NovelToon NovelToon
Tawanan Hasrat Sang Mafia

Tawanan Hasrat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Nikah Kontrak
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Muhamad Julianto

Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.

Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.

Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.

Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.

Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kericuhan

Kondisinya yang tidak baik-baik saja karena mengalami hamil simpatik membuat Rayga tidak bisa memantau bisnisnya secara langsung.

Walau di-handle oleh Xander dan beberapa orang kepercayaan lainnya, tetapi tetap saja semua pekerjaan tidak akan berjalan sebagaimana kalau Rayga ikut turun tangan.

Bahkan salah satu anak buah Rayga berani berkhianat dengan menjual sampel produk ilegal milik Rayga pada musuh.

Produk ilegal yang baru keluar sebatas sampel untuk uji coba dan akan launching tahun depan sudah duluan diproduksi oleh kelompok musuh dan barang itu mereka produksi dalam jumlah banyak.

Bahkan produk itu jadi best seller di kalangan pemakai obat-obatan terlarang.

"Jika tidak ada yang mengaku, kalian semua akan ku musnahkan!" teriak Rayga menggelegar di dalam sebuah ruangan.

Sedangkan puluhan orang di dalamnya menunduk dengan bulu kuduk meremang ketakutan.

"Ayo katakan, siapa yang telah menjual sampel produk itu?!" teriaknya dengan mata memerah dan tangan mengepal erat.

Tak ada yang bersuara termasuk Xander.

Mereka semua hanya bisa menunduk, apalagi Xander yang duduk di pojok ruangan.

Dia merasa gagal dalam melaksanakan tugasnya sebagai orang kepercayaan Rayga.

"Kau!" Rayga menatap Xander dengan mata nyalang.

"Kenapa kau bisa kecolongan?"

"Maaf, Bos. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Saya siap dihukum," ucap Xander pasrah, karena dia merasa kehancuran bisnis ini adalah sebuah kelalaiannya.

Apalagi obat yang diproduksi pihak musuh sudah beredar ke mana-mana dan merajai penjualan obat terlarang.

"Aaarrgh." Rayga melempar sebuah botol ke dinding hingga botol itu jadi beling yang berserakan di lantai.

Bahkan beling itu ada yang mengenai beberapa orang anak buahnya.

Rayga begitu marah, karena sampel obatnya bocor pada musuh dan telah diproduksi oleh musuh mendahuluinya.

Sampel obat itu telah melalui ratusan kali tahap uji coba sampai sempurna seperti yang beredar saat ini.

Bahkan biaya yang dikeluarkan untuk menciptakan obat itu tidak lah sedikit, sekarang musuh tinggal memproduksinya saja.

"Cari siapa pelakunya! Aku kasih kalian waktu dua hari," kata Rayga memberi kelegaan pada Anak buah Rayga.

Mereka bersyukur tidak jadi mati saat itu juga.

Setidaknya mereka masih ada waktu untuk mencari siapa yang telah membuat mereka dalam keadaan sulit seperti itu.

"Siap, Bos," jawab mereka serentak.

Xander sudah melacak dengan kemampuannya yang bisa meretas, dia mencoba mengotak-atik semua isi ponsel anak buah yang dicurigai, tetapi tidak ada bukti yang dia dapatkan.

Bahkan CCTV yang berada di tempat sampel disimpan juga tidak menunjukkan kecurigaan apapun.

Xander sangat kesulitan untuk menemukan siapa pelakunya, karena dia sangat lihai dalam melakukan aksinya, bahkan setitik jejak pun tidak dia tinggalkan.

"Bubar!" teriak Rayga kembali menggelegar, bahkan suaranya memantul di dalam ruangan itu.

Semua anak buahnya bubar dengan kepala menunduk, tak ada yang berani angkat wajah di hadapan Rayga.

Sedangkan Xander masih berada di tempatnya tanpa ikut keluar bersama yang lainnya.

Setelah semua keluar, baru lah Xander berdiri dan mendekati Rayga yang duduk dengan kepala disandarkan ke belakang.

"Aku sudah mengutak-atik isi ponsel semua anak buah yang bersinggungan dengan sampel obat itu, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang kedapatan sebagai pelakunya. Apa mungkin sampel itu dibagikan salah satu anak buahmu yang berada di labor?Bukankah mereka yang mengetahui apa saja komposisi yang terkandung dalam obat itu," ungkap Xander membuat Rayga menegakkan badannya dan setuju dengan kecurigaan Xander.

Kalau tidak ada jejak pada anak buah yang lain, berarti kecurigaan memang bisa tertuju pada orang kepercayaan Rayga yang berada di labor.

"Mungkin saja dia yang membocorkan komposisinya, sehingga produk itu bisa diproduksi musuh dalam jumlah banyak dan waktu yang singkat," lanjut Xander.

"Panggil semuanya ke sini!" titah Rayga.

Xander mengangguk dan menelepon salah satu anggota khusus yang berada di labor.

Tak berselang lama, mereka datang dengan wajah ketakutan.

Info obat yang mereka rakit telah beredar dan diperjual belikan juga sudah sampai ke telinga mereka, makanya mereka begitu ketakutan saat harus menemui Rayga.

"Siapa yang telah membocorkan sampel obat pada pihak musuh?" tanya Rayga langsung to the poin.

