NovelToon NovelToon
Satu Atap Dua Rahasia

Satu Atap Dua Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.

​Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."

​Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Rencana Licik

Kakek Hermawan duduk dengan tenang di kursi goyangnya, namun sorot matanya yang setajam elang tidak bisa menyembunyikan wibawa yang masih tersisa. Di depannya, Raka dan Pertiwi tampak kehilangan kendali, wajah mereka memerah menahan amarah yang meledak-ledak.

​"Kek, ini sudah di luar nalar!" seru Raka sambil menggebrak meja jati di hadapan sang kakek. "Biru hilang tanpa kabar setelah dari Bali. Jelas sekali dia sedang depresi atau mungkin disekap oleh perempuan itu! Selena itu parasit, Kek. Dia memanipulasi Biru untuk menandatangani wasiat konyol itu!"

​Pertiwi menimpali dengan suara yang dibuat sedramatis mungkin, lengkap dengan usapan air mata palsu.

"Benar, Ayah. Biru itu sedang sakit, pikirannya mungkin sedang kacau karena tekanan dari istri kontraknya yang sangat tamak itu. Bagaimana bisa Ayah membiarkan aset keluarga jatuh ke tangan orang asing? Batalkan wasiat itu sekarang, sebelum perempuan itu menjual seluruh saham kita ke pasar gelap!"

​Kakek Hermawan hanya diam, jemarinya yang keriput mengetuk-ngetuk pegangan kursi goyangnya dengan ritme yang lambat namun menekan. Ia menatap Raka dan Pertiwi bergantian dengan pandangan yang membuat keduanya mendadak bungkam.

​"Kalian bilang Biru hilang karena Selena?" tanya Kakek dengan suara serak namun berat. "Atau kalian takut karena Selena bukan hanya sekadar 'penulis' yang kalian remehkan?"

​"Maksud Kakek apa?" tanya Raka gagap.

​Kakek Hermawan mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari balik jubahnya.

"Selama puluhan tahun aku memimpin perusahaan ini, aku tahu kapan seekor serigala sedang mengincar mangsanya. Kalian menuntut pembatalan wasiat? Syarat pembatalan itu hanya satu: Jika Biru sendiri yang menyatakan secara sadar bahwa ia menariknya kembali."

​Kakek berdiri perlahan, menatap kedua cucu dan anaknya itu dengan dingin. "Selena baru saja meneleponku. Dia melakukan hal yang tidak pernah kalian lakukan selama sepuluh tahun terakhir—dia menyerahkan seluruh laporan pengeluaran operasional pribadi kalian untuk diaudit ulang karena menemukan keganjilan."

​"Ayah! Itu pasti fitnah!" teriak Pertiwi panik.

​"Jika itu fitnah, kalian tidak perlu takut, bukan?" Kakek tersenyum tipis, senyuman yang lebih mirip dengan peringatan kematian.

"Dan soal Biru... jangan pikir aku tidak tahu apa yang kalian berikan pada cucuku setiap pagi. Jika Selena bisa membuktikannya, bukan hanya saham yang hilang dari tangan kalian, tapi kebebasan kalian."

​Raka dan Pertiwi terpaku di tempat. Mereka menyadari satu hal yang fatal: mereka mengira Selena adalah mangsa yang lemah, namun ternyata Biru telah memberikan pedang paling tajam di dunia kepada seorang wanita yang kini memiliki segala alasan untuk memenggal kepala mereka.

​"Sekarang keluar dari sini," perintah Kakek Hermawan. "Dan bersiaplah. Besok pagi di kantor, Selena tidak akan menyambut kalian dengan teh, tapi dengan surat pemecatan."

Raka dan Pertiwi keluar dari kediaman Kakek Hermawan dengan langkah seribu. Begitu sampai di dalam mobil, Raka menghantam kemudi dengan kepalan tangannya hingga klakson berbunyi nyaring, memecah kesunyian malam.

​"Sial! Kakek tua itu ternyata sudah dipengaruhi oleh perempuan jalang itu!" geram Raka dengan napas memburu. "Dia tahu tentang audit itu, Tante. Kalau Selena terus menggali, dia akan menemukan jejak aliran dana ke vendor suplemen kita."

​Pertiwi mencoba mengatur napasnya, meskipun tangannya yang dihiasi berlian itu gemetar hebat. Otak liciknya berputar cepat.

"Tenang, Raka. Jangan gegabah. Kalau kita melenyapkan Selena sekarang, saat dia baru saja mengadu pada Kakek dan memegang saham, polisi akan langsung menyeret kita sebagai tersangka utama."

​Ia menatap keluar jendela dengan tatapan kosong yang mematikan. "Kita harus menunggu. Biarkan keadaan sedikit tenang. Biarkan dia merasa seolah-olah dia sudah menang dan mulai lengah di atas takhtanya. Saat itulah, kita akan menyerang."

​"Tapi bagaimana kalau Biru tiba-tiba bangun?" potong Raka panik.

​"Biru tidak akan bangun dalam waktu dekat, dosis yang kita berikan selama sepuluh tahun itu sudah merusak sistem sarafnya. Dia hanya seonggok daging sekarang," ucap Pertiwi dingin.

