NovelToon NovelToon
Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:907
Nilai: 5
Nama Author: Ulfah_muna

Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah sewa

Hari pertama di lokasi syuting yang baru— masih terasa tenang.

Udara pegunungan sejuk, sedikit lembap, dengan aroma tanah dan dedaunan yang masih segar.

Zevran berdiri di depan sebuah rumah.

“Mireya.”

Ia membuka pintu perlahan.

“Ini tempat tinggal mu. Untuk sementara.”

...----------------...

Rumah itu bergaya tradisional.

Kayu, ukiran sederhana, atap tinggi.

Namun begitu masuk—

interiornya berubah.

Lebih modern.

Lebih hangat.

Lebih layak huni dibandingkan bangunan lain di sekitar lokasi.

Pixy langsung berkeliling dengan mata berbinar.

“Ini bagus banget…”

Zevran menoleh pada Mireya.

“Kalau butuh apa pun—”

“katakan padaku. Atau Robert. Atau Rhea.”

Ia berhenti sejenak.

Menatapnya lebih dalam.

“Jangan lupa itu.”

Mireya sedikit terdiam.

Lalu tersenyum kecil.

Samar.

Hampir seperti tersipu.

“Iya…”

Jika Zevran suka bersikap seperti ini bisa bisa dia salah paham terus menerus.

Zevran tampak hendak mengatakan sesuatu lagi.

Namun ia menahan diri.

“…tapi ada satu hal.”

Mireya mengangkat pandangannya.

“Apa?”

“Tempat ini terpencil.”

Nada suaranya lebih rendah.

“Jauh dari pusat kota. Akses terbatas.”

Ia melirik sekeliling, seolah memastikan keadaan.

“Aku ingin kamu tetap berhati-hati.”

Hening sesaat.

Lalu ia melanjutkan, lebih pelan—

“Hanya ini rumah paling layak yang bisa kudapatkan…”

“…selain yang ditempati aktor aktris senior.”

Ada jeda singkat.

“…maaf, aku terlambat menyewanya.”

Mireya langsung menggeleng.

“Bukan salahmu.”

Suaranya lembut, tapi tegas.

“Aku justru bersyukur.”

Matanya sedikit melunak.

“Terima kasih.”

Zevran menatapnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

Seolah ingin memastikan sesuatu—

lalu akhirnya mengangguk.

“Baik.”

“Aku harus bertemu sutradara.”

“Setelah itu, aku akan pergi.”

Ia beralih ke Pixy.

“Kau juga, jaga dia.”

"Dan hati hati"

Pixy langsung berdiri tegak.

“Siap!”

Zevran kembali menatap Mireya.

“Sinyal di sini tidak stabil.”

“Rumah ini memakai pemancar sendiri.”

“Kalau ada masalah—hubungi aku.”

Ia berhenti sejenak.

Nada suaranya sedikit melembut.

“Bekerjalah dengan baik.”

“…aku menunggumu pulang.”

Mireya terdiam.

Kalimat itu—

terasa lebih personal dari seharusnya.

Sebelum pergi—

Zevran mengangkat tangannya.

Mengusap lembut puncak kepala Mireya.

Singkat.

Namun cukup untuk membuatnya terpaku.

Lalu—ia pergi.

Meninggalkan kehangatan tangan nya.

Pintu tertutup.

Hening.

...----------------...

Pixy perlahan menoleh.

Menatap Mireya dengan senyum yang semakin melebar.

“Cie…”

Mireya langsung menghindar.

“Apaan sih.”

Pixy mendekat, setengah berbisik, penuh godaan.

“Kak Mireyaaa…”

“Kiw kiw…”

Mireya mendengus pelan.

“Kamu ini ya…”

Namun— ujung telinganya memerah.

Dan itu— tidak lolos dari perhatian Pixy.

Tawa kecil pecah di dalam rumah kayu itu.

Hangat.

Ringan.

Tanpa mereka sadari— di luar sana, cerita mereka perlahan mulai diperhatikan orang lain.

