"Di kantor, Aruna adalah pemenang. Namun di rumah, ia adalah orang asing yang kehilangan tempat. Ketika mantan suaminya kembali membawa 'istri sempurna', hidup Aruna mulai retak.
Satu per satu barangnya hilang, ingatannya mulai dikhianati, dan putranya perlahan menjauh. Apakah Aruna memang ibu yang gagal, atau seseorang sedang merancang skenario untuk membuatnya gila?
Menjadi ibu itu berat. Menjadi ibu yang waras di tengah teror... itu mustahil."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: KUDETA DI RUANG SIDANG
Bab 34: Kudeta Di Ruang Sidang
Lantai 50 Gedung Utama Adhigana Group di kawasan Sudirman pagi itu terasa seperti ruang eksekusi. Atmosfernya begitu pekat oleh kecemasan. Prabawa Adhigana duduk di kepala meja oval ruang rapat utama, wajahnya sekuyu mayat yang dipaksa tegak. Di sekelilingnya, dua belas anggota dewan komisaris dan pemegang saham mayoritas saling berbisik dengan raut wajah tegang.
Layar proyektor di ujung ruangan menampilkan grafik nilai saham perusahaan yang terus terjun bebas hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB). Skandal yang disebarkan Bambang kemarin telah memicu kepanikan massal.
"Tuan Prabawa, jika kita tidak menjual anak perusahaan properti dan logistik kita siang ini kepada konsorsium asing, bank akan menyita seluruh aset utama kita sebelum jam bursa ditutup," ucap salah satu komisaris senior dengan suara bergetar.
Prabawa mengepalkan tangannya di atas meja, urat-urat di dahinya menonjol. "Konsorsium asing mana yang mau membeli aset yang sedang kebakaran seperti ini?!"
Tepat setelah Prabawa menyelesaikan kalimatnya, pintu ganda ruang rapat yang berlapis jati tebal itu terbuka dengan paksa. Dua pengawal berbadan tegap yang berjaga di luar bahkan tidak sempat memberikan peringatan.
Aruna Mahendra melangkah masuk.
Ia mengenakan setelan blazer hitam potongan maskulin dengan kemeja putih sutra di dalamnya. Langkah kakinya yang dibalut high heels hitam berbunyi teratur di atas lantai granit, menciptakan irama yang mengintimidasi. Di belakangnya, Adrian berjalan dengan tas koper kulit hitam, sementara Haris mengekor dengan tatapan dingin penuh dendam pada mantan bosnya.
"Kau..." Prabawa berdiri dari kursinya, jarinya menunjuk Aruna dengan gemetar. "Bagaimana bisa kau masuk ke sini?! Keamanan! Usir wanita gila ini!"
"Tidak akan ada keamanan yang datang, Kakek," Aruna menarik kursi kosong di ujung meja, berhadapan langsung dengan Prabawa. Ia duduk dengan santai, menyilangkan kakinya dengan keanggunan seorang penguasa baru. "Sistem keamanan gedung ini sekarang berada di bawah kendali timku. Dan soal 'wanita gila'? Sebaiknya kau perhatikan kata-katamu di depan pemilik baru Adhigana Group."
"Pemilik baru?!" salah satu komisaris berteriak tidak terima. "Siapa kau?!"
Haris melangkah maju dan membuka koper kulit yang dibawanya. Ia membagikan beberapa bundel dokumen legal ke hadapan para komisaris.
"Perkenalkan, saya Haris, mantan kepala akuntan yang kalian sangka sudah mati dalam kecelakaan lima tahun lalu," ucap Haris dengan senyum dingin. "Dokumen di hadapan kalian adalah bukti pengalihan 51% saham Adhigana Group. Selama dua belas jam terakhir, saat saham kalian runtuh, sebuah perusahaan cangkang bernama Iron Lilac Corp telah membeli seluruh surat utang dan saham beredar di pasar sekunder menggunakan dana cair internasional."
Prabawa membaca dokumen di depannya, dan sedetik kemudian dadanya terasa sesak. "Ini... ini tidak mungkin! Dari mana kau mendapatkan dana sebesar ini, Aruna?!"
