NovelToon NovelToon
Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.




Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.




Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.




Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.



Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Dari Mana Aku Harus menganggap Ini Kebanggaan

"Urusan dalam rumah tangga saya. Tetap dalam kendali saya," kata Sagara dengan nada tenang.

Anjani menoleh. "Termasuk, saat Agam jalan berdua dengan istrimu, itu juga dalam kendalimu, Sagara?"

"Tidak berdua. Ada asisten dan supir." Sagara tetap menjawab tenang. Seolah sudah menduga, kalau yang sampai ke mansion bukan hanya perihal kesehatan Shafiya, tapi juga apa yang terjadi sebelumnya.

"Asisten tidak dihitung. Mereka tetap disebut pergi berdua." Dari raut wajah Anjani saat mengatakan itu, jelas kalau hal ini sudah menjadi berita yang mengusik.

"Agam itu, bagian dari Adinata."

Anjani langsung menegakkan tubuhnya.

"Apa maksudmu?"

"Kami tim yang solid sejak lama. Sistem Adinata sudah menyatu dengannya. Dia bahkan lebih Adinata dari pada semua yang tinggal di kawasan ini." Sagara menoleh. Tatapannya bertemu dengan Anjani. "Nenek yang pernah bilang begitu."

Saat diingatkan pada ucapannya beberapa tahun silam, Anjani diam.

"Artinya, Agam tahu batas." Ucapan itu dengan penekanan. "Dan Elara... " Sagara melanjutkan. "Dia tidak hidup di atas sistem. Tapi di atas nilai. Benar dan salah. Dia tidak akan melewati nilai yang ia pegang."

"Sudah sepercaya itu?"

Pertanyaan Anjani kali ini dengan lirih. Seolah tak percaya kalau kalimat pujian itu keluar dari bibir Sagara.

"Sesuai data. Bukan asumsi, seperti kabar yang sampai ke mansion tentang.. istri saya dan teman saya." Nada Sagara tak berubah. Tetap tenang.

Anjani masih diam. Belum pernah ia mendengar Sagara melibatkan diri cukup jauh tentang orang lain seperti ini. Itu bukan hanya sekedar pembelaan. Tapi penegasan.

"Saya rasa, Nenek justru harus bersyukur, karena tidak semua pewaris Adinata dilahirkan oleh perempuan yang tepat."

Dan kalimat terakhir Sagara membuat Anjani benar-benar diam. Dan pembicaraan itu selesai.

Di dalam kamar Shafiya.

Sepeninggal Anjani dan Sagara, Kaluna memperhatikan wajah Shafiya yang selalu berhias hijab itu dengan seksama. Pucat. Tapi, tetap cantik terlihat.

Awal melihat Shafiya di kantor Adinata waktu itu, kesan pertama yang ditangkap oleh Kaluna, Shafiya itu cantik, dan lembut. Meskipun sedang diam saja, tatapannya seolah berbicara. Dan itu cukup menjadi pukulan pertama bagi Kaluna.

Bagi Kaluna, jika mendapatkan Sagara itu adalah perlombaan, maka Shafiya adalah lawan yang tangguh.

"Hai." Kaluna maju satu langkah.

"Masih ingat padaku?"

Shafiya menatap Kaluna sesaat. "Iya."

"Ini pertemuan kita yang kedua, Shafiya. Oh salah, Nyonya Sagara." Meski kalimat "nyonya Sagara" itu diucapkan dengan ada penekanan. Tapi itu bukan bentuk pengakuan, justru penolakan.

"Bukan yang kedua. Ini yang ketiga."

Shafiya mengoreksi ucapan itu tanpa menurunkan pandangan dari Kaluna.

"Oh. Ada pertemuan yang tidak aku ingat?"

"Di sidang keluarga Adinata."

