NovelToon NovelToon
Obsession Of Jayden

Obsession Of Jayden

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Alyssa Kim

Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.

​Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.

​Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Detik-Detik Menuju Altar Aspal

​Satu minggu menjelang hari H Inter-School Championship, atmosfer di Loren’z High School tidak lagi sekadar tegang—namun sudah berada di titik jenuh yang siap meledak kapan saja. Isu mengenai taruhan maut antara VULTURES dan WOLFANGS telah menyebar ke seluruh faksi geng motor dari lima penjuru Jakarta. Semua mata kini tertuju pada lintasan Sentul, menanti apakah sang penguasa ibu kota akan tetap bertakhta, ataukah sang serigala jalanan yang akan merebut takhta tersebut bersama sang Queen.

​Di dalam kelas XI-IPA 3, rintik hujan melesat menghantam kaca jendela, menciptakan simfoni konstan yang mengiringi keheningan di meja nomor tiga. Elleanor duduk bersandar, menatap pergelangan tangan kirinya. Gelang biometrik hitam itu masih melingkar erat, memancarkan angka 80 BPM. Stabil, dingin, dan penuh kalkulasi.

​Jayden di sampingnya sedang membersihkan kaca visor helm full-face miliknya menggunakan kain mikrofiber dengan gerakan yang terlampau tenang. Setiap gesekan kain itu seolah menjadi hitung mundur bagi kebebasan Elle.

​"Satu minggu lagi, Elle," ucap Jayden tanpa menoleh, suaranya yang berat dan parau mengalun lambat, memecah kesunyian di pojok kelas. "Sistem Haikal udah mengunci semua data pendaftaran akhir. Nama VÈRUNE udah resmi masuk ke slot faksi independen paling depan."

​Elleanor menoleh lambat, memasang wajah judes terbaiknya untuk menutupi gejolak liar di dadanya. "Bagus kalau gitu. Jadi lo gak punya alasan buat kabur waktu gua ngelewatin garis finis dan ninggalin lo di belakang, Muka Tembok."

​Jayden menghentikan gerakan tangannya. Ia menaruh helmnya di atas meja, lalu memutar tubuhnya menghadap Elle sepenuhnya. Kedekatan intim yang tiba-tiba itu membuat aroma mint dan maskulin dari tubuh tegap Jayden kembali mengurung indra penciuman Elle. Netra hitam pekat milik sang ketua Vultures menatap dalam, menembus langsung ke manik mata indah Elle dengan intensitas obsesi yang begitu pekat.

​"Gua gak pernah kabur dari apa yang udah jadi milik gua, Elleanor," bisik Jayden rendah, suaranya parau dan sarat akan dominasi mutlak. Tangan kanannya bergerak maju, jemari panjangnya mengusap pelat baja berlogo VULTURES di gelang Elle. "Gua sengaja membiarkan lo merombak suspensi motor lo bersama Wolfangs. Gua tahu soal jarak pengereman 30 meter yang lo rencanakan di tikungan S besar."

​Deg.

​Jantung Elleanor seketika berdegup kencang, membuat angka di smartband-nya melompat ke angka 105 BPM. Wajah cantiknya menegang sempurna. Gimana bisa... gimana bisa dia tahu soal kalkulasi hidrolik kustom itu?!

​Seringai tipis yang luar biasa tampan namun mengerikan terukir di sudut bibir Jayden melihat reaksi terkejut Elle. "Gua udah bilang, sekeras apa pun lo mencoba mengepakkan sayap lo di dalam labirin gua, sinyal fisik lo tetep ada di bawah kendali gua. Gua udah menyiapkan setelan mesin yang bakal mematahkan strategi late-braking lo bahkan sebelum lo sempat menyentuh tuas rem."

​Elleanor menggertakkan giginya kesal, sifat barbarnya mendidih hebat. Ia menyentak tangan Jayden menjauh dari pergelangan tangannya. "Lo bener-bener psikopat gila, Jayden! Lihat aja nanti di aspal. Gua bakal buktiin kalau insting seorang pembalap jauh lebih murni daripada barisan kode komputer murahan milik lo!"

​Malam harinya, di markas WOLFANGS, suasananya jauh lebih sunyi dari biasanya. Lampu-lampu bengkel diredupkan, hanya menyisakan satu lampu sorot yang mengarah langsung ke tubuh hitam karbon VÈRUNE. Motor Yamaha YZF-R1 itu kini telah bertransformasi total menjadi monster lintasan sejati yang siap memuntahkan 200 tenaga kuda tanpa ampun.

​Alkana duduk di atas ban serep, menatap motor tersebut dengan pandangan mata yang redup namun tajam. Rambutnya berantakan, dan jaket kulit serigalanya tersampir di bahu. Di sebelahnya, Nalendra sedang membersihkan sisa-sisa kabel data dari laptop Matthew.