Mereka diam dan hanya menggeleng tanpa berani mengeluarkan suara.

Sama seperti sekelompok yang sebelumnya diintrogasi Rayga, mereka yang sekarang juga tidak berani mengangkat wajah menghadap pada Rayga.

"Drian!" panggil Rayga pada salah satu di antara mereka.

"Sa-saya, Bos," jawabnya terbata dengan suara gemetar.

"Berapa harga sampel yang kau berikan pada musuh?" tuding Rayga, karena Drian adalah salah satu orang kepercayaannya yang tahu komposisi obat terlarang itu.

Drian menggeleng cepat, masih dalam keadaan menunduk.

"Saya tidak menjual sampel pada siapa pun, Bos. Bagaimana bisa saya menjualnya, sedangkan saya selalu diawasi dan tidak bisa ke mana-mana. Bahkan saya di sini hanya bisa berkomunikasi dengan istri saja, tidak bisa berkomunikasi dengan yang lain," jawan Drian.

"Lalu siapa?" tanya Rayga masih menyudutkan Drian.

Kembali Drian menggeleng. "Saya berani bersumpah, bukan saya pelakunya, Bos. Saya juga tidak tahu siapa yang telah bermain-main seperti itu," kata Drian membela diri.

Xander yang menyaksikan Drian diinterogasi juga membenarkan jawaban Drian.

Karena pria itu selalu dalam pengawasan, bahkan dia memang hanya boleh berkomunikasi dengan

istrinya saja, itu pun hanya sekali dalam seminggu.

Lima tahun bekerjasama dengan Rayga, dia belum pernah pulang ke rumahnya atau sekedar cari angin ke luar.

Selalu berada di tempat kerja dan dalam pengawasan.

"Saya bersedia ikut andil dalam mencari dalangnya, walau pun itu nyawa saya jadi taruhannya," ucap Drian.

"Saya tidak mau tahu, dalam dua hari ini pengkhianat itu sudah berada di hadapanku. Jika tidak, kalian semua yang akan bertanggung jawab," ancam Rayga sama seperti ancaman pada anak buah sebelumnya.

Mereka mengangguk, tapi tak ada yang bersuara.

Suasana dalam ruangan itu begitu mencekam.

"Paham?!" teriak Rayga murka.

"Paham, Bos," jawab mereka serentak bak paduan suara.

Rayga keluar dari ruangan itu disusul oleh Xander yang mengekor di belakangnya.

Kemarahan Rayga menggebu-gebu, sedangkan di Apartemennya ada Aurellia yang ketakutan mendapat ancaman dari nomor tak dikenal.

Aurellia diminta untuk pergi jauh meninggalkan Rayga dan Aurellia dapat ancaman akan dibunuh kalau masih nekat bersama Rayga.

Dia meminta Aurellia pergi saat itu juga karena nomor tersebut mengatakan kalau apartemen yang ditempati Rayga dan ada Aurellia di sana saat ini akan dibakar.

Aurellia ketakutan sampai menggigil, tetapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti perintah dan ancaman yang dia terima.

Sebelum keluar dari apartemen, Aurellia mengirim bukti chat yang dia terima kepada Rayga.

"Tuan, maafkan saya. Terpaksa saya harus pergi daripada apartment ini bakar," pesan Aurellia menyertai foto screenshot percakapannya di Whatsapp bersama nomor tak dikenal.

Sementara itu, Rayga yang membuka pesan dari Aurellia membuat dia semakin marah dan murka.

"Jangan ke mana-mana sebelum saya sampai di sana!" balas Rayga pada pesan yang dikirim Aurellia.

Tak ada balasan dari Aurellia, bah kan pesan chat yang dikirim Rayga sebagai balasan hanya centang satu.

Rayga meneruskan pesan dari Aurellia pada Xander.

"Selidiki nomor itu!" titah Rayga pada Xander, setelah itu dia berlalu pergi begitu saja.

1
Mita Paramita
lanjut Thor double up 🔥🔥🔥
Mita Paramita: ok 😁 ditunggu Thor 🔥🔥🔥
total 2 replies
Windi Widia Astuti
semagaat kaka...aku selalu menunggu up nya
Lian_06: Thanks ya yang udah mau komentar, soalnya ini yang saya inginkan. terimakasih udah mampir jangan lupa tinggalkan komentar lagi disetiap update nya y😁
total 1 replies
Nurulsafarliza Faizal
menarik juga ada komedi..jln ceritanya bgs juga..tapi harap bertambah seru lanjutan ya..semangat ya👌
Lian_06: Thanks ya udah mampir baca dan rating nya😁. pokoknya ikuti terus cerita nya dijamin bakal seru kok🤭
total 1 replies
Dalena Dalena
lanjut thor up nya jangan bertele tele donk, penasaran jadinya
Lian_06: Ini lagi up kak, saya kalo weekend sebisa mungkin up nya lebih sering. yng penting jangan lupa absen dengan like dan komen saja itu udah cukup kok 😁
total 1 replies
Dalena Dalena
lanjut donk🙏
Lian_06: kakak maaf ya ini saya lagi nulis kak😁. makasih banget ya udah mampir di cerita ini😉
total 1 replies
Dalena Dalena
kok ngak update lagi sih,,🙏 lanjut donk thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!