Di dunia kultivasi, kekuatan adalah segalanya.
Yang lemah diinjak. Yang gagal dibuang.
Ardan memahami itu sejak hari pertama ia terlempar ke dunia asing bersama satu-satunya orang yang selalu berada di sisinya—Revan.
Tidak memiliki bakat langit.
Tidak memiliki garis darah legendaris.
Bahkan tidak memiliki sekte untuk berlindung.
Namun Ardan memiliki sesuatu yang lebih berbahaya.
Cara berpikir seorang pemimpin.
Saat para kultivator mengejar kekuatan pribadi, Ardan mulai membangun sesuatu yang lebih besar—kekuasaan.
Ia mengumpulkan para buangan.
Orang-orang gagal.
Mereka yang dihancurkan dunia kultivasi.
Dan dari tangan orang-orang yang dianggap sampah itulah, sebuah kekuatan perlahan lahir.
Sebuah organisasi yang akan mengguncang sekte, kerajaan, bahkan seluruh dunia kultivasi.
Karena terkadang…
monster paling menakutkan bukanlah petarung terkuat.
Melainkan seseorang yang mampu membuat dunia bergerak sesuai keinginannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertarungan.
melihat revan, ardan teringat kejadian beberapa bulan lalu.
melihat ini, tidak ada rasa takut di matanya.
tatapannya malah penuh dengan kebencian.
"kau lagi" ucap ardan.
mendengar ini, sosok itu tersenyum.
"bocah qi kental, tidak ku sangka kau masih mengingatku"
saat mengatakan ini, 3 naga petir kembali datang.
"entahlah" hanya lambaian tangan.
tanpa melihat, 3 naga petir itu langsung runtuh.
hancur seketika.
setelah itu, sosok itu menatap tangannya sendiri.
"terlalu lemah, hanya kekuatan langit awal bintang 3. tapi kau tenang bocah, setelah aku mengambil alih tubuh ini sepenuhnya aku akan membuat tubuh ini cepat atau lambat berdiri di puncak" gumamnya.
saat sosok itu tengah sibuk.
ardan langsung menyerang.
dia mengeluarkan beberapa pedang lain.
dengan beberapa segel tangan, pedang pedang itu terlapisi oleh petir.
menyadari ada beberapa pedang petir yang mengarah kepadanya.
sosok itu hanya menatap pedang petir.
tak ada perubahan, ataupun ketakutan di wajahnya.
hanya datar seakan tak ada apapun.
"lemah" ucapnya.
seketika pedang petir ardan berhenti di udara.
namun, saat pedang berhenti di udara.
melihat ini, bibir ardan melengkung tipis.
aliran listrik dari guntur yang ada di pedang itu menyebar.
dan menghantam sebuah bungkusan di gagang pedang.
bom...
kabut tebal muncul dari gagang pedang.
melihat ini, kening sosok itu sontak mengerut.
belum sempat merespon, dia merasakan ada hawa aneh di belakangnya.
saat menoleh.
ardan sudah berada di sana sembari mengayunkan tinju yang berlapis qi.
tidak sempat menghindar.
sosok itu hanya menahan serangan dengan tangannya.
bom...
ledakan qi meletus.
sosok itu mundur beberapa meter ke belakang.
setelah menyetabilkan tubuhnya, dia menatap lagi ke arah ardan.
"memang qi kental" gumamnya.
mata ardan menyipit, melihat sosok itu hanya terluka sedikit di bagian lengan.
sembari menatap ardan, sosok itu menyimpan pedangnya.
"aku akan menemanimu bermain" ucapnya.
pertarungan, pun terjadi lagi.
kali ini ledakan demi ledakan energi terjadi, di udara.
walau ardan tertinggal beberapa tingkat, tapi ledakan dari qi kentalnya mampu memukul mundur sosok itu berkali kali.
saat terdesak, sosok itu mengeluarkan pedang.
ardan juga melakukan hal yang sama.
bedanya ardan tidak memegang pedang.
pedang itu melayang di udara.
guntur tipis menyebar.
"ingin menggunakan teknik yang sama" gumam sosok itu.
setelah itu sosok ini, menyebarkan kekuatan jiwanya.
dengan kekuatan jiwa, dia bisa merasakan jika ada serangan mendekat.
pedang guntur itu, melesat lagi.
sosok itu mengangkat tangannya, berniat menahan pedang ini seperti sebelumnya.
namun saat kekuatannya menyentuh pedang, energi qi kental menyebar.
pedang sama sekali tak berhenti.
