Niatnya cari pelarian, malah dapet "tuan muda" kematian.
Alicia kabur ke Italia dan mencari pria paling tampan untuk menghina selera perjodohan ayahnya. Misinya berhasil ia menemukan Dante, pria dengan visual sempurna yang mau diajaknya bermalam bersama.
Tapi keesokan paginya, Alicia baru sadar kalau dia bukan baru saja menaklukkan pria biasa, melainkan seorang predator paling ditakuti di Eropa. Ternyata, merayu bos mafia saat mabuk adalah ide terburuk yang pernah Alicia lakukan seumur hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 32
Dua minggu setelah kepulangan dari Malta, Vila Amalfi seharusnya kembali menjadi benteng ketenangan. Namun, ketenangan itu hancur bukan oleh ledakan granat, melainkan oleh nada dering ponsel Alicia yang berbunyi tepat pukul tiga pagi waktu Italia yang berarti pukul sembilan pagi waktu Jakarta.
Dante Vallo, yang secara insting selalu meraih Glock di bawah bantalnya setiap kali ada suara asing, kali ini hanya bisa menghela napas panjang. Ia melihat Alicia terbangun dengan mata berbinar, langsung duduk tegak seolah-olah ia baru saja disuntik adrenalin.
"Halo, Mama?" suara Alicia terdengar melengking, penuh semangat sekaligus kecemasan yang ganjil.
Dari speaker ponsel yang tidak sengaja terdengar oleh Dante, suara seorang wanita muncul dengan otoritas yang sanggup menghentikan detak jantung seorang jenderal.
"Alicia! Mama baru saja keluar dari pertemuan arisan di Grand Hyatt. Kau tahu apa yang dikatakan Nyonya Ratna? Dia bilang, dia merasa kasihan padamu karena suamimu 'tidak jelas' pekerjaannya dan kau harus tinggal di pengungsian di Eropa! Mama hampir saja menyiramnya dengan kopi kalau saja Mama tidak ingat sedang berada di depan umum!"
Itu adalah Nyonya Victoria Atmadja. Jika Dante adalah penguasa kegelapan di Eropa, maka Victoria adalah penguasa cahaya (dan gosip) di Jakarta. Dia adalah wanita yang mampu mengatur mutasi pejabat hanya lewat obrolan di meja makan, dan satu-satunya manusia yang bisa membuat Surya Atmadja, sang penguasa properti Indonesia, mendadak rajin memeriksa tekanan darahnya.
"Mama sudah memutuskan," lanjut Victoria tanpa memberi celah bagi Alicia untuk bernapas. "Kita akan mengadakan syukuran Leo di Jakarta. Bukan syukuran kecil di halaman rumah seperti rencana ayahmu itu. Mama sudah memesan Grand Ballroom. Konsepnya, 'Pangeran Mediterania Pulang Kampung'. Dan Dante... Alicia, berikan ponselnya pada suamimu."
Alicia memberikan ponsel itu pada Dante dengan wajah pucat. "Semoga beruntung, Sayang," bisiknya.
"Ya, Mama Victoria?" Dante menjawab dengan suara berat dan sopan.
"Dante, dengarkan Mama. Mama tidak peduli berapa banyak musuh yang kau punya di Italia. Tapi di Jakarta, musuh terbesarmu adalah citra keluarga kita. Mama ingin kau membawa pasukanmu, tapi tolong... pastikan mereka tidak terlihat seperti baru saja membantai satu desa. Mama ingin mereka terlihat seperti model peragaan busana pria di Milan. Dan batik kalian! Mama sudah memesan motif khusus dari pengerajin ternama, Jangan sekali-kali kau berani memakai setelan jas hitam membosankanmu itu di acaraku nanti!"
Dante terdiam. Ia menatap dinding kamarnya yang berlapis marmer kuno, merasa bahwa kekuasaannya sebagai bos mafia sama sekali tidak berguna di hadapan ibu mertuanya. "Saya mengerti, Mama. Kami akan bersiap."
Keesokan paginya, Vila Amalfi berubah menjadi kamp pelatihan estetika yang intens. Bambang dan Marcello berdiri di depan barisan tiga puluh pengawal elit yang biasanya bertugas melakukan eksekusi taktis. Kini, di depan mereka bukan tersedia peta serangan, melainkan katalog kain batik dan majalah GQ.