Kaluna mengangkat alis. "Ternyata ingatanmu lebih tajam." Ia diam sejenak, sebelum melanjutkan dengan nada lebih bersemangat--seolah baru menemukan hal baru. "Dan aku berharap pertemuan yang kedua itu, jadi yang paling membekas di hatimu."

Shafiya tak menanggapi. Dalam dirinya justru memahami satu hal. Baik pertemuan pertama, kedua, ataupun yang ketiga saat ini dengan Kaluna, semuanya membawa hal yang kurang nyaman di sisi hatinya.

Kaluna kian mendekat, tersenyum tidak ramah, tapi bukan sinis.

"Di pertemuan kedua kita jelas, bahwa aku yang memberikan status nyonya Sagara itu kepadamu."

Benar. Kalau mau dikata demikian.

Kaluna yang menukar sampel inseminasi itu. Rencana untuk dipakai sendiri. Ia ingin mengikat Sagara dengan itu. Ternyata sampel itu diterima Shafiya, dalam proses medis yang tidak disengaja. Maka Shafiya lah yang hamil anak Sagara.

Karena Shafiya diam. Kaluna makin berani. Meski di sana ada Winda yang kini makin mendekat ke Shafiya untuk melindungi.

"Seharusnya, kau berterima kasih padaku, Shafiya."

"Begitu?" Shafiya mengangkat pandangan.

"Status itu begitu tinggi. Banyak yang menginginkan. Harusnya kau jaga, bukan malah terlibat dengan Agam."

Ucapan Kaluna kini bukan lagi sebatas penolakan. Tapi serangan.

Shafiya terhenyak. Ia baru paham, kalau asumsi liar terjadi karena peristiwa ia pergi bersama Agam. Entah dari siapa, dan karena apa. Pantas saja Anjani mengingatkannya untuk tidak bertindak sembarangan.

"Agam memang baik." Kaluna melanjutkan.

"Dia penuh empati, tak seperti Sagara yang terbiasa tidak mau terlibat dengan kehidupan orang lain."

“Tapi hidup bukan hanya tentang merasa dimengerti, Shafiya. Ada status, kehormatan, dan posisi yang menuntut kapasitas tertentu untuk menjalaninya.”

Tatapan Kaluna perlahan menajam setelah kalimatnya itu.

“Jika kau memilih terlibat dengan Agam dalam statusmu sekarang, maka wajar jika aku mempertanyakan cara berpikirmu, Shafiya.”

"Terima kasih, nasihatmu aku terima." Shafiya tersenyum tipis. Ucapan bernada sindiran tajam dari Kaluna itu seakan tak meninggalkan bekas sama sekali. Padahal sepenuhnya ia tersinggung.

"Ini kamu sudah selesai atau belum, Kaluna?"

Kaluna tak menjawab. Tapi memang sudah tak ada lagi yang ingin ia ucapkan.

"Satu-satunya kesalahan mas Agam yang aku paham sekarang, satu." Shafiya menatap lurus ke Kaluna. "Salah menjadikanmu sebagai teman."

"Kamu mau bilang... aku tidak pantas jadi teman Agam?"

Shafiya menggeleng. "Bukan tidak pantas. Tapi tidak cukup tepat."

Kaluna hampir mengatakan sesuatu. Bibirnya sudah terbuka. Namun Shafiya menyela dengan cepat.

"Teman yang baik itu, tidak menilai temannya dari asumsi. Tapi fakta. Sudah tanya Mas Agam belum, fakta tentang berita itu bagaimana?"

Kaluna diam. Karena ia memang belum pernah bertemu dengan Agam.

"Atau kamu bisa tanya langsung ke mas Sagara--" Shafiya memotong ucapannya dengan cepat. "Tapi.. apa Mas Sagara akan menjawab pertanyaanmu, melihat ke arahmu saja dia seperti enggan."

Kalimat yang diucapkan pelan, bahkan disertai senyuman itu, jatuh di pendengaran Kaluna sebagai bunyi yang menggelegar. Ia beringsut sedikit. Membuat Winda menajamkan pandangan. Waspada.