"Fokus kita sekarang adalah Selena. Kita biarkan dia masuk ke kantor besok. Kita biarkan dia merasa menjadi CEO. Kita tunjukkan wajah patuh di depannya agar dia merasa aman."

​Pertiwi menyunggingkan senyum tipis yang mengerikan. "Sambil menunggu, cari tahu siapa orang-orang di sekitar Selena yang bisa kita beli. Pasti ada celah. Seorang penulis pasti punya titik lemah. Kita harus melenyapkannya tanpa menyentuh satu jari pun padanya—buat seolah-olah itu kecelakaan, atau mungkin... bunuh diri karena tekanan jabatan."

​Raka mulai tenang, senyum licik perlahan kembali ke wajahnya. "Benar. Dia hanya orang asing yang beruntung. Dia tidak punya koneksi, tidak punya pelindung selain Cakra yang sekarang entah di mana. Kita tunggu satu atau dua minggu lagi. Saat semua orang sudah terbiasa dengan kepemimpinannya, di situlah malaikat maut akan menjemputnya."

​Di dalam mansion Biru, Selena tidak tahu bahwa rencana pembunuhan kedua sedang disusun untuknya. Namun, ia juga bukan lagi wanita yang sama. Sambil menatap layar monitor yang menampilkan data keuangan perusahaan, Selena menggenggam sebuah belati kecil milik Biru yang ia temukan di laci.

​"Kalian pikir aku akan menunggu kalian menyerang?" bisik Selena pada kegelapan. "Aku yang akan menarik kalian keluar dari lubang persembunyian kalian, satu per satu."

*

Pukul sembilan pagi, ruang rapat utama Hermawan Grup terasa seperti ruang eksekusi. Selena duduk di kursi CEO, diapit oleh tiga auditor forensik eksternal yang wajahnya sekaku beton. Di hadapannya, Raka dan Pertiwi duduk dengan kepala tertunduk, tak lagi ada tatapan tajam atau sindiran pedas yang mereka lontarkan kemarin.

"Bisa jelaskan aliran dana sebesar 40 miliar ke akun shell company bernama 'Lentera Medika' dalam tiga tahun terakhir?" tanya kepala auditor sambil menggeser tumpukan dokumen ke tengah meja.

"Perusahaan itu memasok suplemen harian untuk Tuan Biru, namun harganya lima ratus persen di atas harga pasar. Dan kami menemukan, pemilik aslinya adalah kerabat dekat Anda, Pak Raka."

Suasana mendadak hening. Selena menatap tajam ke arah Pertiwi, menunggu pembelaan licik yang biasanya keluar dari mulut wanita itu. Namun, yang terjadi justru di luar dugaan.

Bruk!

Raka tiba-tiba bangkit dari kursinya dan berlutut di lantai marmer, diikuti oleh Pertiwi yang langsung terisak pelan.

"Kami mengaku, Selena... Kami salah," suara Raka bergetar, terdengar sangat tulus hingga membuat para auditor saling pandang dengan bingung.

"Kami tergiur dengan uang itu. Kami pikir Biru punya terlalu banyak harta dan tidak akan menyadari sedikit kebocoran. Kami khilaf."

Pertiwi meraih ujung meja, menatap Selena dengan mata yang memerah dan basah.

"Tolong, Selena... Jangan bawa ini ke ranah hukum. Kami adalah keluarga Biru. Jika ini meledak di media, harga saham Hermawan Grup akan hancur dan nama baik Biru akan tercemar. Kami akan mengembalikan semuanya, setiap rupiahnya. Kami mohon maafkan kami."

Selena terdiam, tangannya yang berada di bawah meja mengepal kuat. Ia tidak menyangka serangan auditnya akan membuat mereka berlutut secepat ini.

Namun, ia tidak bisa lupa apa yang ia dengar di koridor kemarin. Ia tahu ini hanyalah sandiwara untuk mengulur waktu.

"Berlutut tidak akan mengembalikan kesehatan suami saya," ucap Selena dengan nada dingin yang menusuk.

***

1
Bubu
lanjutkan Thor
Bubu
hahaha
Bubu
betul sekali dok
Rahmah Salam
hummmm....💪💪
Rahmah Salam
egoisss....emang anda tau kebahagian seseorang...😎
Rahmah Salam
tdk enak di posisi selena yg mengalami kebingungan dan ketidak pastian...
Bubu: betul sekali kk
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh.... lemah sekali ea
Rahmah Salam
semangat semangat,,😄
Rahmah Salam
thor lnjut lg dong...
Rahmah Salam
ikut terharu..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
kasihan biru..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
akankah dia tau..???/Sweat/
Rahmah Salam
waduhhh....jangan died dl thor....😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
kalau jin gimna....???
jin ouch jin sentuh itu selena...
Rahmah Salam
kontrak batal😎...misi sang mertua sukses...😄😄
Raffi975: uhuiii
total 2 replies
Rahmah Salam
asin dong klau msh ada sisa air laut yg nempel😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ikuti alur nya seperti air yang menuju muara lalu bertemu lautan
Rahmah Salam
setidakx merasskan rasa happy di akhir hidupx.....😆
Rahmah Salam
dehhh....deg degan😆
Rahmah Salam
kira2 senakal apa sih biru dulu????😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!