NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:521
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29

Langit Baldr mulai gelap.

Udara dingin khas pegunungan turun perlahan.

Setelah membantu membereskan kekacauan di bar milik Helga, Grachius dan Daji berjalan pulang menuju Thorgar Skáli.

Begitu sampai—

terlihat dua sosok berdiri di depan pintu.

Thorgar dan Varkun.

Thorgar langsung menunjuk Grachius.

“KAU!”

Grachius berhenti.

“Kenapa?”

“KENAPA KAU HANCURKAN JENDELA KAMAR?!”

Grachius langsung ciut.

“Situasi mendesak.”

Varkun tertawa kecil sambil menutup mulut.

Daji tak bisa menahan tawa.

“Pffft—”

Thorgar makin kesal.

“Mau terbang keluar, kau bisa membukanya terlebih dahulu!”

Grachius menunduk sedikit.

“Aku akan menggantinya.”

Thorgar mendengus.

“Tidak perlu!”

Grachius mengangkat kepala, terkejut.

“Karena kau sudah meminjamkanku Enjin!”

Grachius terdiam.

Thorgar lalu kembali marah.

“TAPI BUKAN BERARTI BOLEH MERUSAK BANGUNAN ORANG!”

Grachius ciut lagi.

“Baik.”

Daji tertawa makin keras.

Varkun sampai memalingkan wajah agar tak terlihat ikut tertawa.

...----------------...

Beberapa saat kemudian—

setelah menerima ceramah panjang dari Thorgar—

Grachius dan Daji akhirnya kembali ke kamar.

Dua kasur terpisah masih berada di tempat semula.

Grachius duduk di kasur sambil menghela napas.

“Malam terakhir di Baldr.”

“Besok kita lanjut perjalanan.”

Daji mengangguk sambil melepas sepatu.

“Ya.”

“Lumayan juga tinggal di kota ini.”

Tiba-tiba—

GROOOOOWL…

Suara perut menggelegar memenuhi kamar.

Daji menoleh pelan.

Grachius diam menatap depan.

Suara itu berasal dari dirinya.

Daji menutup mulut, lalu tertawa.

“Hahaha!”

“Wajar saja!”

“Selama tiga hari penuh kau hanya meditasi di kamar!”

“Tidak makan, tidak minum!”

Grachius tetap diam.

Lalu berkata singkat.

“Lapar sekali.”

Daji menyeringai.

“Ayo makan.”

“Aku yang traktir.”

Grachius menoleh cepat.

“Kau bayar?”

Daji mengangkat dagu bangga.

“Aku sudah dapat gaji dari Helga.”

Mata Grachius berbinar tipis.

“Bagus.”

Namun Daji mengangkat telunjuk.

“Tapi sebelum itu…”

“Kita mandi dulu.”

Ia menunjuk pakaian Grachius yang penuh debu dan sedikit darah.

“Kau kotor.”

Grachius melihat bajunya sendiri.

“Masuk akal.”

Daji mengambil handuk.

“Aku duluan.”

Ia masuk ke kamar mandi.

Beberapa menit berlalu.

Grachius duduk santai di kasur sambil menunggu.

Pintu kamar mandi terbuka.

Daji keluar.

Rambutnya basah.

Hanya mengenakan handuk yang melilit tubuh.

Grachius langsung membeku.

Wajahnya memerah.

Ia buru-buru memalingkan kepala ke samping.

“K-kenapa hanya memakai handuk?!”

Daji tertegun sesaat.

Lalu senyum licik muncul.

"Oh… begitu ya."

"Ternyata Grachius juga punya kelemahan."

Ia berjalan mendekat perlahan.

“Kenapa?”

“Bukankah biasa saja?”

Grachius menutup mata rapat.

“Jangan mendekat.”

Daji mencondongkan tubuh sedikit.

“Atau bagaimana?”

Grachius menunjuk sembarang arah dengan mata masih tertutup.

“Cepat pakai baju!”

Nada suaranya lebih keras dari biasanya.

Daji tertawa geli.

“Baik, baik.”

Ia mengambil pakaian sambil masih tersenyum.

Untuk pertama kalinya—

ia melihat Grachius benar-benar panik.

Dan itu terasa jauh lebih menarik daripada menggoda manusia biasa.

...----------------...

Grachius dan Daji akhirnya selesai mandi.

Grachius memakai pakaian yang disediakan penginapan milik Thorgar.

Rambut putih panjangnya masih sedikit basah.

Sedangkan Daji mengenakan pakaian merah gelap dengan rambut yang dibiarkan terurai.

Mereka keluar dari kamar.

Berjalan menuju pintu penginapan.

Namun sebelum membuka pintu—

“Grachius.”

Suara berat memanggil.

Thorgar berdiri di sana.

Di tangannya—

Enjin.

Grachius mendekat.

Thorgar menyerahkan pedang itu perlahan.

“Terima kasih.”

Nada suaranya lebih tenang dari biasanya.

