NovelToon NovelToon
Obsesi Tuan Perdana Menteri

Obsesi Tuan Perdana Menteri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Wanita perkasa
Popularitas:980
Nilai: 5
Nama Author: Amila FM

“Mereka tidak ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia. Mereka ditakdirkan untuk menguasainya.”

Di depan publik, Kael Arden adalah Perdana Menteri termuda yang sempurna—dingin, klimis, dan jenius politik yang tak tersentuh. Namun, reputasi itu hancur saat Aurelia Vane, CEO Vane Group sekaligus Ratu dunia bawah tanah, mempermalukannya di panggung internasional. Bagi Kael, Aurelia adalah ancaman negara yang harus dihancurkan. Bagi Aurelia, Kael hanyalah pria sombong yang perlu diajari cara berlutut.

Perang ego di depan kamera berubah menjadi obsesi gelap di balik pintu tertutup. Dari ruang kerja yang sunyi hingga pesta pelelangan rahasia, setiap konfrontasi verbal mereka selalu berakhir dengan ketegangan sensual yang menyesakkan napas. Kael yang terbiasa mengendalikan negara justru kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sementara Aurelia dengan manipulatif memanfaatkan hasrat pria itu untuk menghancurkan pemerintahannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prime Minister's Enemy

​Pukul dua dini hari. Kantor Perdana Menteri di sayap barat istana biasanya merupakan ruang keheningan yang suci, tempat di mana keputusan-keputusan yang mengubah nasib jutaan orang diambil dengan ketenangan klinis. Namun malam ini, udara di dalam sana terasa berat, seolah oksigen telah digantikan oleh sisa-sisa aroma black rose dan amber yang tertinggal di indra penciuman Kael Arden.

​Kael berdiri di depan wastafel di kamar mandi pribadinya yang berdinding marmer hitam. Ia membasuh wajahnya dengan air es, lalu menatap pantulan dirinya di cermin. Tidak ada sehelai rambut pun yang berantakan. Dasinya sudah dilepas, kancing teratas kemeja putihnya terbuka, sebuah pemandangan langka yang menunjukkan retaknya fasad kesempurnaan sang Perdana Menteri.

​Tangannya mencengkeram pinggiran wastafel hingga buku jarinya memutih. Di lehernya, ia masih bisa merasakan sensasi dingin dari ujung kuku Aurelia yang tadi merayap di sana. Itu bukan sekadar sentuhan, itu adalah penandaan wilayah.

​"Sialan," desisnya, suaranya parau.

​Ia kembali ke meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati kuno. Di atas meja itu, tablet tipis miliknya menyala, menampilkan data yang akan membuat bursa saham dunia mengalami serangan jantung jika bocor ke publik. Namun, Kael tidak sedang menatap angka-angka ekonomi. Ia sedang menatap profil digital Aurelia Vane yang ditarik secara paksa oleh tim intelijen sibernya dari server terdalam dark web.

​Layar itu menampilkan foto-foto Aurelia dalam berbagai kesempatan. Aurelia di Paris, sedang bersulang dengan raja minyak Timur Tengah. Aurelia di Moskow, keluar dari jet pribadi bersama seorang jenderal tinggi yang dikenal brutal. Aurelia di Macau, berdiri di samping meja baccarat dengan tumpukan chip bernilai jutaan dolar, dikelilingi oleh pria-pria yang menatapnya seolah ia adalah satu-satunya tuhan yang mereka sembah.

​"Vane Group bukan sekadar perusahaan energi," gumam Kael pada kegelapan ruangan.

​Jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang semakin cepat. Berdasarkan algoritma enkripsi E_k(M), timnya menemukan bahwa setiap transaksi Vane Group memiliki lapisan tersembunyi yang terhubung ke jaringan logistik di pelabuhan-pelabuhan internasional yang tidak terdaftar. Aurelia Vane tidak hanya menguasai energi, ia menguasai jalur nadi dunia bawah tanah.

​Pintu kantornya diketuk dengan pelan. Sekretaris pribadinya, seorang pria paruh baya yang efisien, masuk dengan wajah pucat.

​"Tuan Perdana Menteri, saya baru saja menerima laporan dari unit pemantau media. Rekaman interupsi Miss Vane di Grand Ballroom tadi telah menyebar luas. Kita bisa memblokirnya di server domestik, tapi di luar negeri... video itu sudah menjadi viral. Pasar mulai bereaksi. Saham sektor energi pemerintah turun 4.2% dalam dua jam terakhir."

