NovelToon NovelToon
The Emerald And Her Four Mates

The Emerald And Her Four Mates

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:939
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.

Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.

Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Membalaskan Dendam Pada Kaelen

"A-Aakhhh! Monster!" teriak Evelyn histeris.

Ia langsung berbalik arah dan berlari sekuat tenaga membelah kegelapan lorong gua.

Makhluk mengerikan itu adalah Nessie, monster penghuni gua sekaligus penjaga tersembunyi Pesisir Blue Waves. Hanya pada malam bulan purnama makhluk purba itu akan keluar mencari mangsa. Melalui jaringan gua bawah laut, Nessie kerap berenang menembus samudra hingga mencapai danau air asin terisolasi, yang terhubung langsung dengan danau misterius di Hutan Kota Luminara—tepat di wilayah kekuasaan kastil Sang Raja Vampir, Jacob Salvatore. Di danau kastil itulah Nessie paling sering menampakkan diri.

Di dalam gua, Nessie bergerak dengan kegesitan yang tidak selaras dengan ukuran tubuh raksasanya. Makhluk itu melesat bagai kilat, meliuk-liuk di antara dinding batu sembari menjulurkan lidahnya yang panjang.

Ctak! Ctak!

Lidah itu mencambuk udara, nyaris mengenai punggung Evelyn. Gadis itu semakin panik bukan main, napasnya terengah-engah dan air mata mulai mengenang. "Siapa saja... tolong aku!"

Sementara itu, Kaelen yang masih setia berdiri di luar mulut gua hanya tersenyum puas sambil bersedekap dada. Suara teriakan histeris Evelyn terdengar begitu merdu di telinganya.

"Kali ini aku sudah pasrah," gumam Kaelen dingin. "Jika kau benar-benar mati dimakan monster Nessie, aku siap jika harus ikut mati menerima takdirku."

Ego Kaelen memang telah dikuasai dendam dan kebencian mendalam pada gadis itu. Namun, di saat yang sama, ada setitik kekosongan di sudut jiwanya yang mendadak berontak menolak kematian Evelyn. Bagaimanapun, ikatan mistis dari The Heart Pearl milik Kaelen kini telah menyatu sepenuhnya dengan jiwa Evelyn, menciptakan resonansi batin yang aneh.

Kembali ke dalam gua...

Sret! Teg!

Lidah panjang Nessie berhasil membelit kaki Evelyn dengan kuat. Tubuh mungil gadis itu terseret dan diangkat tinggi-tinggi ke udara.

Nessie membuka rahangnya lebar-lebar, siap menelan mangsanya bulat-bulat.

"Jangan makan aku—" Ucapan Evelyn terputus.

Matanya terpejam rapat sejenak menahan takut.

Namun, sedetik kemudian, sepasang kelopak mata itu kembali terbuka lebar. Sama seperti kejadian semalam, kesadaran manusia Evelyn meredup, digantikan oleh entitas agung yang tertidur di dalam dirinya.

Transformasi magis kembali terjadi. Rambut hitam sebahunya memanjang drastis, berganti warna menjadi pirang berkilau bagai helaian benang emas. Di atas permukaan kulitnya yang pucat, muncul pola-pola kuno pembuluh sihir yang berpendar keperakan. Kedua ujung telinganya meruncing anggun.

Saat ia menatap sang monster, manik mata hijau zamrudnya menyala terang benderang—memancarkan keindahan mistis yang mutlak dan mempesona.

Dari bibir tipis Evelyn yang kini sewarna kelopak mawar, seuntai melodi kuno dari peradaban Elf Cahaya mengalun, memecah kesunyian gua yang mencekam:

"Aelora... minas thalor, elei...

Lumea enya, dorei vaerim...

Calen silme, tura nisse..."

(Wahai penguasa kegelapan, tunduklah pada cahaya...)

Suara vokal Evelyn terdengar begitu murni, bergema dengan frekuensi magis yang langsung meredam insting membunuh di otak Nessie.

Mendengar nyanyian suci dari ras tertinggi itu, sang monster seketika gemetar. Jiwa liarnya ditekuk paksa oleh otoritas sihir kuno.