“Aku belajar banyak.”

Grachius menerima Enjin.

Mengikatkannya kembali di pinggang.

“Senang mendengarnya.”

Thorgar melirik mereka berdua.

“Mau kemana malam-malam begini?”

Daji langsung menjawab.

“Makan.”

Grachius mengangguk.

“Lapar.”

Thorgar mendengus.

“Tentu saja.”

“Tubuh sebesar itu tidak cukup tiga hari tanpa makan.”

Daji tertawa kecil.

Thorgar menyilangkan tangan.

“Besok kalian pergi?”

Grachius mengangguk.

“Ya.”

Sunyi sejenak.

Lalu Thorgar berkata pelan.

“Jangan mati sebelum kembali ke Baldr.”

Grachius sedikit terdiam.

Lalu tersenyum tipis.

“Aku usahakan.”

Thorgar mendecak.

“Jawaban yang buruk.”

Namun sudut bibirnya sedikit terangkat.

Grachius dan Daji akhirnya keluar.

Jalanan Baldr malam itu cukup ramai.

Lampu-lampu api menyala di depan toko.

Suara pandai besi masih terdengar dari kejauhan.

Daji berjalan santai di samping Grachius.

“Kau benar-benar membuat Thorgar menyukaimu.”

Grachius melirik.

“Tidak.”

“Dia hanya suka Enjin.”

Daji tertawa.

“Mungkin.”

Beberapa detik mereka berjalan dalam diam.

Lalu Daji bicara lagi.

“Jadi setelah ini kita langsung ke Aetherion Highlands?”

Grachius mengangguk pelan.

“Tujuan tetap sama.”

“Membunuh Sagitta.”

Nada suaranya datar.

Namun kali ini—

tidak sedingin biasanya.

Daji melirik diam-diam.

“Kau berubah.”

Grachius mengernyit.

“Apa?”

“Entahlah.”

Daji memasukkan tangan ke belakang kepala.

“Lebih tenang mungkin.”

Daji menyeringai.

“Atau mungkin kau akhirnya belajar jadi manusia normal.”

Grachius langsung menoleh.

“Aku memang normal.”

Daji tertawa keras.

“Tidak ada yang normal dari orang yang menghancurkan jendela untuk keluar kamar.”

Grachius terdiam.

“Itu situasi mendesak.”

Daji makin tertawa.

...----------------...

Beberapa saat kemudian—

mereka sampai di sebuah restoran sederhana.

Tidak terlalu besar.

Namun ramai.

Aroma makanan memenuhi udara.

Mereka masuk.

Mencari meja kosong.

Pelayan segera datang.

“Selamat datang. Mau pesan apa?”

Grachius langsung membuka menu.

Lalu—

“Ini.”

“Ini juga.”

“Tambah itu.”

“Dua lagi.”

“Dan itu.”

Pelayan berkedip.

Daji juga.

“Kau serius?”

Grachius menoleh datar.

“Aku lapar.”

Beberapa menit kemudian—

meja mereka penuh makanan.

Daging panggang.

Sup.

Roti.

Nasi.

Sayuran.

Bahkan satu ayam utuh.

Sebagian besar—

pesanan Grachius.

Daji sampai melongo.

“Perutmu itu sebenarnya lubang tanpa dasar?”

Grachius sudah makan.

Cepat.

Sangat cepat.

Namun anehnya—

ia tetap terlihat tenang.

Bahkan masih bisa bicara sambil makan.

Grachius melirik Daji.

“Ngomong-ngomong.”

Ia menunjuk samar ke belakang Daji.

“Ekormu bertambah.”

Daji refleks melirik.

Dua ekor rubahnya bergerak pelan.

“Oh.”

“Itu…”

Ia tersenyum kecil.

“Siluman rubah bertambah kuat lewat jiwa dan energi.”

“Kalau kekuatan kami naik…”

“…ekor kami juga bertambah.”

Grachius mengunyah daging.

“Semakin banyak ekor, semakin kuat?”

Daji mengangguk.

“Kurang lebih begitu.”

Daji menyandarkan dagu di tangan.

“Katanya siluman rubah berekor sembilan bisa mengguncang negara.”

Grachius mengangguk kecil.

“Bagus.”

Daji berkedip.

Grachius menatapnya.

Lalu—

tersenyum lembut.

“Aku ikut senang.”

Sunyi sesaat.

Hati Daji tersentak.

Matanya sedikit melebar.

Senyuman itu—

berbeda.

Tidak dingin.

Tidak tipis penuh sindiran.

Namun hangat.

Tulus.

Dan anehnya—

itu membuat dada Daji berdebar.

Grachius sendiri kembali makan seperti biasa.

Tidak sadar apa yang baru saja dilakukannya.

Sedangkan Daji—

masih diam menatapnya beberapa detik.

Lalu cepat-cepat memalingkan wajah.

"Orang ini… benar-benar berbahaya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!