​Kael tidak mengalihkan pandangannya dari foto Aurelia di layar. "Biarkan saja."

​"Tapi Tuan—"

​"Aku bilang biarkan!" Kael membentak, suaranya menggelegar di ruangan luas itu. Ia segera menarik napas panjang, merapikan kembali emosinya ke dalam kotak baja yang biasa ia gunakan. "Jangan blokir videonya. Jika kita melakukannya, publik akan menganggap tuduhan itu benar. Siapkan narasi bahwa Miss Vane sedang melakukan upaya sabotase korporat karena kepentingannya di sektor swasta terancam oleh kebijakan nasional."

​"Baik, Tuan. Dan... ada satu hal lagi." Sekretaris itu meletakkan sebuah kotak beludru hitam kecil di atas meja. "Seseorang mengantarkan ini ke gerbang istana sepuluh menit yang lalu. Pengirimnya tidak meninggalkan nama, tapi ada kartu di dalamnya."

​Kael meraih kotak itu. Begitu ia membukanya, jantungnya seolah berhenti berdetak. Di dalam kotak itu terdapat sebuah kancing manset emas berbentuk mawar miliknya yang hilang saat pergulatan mereka di koridor tadi.

​Ia mengambil kartu kecil di bawahnya. Tulisan tangan di sana sangat rapi, miring, dan tajam.

​“Kau menjatuhkan ini saat mencoba menjadi dominan, Kael. Simpanlah. Kau akan membutuhkannya saat kau berlutut di depanku nanti. — A.V.”

​Kael meremas kartu itu hingga hancur dalam genggamannya. Amarahnya memuncak, namun di bawah kemarahan itu, sebuah sensasi gelap mulai merayap di perutnya. Ia bisa membayangkan tawa rendah Aurelia, membayangkan bagaimana wanita itu menikmati kemenangannya malam ini di dalam penthouse mewahnya yang berjarak hanya beberapa blok dari istana.

​Ia menyambar ponselnya dan menekan sebuah nomor rahasia yang hanya digunakan untuk operasi-operasi hitam pemerintah.

​"Aktifkan Protokol Iron Rose," perintah Kael tanpa salam. "Aku ingin setiap inci kehidupan Aurelia Vane diawasi. Aku ingin tahu apa yang dia makan, dengan siapa dia tidur, dan setiap sen yang dia habiskan. Jika dia bersin, aku ingin tahu frekuensi suaranya."

​"Tuan, itu adalah penggunaan sumber daya negara untuk target pribadi—"

​"Dia bukan target pribadi! Dia adalah ancaman keamanan nasional!" potong Kael, meskipun di dalam hatinya, ia tahu ia sedang berbohong.

​Aurelia Vane bukan ancaman bagi negara. Dia adalah ancaman bagi kewarasan Kael.

​Kael kembali menatap layar tabletnya. Ia memperbesar satu foto Aurelia yang diambil secara candid. Wanita itu sedang berdiri di balkon sebuah yacht, mengenakan bikini hitam minimalis dengan segelas wiski di tangannya. Angin laut menerbangkan rambut hitamnya, dan matanya menatap ke kejauhan dengan tatapan yang begitu dingin, begitu hampa, namun sangat berkuasa.

​Kael menyentuh permukaan layar, tepat di atas bibir Aurelia yang tersenyum tipis.

​"Kau ingin aku berlutut, Aurelia?" bisiknya pada layar yang dingin. "Aku akan memastikan kau adalah orang pertama yang memohon ampun saat aku menghancurkan kerajaan yang kau bangun ini."

​Namun, saat ia menatap foto itu, Kael menyadari sesuatu yang membuatnya sesak. Ia tidak hanya ingin menghancurkan Vane Group. Ia ingin menguliti setiap lapisan kesombongan Aurelia. Ia ingin melihat wanita itu hancur, bukan karena hukum, tapi karena dirinya. Ia ingin memiliki Aurelia dalam cara yang paling primitif, sebuah kepemilikan mutlak yang tidak bisa diberikan oleh jabatan Perdana Menteri mana pun.

​Tiba-tiba, layar tabletnya berkedip. Sinyal merah muncul di sudut kanan atas. Seseorang sedang mencoba meretas masuk ke jaringannya secara real time.