"Dari hasil membedah brankas rahasiamu di Swiss, Kakek," Aruna mencondongkan tubuhnya, menatap Prabawa dengan mata yang sedingin es. "Kau yang mengajariku bahwa di dunia ini, hanya yang kuat yang bisa bertahan. Kau menggunakan Bimo untuk mengujiku, dan sekarang, ujian itu berbalik kepadamu. Kau gagal."
"Kau tidak tahu apa yang kau lakukan, Aruna!" Prabawa berteriak parau, napasnya mulai tersengal-sengal. "Nirwana... Nirwana tidak akan membiarkanmu mengambil alih Adhigana! Perusahaan ini adalah alat mereka untuk mencuci uang!"
"Nirwana sudah tahu," balas Aruna tenang. Ia menjentikkan jarinya ke arah Adrian.
Adrian menyalakan layar proyektor utama. Video di layar langsung berganti menampilkan wajah Hendra—ayah Siska—yang sedang duduk di ruang interogasi kepolisian dengan baju tahanan oranye. Di sampingnya, Siska memberikan kesaksian tertulis melalui panggilan video darurat tentang keterlibatan Adhigana Group dalam pendanaan fasilitas pencucian otak Project Nest.
"Mulai jam ini, kejaksaan agung telah membekukan seluruh izin operasional luar negeri Adhigana yang terhubung dengan Nirwana," Aruna berdiri dari kursinya, memutari meja panjang itu perlahan hingga ia berdiri tepat di belakang kursi Prabawa. Ia meletakkan kedua tangannya di sandaran kursi kakeknya, membungkuk dan berbisik di telinga pria tua itu.
"Kau sudah tidak berguna lagi bagi Nirwana, Kakek. Kau adalah bidak yang sudah mati. Sekarang, tanda tangani surat pengunduran dirimu secara sukarela, atau biarkan Haris menyerahkan dokumen ini ke KPK dalam lima menit ke depan."
Prabawa menatap para komisarisnya, namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani menatap balik. Mereka semua tertunduk, sadar bahwa kekuasaan telah berpindah tangan. Dengan tangan yang gemetar hebat, Prabawa meraih pena emasnya dan membubuhkan tanda tangan di atas surat penyerahan kekuasaan.
Begitu tanda tangan selesai, Prabawa ambruk di kursinya, memegangi dadanya yang kesakitan karena serangan jantung.
"Adrian, panggil ambulans," perintah Aruna tanpa emosi sedikit pun. Ia sama sekali tidak tergerak melihat kakeknya yang sedang meregang nyawa. "Aku ingin dia tetap hidup. Dia harus melihat bagaimana aku menggunakan perusahaannya untuk menghancurkan majikannya di Swiss."
Aruna kemudian berbalik, menatap dua belas komisaris yang kini menatapnya dengan rasa takut yang luar biasa.
"Mulai hari ini, Adhigana Group bubar. Perusahaan ini berganti nama menjadi Lilac Holding," suara Aruna menggema di ruang rapat. "Dan tugas pertama kalian adalah menyiapkan seluruh logistik taktis untuk keberangkatan timku ke Swiss dalam waktu tiga bulan ke depan. Ada yang keberatan?"
Tidak ada suara. Ruangan itu sunyi senyap.
Di telinga Aruna, suara Bambang terdengar riuh lewat earpiece. "WUIH! Hidup Ratu Iron Lilac! Kudeta sukses besar, Mbak Bos! Saham kita langsung naik lagi nih setelah ada pengumuman manajemen baru! Tapi... Mbak, ada satu hal aneh."
"Apa itu, Bambang?" tanya Aruna sambil melangkah keluar dari ruang rapat.
"Barusan ada pesan masuk ke sistem baru kita. Pengirimnya pake enkripsi dari... Swiss. Dan pesannya cuma berupa file suara tangisan Kenzo yang memanggil nama Mbak."
Langkah kaki Aruna terhenti di depan lift. Genggamannya pada dokumen perusahaan mengencang. Musuh di tanah air sudah tumbang, namun panggilan dari Swiss itu menandakan bahwa Fase 2 yang sesungguhnya—perang merebut kembali hati anaknya—baru saja resmi dimulai.
Bersambung.....
.
.
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bab 35: Panggilan dari Alpen.