Di Daejeon, dua polisi dengan masa lalu rumit dipertemukan kembali sebagai partner kerja. Kim Da Eun yang dingin dan tegas harus bekerja sama dengan Lee Hyejin yang ceroboh namun cerdas.
Di tengah hubungan mereka yang penuh pertengkaran dan rahasia masa lalu, muncul kasus pembunuhan berantai misterius dengan jejak sepatu pendaki bertanda api sebagai petunjuk utama. Saat penyelidikan semakin berbahaya, keduanya mulai kembali dekat dan menyadari bahwa perasaan lama belum benar-benar hilang.
PARTNER OF JUSTICE adalah novel kriminal romantis tentang misteri, kepercayaan, dan dua polisi yang harus menghadapi penjahat sekaligus perasaan mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eun_Byeol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANGAN MASA LALU
Ruang rapat Direktorat Reserse Kriminal Daejeon kembali dipenuhi keheningan. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar di tengah tatapan serius seluruh anggota tim investigasi.
Di papan putih, foto-foto korban kini memenuhi hampir seluruh permukaan. Benang merah menghubungkan nama Kim Beom Seok, Han Ji Woo, lencana milik Han Seung Ho, hingga simbol api yang terus muncul di setiap tempat kejadian.
Kim Da Eun berdiri di depan papan itu dengan kedua tangan bertumpu di meja.
"Selama ini kita mengira kita sedang mengejar pembunuh berantai," katanya pelan. "Tapi sekarang jelas... kita sedang membuka kembali kasus yang sengaja dikubur delapan tahun lalu."
Lee Hyejin mengangguk pelan.
"Kalau pelaku benar-benar berkaitan dengan kasus Han Ji Woo, berarti semua korban dipilih karena memiliki hubungan dengan masa lalu itu."
Wakil Kepala Nam membuka map berisi arsip lama.
"Sayangnya, sebagian besar dokumen kasus hilangnya Han Ji Woo sudah dinyatakan tidak lengkap. Banyak halaman yang hilang."
"Hilang?" tanya Petugas Park.
"Bukan rusak. Benar-benar hilang."
Da Eun mengerutkan dahinya.
"Itu berarti ada seseorang yang sengaja menghapus jejak."
Suasana kembali sunyi.
Jika benar ada orang yang menghilangkan dokumen penyelidikan, berarti pelaku bukan satu-satunya orang yang menyimpan rahasia.
Sementara itu...
Di sebuah apartemen tua yang berada di pinggiran kota.
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun duduk sendirian di ruang tamunya yang gelap. Rambutnya mulai memutih, sementara kedua matanya terlihat lelah.
Di atas meja terdapat sebuah lencana polisi yang sudah kusam.
Pria itu adalah Han Seung Ho.
Mantan kepala tim investigasi yang namanya kembali muncul setelah delapan tahun menghilang dari dunia kepolisian.
Tangannya sedikit gemetar saat menyalakan televisi.
Namun pikirannya sama sekali tidak tertuju pada layar.
Bayangan delapan tahun lalu kembali menghantuinya.
Malam itu...
Han Ji Woo datang menemuinya di kantor.
"Pak Han, saya menemukan sesuatu."
"Apa?"
"Ada dokter di rumah sakit yang memperjualbelikan identitas pasien."
Han Seung Ho terkejut.
"Itu tuduhan serius."
"Saya punya buktinya."
Ji Woo menyerahkan sebuah flashdisk.
"Simpan ini."
"Kenapa tidak kau serahkan sekarang?"
Ji Woo terlihat gelisah.
"Ada yang mengikuti saya."
Han Seung Ho masih mengingat jelas tatapan penuh ketakutan mahasiswa itu.
Dan malam itu pula...
Han Ji Woo menghilang tanpa jejak.
"Kalau saja waktu itu aku lebih cepat..." gumam Seung Ho dengan suara bergetar.
Air matanya perlahan jatuh.
Delapan tahun berlalu.
Namun rasa bersalah itu tidak pernah benar-benar hilang.
Tiba-tiba...
Bel rumahnya berbunyi.