"sialan" ucap sosok itu.
akhirnya dia menahan pedang itu, dengan pedang api miliknya.
pedang ardan, berhasil berhenti di udara.
namun baru berhenti sesaat, ledan qi kental terjadi lagi.
bahkan kali ini di seratai guntur yang menyebar.
sosok itu kembali terpental, bahkan kini hampir 20 meter.
kondisinya cukup kacau, luka bakar terlihat di mana mana.
tapi kondisi ardan juga tidak jauh, berbeda.
walau tidak ada luka yang terlihat.
dia memuntahkan darah cukup banyak.
"bocah ini menggunakan qi kental terlalu asal asalan" ucap wei lan yang masih menonton dari hutan.
"kau benar lan kecil"suara misterius itu kembali terdengar.
"kakak, pertama. apa kau yakin dia akan bisa mewujudkan harapan putri"
"belum bisa di pastikan sekarang, perjalanannya masih panjang. dan lagi aku rasa putri tidak mungkin memilih dengan asal, kita lihat saja kedepannya"
Di sisi ardan, kini wajahnya benar benar pucat.
"hanya bisa satu serangan besar lagi" gumamnya.
sosok yang di lawan ardan, tidak terlalu memperhatikan musuhnya.
dia hanya diam memulihkan diri.
apa lagi luka yang di timbulkan oleh petir murka dewa saja belum sembuh.
ardan melayang ke atas.
mengambil posisi tepat di atas sosok itu.
dari posisi ini, ardan melesat cepat.
menukik dengan kecepatan tinggi.
saat merasa ada serangan lagi di area kekuatan jiwanya.
sosok itu langsung menoleh ke arah ardan.
ia melihat beberapa pedang guntur mengarah langsung kepadanya.
ia langsung menungkan sebagian qi besar miliknya untuk menahan serangan ini.
saat terkena pedang guntur, qi besar itu langsung membuat pedang guntur terpental.
"hanya elemen tanpa qi" gumamnya.
"sial, ini tipuan" lanjutnya
ia merasakan ada serangan lain yang sudah dekat.
saat menoleh.
tinju yang di lapisi guntur dan qi kental sudah sangat dekat.
dengan sisa qi yang tinggal sedikit.
dia sama sekali tidak bisa menghindar atau menahan.
di saat seperti ini, tiba tiba tato aneh dan matanya kembali normal.
kesadaran revan kembali.
menyadari hal ini, ardan buru buru menghilangkan kekuatannya.
hanya tinju biasa yang langsung menghantam kepala revan.
revan yang energinya sudah di habiskan oleh sosok itu, langsung terjatuh.
ardan tidak berbeda jauh.
kini, jalur merediannya memiliki kerusakan cukup parah.
sehingga dia sudah tak sanggup menahan rasa sakitnya.
mereka berdua terjatuh, namun kesadaran mereka masih ada.
saat saling menatap, mereka malah saling tersenyum.
tiba tiba mengingat kejadian masa lalu.
di mana mereka baru mulai belajar bertarung saat remaja.
ardan yang nekat lari dari rumah.
tinggal bersama revan, terpaksa harus berlatih bela diri.
karena tidak memiliki uang untuk menyewa seorang guru, mereka setiap hari terus latih tanding.
dan hasilnya mereka akan terjatuh dan saling menatap.
saat terjatuh, ada tangan yang menahan tubuh mereka agar tidak langsung terkena tanah.
saat mereka menoleh.
wei lan dengan santai menjinjing mereka seakan sedang mengangkat anak kucing.
tak lama setelah itu, kesadaran mereka menghilang
wei lan langsung terbang.
tidak kembali ke rumah sebelumnya, dia malah menyusuri hutan.
bahkan mereka melewati danau besar di tengah hutan.
di tengah danau, ada sebuah pulau.
di sana banyak orang menggunkan pakaian seragam.
saat wei lan sampai, orang orang itu langsung menunduk hormat.
wei lan hanya tersenyum, laku kembali masuk.
Orang-orang di sini menatap bingung ke arah dia orang yang di jinjing wei lan.
wei lan akhirnya membaringkan mereka di sebuah kamar mewah.
"panggil tabib, suruh menyembuhkan mereka" ucap wei lan saat keluar kamar.
"baik tuan" jawab orang yang berjaga di kamar itu.