Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 Pilihan Hidup
Ragil hanya mengangkat bahu. Dia menekan keinginan bertemu anaknya yang akan lahir, karena itu akan memberatkan hatinya untuk melepas rumah tangganya yang selalu kekurangan.
“Dia pasti akan baik-baik saja. Dia wanita yang kuat," ujarnya tenang.
Tanpa menoleh lagi, Ragil melangkah pergi dengan menggenggam jemari tangan Melinda.
Melinda tersenyum puas. Bahagia karena keinginannya tercapai seperti membalikkan telapak tangan.
Ragil dengan entengnya meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang suami yang harus siap siaga menjaga istri yang sedang melakukan persalinan. Ragil benar-benar telah meninggalkan Raznalira yang masih berjuang seorang diri di balik pintu ruang operasi.
Langkah Ragil tak pernah goyah untuk terus berjalan. Lorong rumah sakit yang panjang terasa hampa, seolah ikut menilai keputusannya, tetapi ia memilih bungkam dari segala suara yang mencoba menahannya.
Jemari Melinda yang ia genggam terasa hangat, terlalu hangat untuk seorang yang baru saja meninggalkan keluarga kecilnya demi wanita lain.
“Kamu tidak apa-apa kan?” tanya Melinda pelan, menatap wajah Ragil yang tampak datar.
Ragil hanya mengangguk. “Ini yang terbaik. Buat masa depanku"
Kalimat itu terdengar seperti pembenaran daripada keyakinan. Ragil hanya memikirkan dirinya, tidak memikirkan nasib istri dan anaknya.
Ragil berhenti sesaat di parkiran rumah sakit. Ia menatap langit yang kelabu. Rintik hujan kembali menyapa. Tanpa sadar melepas genggaman tangannya dari Melinda. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, perasaan yang tidak ia undang, tetapi juga tidak bisa ia abaikan begitu saja. Sesuatu yang membuatnya bisa saja mengurungkan niatnya untuk pergi meninggalkan istri dan anaknya.
"Kenapa berhenti?" tanya Melinda menatapnya heran sekaligus was-was.
Ragil tidak langsung menjawab. Dadanya terasa sesak, napasnya terasa berat. Untuk sesaat, semua alasan yang tadi ia yakini benar, perlahan terkikis dengan sendirinya. Dia mulai ragu untuk melangkah.
“Dengar... aku mendengar suara anakku menangis. Kamu dengar? Anakku sudah lahir, Mel..." ujarnya tersenyum tipis sambil menatap Melinda sekilas. Ada kebahagiaan yang tak terduga hinggap dalam hatinya.
Melinda mengerutkan kening. Ada rasa khawatir, lelaki idamannya akan mencabut ucapannya.
“Ragil, kita sudah sepakat. Kamu sendiri yang telah siap untuk meninggalkan mereka. Ingat biaya persalinan istrimu pake uang siapa.”
“Aku tahu,” potong Ragil cepat, tapi kali ini suaranya tidak setegas sebelumnya.
Tangisan itu kembali terdengar. Lebih jelas. Lebih dekat. Seolah menembus dinding, menembus egonya. Ragil menutup mata sesaat, mengepalkan kedua tangannya.
Bayangan Raznalira tiba-tiba muncul, kali ini bukan sebagai beban hidupnya tapi sebagai seorang ibu yang tengah berjuang sendirian untuk melahirkan anak mereka.
Ragil mulai ragu dengan keputusannya, dia berbalik ingin melihat bayinya.
Melinda refleks menarik lengannya. Tidak membiarkan lelakinya pergi begitu saja.
Ragil menatap Melinda lalu menatap lengannya yang dipegang Melinda.
"Kamu mau ke mana? Ingat tentang kesepakatan kita!” ujar Melinda mengingatkan.
“Maaf Mel, aku hanya ingin memastikan mereka baik-baik saja. Kamu jangan khawatir. Aku ingat tentang kesepakatan itu,"
Melinda menggelengkan kepalanya. Dia sulit mempercayai ucapan Ragil. Dirinya sangat khawatir keberadaan bayi itu justru akan menghalangi bersatunya ikatan mereka.
“Ragil!” suara Melinda meninggi, campur marah dan tidak percaya. “Kamu serius? Setelah semua yang kamu putuskan, kamu akan melihat mereka kembali? Aku malah khawatir kamu akan berat meninggalkan mereka,"
Ragil terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang. Menatap wanita yang pernah mengisi hatinya semasa SMA.
"Justru karena itu, aku harus memperjelas keadaan mereka. Kalau sudah jelas, aku janji akan meninggalkan mereka dengan tenang,"
Kali ini dia melepaskan tangan Melinda sepenuhnya dengan pelan.
"Tolong beri waktu aku untuk melihat anakku,"
Setelah berhasil melepaskan tangan Melinda, Ragil dengan cepat melangkah, hampir berlari menyusuri lorong rumah sakit yang tadi ia tinggalkan tanpa ragu. Kini setiap detik terasa berat, setiap langkah dipenuhi kecemasan yang tidak sempat dia rasakan sebelumnya.
"Baik aku akan pegang ucapanmu, Gil!" ujarnya menatap nanar Ragil yang pergi meninggalkannya sendiri. Seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
Langkah Ragil bergema di sepanjang lorong yang kini terasa jauh lebih panjang dari sebelumnya. Napasnya memburu, bukan hanya karena dia berlari, tapi karena sesuatu di dalam dadanya mulai runtuh dari ego yang sejak tadi dia pertahankan.