Nessie menunduk patuh. Dengan sangat perlahan dan hati-hati, makhluk raksasa itu menurunkan tubuh Evelyn ke atas tanah.

Evelyn mendarat dengan anggun. Rambut pirangnya melambai ditiup angin magis. Ia menatap tajam ke arah monster yang kini bersimpuh di hadapannya seperti peliharaan yang setia.

"Bantu aku menghajar pria berengsek di luar itu," perintah Evelyn, suaranya terdengar dingin dan berwibawa, jauh dari kesan gadis SMA yang ringkih.

Set!

Dengan satu gerakan gesit, Evelyn melompat ke atas punggung bersisik Nessie. Makhluk raksasa itu menggerung rendah, lalu melesat keluar gua bagai badai yang siap menghancurkan apa saja.

Begitu mereka berhasil keluar, Kaelen yang kebetulan sedang memunggungi mulut gua tersentak hebat. Belum sempat ia menoleh, tubuhnya sudah terpelanting jauh, dihempaskan oleh lesatan lidah monster Nessie hingga menghantam batang pohon kelapa dengan keras.

Brakkk!

"Arrgggh!" Kaelen meringis tertahan. Hantaman brutal itu seketika membuka kembali luka cambuk di punggungnya, memicu rasa perih luar biasa yang membakar kulit.

Ia berusaha mengumpulkan kesadaran, lalu perlahan mendongak menatap ke arah mulut gua. Napas Kaelen tercekat. Di sana, berdiri monster Nessie yang perkasa, dan di atas punggungnya ada Evelyn—gadis yang kini telah bermutasi sepenuhnya menjadi entitas agung yang asing. Untuk beberapa detik, Kaelen sempat terpaku, terpesona oleh kecantikan mistis dan aura magis yang memancar dari tubuh sang gadis Elf.

Namun, belum sempat Kaelen menegakkan tubuh untuk membalas, sepasang netra hijau zamrud Evelyn berkilat tajam. Evelyn menggerakkan satu jemarinya ke udara. Seketika itu juga, seberkas sihir tak kasat mata menyelimuti tubuh Kaelen, mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara. Bersamaan dengan itu, akar dan tanaman rambat berduri mencuat dari balik hamparan pasir pantai, melesat cepat laksana ular yang kelaparan, lalu membelit tubuh Kaelen dengan sangat erat.

"Apa yang kau lakukan padaku?! Lepaskan aku, sialan!" bentak Kaelen, berusaha memberontak meski lilitan duri itu mulai menggores kulitnya.

Evelyn menyeringai lebar. Ia benar-benar menikmati kepanikan di wajah pria yang sempat ingin menghabisinya semalam. "Hajar dia," perintah Evelyn dingin pada Nessie. "Beri dia pelajaran berharga sampai sang Pangeran Merman ini tersadar dan tahu diri."

Evelyn melompat turun dari atas punggung makhluk itu dengan anggun. Seolah menerima komando mutlak, Nessie kembali menjulurkan lidah panjangnya yang bersisik keras. Makhluk purba itu mencambuk tubuh Kaelen yang terjebak tak berdaya di udara.

Ctak! Ctak! Ctak!

"Arghhh! Makhluk kurang ajar!" raung Kaelen frustrasi. Rasa sakit fisik dan harga dirinya yang runtuh bercampur menjadi satu. "Beraninya kau menyakiti Pangeran Merman! Sadarlah, Nessie! Akulah penguasamu di sini, bukan gadis manusia itu! Aku adalah putra mahkota lautan! Tunduklah padaku!"

Ctak!

Satu cambukan telak mendarat di dada Kaelen, merobek kaus longgar yang dikenakannya hingga darah segar mulai merembes keluar.

"Arghhh!"

Namun, sial bagi Kaelen. Semua perintah dan ancamannya hanya dianggap bagai angin lalu. Jiwa liar Nessie telah dikunci sepenuhnya oleh otoritas sihir kuno Elf Cahaya milik Evelyn. Tanpa ampun, monster itu terus melayangkan cambukan demi cambukan ke tubuh Kaelen yang kini tampak sangat mengenaskan.