​Kael adalah seorang jenius matematika, ia segera mengambil alih keyboard dan mulai mengetik baris perintah untuk menangkis serangan tersebut. Namun, si peretas sangat cepat. Seolah-olah mereka sudah tahu setiap langkah defensif yang akan diambil Kael.

​Sebuah jendela percakapan muncul di tengah layarnya yang dipenuhi data.

​[UNKNOWN]: Sangat rapi, Tuan Perdana Menteri. Menggunakan dana intelijen untuk mengintip fotoku di yacht? Aku tidak tahu kau punya hobi seperti itu.

​Napas Kael tertahan. Aurelia.

​KAEL: Kau meretas jaringan pemerintah. Itu adalah tindakan pengkhianatan tingkat tinggi. Aku bisa mengirim pasukan khusus ke kediamanmu sekarang juga.

​[UNKNOWN]: Dan kau akan melakukannya dengan jas yang sangat rapi dan rambut yang sangat klimis, bukan? Aku hampir bisa membayangkan betapa kerasnya kau mencoba menahan diri saat ini.

​[UNKNOWN]: Jangan repot-repot mengirim pasukan, Kael. Mereka tidak akan menemukan apa pun. Tapi jika kau ingin melihatku secara langsung... aku ada di atap gedung Vane Center. Sendirian. Membawa dokumen asli 'Vane Group Acquisition Act' yang sudah kau palsukan.

​[UNKNOWN]: Datanglah, atau aku akan menekan tombol 'send' ke seluruh kantor berita di dunia dalam waktu tiga puluh menit.

​Layar itu kembali hitam. Sinyalnya terputus.

​Kael berdiri dengan sentakan yang membuat kursi jati mahalnya terlempar ke belakang. Ia meraih jasnya yang tersampir di sandaran kursi, memakainya dengan gerakan cepat dan efisien. Ia merapikan rambutnya di depan cermin untuk terakhir kalinya, memastikan tidak ada satu helai pun yang keluar dari tempatnya, memastikan ia masih memegang kendali atas dirinya sendiri.

​Namun, tangannya sedikit gemetar saat ia mengancingkan jasnya.

​Ia tahu ini adalah jebakan. Ia tahu Aurelia sedang memancingnya ke dalam wilayahnya, ke dalam kegelapan di mana aturan hukum tidak berlaku. Tapi obsesi itu sudah mengakar terlalu dalam. Kael tidak bisa menolak. Ia harus melihat wanita itu. Ia harus merasakan konfrontasi itu lagi, meskipun itu berarti ia sedang berjalan menuju kehancurannya sendiri.

​Kael melangkah keluar dari kantornya dengan langkah lebar, mengabaikan tatapan bingung para pengawal pribadinya.

​"Siapkan mobil. Tanpa pengawalan. Tanpa sirene," perintahnya dingin.

​Malam itu, di bawah cahaya neon kota yang dingin, sang Perdana Menteri sedang mengejar iblisnya. Dan jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa ia tidak sedang pergi untuk menangkap seorang penjahat. Ia sedang pergi untuk menyerahkan diri pada sebuah obsesi yang akan membakar seluruh dunianya.

​Sepuluh menit kemudian, mobil hitam Kael berhenti di depan Vane Center, sebuah gedung pencakar langit kaca yang menjulang seperti pedang hitam yang menusuk langit malam. Gedung itu gelap, kecuali lantai teratas yang memancarkan cahaya biru redup.

​Kael melangkah keluar, udara malam yang dingin menusuk kulitnya. Ia menatap ke atas, ke arah atap gedung di mana seorang wanita sedang menunggunya.

​Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, Kael tidak yakin siapa yang sebenarnya sedang memegang kendali.

​"Aurelia Vane," gumamnya, langkah kakinya bergema di trotoar yang sepi. "Mari kita lihat seberapa jauh kau bisa membawaku ke dalam nerakamu."

​Di atas sana, di balik kaca tebal, Aurelia berdiri sambil menatap ke bawah. Ia melihat mobil Kael. Ia melihat pria itu keluar. Ia menyesap sisa sampanyenya, lalu menjilat bibir bawahnya yang berwarna merah darah.

​"Selamat datang di permainan yang sesungguhnya, Tuan Perdana Menteri," bisiknya pada kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!