ujung trench coat-nya, napasnya tersengal. "Pa, tapi aku sayang sama Marco, Pa. Aku nyaman sama dia. Kita—kita saling mengerti satu sama lain, nggak kayak pria-pria pilihan Papa yang cuma peduli sama aset dan nama keluarga!"

"Sayang?" Anggara tertawa sumbang, sebuah tawa yang lebih terdengar seperti hinaan. "Haura, kamu sadar apa yang kamu ucapkan?! Dia itu temannya Arlo! Seumuran dengan Arlo, keponakan kamu sendiri! Sadar, Haura! Kalian beda delapan belas tahun! Kamu sudah hampir empat puluh, dan dia masih bocah yang bahkan belum lulus kuliah!"

"Pa, tapi aku bahagia sama dia! Aku nggak pernah ngerasa sehidup ini selama tiga puluh delapan tahun!" Haura berteriak, air mata yang selama ini ia bendung akhirnya jatuh membanjiri pipinya.

"Gak ada tapi-tapi!" Anggara meraih tangan Haura dengan kasar, mencengkeramnya. "Jauhi Marco! Pecat dia besok pagi, atau Papa akan memastikan dia tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di Jakarta lagi. Papa akan hancurkan hidupnya sampai dia sadar tempatnya di mana!"

"Jangan, Pa! Jangan sentuh dia!" Haura memberontak, ia menarik tangannya dengan tenaga yang tidak pernah ia sangka ia miliki. Untuk pertama kalinya, ia tidak menunduk. Ia menatap mata ayahnya dengan nyala api yang sama besarnya. "Papa selalu bilang soal sopan santun, soal martabat, tapi Papa sendiri nggak pernah bisa menghargai martabat anaknya sendiri sebagai manusia!"

"Kamu berani melawan Papa?!" Anggara menaikkan tangan, bersiap melayangkan tamparan.

"PAPA! CUKUP!"

Sebuah teriakan melengking dari lantai atas memotong ketegangan itu. Melati, sang Mama, berlari menuruni tangga dengan wajah pucat pasi. Ia segera berlari di antara mereka, menahan tangan suaminya yang masih menggantung di udara.

"Anggara, jangan! Apa-apaan kamu ini? Kamu mau mukul anak kamu sendiri?!" jerit Melati dengan isak tangis yang mulai pecah.

"Anak ini sudah tidak tahu diri, Melati! Lihat apa yang dia lakukan!" Anggara menunjuk foto-foto di meja dengan marah.

Haura sudah tidak bisa lagi menahan sesaknya. Ia menatap mamanya dengan tatapan yang penuh kepedihan yang mendalam. "Mama... Papa sudah terlalu jauh. Aku selama ini sudah nurut sama Papa! Aku jadi boneka bisnis, aku nurutin semua perjodohan bodoh itu, aku kerja keras banting tulang buat reputasi keluarga ini, sampai aku nggak bisa jadi diri aku sendiri! Aku nggak bisa napas, Pa!"

"Kamu jadi diri sendiri dengan cara tidur sama berondong?" sindir Anggara kejam.

"Ya!" balas Haura dengan suara parau. "Karena cuma dia yang melihat aku sebagai Haura! Bukan sebagai aset, bukan sebagai pewaris, tapi sebagai wanita! Papa selama ini cuma peduli sama muka Papa di depan Andi Permana dan rekan bisnis lainnya! Papa nggak pernah nanya kenapa aku selalu sedih, kenapa aku selalu merasa kesepian di rumah sebesar ini!"

"Haura, sudah, sayang..." isak Melati, mencoba memeluk putrinya, namun Haura mundur selangkah.

"Nggak, Ma. Malam ini, aku sadar satu hal," Haura menatap ayahnya dengan tatapan yang sudah mati rasa. "Papa nggak pernah sayang sama aku. Papa cuma sayang sama harga diri Papa. Kalau Papa mau aku jauhi Marco, silakan, hancurkan hidup aku sekalian. Tapi Papa harus tahu, sampai mati pun, Papa nggak akan pernah bisa memiliki aku lagi. Aku bukan barang dagangan yang bisa Papa atur sesuka hati!"

"Kamu berani mengancam Papa?" Anggara menatap putrinya dengan tatapan tak percaya.

"Bukan ancaman, Pa. Ini pengakuan," jawab Haura mantap. Ia berbalik, mengabaikan teriakan mamanya yang memanggil namanya, dan berjalan menuju pintu keluar dengan langkah yang mantap.