Ting...
Seung Ho mengangkat kepala.
"Siapa malam-malam begini?"
Ia membuka pintu perlahan.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya sebuah kotak kardus kecil.
Ketika dibuka...
Di dalamnya terdapat flashdisk lama.
Dan secarik kertas.
Tulisan tangan berwarna merah itu hanya berisi satu kalimat.
"Giliranmu telah tiba."
Wajah Seung Ho langsung pucat.
Ia mengenali tulisan itu.
Tulisan yang sama seperti di gudang kayu.
Di waktu yang sama.
Da Eun menerima telepon dari Kang Dae Hyun.
"Sunbae."
"Ada perkembangan?"
"Saya berhasil menemukan alamat Han Seung Ho."
Da Eun langsung berdiri.
"Masih tinggal di sana?"
"Iya."
"Kirim lokasinya."
"Baik."
Da Eun segera mengambil jaketnya.
Hyejin menatapnya.
"Mau ke mana?"
"Menemui Han Seung Ho."
"Saya ikut."
"Tidak."
Hyejin menghela napas.
"Sunbae."
"Pelaku sudah menjadikanmu target."
"Itu justru alasan saya harus ikut."
Da Eun terdiam beberapa saat.
Ia tahu Hyejin benar.
Akhirnya ia mengangguk pelan.
"Baik. Tapi tetap di dekatku."
Senyum tipis muncul di wajah Hyejin.
"Siap."
Dua mobil polisi melaju membelah jalanan malam Daejeon.
Hujan rintik mulai turun, membuat jalanan memantulkan cahaya lampu kota.
Tidak ada seorang pun berbicara selama perjalanan.
Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Sekitar dua puluh menit kemudian mereka tiba di apartemen Han Seung Ho.
Namun suasana di sana terasa aneh.
Pintu apartemen terbuka.
Lampu ruang tamu menyala.
"Pak Han!" panggil Da Eun sambil memasuki ruangan.
Tidak ada jawaban.
Ia memberi isyarat kepada semua anggota tim untuk berpencar.
Hyejin memasuki dapur.
Kosong.
Petugas Park memeriksa kamar tidur.
Tidak ada siapa-siapa.
Lalu...
"Pak!"
Suara Petugas Choi terdengar panik dari balkon belakang.
Semua segera berlari.
Han Seung Ho terbaring di lantai balkon.
Tubuhnya dipenuhi luka.
Napasnya sangat lemah.
"Ambulans!" teriak Da Eun.
Hyejin langsung berlutut di samping korban.
"Denyut nadinya masih ada."
Seung Ho perlahan membuka matanya.
Tatapannya langsung mencari Da Eun.
"K... Kim..."
"Saya di sini."
Seung Ho menggenggam tangan Da Eun dengan sisa tenaganya.
"Dia..."
"Siapa?"
"Dia bukan..."
Kalimatnya terputus karena batuk hebat.
"Dengarkan saya!"
Seung Ho berusaha berbicara.
"Bukan dia yang... kalian cari..."
Da Eun mengernyit.
"Apa maksud Anda?"
Dengan napas yang semakin berat, Seung Ho mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Ada... orang... di belakangnya..."
Tangannya terlepas.
Monitor alat medis portabel yang dibawa petugas ambulans mulai berbunyi nyaring.
Hyejin segera melakukan pertolongan pertama.
"Pak Han! Tetap bersama kami!"
Namun mata Seung Ho perlahan tertutup.
Di tangannya yang mulai melemah, terdapat secarik kertas kecil yang belum sempat ia lepaskan.
Da Eun mengambilnya dengan hati-hati.
Di sana hanya tertulis dua kata.
"White Raven."
Da Eun dan Hyejin saling berpandangan.
Mereka belum pernah mendengar nama itu.
Namun firasat mereka mengatakan bahwa "White Raven" bukan nama seseorang.
Melainkan sebuah organisasi.
Dan pembunuh bertopi hitam...
Mungkin hanyalah salah satu pion dalam permainan yang jauh lebih besar.
Bersambung ke Bab 26 (Bagian 2).