"Dengar, kalian para berandal!" Bambang berteriak, suaranya menggelegar di halaman vila. "Nyonya Besar Victoria Atmadja telah mengeluarkan titah. Kita akan pergi ke Jakarta. Dan di Jakarta, kalian bukan pengawal mafia. Kalian adalah 'asisten pribadi' kelas atas. Siapa pun yang ketahuan berkeringat berlebihan di bawah terik matahari Jakarta, akan saya suruh berdiri di tengah Bundaran HI tanpa baju!"
Sementara Marcello memegang sebuah botol kecil berisi cairan bening. "Ini adalah serum wajah. Nyonya Alicia memerintahkan kalian semua memakainya mulai malam ini. nyonya tidak mau wajah kalian terlihat kusam saat difoto oleh jurnalis di Jakarta."
Salah satu pengawal, seorang pria berotot besar dengan bekas luka sayatan di pipinya, mengangkat tangan. "Komandan, apakah serum ini bisa membantu saya menembak lebih akurat?"
"Tentu Tidak," jawab Bambang dingin. "Tapi serum ini akan membuatmu terlihat lebih glowing saat kau berdiri di belakang kereta bayi emas Nyonya Alicia. Sekarang, baris! Kita latihan bersalaman dengan gaya sosialita!"
Dante memperhatikan dari balkon lantai atas. Ia memegang botol susu Leo, merasa bahwa dunianya telah terbalik. Di satu sisi, ia harus memantau pergerakan hulu ledak nuklir yang sedang transit di pelabuhan Napoli, dan di sisi lain, ia harus memastikan tinggi tumpeng di Jakarta nanti sesuai dengan keinginan mama Victoria.
Logistik untuk perjalanan ini adalah mimpi buruk bagi Marcello. Pesawat kargo khusus harus disiapkan untuk mengangkut barang-barang yang menurut Alicia "sangat esensial".
"Marcello, pastikan kereta bayi rose gold itu dibungkus dengan tiga lapis kain pelindung radiasi," instruksi Alicia sambil menunjuk ke arah peti kayu besar. "Aku tidak mau udara Jakarta yang polutif merusak kilau emasnya."
"Tentu, Nyonya," jawab Marcello sambil mencatat.
"Dan air suci!" Alicia menambahkan. "Mama Victoria bilang kita harus membawa air dari Italia untuk dicampur dengan air tujuh sumur di Jawa. Dia bilang itu simbol 'Penyatuan Dua Benua'. Aku tidak tahu logikanya di mana, tapi jangan sampai tertukar dengan air mineral biasa!"
Dante mendekat, mencoba memberikan suara logikanya. "Alicia, kita membawa sepuluh galon air untuk melintasi benua? Bukankah itu berlebihan?"
Alicia menoleh dengan tatapan yang sanggup membekukan api. "Dante, kau ingin menghadapi Katerina Volkov atau ingin menghadapi Mamaku yang sedang kecewa karena air sucinya kurang? Pilih salah satu."
Dante hanya bisa mengangguk pasrah. "Bambang, tambahkan galon air suci ke dalam daftar kargo."
Namun, di balik kegilaan persiapan itu, Dante tetaplah seorang Vallo. Di ruang kerjanya yang gelap, ia bertemu dengan kepala intelijennya.
"Bos, sisa-sisa faksi Lorenzo mengetahui rencana perjalanan ini," lapor sang intel. "Mereka berpikir Jakarta adalah tempat di mana pertahanan kita paling lemah. Mereka mungkin akan mencoba menyusup lewat jaringan hitam di Asia Tenggara."
Dante menyesap wiskinya, matanya berkilat tajam. "Biarkan mereka mencoba. Mereka tidak tahu bahwa di Jakarta, kita punya keuntungan ganda. Kita punya pasukan kita sendiri, dan kita punya pengaruh politik keluarga Atmadja. Beritahu Bambang untuk menghubungi kontak lokal kita di Jakarta, Preman-preman di pelabuhan Tanjung Priok. Katakan pada mereka, kita akan pulang."
"Apakah kita harus memberitahu Nyonya Alicia?"
"Jangan," Dante menggeleng. "Dia sedang sibuk meributkan jenis bunga melati yang akan dipakai. Biarkan dia tetap di dunianya. Tugasku adalah memastikan dunia itu tidak hancur.
Setelah penerbangan selama belasan jam yang penuh dengan tangisan bayi dan keluhan Alicia tentang kelembapan udara, jet pribadi Vallo akhirnya mendarat di bandara Halim Perdanakusuma.