Dan di besar besar kan.

...****************...

Mireya melirik Pixy yang masih senyum-senyum sendiri.

“…Pixy.”

“Hm?”

“Kamu… akrab ya sama Zevran?”

Pixy sedikit terkejut.

“Hah?”

Mireya mengalihkan pandangan, nada suaranya dibuat santai.

“Aku cuma heran.”

“Dia tadi… ngomongnya lumayan panjang Dan nyuruh kamu hati hati.”

Ia berhenti sebentar, mengingat.

“Padahal waktu pertama kali aku ketemu…”

“dia hampir nggak bicara.”

“Hanya cuma satu-dua kata.”

Pixy langsung menyipitkan mata.

Lalu senyumnya melebar pelan.

“Ooo…”

Ia mendekat sedikit.

“Kak Mireya…”

“Kamu cemburu ya?”

“Apaan sih.”

Jawaban itu keluar cepat.

Namun— wajah Mireya mulai memerah.

Terlalu jujur wajah nya bersemu.

Pixy makin nggak tahan.

“Ih, ketahuan…”

Mireya mendecih pelan.

“Enggak.”

Ia melipat tangan.

“Aku cuma penasaran.”

Pixy akhirnya tertawa kecil.

“Iya, iya…”

Ia mengangkat bahu santai.

“Sebenarnya…”

“Aku ini sepupu jauhnya Kak Zevran.”

Mireya langsung menoleh.

“…hah?”

Kali ini benar-benar kaget.

“Aku baru tahu.”

Pixy mengangguk.

“Iya.”

“Cuma keluarga jauh banget.”

“Jadi jarang ketemu juga.”

Ia menghela napas kecil.

“Apalagi Kak Zevran sibuk banget.”

“Mana mungkin kita bisa sering ketemu.”

Ia tersenyum ringan.

“Kecuali kalau kerja di perusahaannya…”

Ia menunjuk dirinya sendiri.

“Kayak aku.”

“Hehehe.”

Mireya terdiam sejenak.

Mencerna.

“…pantes saja.”

gumamnya pelan.

Pixy memiringkan kepala.

“Pantes apa?”

Mireya menggeleng kecil.

“Nggak.”

“Cuma jadi masuk akal.”

Suasana kembali tenang.

Namun— di dalam pikirannya—

sesuatu terasa lebih jelas sekarang.

Tentang Zevran.

Tentang Pixy.

Dan jarak— yang seharusnya tetap dia jaga.

...****************...

Pixy tiba-tiba teringat sesuatu.

“Oh ya, Kak Mireya.”

Mireya menoleh.

“Hm?”

“Nanti malam sutradara minta semua kumpul di lapangan dekat sini.”

Pixy mengayunkan kakinya santai.

“Katanya mau ngobrol-ngobrol dulu.”

“Biasa… buat nyemangatin aktor yang lagi jauh dari kota.”

Mireya mengangguk kecil.

“Acara pembukaan, ya.”

“Iya, kurang lebih.”

Pixy tersenyum.

“Oh, sama—”

Ia mengangkat jari, seolah menambahkan poin penting.

“Kita nggak perlu masak sendiri.”

Mireya sedikit terkejut.

“Tidak?”

“Enggak.”

Pixy menggeleng.

“Katanya nanti dapat bekal.”

“Dari restoran di desa sekitar sini—yang paling dekat dari pinggiran kota.”

Ia menjelaskan dengan santai.

“Selama syuting, kemungkinan besar bakal catering terus.”

Mireya mengangguk pelan.

“Bersyukur.”

"Kita mungkin kelelahan nanti"

“Walaupun—”

Pixy menambahkan,

“kalau mau masak sendiri juga boleh.”

“Terserah.”

Ia berhenti sejenak.

Ekspresinya berubah sedikit lebih serius.

“Tapi…”

Mireya menatapnya.

“Ada apa?”

“Semua aktor nggak boleh keluar dari area sini.”

Nada Pixy kini lebih hati-hati.

