Steven ---seorang Gumiho yang telah tertidur selama 1000 Tahun demi untuk naik tingkat menjadi seorang dewa. Namun di hari terakhirnya, seorang manusia mengacaukan pengorbanan nya.
Setengah kekuatan yang di miliki Steven berpindah pada manusia itu. Membuat dirinya harus tertunda menjadi dewa.
Zoelva Erlangga---- gadis lemah yang selalu di bully oleh ketiga Kakak dan ibu tirinya setiap kali Ayah nya tidak ada. Namun segalanya berubah saat kekuatan asing melindungi nya dan menjadikan nya sangat kuat.
Steven yang menginginkan kekuatan nya kembali. Namun Zoe yang merasa bisa melawan ibu tiri serta ketiga Kakak tirinya dengan kekuatan itu. Justru menolak untuk mengembalikan kekuatan tersebut.
Sementara Rahasia lain telah menantinya.
Bagaimana kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemui Nindi
Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk hidup dalam bayang-bayang. Bagi Zoe, rumah mewah milik ayahnya itu tak lebih dari sekedar penjara berlapis emas dengan Ibu tiri sebagai sipirnya. Namun hari ini, untuk pertama kalinya, mesin mobil itu menderu menjauhi pagar tinggi tersebut.
Zoe menyandarkan punggungnya, membiarkan kemudi bergerak sendiri di bawah kendali telekinetiknya. Ia menoleh ke arah kursi penumpang.
"Huft... Milo," hela nafas Zoe panjang, matanya menatap jalanan yang terasa asing sekaligus menakjubkan. "Menurutmu, setelah aku akhirnya memiliki kekuatan untuk membalikkan keadaan seperti ini... apa yang harus aku lakukan pertama kali?"
Milo yang duduk di samping memiringkan kepalanya. Suaranya terdengar jernih di kepala Zoe, sebuah koneksi yang hanya mereka pahami. "Aku juga tidak tahu pasti, Nona. Tapi mungkin, Nona bisa mulai melakukan hal-hal yang dulu hanya berani Nona bayangkan di dalam mimpi."
Zoe terdiam sejenak, sudut bibirnya terangkat tipis, namun matanya menyiratkan kepedihan. "Kau benar. Tapi, Milo... daripada sekedar bersenang-senang menghabiskan harta Ayah untuk hal yang tidak berguna, rasanya ada lubang di hatiku yang harus ditutup lebih dulu. Kekuatan ini tidak boleh hanya jadi alat untuk melarikan diri atau balas dendam."
Zoe memejamkan mata. Seketika, memori pahit itu menghantamnya. Bayangan Nindi—gadis berkacamata yang selalu berdiri di depannya saat Siska dan Maudy mulai melontarkan makian—muncul dengan begitu nyata. Ia teringat bagaimana ia mengkhianati satu-satunya tangan yang terulur padanya hanya karena ia terlalu takut pada ancaman saudari tirinya.
Ia teringat isak tangis Nindi saat diusir dari sekolah karena fitnah yang Zoe ucapkan di depan ayahnya sendiri. Kebohongan yang ia buat untuk bertahan hidup, namun justru menghancurkan hidup orang lain.
"Aku tidak bisa melangkah maju jika masa laluku masih tertinggal dalam reruntuhan yang aku buat sendiri," bisik Zoe tegas. "Langkah pertamaku bukan mencari kebahagiaan, Milo. Tapi mencari penebusan. Aku harus menemukannya... aku harus memperbaiki semuanya."
Ia kini berdiri mematung di depan sebuah rumah sederhana yang dulu terasa seperti rumah kedua baginya. Kenangan lama berputar di kepalanya--- aroma masakan ibu Nindi, tawa renyah ayah gadis itu, dan sambutan hangat yang selalu menantinya di ambang pintu. Namun sekarang, kehangatan itu terasa seperti bara api.
"Mereka pasti membenciku. Aku adalah alasan putri mereka kehilangan segalanya," batin Zoe perih.
Zoe menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak di dadanya sebelum melangkah maju.
Tok! Tok! Tok!
Hening. Tidak ada suara langkah kaki atau sahutan dari dalam. Rumah itu tampak mati. Saat Zoe hendak mengetuk lagi, sebuah suara berat dari arah samping mengejutkannya.
"Siapa kamu? Ada urusan apa cari pemilik rumah ini?" tanya seorang pria paruh baya, tetangga sebelah rumah, sambil menyipitkan mata penuh selidik.
Zoe menoleh dengan raut wajah cemas yang tak bisa disembunyikan. "Maaf, Pak... saya teman Nindi. Apa Nindi sedang tidak ada di rumah?"
Pria itu menghela napas panjang, raut wajahnya berubah iba. "Oh, temannya Nindi. Kamu tidak tahu? Dia sudah satu minggu ini tidak pulang. Dia ada di rumah sakit sekarang. Ibunya kecelakaan parah, dan kabarnya kondisinya terus menurun."
Jantung Zoe seakan berhenti berdetak. Seluruh tubuhnya menegang, rasa bersalah yang tadi hanya berupa cubitan kecil kini terasa seperti hantaman godam.