Evelyn bersedekap dada, berdiri tenang sembari menyaksikan pertunjukan darah itu dengan tatapan puas. Ia tidak akan membiarkan Nessie berhenti, tidak sampai pria sombong di depannya itu menurunkan ego dan memohon ampun di hadapannya.

"Memohon ampunlah, Kaelen," ucap Evelyn dingin, sepasang netra hijaunya menatap lurus tanpa secercah belas kasihan.

"Tidak akan—"

Ctak!

"Arghhh!"

Belum sempat Kaelen menyelesaikan kalimatnya, cambukan Nessie kembali menghantam telak, memotong harga dirinya yang tersisa.

"Keras kepala," desis Evelyn, lalu tertawa sarkas. "Kalau begitu, aku akan memberimu dua pilihan menarik. Kau ingin aku mempercepat kematianmu, atau kau ingin aku memperlambat kematianmu hingga kau tersiksa perlahan?"

Evelyn mengangkat sebelah tangannya, memberikan isyarat mutlak pada Nessie. "Berhenti dulu."

Seketika Nessie menahan gerakannya, membiarkan keheningan mencekam menyelimuti tempat itu. Kaelen menyadari bahwa kedua tawaran Evelyn sama sekali bukan pilihan. Pria itu sudah benar-benar tidak berdaya, tidak memiliki sisa tenaga untuk melawan atau sekadar memberontak. Luka-luka di sekujur tubuhnya seolah telah melumpuhkan fungsi sarafnya.

Terlebih lagi, ia baru menyadari bahwa tanaman rambat sihir yang membelitnya seolah hidup—diam-diam mengisap habis sisa energi supranatural miliknya.

Dengan wajah yang kini berlumuran darah segar, Kaelen mendongak kaku. Ia menatap Evelyn, lalu terkekeh sinis di sela napasnya yang memburu.

"Sial... ternyata kau sekuat ini," bisik Kaelen, suaranya serak namun tetap sarat akan kelicikan.

"Kupikir kau hanyalah gadis manusia biasa yang ringkih. Aku tidak akan memilih satu pun dari penawaran gilamu itu. Tapi, bagaimana jika aku balik menawarkan sesuatu? Jika aku memohon padamu, apa kau akan melepaskanku sekarang juga?"

Kaelen menjeda kalimatnya, mencoba menahan rasa perih yang mendera dadanya sebelum kembali memprovokasi. "Dengar, Evelyn. Jika aku mati di tanganmu hari ini, seluruh bangsa mermaid akan memburumu tanpa ampun. Jadi, bagaimana? Kau mau melepaskanku sekarang, atau kau memilih menjadi buronan paling dicari oleh para petinggi dunia immortal di benua ini?"

Sebuah senyuman miring yang samar terukir di bibir Kaelen yang bersimbah darah. "Kau tahu sendiri, para sepupuku adalah ras campuran terkuat—demon, vampire, mermaid, pegasus, hingga elf hutan. Coba kau pikirkan baik-baik... bagaimana jadinya jika kau harus menghabiskan sisa hidupmu dikejar dan diburu oleh seluruh ras terpandang itu hanya karena kau bersikeras membunuhku?"

1
Eka Putri Handayani
Semangat thor lebih bnyk up lg dong, gayamu kael tunggu aja evelyn bertransformasi jadi lebih kuat uh bakal kelepek-klepek deh
Soobin Chan: makasih ya supportnya. maaf author cuma bisa up 1× sehari😄
total 1 replies
Soobin Chan
aslinya emang kuat ko dia, tahan banting pula🤣
Eka Putri Handayani
sumpah gak suka banget sm kael kasar, thor buat evelyn segera ninggalin raganya yg sakit² itu deh
Soobin Chan: iya di tunggu aja ya nanti di bab-bab selanjutnya🙏
total 1 replies
Eka Putri Handayani
thor lebih baik langsung buat evelyn kembali pada raga aslinya deh kesian bngt klo dia hrs menderita kya gtu🥺
Soobin Chan: sabar ya😄 nanti juga sembuh sendiri.
makasih banyak ya udah mampir dan mau baca cerita gaje dari author ini/Smile/
total 1 replies
Soobin Chan
masih sepi hihi/Sob/
Soobin Chan: komen dong guys🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!