“Dilarang keluar dari lokasi syuting.”

Mireya terdiam sejenak.

Mencerna.

“…cukup ketat.”

Pixy mengangguk.

“Iya.”

“Mungkin biar nggak ganggu jadwal… atau keamanan.”

Ia mengangkat bahu.

Lalu ia kembali tersenyum ringan.

“Jadi kalau Kak Mireya butuh apa-apa—”

“bilang aja ke aku.”

Ia menunjuk dirinya sendiri dengan bangga kecil.

“Nanti aku yang beliin.”

Mireya menatapnya beberapa detik.

Lalu tersenyum tipis.

“Terima kasih.”

Pixy langsung nyengir lebar.

“Hehe, santai~”

Di luar— angin pegunungan berhembus pelan.

Membawa suasana yang tenang…

Namun— aturan yang terdengar sederhana itu

perlahan mulai terasa seperti batas.

Yang tidak semua orang bisa lewati dengan bebas.

...****************...

Mireya menatap tumpukan koper di ruang tengah.

Satu.

Dua.

Tiga—

terlalu banyak untuk sekadar perjalanan singkat.

Sebagian ia bawa sendiri.

Sebagian lagi sudah dipersiapkan oleh Pixy.

Semuanya—

berisi kebutuhannya.

Pixy berdiri di sampingnya, tangan di pinggang, tampak puas.

“Lumayan ya…”

Mireya menghela napas pelan.

“…lumayan banyak.”

Tanpa menunggu lama, Pixy langsung bergerak.

“Ayo, aku bantu beresin!”

Ia sudah menarik salah satu koper, bersiap membawanya ke dalam kamar.

Namun—

“Tidak usah.”

Suara Mireya menghentikannya.

Pixy menoleh.

“Hah?”

“Aku bisa sendiri.”

Nada Mireya tenang, tapi jelas.

Pixy mengerucutkan bibir.

“Tapi kan—”

“Aku lebih nyaman kalau beresin sendiri.”

Mireya menatapnya sebentar.

Lembut, tapi tidak memberi ruang untuk ditolak.

Pixy terdiam.

Beberapa detik.

Lalu mendesah kecil.

“Iya deh…”

Sebelumnya—

mereka sempat berdebat kecil soal kamar.

Pixy terus mendorong Mireya untuk memilih lebih dulu.

Dan akhirnya—

Mireya mengambil kamar utama.

Alasannya sederhana.

Barangnya terlalu banyak.

Pixy sendiri memilih kamar di sebelah.

Tidak jauh.

“Biar gampang bolak-balik,” katanya tadi.

Sekarang—

Pixy masih berdiri di ambang pintu kamar Mireya.

Seolah belum rela benar-benar pergi.

“Beneran nggak usah dibantu?”

Mireya menggeleng.

“Tidak.”

Lalu, setelah jeda singkat—

ia menambahkan,

“Kamu keluar saja.”

Pixy langsung cemberut.

“Ih… Masa aku gak ngapa-ngapain”

“Makan siang sudah ada?” tanya Mireya, mengalihkan.

Pixy berkedip.

“Hm… belum tahu.”

Ia langsung berubah semangat.

“Aku cek dulu ya!”

Tanpa menunggu jawaban—

ia berbalik dan berlari kecil keluar.

“Kalau sudah ada, aku panggil! Kalau gak aku bawain”

Pintu tertutup.

Hening.

Mireya kembali menatap koper-kopernya.

Ruangan itu terasa lebih luas sekarang.

Lebih sepi.

Ia membuka salah satu koper perlahan.

Melipat, menyusun, menata—

satu per satu.

Rapi.

Teratur.

Seperti mencoba mengendalikan sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan di luar sana.

Rumah ini nyaman.

Lebih dari cukup.

Namun tetap saja—

ini bukan tempatnya.

Rasanya berbeda karena tidak ada zevran atau bibi di penthouse.

Mungkin dia benar menganggap rumah zevran yang itu sebagai milik nya.

Sebuah rumah untuk pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!