Ia tidak peduli lagi akan warisan, tidak peduli dengan bisnis, dan tidak peduli dengan reputasi. Malam ini, Haura Widjaja memutuskan untuk memutus rantai yang mengekangnya selama tiga puluh delapan tahun. Di luar pintu mansion, di bawah kegelapan malam, ia tahu satu orang akan menunggunya—Marco, pria yang justru dianggap berandalan oleh ayahnya, namun menjadi satu-satunya pria yang berani berdiri di sisinya saat dunia Haura runtuh.

Haura membuka pintu mansion dengan tangan gemetar namun penuh tekad. Ia akan pergi, dan kali ini, ia tidak akan pernah menoleh kembali.

***

Langkah Haura terhenti tepat di anak tangga terakhir menuju teras. Kaki yang tadinya terasa kuat untuk menegakkan harga diri, mendadak kehilangan seluruh energinya. Begitu kakinya menyentuh lantai marmer teras yang dingin, lutut Haura lemas. Ia jatuh terduduk, tubuhnya bergetar hebat, dan isak tangis yang tertahan sejak tadi akhirnya pecah dengan suara yang menyayat hati.

"Haura!"

Suara Melati terdengar cemas, menyusul langkah putrinya dengan cepat. Tanpa memedulikan gaun sutra mahalnya yang terkena debu lantai, Melati langsung berlutut dan merengkuh tubuh putrinya yang gemetar ke dalam pelukan.

"Ma... Mama..." rintih Haura, suaranya parau dan terbata-bata di balik bahu sang ibu. "Maafin aku, Ma. Tadi aku kelepasan bentak Papa. Aku... aku benar-benar nggak bermaksud, tapi tadi semuanya terasa menyesakkan sekali."

Melati membelai rambut putrinya dengan penuh kelembutan, air mata juga mulai menggenang di pelupuk matanya. "Sudah, sayang... sudah. Mama tahu. Mama tahu sudah berapa lama kamu menahan semua ini sendirian."

"Maafin aku, Ma," isak Haura kembali, tangannya mencengkeram erat punggung gaun ibunya. "Aku bikin Mama malu karena foto-foto itu, ya? Aku benar-benar nggak tahu harus minta maaf kayak gimana lagi. Aku cuma ingin bahagia, Ma, tapi kenapa Papa selalu melihatku sebagai kegagalan?"

Melati melepaskan pelukannya sejenak, memegang kedua pipi Haura yang basah oleh air mata, lalu menatapnya dengan tatapan yang selama ini disembunyikan oleh ketaatannya kepada Anggara. "Kamu tidak pernah membuat Mama malu, Haura. Kamu anak yang hebat, anak yang sukses, dan anak yang berhati mulia. Kalau kamu merasa perlu untuk membela dirimu sendiri, maka itu adalah hakmu. Mama menyesal karena tidak pernah punya keberanian yang sama untuk berdiri di sampingmu saat kamu dihina."

Haura tertegun menatap ibunya. Selama ini, ia mengira mamanya akan selalu berpihak pada ayahnya. "Ma...?"

"Sudah, sudah," Melati kembali merangkul Haura, membantu putrinya berdiri. "Sekarang, ayo masuk ke dalam. Jangan buat keributan lagi di sini, tetangga bisa dengar. Urusan Papa, biar itu jadi urusan Mama. Kamu hanya perlu masuk ke kamar, bersihkan wajahmu, dan istirahatlah. Kita akan bicara lagi besok saat kepala sudah lebih dingin."

Haura mengangguk lemah, namun saat ia hendak melangkah masuk, ia teringat sesuatu. Hatinya mencelos. "Bagaimana dengan Marco, Ma? Papa pasti akan menghancurkan hidupnya besok pagi."

Melati menarik napas panjang, lalu menatap Haura dengan pandangan yang dalam. "Tentang Marco... bilang sama dia, besok dia harus datang ke sini. Temui Mama."

Mata Haura membelalak lebar, air matanya berhenti sejenak. "Mama... serius? Mama mau ketemu Marco?"

"Iya, sayang," jawab Melati tegas. "Mama mau melihat sendiri pria seperti apa yang berani membuat putri bungsu Mama berani melawan ayahnya sendiri."

"Mama..." Haura merasa napasnya kembali lega. "Terima kasih, Ma."

Mereka berdua berjalan masuk ke dalam mansion. Saat melewati ruang tengah, Anggara masih berdiri di sana dengan wajah yang merah padam. Ia hendak membuka mulut untuk memaki lagi, namun Melati berhenti tepat di depan suaminya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Melati menatap tajam ke arah mata Anggara dengan sorot mata yang penuh peringatan—sebuah tatapan "cukup" yang selama hampir 50 tahun pernikahan mereka tidak pernah ia tunjukkan.

Anggara yang tertegun melihat keberanian istrinya, akhirnya menutup mulut. Ia hanya mendengus kasar dan berbalik memunggungi mereka, berjalan menuju ruang kerjanya dengan langkah yang menahan amarah.

