Aruna Prameswari tidak pernah tahu bagaimana hidupnya berubah menjadi runyam. Semenjak Kedatangan sosok Liam Noah Rajasa, Atlet bola sekaligus Pengusaha ibukota. Hidupnya dibuat kacau balau sejak laki-laki itu selalu merecoki harinya yang gitu-gitu aja. Kerja, lembur, nongkrong, dan pulang.
Laki-laki itu semakin gencar mendekati dirinya ketika tahu kalau dirinya baru saja putus dari pacarnya, padahal Aruna masih belum begitu move on. Namun Liam dengan segala usahanya hingga membuat dirinya menyerah dan cinta itu datang tiba-tiba.
akankah Cinta Aruna yang datang tiba-tiba berakhir dengan indah atau malah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nisa_prafour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Pukul 03.00 Dini hari. Hujan belum reda sejak pukul sebelas malam. Di mess kantor, lampu meja Aruna masih menyala. Di atas meja mini ada sebuah surat. Surat yang dikirim dari Venesia. Sebuah payung kayu berinisial N & A dan ponsel yang bergetar di mode senyap.
Layar menyala. Incoming Call
Jam sepuluh malam di sana. Aruna menatap nama yang tidak ia simpan. Tidak perlu. Nomor itu sudah di luar kepala sejak Noah pergi.
Satu dering. Dua. Tiga.
Jemarinya menggantung. Mengangkat berarti memberi kesempatan. Tidak mengangkat berarti menutup injury time selamanya.
Di dering keempat, ia geser tombol hijau.
Tidak langsung bicara. Ditempelkan ke telinga saja. Biar Noah tahu ia ada.
Di seberang, napas. Berat. Lalu suara itu. Serak, lebih dalam, lebih lelah dari tiga bulan lalu.
“Aruma?”
Satu kata. Nama rumahnya. Nama yang tidak pernah Noah khianati.
Aruna menelan ludah. "Ya?"
Bukan halo. Bukan kenapa. Hanya dua huruf yang mampu membuat Noah memejamkan mata di sebrang sana
Hening. Tidak lama. Hanya persekian detik.
“Aku...” Noah memulai, lalu berhenti. “Maaf.”
“Untuk apa?” Suara Aruna datar. Bukan dingin. Datar seperti lapangan setelah hujan. Rata, tapi becek.
“Untuk semuanya,” jawab Noah. “Untuk pergi tanpa menjelaskan. Untuk bikin kamu tahu dari berita. Untuk jadi pengecut yang milih diam daripada bikin kamu benci aku lebih cepat.”
Aruna memejamkan mata. Payung di meja bergetar karena angin dari jendela.
“Kamu nggak pengecut, Noah,” bisiknya akhirnya. “Pengecut nggak akan pulang cuma buat tanda tangan 400 dokumen. Pengecut nggak akan tulis surat pakai bahasa Indonesia yang belepotan.”
Noah tertawa. Pendek. Getir. “Kamu baca?”
“Aku baca,” Aruna mengangguk, meski Noah tidak lihat. “Empat puluh kali. Sampai hapal titik komanya.”
Lagi-lagi hening. Tapi hening yang berbeda. Hening yang mulai saling menggenggam.
“Run,” panggil Noah. “Aku nggak mau kamu maafin aku malam ini. Aku cuma mau kamu tahu... di Venesia nggak ada soto. Nggak ada warung hijau. Nggak ada kamu yang nyanyi pelan di kamar mandi"
Aruna menggigit bibir. Air mata jatuh, tapi suaranya ia jaga. “Terus kenapa baru telepon sekarang?”
“Karena aku nunggu kamu siap marah,” jawab Noah jujur. “Kalau aku telepon minggu pertama, kamu angkat karena kasihan. Aku nggak mau dikasihani. Aku mau ditunggu. Atau ditinggal. Tapi dengan keputusan, bukan kasihan.”
Di luar, petir menggelegar. Lampu mes sempat berkedip. Aruna berbisik, “Aku nggak marah, Noah. Aku... kecewa. Sama diriku. Karena tiga bulan ini aku buka berita cuma buat cari namamu. Bukan buat move on.”
Noah menghela napas. Panjang, "Don't Run. Jangan cari aku di berita. Cukup telfon aku, kirimi kau Voice note mu. Dan jangan move-on run. Kita belum selesai"
"....."
“Tiga bulan ini aku kacau. Aku mencari kamu lewat manapun. Aku juga buka Instagram cuma buat lihat kamu upload pekerjaan mu. Mastiin kamu masih ada. Mastiin aku masih tahu rutinitasmu.”
