NovelToon NovelToon
Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Teen
Popularitas:578
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.

​Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kata-kata Kasar dari Para Senior

Pagi itu, langit Jakarta tidak lagi mendung, namun matahari yang terik terasa membakar kulit Lana dengan cara yang menyakitkan. Ia berdiri di depan gerbang gedung fakultas dengan kaki yang terasa seberat timah. Semalaman ia tidak tidur, matanya sembab meski sudah dikompres air dingin, dan polesan bedak tipis dari Bumi hari ini tidak mampu menutupi gurat kelelahan dan ketakutan yang mendalam di wajahnya.

Lana meremas tali tas punggung lamanya—tas kulit pemberian Arka sengaja ia tinggalkan di pojok kamar karena noda spidol merah itu terasa seperti luka yang menganga. Ia menunduk, mencoba menjadi sekecil mungkin, seolah-olah jika ia tidak melihat dunia, maka dunia pun tidak akan melihatnya. Namun, pesan anonim semalam terbukti bukan gertakan sambal.

Baru saja ia melangkah masuk ke koridor utama menuju ruang kuliah makroekonomi, langkahnya terhenti. Bukan karena ia lelah, tapi karena jalan di depannya tertutup oleh empat orang mahasiswi tingkat akhir. Mereka berdiri berjajar, menghalangi jalan sempit di antara loker-loker besi. Mereka mengenakan jaket almamater dengan kebanggaan yang mengintimidasi, wajah-wajah mereka dipoles makeup sempurna yang terlihat tajam, bukan lembut.

"Mau ke mana, Dek? Buru-buru banget," suara itu berasal dari seorang wanita berambut pirang platinum bernama Clarissa, senior yang dikenal sebagai penguasa organisasi kemahasiswaan.

Lana tidak berani mengangkat wajahnya. "M-maaf, Kak. Lana mau masuk kelas. Sudah hampir jam sembilan."

Clarissa tertawa, suara tawa yang kering dan menghina, diikuti oleh ketiga temannya. Ia melangkah maju, memperkecil jarak hingga Lana bisa mencium aroma parfum mahal yang menyengat, aroma yang kini terasa mencekam bagi Lana.

"Lana... nama yang bagus untuk seorang gadis desa," ucap Clarissa sambil menarik satu helai rambut Lana yang terjuntai. "Tapi sayang, nama bagus nggak bisa nutupi bau lumpur yang masih nempel di kulit lo. Lo pikir dengan tinggal di penthouse mewah dan dikelilingi pria-pria itu, lo otomatis jadi selevel sama kita?"

Lana membeku. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja. "Lana nggak pernah merasa selevel, Kak. Lana cuma mau kuliah."

"Kuliah?" Teman Clarissa yang bertubuh tinggi, Nadia, menimpal dengan nada ketus. "Lo ke sini bukan buat kuliah, tapi buat nyari mangsa, kan? Lo itu cuma pelacur kecil yang beruntung dapet majikan kaya. Lo tahu nggak, gara-gara lo, nama baik kampus ini jadi tercemar. Orang-orang mulai nanya, kok bisa gadis 'peliharaan' masuk ke fakultas bergengsi ini?"

Kata "peliharaan" menghantam Lana seperti pukulan fisik. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. Ia mencoba mengelak, ingin lari, namun Nadia dan senior lainnya segera mengepungnya, menghimpitnya ke arah loker besi yang dingin.

"Denger ya, bocah," Clarissa mencengkeram dagu Lana dengan kuku-kukunya yang panjang dan runcing, memaksa Lana untuk menatap matanya yang penuh kebencian. "Gue udah liat banyak orang kayak lo. Datang dari antah berantah, modal tampang melas, terus ngerasa bisa milikin segalanya. Arka, Bumi, Ezra... mereka itu bukan buat lo. Mereka itu cuma kasihan sama lo. Lo itu nggak lebih dari sekadar anjing pemungut yang mereka kasih makan karena hobi."

"Kak, tolong... sakit," bisik Lana, suaranya pecah. Air mata pertama jatuh membasahi pipinya, menghapus sedikit bedak yang ia kenakan pagi tadi.

"Sakit? Ini belum seberapa," Clarissa melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga kepala Lana terbentur loker. Dug. Suara benturan itu menggema di koridor yang mulai sepi karena jam kuliah sudah dimulai. "Lo itu kotor, Lana. Lo nggak pantes pake barang-barang bermerek yang lo pamerin kemarin. Lo nggak pantes jalan di koridor ini dengan kepala tegak. Tempat lo itu di dapur, atau di sawah, bukan di sini."