"Kamu bertanya tentang pola pikirku juga barusan? Itu tetap sesuai konteks. Aku seorang istri, tidak pergi kemana pun dan bersama siapapun tanpa seizin suami."

Kaluna diam, tetap menatap lurus Shafiya yang kini memegang kendali pembicaraan. Namun, ada yang sedikit berubah di matanya. Ucapan Shafiya mengena. Tapi Kaluna berusaha menyimpan dengan sempurna.

"Dan yang pertama tadi, kamu bilang aku harus berterima kasih, karena kamu yang memberi status ini." Shafiya menegakkan punggungnya dari sandaran tempat tidur mewah itu.

"Kaluna. Jika aku tidak percaya bahwa setiap kejadian dan perkara itu sudah sesuai dengan takdir Allah, aku justru ingin menyalahkanmu karena telah membuat semua ini terjadi."

Kaluna terhenyak. Matanya bergerak kesana kemari. Seolah menegaskan kalimat ini di luar yang ia sangkakan. "Maksud kamu?" Dan ia jatuh dalam tanda tanya yang tak bisa ditahan.

"Karena kamu, aku harus terlibat dalam pernikahan transaksi dengan mas Sagara.

Jauh dari nilai ibadah, bahkan lebih dekat pada dosa. Lalu dari sisi mana aku harus menganggap ini kebanggaan?"

Kaluna bungkam. Tak ada baris kalimat mendekat dan menawarkan diri untuk dilontarkan. Bahkan kendati dicari, tidak ada.

“Bagiku, kehormatan bukan tentang nama besar atau kedudukan, Kaluna."

Shafiya menatap Kaluna lagi. Tatapannya kembali tenang.

“Jadi jangan meminta aku merasa beruntung atas sesuatu yang setiap hari justru membuatku takut karena telah keluar dari tatanan nilai."

Kaluna ingin menjawab. Namun segera menutup bibirnya rapat. Terdengar langkah mendekat. Disusul suara Ratri.

"Sup Iga kambing rempah, untuk nona Shafiya sudah siap."

1
Rafa Afrelusi
lanjutkan kak cerita nya bagus 👍
Nofi Kahza
malah Agam yg pekaaa
Nofi Kahza
padahal kemarin dh janji loh. Jangan ingkar janji dehhhh😒
Nofi Kahza
kalimat ini sederhana, tapi dalem bangettt..
iqha_24
Anjani dan Sagara cm perduli sama anak yg dikandung Shafiya
Nofi Kahza
entah mengapa, aku merasa cara Sagara itu manis🥰
Nofi Kahza
Udah tidur sambil duduk, makan sambil berdiri. Kaya sih, tp hidup nggak ada nikmatnya lho, Gar...
iqha_24
hari libur kah, ga ada up ?
i_r cute
kyknya mulai ada cemburu tipis2 nih Sagara....
iqha_24
ayo dong sagara lebih peka dan lebih perhatian lagi ke shafiya
iqha_24
makin seru nii 👍
iqha_24
up lagi kak
Afsa
Komporin saja Pak Raven..aq seneng Kalo Saga cemburu😄
徐梦
🤣🤣🤣🤭
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣
iqha_24
naah kan .. Sagara ga tenang
i_r cute
nunggu part shafiya cuekin Sagara, lama banget thor.....
iqha_24
nii sagara kapan peka nya yaa
Amalia Siswati
ya syafia bersikaplah seperti cermin,memantulkan.
Amalia Siswati
plot2 seperti ini nya mohon di kurangi dech thor,1 bab kebanyakan klimaknya bukan alur cerita intinya
Najwa Aini: Dan masukan dari kakak ini akan jadi bagian pertimbanganku..🌹🌹
total 2 replies
iqha_24
ayo Gam, panas2in aja si Sagara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!