"Rumah sakit... Rumah sakit mana, Pak?" tanya Zoe dengan suara bergetar, tatapannya kosong sekaligus penuh tuntutan.
“Rumah Sakit Medica ER. Kamu lurus saja dari sini, letaknya di pusat kota,” jawab sang tetangga.
Tanpa menunggu kata-kata selanjutnya, Zoe berbalik dan berlari sekuat tenaga. Pikirannya kacau, hanya ada satu nama yang terus menggema di kepalanya: Nindi.
Zoe memacu mesin hingga menderu keras di jalanan kota. Milo yang duduk di kursi samping, hanya bisa memejamkan mata ketakutan saat mobil melesat dengan kecepatan tinggi, sementara Zoe terus membatin dalam isak yang tertahan, "Maafkan aku, Nindi... kumohon bertahanlah!"
Begitu tiba di parkiran rumah sakit. Ia berlari masuk kedalam meninggalkan Milo yang hanya bisa duduk menunggu, saat masuk yang langsung menyambut nya adalah aroma antiseptik tajam, sampai langkahnya mendadak mati kutu. Di lobi rumah sakit, ia melihat sosok gadis yang sangat ia kenali—Nindi.
Gadis itu tampak rapuh, bahunya bergetar hebat saat ia bersimpuh di depan seorang dokter pria yang tampak acuh. "Saya janji akan melunasi semuanya nanti, Dokter! Tapi saya mohon, lakukan operasinya sekarang... ibu saya tidak punya banyak waktu. Saya mohon!" rintih Nindi dengan suara yang pecah.
Namun, dokter itu hanya merapikan jas putihnya dengan wajah sedatar tembok. "Prosedur adalah prosedur, Nona. Mohon selesaikan semua administrasi dan uang muka terlebih dahulu. Kami tidak bisa bekerja tanpa jaminan," ucapnya dingin.
"Apa begini cara rumah sakit ini menangani pasien?! Apa kertas-kertas uang itu jauh lebih berharga daripada nyawa manusia yang sedang di ujung tanduk?!" teriak Nindi, amarah dan keputusasaan meledak jadi satu.
Sang dokter hanya menatapnya rendah, lalu berucap tanpa empati, "Jika Anda tidak mampu membayar, lebih baik bawa ibu Anda pulang. Masih banyak pasien lain yang mengantri."
Melihat itu, tangan Zoe mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Amarahnya mendidih, meluap melewati batas kesabarannya.
Sebelum Nindi sempat membalas hinaan itu, suara Zoe menggelegar, melengking dahsyat hingga memantul di dinding koridor, "KALAU BEGITU, BERSIAPLAH UNTUK KELUAR DARI RUMAH SAKIT INI DETIK INI JUGA!"
Seketika, suasana menjadi sunyi senyap. Sang dokter dan Nindi menoleh serempak. Nindi terpaku dengan mata membelalak, tidak percaya pada sosok yang berdiri di sana, sementara sang dokter memandang Zoe dengan kerutan di dahi, bingung sekaligus terintimidasi oleh aura kemarahan yang dipancarkan gadis itu.
Zoe berjalan mendekat. "Jika kau merasa tidak bisa menyelamatkan nya hanya karena masalah uang, angkat kaki dari sini! Tempat ini tidak butuh seorang dokter sepertimu!" bentak Zoe tepat di depan wajah pria itu.
Dokter itu malah terkekeh remeh, memandang Zoe dari atas ke bawah. "Ck, memangnya kau siapa berani mengusirku, hah? Lagipula, kalau orang miskin tidak punya uang, tidak usah sok-sokan minta fasilitas rumah sakit. Tahu diri sedikit."
"IBUKU MENGALAMI KECELAKAAN! DIA BUTUH PERTOLONGAN!" Nindi berteriak dengan air mata yang terus mengalir.
"Siapa suruh ibumu mengalami kecelakaan?" sahut dokter itu acuh tak acuh, sebuah kalimat yang sukses menyulut api kemurkaan di puncak kepala Zoe.
Zoe tersenyum sinis, senyum yang menandakan bencana bagi siapa pun yang melihatnya. "Oh, jadi kau mau bermain peran sebagai penguasa di sini? Baiklah. Kau tidak tahu siapa aku, kan? Mari kita lihat seberapa lama kau bisa mempertahankan jas putihmu itu."
Zoe menyambar ponselnya dengan gerakan cepat, menekan satu nomor yang tersimpan di baris teratas kontaknya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Erlangga, ia tahu betul siapa yang memegang kendali di gedung ini. Hanya sang Direktur—tangan kanan ayahnya—yang tahu bahwa pemilik asli seluruh aset megah ini sedang berdiri dengan kemarahan yang siap menghancurkan karier seseorang.
•
•
•
BERSAMBUNG
tapi semoga stev adalah jodoh Zoe dan nanti anak" mereka mewarisi kekuatan orang tuanya, pasti seru tuh...ayo Thor tambah semangat, buat ceritanya tambah menarik dan seru 💪💪💪💪😘😘😘😘