Haura dan Melati terus berjalan menuju lantai dua. Begitu sampai di depan pintu kamar Haura, Melati kembali mengusap punggung putrinya. "Tidurlah. Mama tahu kamu lelah. Dan jangan lupa, hubungi dia. Katakan pesan Mama."

Setelah pintu kamar tertutup, Haura segera meraih ponselnya yang tergeletak di tas. Tangannya gemetar saat menekan nomor Marco. Baru berdering sekali, panggilan itu langsung diangkat.

"Ay?" Suara Marco terdengar tegang, sarat akan kekhawatiran. "Kamu di mana? Aku masih di depan gerbang, aku dengar suara teriakan. Kamu nggak diapa-apain, kan?"

Haura tersenyum, meski air mata masih tersisa di sudut matanya. "Aku di dalam, Marco. Aku aman."

"Papa kamu? Dia ngelakuin apa?" tanya Marco lagi, suaranya kini terdengar penuh ancaman.

"Dia marah besar. Tapi... Mama datang. Marco, dengarkan aku," Haura menarik napas dalam. "Mama minta kamu datang ke sini besok. Kamu harus ketemu sama Mama."

Di seberang sana, terdengar keheningan sejenak. "Ketemu Mama kamu? Sendirian?"

"Iya," jawab Haura lembut. "Mama mau bicara sama kamu. Dan Marco... terima kasih. Terima kasih sudah nungguin aku di luar. Kamu benar-benar nekat."

"Aku nggak bakal pernah pergi sebelum tahu kamu baik-baik saja," bisik Marco. "Besok? Oke, aku bakal datang. Apapun yang bakal terjadi, aku bakal hadepin. Kamu tenang aja, Ay. Aku nggak bakal ngecewain kamu atau Mama kamu."

"Istirahatlah, Marco. Jangan melamun di depan gerbang. Pulanglah ke ruko," pinta Haura.

"Iya, Ay. Selamat istirahat. Aku sayang kamu," bisik Marco sebelum panggilan berakhir.

Haura menjatuhkan ponselnya di atas kasur. Ia membaringkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar yang selama ini terasa seperti penjara. Namun malam ini, untuk pertama kalinya, ia merasa tembok-tembok mansion ini tidak lagi mencekik. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok saat Marco bertemu mamanya, namun satu hal yang pasti—ia tidak lagi sendirian. Dan di luar sana, dalam kegelapan malam, ia tahu ada seseorang yang siap memperjuangkannya, tak peduli seberapa besar badai yang harus mereka lalui bersama.

***

Dedek 🤏🤏

1
apiii
astaga makin tergila gila sama pasangan bucin ini
apiii
ini mh si berondongnya yg kecintaan bukan tante haura🤣
Penulis GenZ: namanya juga cogil🤭🤣
total 1 replies
apiii
suka semua cerita kak nadhira❤️
apiii
banyak bngt rintangan berondong
apiii
lov u mas kadess
Penulis GenZ: maaciw😍
total 1 replies
Nurminah
pak kadek sama anak kkn ya thor
Penulis GenZ: iya hehe 😍
total 1 replies
apiii
jangan haura saya aja yg baca jadi baper🤣
apiii
setiap baca cerita author kaya ketarik masuk kedalam cerita tersebut
Penulis GenZ: terharu loh aku kak🥺
total 1 replies
apiii
yg sabar ya mar🥹
apiii
ditunggu bucinya tante haura🤣
apiii
manis bngt sihh berondongnya mau satu kaya marco bolehhh🤣
apiii
jangan pindah lapak🥲 thor soalnya cuma cerita dari novel author yg paling aku tunggu🥹
Penulis GenZ: nggak pindah lapak kak cuma aku nulis juga cerita disana hehe. yang disini tetep aku tamatin kok tenang aja ya😍
total 1 replies
apiii
kenapa sih itu mbah" ga bisa berkaca dari kejadian si cegill
Penulis GenZ: mbah² bgt nih kak🤣
total 1 replies
apiii
akhirnya up lagi❤️
apiii
semangat cogill🤣
apiii
emng bener berondong lebih menarik buktinya si haura sampai nggak berkutik🤣
apiii
sangat bagus alur ceritanya tidak membosankan dan membuat pembaca jadi penasaran
Indra P.
lannjutttt thorrr...
semangattt
apiii
semangat ya thor aku suka bangt semua novel yg author tulis
Penulis GenZ: jadi terharu mau nangis 🥺
total 1 replies
apiii
ngga kak asik bngt loh alur ceritanya aja bagus dan ya emg sekarang lagi musim kakak" pacaran sama berondong🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!