Begitu pintu pesawat terbuka, udara panas Jakarta langsung menyergap. Namun, yang lebih menyengat daripada cuaca adalah pemandangan di bawah tangga pesawat.
Di sana, berdiri sebuah limusin Mercedes-Benz terbaru yang dikelilingi oleh barisan pria berseragam batik mahal. Dan di tengah-tengahnya, berdiri Victoria Atmadja. Ia memakai kacamata hitam Chanel besar, kebaya modern yang sangat elegan, dan kipas di tangannya yang bergerak dengan ritme yang menakutkan.
Dante melangkah turun pertama kali, menggendong Leo. Alicia mengikuti di belakang dengan gaya layaknya selebriti Hollywood.
"Mama," sapa Dante dengan anggukan kepala yang sangat sopan.
Victoria tidak langsung membalas. Ia melepas kacamata hitamnya, melangkah maju, dan bukannya memeluk menantunya, ia justru memeriksa kerah baju Dante.
"Jas ini... sedikit berkerut di bagian belakang. Dante, apakah jet pribadimu tidak punya setrika uap otomatis?" Victoria bertanya dengan nada kecewa yang dalam. Lalu ia beralih ke Leo, wajahnya seketika mencair menjadi nenek yang penyayang. "Oh, cucuku! Lihat wajahnya, dia sangat tampan, tidak seperti ayahnya yang terlalu kaku ini. Dia punya mata Atmadja!"
Alicia segera memeluk ibunya. "Mama! Aku kangen sekali!"
"Mama juga kangen sayang, tapi Alicia... Mengapa kulitmu sedikit kering. Apa di Italia tidak ada pelembap yang bagus? Nanti sore kita ke klinik kecantikan langganan Mama. Tidak ada bantahan!" Victoria kemudian menoleh ke arah barisan pengawal Dante. "Dan ini pengawal-pengawalmu? Hmm... lumayan. Tapi yang itu." Victoria menunjuk ke arah Marcello yang berdiri paling belakang. "Dia terlalu banyak memakai parfum. Beritahu dia, di Jakarta parfum yang terlalu menyengat hanya akan mengundang nyamuk."
Marcello hanya bisa terdiam dengan wajah datar, sementara Bambang mati-matian menahan tawa di sampingnya.
Perjalanan dari bandara menuju rumah besar keluarga Atmadja di Menteng adalah sebuah parade militer yang terselubung. Sepuluh mobil SUV hitam mengawal limusin Victoria. Di sepanjang jalan, Alicia terus memantau grup WhatsApp-nya.
Grup Chat: "The V-Queens.
Alicia: Girls! I'm home! Mama Victoria menjemput di bandara dan hal pertama yang dia kritik adalah jas Dante. Welcome back to reality!
Kania (Jakarta): Haha! Mommy Vicky is a legend. Jangan lupa, malam ini kita makan malam privat. Aku sudah kangen gosip langsung dari Amalfi!
Sofia (Marseille): Alicia, jangan lupa pasang pengamanan ekstra. Aku mendeteksi ada tiga nomor asing yang mencoba meretas sinyal di sekitar area Halim saat kalian mendarat tadi.
Alicia tertegun sejenak membaca pesan Sofia. Ia melirik ke arah Dante yang sedang duduk tenang di samping ibunya, tampak sedang mendengarkan ceramah Victoria tentang pentingnya memilih jenis beras organik.
"Dante," bisik Alicia sambil menggenggam tangan suaminya.
"Ya?"
"Jika ada yang mencoba menembak kita saat acara nanti, pastikan mereka tidak merusak dekorasi bunga Mamaku. Aku tidak ingin melihatmu didepak dari kartu keluarga karena alasan itu."
Dante tersenyum tipis. "Aku berjanji, Sayang. Tidak akan ada setetes darah pun yang menodai marmer ibumu."
ayooo dante kasih alicia pelajaran biar jangan banyak mau nya mulu😔
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Oh yah,. Jangan lupa tetap stay tune yaa, besok author bakal update 3 BAB sekaligus 🔥✨
Buat yang udah setia nemenin cerita ini sampai sini, makasih banyak yaa~
Dan jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab 🫶
Entah itu like, vote, ataupun komentar.
Segala bentuk dukungan dari kalian semua, sangat berarti banget untuk author khusus-nya.
Itu semua bikin author makin semangat untuk update bab selanjutnya. ✨🫰🏻