Aruna tersenyum. Pertama kali dalam tiga bulan. Pahit, tapi nyata.
“Noah,” ucapnya. Nama yang dulu ia panggil di lapangan, sekarang ia panggil di telepon lintas benua. “Kamu tahu offside itu apa?”
“Tahu,” jawab Noah. “Pemain nyerang ke depan sebelum bola diumpan. Pelanggaran.”
“Nah,” Aruna menegakkan duduk. “Kamu offside, Noah. Kamu nyerang ke masa depanku dengan semua rahasiamu, sebelum aku siap nerima umpan.”
Noah diam. Mencerna. Lalu: “Terus wasitnya kasih kartu apa?”
Aruna menghapus air mata. “Nggak ada kartu. Cuma injury time. Kita main lagi. Dari nol. Tapi kali ini... kamu passing dulu. Ceritain semua. Nggak ada yang ketinggalan. Aku nunggu di kotak penalti. Kalau umpanmu bener, aku goal. Tapi kalau kamu salah ... Maaf aku--”
"Jangan run! Jangan katakan hal itu ku mohon. I need you. Aku janji akan selesaikan disini dengan cepat dan tepat. Kumohon tunggu aku"
Di sebrang sana Noah berdiri dari balkon. Menatap dua cangkir Latte. Satu sudah dingin. Satu lagi baru ia tuang.
"Don't leave me” katanya. Suaranya bergetar
"....."
"Kamu mau aku jelaskan lewat telfon sekarang? Kamu okay?"
Aruna mengangguk meski tidak dapat terlihat oleh Noah.
"Semua yang diberita itu benar. CEO, tunangan bisnis, dna juga pewaris itu benar. Aku benci bisnis. Makanya aku kabur main bola. Ke Indonesia karena klub di sini nerima aku tanpa nama belakang.”
Aruna mendengarkan. Tidak menyela. Hujan jadi musik latar. “Aku nggak punya siapa-siapa di Venesia. Rumah besar, tapi kosong. Tiap malam aku tidur di guest room karena rumah Daddy bikin sesak. Aku nggak bahagia, Run. Aku cuma... bertanggung jawab.”
“Third pass?” pancing Aruna, suaranya sudah lebih ringan. Namun jujur saja hatinya masih gamang.
Noah tersenyum. Terdengar di telepon. “Third pass Aku masih simpan tiket pulang. Open date. Karena aku percaya, suatu hari aku bisa pulang ke Indonesia. Bukan sebagai CEO. Sebagai Noah yang mau makan soto sama kamu.”
“Last pass buat malam ini,” kata Aruna. “Kapan kamu tidur?”
“Kalau denger suara kamu bilang ‘selamat malam’,” jawab Noah, tanpa jeda. Hingga menit akhir.
Aruna diam. Ia menatap weker. Pukul 03.17.
"Noah?"
"Hmm?"
"Aku tunggu kamu. Tunggu semua cerita kamu"
"Thank you Run. Aku rindu kamu. Sangat"
Suara ketukan pintu terdengar. Cukup nyaring, hingga membuat Aruna berdiri dari duduknya. Namun panggilan masih tersambung.
Aruna berjalan kearah pintu. Membiarkan Noah ikut mendengarkan aktivitasnya--order makanan di jam tiga dini hari karena sejak pagi Aruna tidak sempat makan apapun. Hanya tiga gelas latte dan roti panggang yang masuk kedalam tubuhnya hari ini.
"Siapa?" Suara Noah muncul ketika Aruna terdengar mengucapkan terimakasih dan suara pintu tertutup terdengar.
"Driver"
"Driver? Where are you?"
"Mess. Aku tidur di mess kantor. Banyak kerjaan"
"Jangan bilang kamu barusan pesan makanan?"
"Ya"
"Aruna ini sudah jam berapa? Dan kamu---"
"Aku tahu. Dan aku terpaksa"
"....."
“Selamat malam, Noah. Aku harus makan dan setelah ini aku akan tidur,” bisiknya.
Klik.
Sambungan terputus begitu saja. Karena Aruna yakin, Noah akan mengomel jika panggilan masih terus tersambung.
Aruna meletakkan ponsel. Di luar, hujan reda.
Di Venesia, Noah menutup laptop. Untuk pertama kali, ia minum Latte sampai habis.
Injury time resmi dimulai.
Papan skor: 0-0.
Tapi bola sudah di kaki Noah.
Dan Aruna berdiri di kotak penalti, tidak ke mana-mana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...