​"Al," panggil Nalen pelan, memecah keheningan. "Jayden udah tahu soal setelan suspensi kustom kita. Haikal berhasil memotong transmisi data nirkabel dari bengkel ini dua jam lalu."

​Alka tidak terkejut. Cowok itu justru berdiri, melangkah mendekati motor Elle, lalu mengusap grafis perak nama VÈRUNE di tangki bensin. Rahangnya mengeras sempurna, memancarkan aura permusuhan yang dingin dan final terhadap sang rival abadi.

​"Gua udah tahu dia bakal bisa baca data itu, Len," ucap Alka, suaranya serak dan berat. "Jayden itu punya segalanya—teknologi, uang, dan kuasa. Tapi dia punya satu kelemahan besar yang gak bakal bisa dihitung pake rumus matematika milik Haikal."

​Nalen menaikkan sebelah alisnya. "Apa?"

​"Ego obsesifnya," desis Alka tajam, sepasang matanya berkilat penuh dendam. "Jayden terlalu fokus buat ngunci dan ngawasin pergerakan Elle. Dia lupa kalau di dalam balapan nanti... ada gua yang bakal turun dari faksi WOLFANGS dengan satu-satunya tujuan: hancurin keseimbangan motornya dari arah luar. Kalau dia fokus nutup jalur Elle, gua yang bakal masuk lewat celah buta di spionnya dan nyeret dia jatuh ke aspal."

​Matthew memutar kursi rodanya menghadap mereka berdua, wajahnya tampak serius dari balik kacamata. "Itu taktik bunuh diri, Al. Kalau lo nabrak dia dalam kecepatan di atas 200 km/jam di Sentul, lo juga bakal ikut menggelinding ke area pembatas."

​"Gua gak peduli," balas Alka dingin tanpa ada keraguan seujung kuku pun di wajah tampannya. "Gua udah taruhan seluruh harga diri Wolfangs dan nyawa gua di atas aspal malam itu. Selama Elle bisa ngelewatin garis finis dan dapet kebebasannya kembali... gua gak peduli kalau gua harus hancur bersama Kawasaki H2 Carbon milik bajingan posesif itu."

​Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Smith, suasana tidak kalah tegang. Di dalam ruang kerja utamanya yang megah, Kenzie Billy Smith sedang berdiri menatap pemandangan malam kota Jakarta dari balik dinding kaca besar. Di tangannya, sebuah ponsel privat terus menyala, menampilkan pesan konfirmasi dari pihak otoritas sirkuit internasional Sentul.

​Kenzo masuk ke dalam ruangan dengan langkah tergesa-gesa, melemparkan sepasang sarung tangan balap kulit berwarna hitam ke atas meja kerja abang sulungnya.

​"Kenzie, semua tim pengawal rahasia kita udah gua sebar di perimeter ring satu Sentul buat malam kompetisi nanti," lapor Kenzo, suaranya sarat akan proteksi mutlak sebagai seorang kakak. "Pihak Frederick Group juga udah nurunin tim keamanan internal mereka buat ngepung area pit Vultures. Situasinya bener-bener kayak mau perang antar korporasi, bukan cuma balapan anak SMA."

​Kenzie membalikkan tubuhnya perlahan, membetulkan posisi kacamata hitam yang selalu ia kenakan. Aura mengintimidasi dan dingin dari sang pewaris utama Smith Corp memancar begitu pekat di dalam ruangan.

​"Biarin mereka pasang barikade sebanyak apa pun, Kenzo," ucap Kenzie datar, suaranya rendah namun sarat akan otoritas mutlak yang tak terbantahkan. "Gua udah beli seluruh hak siar digital dan jalur udara di atas Sentul malam itu. Kalau Jayden Frederick berani menyentuh adik gua sedikit aja di luar regulasi balap... gua bakal mastiin malam itu jadi malam terakhir Frederick Group punya hak legal buat beroperasi di Indonesia. Kita lihat seberapa jauh anak manja itu bisa bertahan di dalam sangkar yang dia buat sendiri."

​Di bawah langit Jakarta yang kian menggelap berselimut angin badai yang mulai berembus, takdir dari tiga kekuatan besar—VULTURES, WOLFANGS, dan KELUARGA SMITH—kini telah terpaut mati pada satu titik koordinat yang sama. Garis batas antara sangkar emas dan kebebasan mutlak telah terbentang di atas aspal Sentul, bersiap menyambut deru mesin maut yang akan segera mengudara satu minggu lagi.

1
Davina Aurora
lanjutt ka ceritanya seruu🤩🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!