Seorang mahasiswa lewat di kejauhan, namun begitu melihat Clarissa dan kelompoknya, ia segera mempercepat langkah dan membuang muka. Di kampus ini, tidak ada yang mau berurusan dengan kelompok senior ini, apalagi hanya untuk membela seorang gadis tanpa latar belakang jelas.

"Liat dia nangis," Nadia mengejek sambil menunjuk wajah Lana yang kini basah kuyup. "Cengeng banget. Apa ini taktik lo buat narik perhatian Jeno? Pura-pura tertindas biar mereka makin protektif? Dasar manipulatif!"

Lana menutup telinganya dengan kedua tangan. Ia ingin berteriak, ingin membela diri bahwa ia tidak pernah meminta semua ini, bahwa ia hanya ingin hidup tenang. Namun lidahnya seolah kelu. Kata-kata kasar itu—pelacur, anjing pemungut, kotor, manipulatif—terus berputar-putar di kepalanya, merobek sisa-sisa kepercayaan diri yang sempat ia bangun bersama Bumi.

"Jangan pernah lo berani muncul di kantin atau area terbuka lagi," ancam Clarissa, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Lana. "Kalo gue liat lo lagi tebar pesona di depan cowok-cowok itu, gue sendiri yang bakal seret lo keluar dari kampus ini lewat gerbang belakang, tempat sampah yang sebenernya buat lo."

Clarissa kemudian mengambil botol air mineral dari tasnya, membukanya, dan menyiramkan isinya ke atas kepala Lana. Air dingin itu membasahi rambut, kemeja, dan buku-buku yang didekap Lana.

"Biar lo sadar diri. Mandi yang bersih, biar bau desanya hilang," ucap Clarissa dingin.

Mereka berempat kemudian pergi sambil tertawa-tawa, meninggalkan Lana yang berdiri mematung di koridor. Air menetes dari ujung rambutnya, membasahi lantai marmer yang mengilat. Lana gemetar hebat, bukan karena dinginnya air, tapi karena dinginnya kebencian yang baru saja ia rasakan.

Ia merasa hancur. Benar-benar hancur. Dunia yang ia sangka akan membawanya pada masa depan cerah ternyata hanyalah sebuah arena penyiksaan yang lebih canggih. Ia teringat bisikan Ezra yang menyebutnya memukau, namun kini ia merasa dirinya menjijikkan. Ia teringat tangan hangat Bumi, namun kini ia merasa tubuhnya kotor dan tak layak disentuh.

Lana merosot, duduk bersimpuh di lantai koridor yang sunyi. Ia tidak peduli lagi jika ada yang melihatnya dalam kondisi memprihatinkan ini. Ia memeluk tas punggungnya yang basah, menyembunyikan wajahnya di sana, dan menangis terisak-isak. Suara isakannya terdengar pilu, memantul di dinding-dinding koridor yang dingin.

Ia merasa terjebak. Ia tidak bisa pulang ke desa karena ia tidak ingin mengecewakan harapan orang tuanya, namun ia juga tidak sanggup bertahan di sini. Setiap langkah yang ia ambil di kampus ini terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca.

"Aku mau pulang... Aku mau pulang ke rumah Ayah," rintihnya pelan.

Di tengah kesendiriannya itu, Lana menyadari bahwa ancaman Clarissa bukan sekadar gertakan. Kebencian ini terorganisir. Pesan anonim, perusakan tas, dan konfrontasi hari ini adalah bagian dari rencana besar untuk mengusirnya. Dan yang paling menyakitkan adalah kesadaran bahwa ia tidak memiliki kekuatan apa pun untuk melawan. Di kampus ini, ia hanyalah sebutir debu yang siap ditiup pergi kapan saja.

Lana mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba berdiri meski kakinya masih lemas. Ia harus mencari tempat sembunyi. Ia tidak bisa masuk ke kelas dalam kondisi basah kuyup dan berantakan seperti ini. Ia berjalan tertatih-tatih menuju toilet paling ujung, tempat yang ia harap bisa memberinya sedikit privasi untuk menangisi nasibnya.

Namun, di dalam hatinya, sebuah luka baru telah terbentuk. Luka yang jauh lebih dalam daripada sekadar benturan di kepala. Luka itu adalah rasa malu yang mendalam atas keberadaannya sendiri. Pagi itu, di koridor fakultas yang sunyi, Lana bukan hanya kehilangan keberaniannya; ia mulai kehilangan jiwanya.

1
Bri Anto
sunting mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!