Semakin dekat ke ruang operasi, suara tangisan itu semakin jelas. Tangisan yang sempat diabaikan kini justru memanggilnya untuk kembali seolah meminta untuk dipeluk.
Dia berhenti tepat di depan pintu. Tangannya terangkat, namun ragu untuk menyentuh gagang pintu itu. Ucapan Melinda di parkiran membuatnya berpikir ulang dalam bertindak.
"Kalau kamu berani masuk dan menemui mereka, berarti kamu telah melewati kesempatan terbaikmu. Kamu melewati kesempatan untuk bisa jadi orang kaya. Kamu melewati kesempatan untuk jadi pengusaha sukses di perusahaan papaku. Tinggal kamu pilih, memilih hidup bersama keluarga kecil mu dengan kemiskinan atau hidup bahagia dengan bergelimang harta denganku. Hanya sekarang kamu bisa memutuskannya, Gil," ucap Melinda yang tetiba ada di belakangnya.
Jelas itu pilihan yang paling sulit untuk sekarang walaupun tadi Ragil berpikiran untuk menceraikan istrinya namun setelah mendengar suara bayi, batinnya menjadi labil.
"Aku bisa memberimu keturunan berapa pun yang kamu mau. Tolong pikirkan hal ini. Aku sudah membantumu dengan memberikan uang untuk biaya persalinan istrimu. Sekarang tolong bantu aku untuk memenuhi keinginan ibuku agar aku cepat menikah. Aku hanya mau menikah denganmu, Ragil,"
Ragil membeku.
Kalimat terakhir Melinda seperti palu yang menghantam keras kepalanya. Janji yang diucapkan dengan mudahnya, uang yang dibutuhkan secara cepat dan masa depan yang ingin ia ubah secara instan. Semua bercampur menjadi satu, menyesakkan dadanya.
Tangannya masih menggantung di depan gagang pintu. Di balik pintu itu sesekali terdengar suara tangis bayi, sementara di belakangnya terdengar tuntutan yang cukup membuat hatinya bimbang. Ragil menutup matanya sejenak, membuang napasnya secara perlahan.
“Ya Allah...kenapa semuanya harus seperti ini?" gumamnya lirih, hampir tak terdengar.
Tangisan bayi itu kembali pecah. Kali ini lebih keras. Lebih nyata. Bukan sekadar suara biasa melainkan sebuah panggilan agar seorang ayah mau mendengar dan memeluknya.
Ragil membuka mata. Tatapannya berubah. Tidak lagi datar. Tidak lagi kosong. Ada cita-cita yang ingin diraih yang tidak bisa ia dapatkan ketika menikahi Raznalira.
Harapannya pupus saat itu manakala Razna lebih memilih dirinya daripada keluarganya yang kaya raya itu. Sehingga pundi-pundi kekayaan yang seharusnya menjadi milik Razna hilang tak bersisa karena Razna pergi tanpa restu orang tua dan tak pernah mau kembali kepada keluarga karena malu.
Ia menoleh perlahan ke arah Melinda.
“Aku…” suaranya serak. “Aku akan segera menghalalkanmu. Tapi beri aku waktu untuk membicarakan hal ini pada istriku,"
"Bisa tapi tidak sekarang. Kamu harus mengantarkanku pulang,"
"Ya kamu benar," Ragil mengangguk pasti.
Ragil mengikuti langkah kaki Melinda yang sedang berbunga-bunga. Ragil tahu ini salah, tapi dia tidak peduli. Dia hanya ingin menggapai mimpinya yang belum terwujud.
Hujan turun semakin deras saat Ragil melangkah menjauh dari pintu ruang operasi. Setiap langkahnya terasa berat, tetapi ia memaksa dirinya untuk terus bergerak. Dia harus menekan keinginan memeluk anaknya.
"Nanti akan tiba waktunya aku memelukmu, Nak!" batinnya lirih.
Melinda berjalan di sampingnya dengan langkah ringan. Senyum tipis masih menghiasi wajahnya, meski sesekali ia melirik Ragil dengan waspada, seolah takut lelaki itu akan kembali berbalik arah. Entahlah dia tidak ingin kehilangan Ragil untuk yang kedua kalinya.
“Mobilku ada di sana,” ujar Melinda, menunjuk ke arah parkiran.
Ragil hanya mengangguk. Ia tidak lagi menoleh ke belakang. Namun, bayangan wajah Raznalira terus menghantuinya, wajah yang pucat, keringat di dahinya, dan rengekan Razna agar melahirkan anaknya di rumah sakit.
Langkah Ragil sempat terhenti beberapa detik. Membuat Melinda menghela nafas dalam-dalam.
“Ayo cepat aku udah ngantuk nih!"” suara Melinda terdengar lebih tegas kali ini.
Ragil menarik napas panjang, lalu kembali berjalan. Ia membuka pintu mobil untuk Melinda, memastikan wanita itu duduk dengan nyaman sebelum ia sendiri masuk ke kursi pengemudi.
Dan suara itu tidak terdengar lagi...
bnar kata renndra.. patuhin aja razz
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri
Degar sendiri kan dra klakuan adek ipar mu...