NovelToon NovelToon
Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Janda / Tamat
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk ke dalam kamar, memberikan kehangatan yang kontras dengan debaran jantung Sulfi yang entah mengapa terasa tidak tenang.

Zaidan berpamitan dengan Sulfi untuk berangkat ke kantor, pria itu tampak gagah dengan seragam yang sudah disetrika rapi oleh istrinya.

"Mas berangkat dulu ya, Sayang. Jaga diri baik-baik di rumah," ucap Zaidan sambil mengecup dahi Sulfi dan mengelus perut istrinya yang mulai membuncit.

"Hati-hati ya, Mas," jawab Sulfi lembut, meski ada sedikit rasa berat saat melepaskan pegangan tangannya.

Sulfi berdiri di ambang pintu, memperhatikan saat Zaidan melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah.

Karena merasa tidak tenang sendirian, Sulfi menuju ke rumah Yuana yang masih lemas akibat mual kehamilan yang luar biasa di trimester pertama.

Di sana, suasana tampak sepi karena Kompol juga sudah berangkat kerja lebih awal untuk memimpin gelar perkara.

Sementara itu, suasana di markas kepolisian terasa sangat sibuk.

Sesampainya di kantor, Kompol memanggil Zaidan untuk masuk ke ruangan kerjanya guna mendiskusikan laporan akhir mengenai jaringan Bima yang belum sepenuhnya tuntas.

"Duduk, Zaidan. Ada hal mendesak yang harus kita bahas mengenai sisa-sisa pengikut Bima di luar sana," ujar Kompol Hendrawan dengan nada serius.

Namun, baru saja saat akan duduk, tiba-tiba terjadi ledakan di kantor polisi.

Dentuman dahsyat itu meruntuhkan plafon dan menghancurkan kaca-kaca jendela ruang kerja sang Kompol.

Api dan asap hitam seketika membubung tinggi, menelan ruangan yang baru saja dihuni oleh dua perwira terbaik tersebut.

Berita ledakan itu menyebar lebih cepat dari api. Sulfi mendapatkan kabar langsung gemetar, ponselnya terjatuh ke lantai saat melihat siaran berita darurat.

Dengan air mata yang mengucur deras, ia bersama Yuana yang masih pucat segera berlari menuju rumah sakit Bhayangkara.

Di depan ruang ICU, dunia seolah runtuh. Dokter mengabarkan bahwa Zaidan dan Kompol mengalami koma akibat benturan keras dan luka bakar yang serius.

Sulfi dan Yuana menangis sesenggukan di pelukan satu sama lain, meratapi kebahagiaan mereka yang baru saja mekar kini terancam layu dalam sekejap.

Di tengah isak tangisnya, Sulfi mendongak. Matanya yang merah kini memancarkan api kemarahan.

Ia mengusap perutnya dengan tangan yang bergetar namun penuh tekad.

Ia akan mencari tahu siapa yang menyebabkan semua ini.

Di koridor rumah sakit yang dingin, Sulfi menghapus air matanya dengan kasar.

Ia tidak boleh lemah sekarang; ada nyawa suaminya dan keadilan yang harus ia bela.

Dengan langkah tegas namun tetap waspada, Sulfi memanggil petugas untuk menemani Yuana yang masih duduk lemas di depan ruang ICU.

"Kamu mau ke mana, Sulfi?" tanya Yuana dengan suara parau, menatap sahabatnya itu dengan penuh kekhawatiran.

Ia melihat kilat yang berbeda di mata Sulfi—bukan lagi ketakutan, melainkan api kemarahan yang dingin.

"Aku ada urusan sebentar," jawab Sulfi singkat. Ia tidak ingin membuat Yuana semakin cemas dalam kondisi kehamilannya yang masih sangat muda.

Tanpa membuang waktu, Sulfi melangkah menuju parkiran rumah sakit.

Kemudian ia meminta petugas lainnya mengantarkan ke penjara di mana Bima di sana.

Sepanjang perjalanan, tangan Sulfi tak henti-hentinya mencengkeram tasnya.

Instingnya sebagai seorang istri dan pengacara berteriak bahwa ledakan di kantor polisi bukan sekadar kecelakaan atau serangan acak.

Ia tahu kalau semua ini ulah Bima, meski pria itu mendekam di balik jeruji besi.

Sesampainya di penjara dengan pengawalan ketat, Sulfi meminta akses khusus untuk bertemu Bima.

Di balik kaca pembatas ruang kunjungan, Bima muncul dengan seragam tahanan dan borgol yang masih melilit tangannya. Namun, yang membuat darah Sulfi mendidih adalah senyum tipis yang tersungging di bibir pria itu—senyum kemenangan yang menjijikkan.

Sulfi menatap tajam pria di depannya, menahan getaran di tangannya agar tidak terlihat lemah.

Ia tahu, Bima mungkin sudah kalah di pengadilan, tapi iblis itu masih memiliki kuku-kuku tajam yang bekerja di luar sana.

Pertemuan ini bukan untuk memohon, melainkan untuk menegaskan bahwa Sulfi tidak akan pernah berhenti sampai ia menghancurkan setiap jaring yang dimiliki Bima, sekali dan untuk selamanya.

Bima menyandarkan punggungnya ke kursi dengan angkuh, seolah ruangan sempit itu adalah singgasananya.

Tatapannya menyisir tubuh Sulfi dengan pandangan merendahkan yang sangat familiar.

"Ada apa, Sayang?" tanya Bima menggoda Sulfi dengan nada bicara yang memuakkan.

Ia tertawa pelan, suara tawa yang terdengar seperti gesekan logam yang berkarat.

"Apakah kamu menjadi janda lagi? Kasihan sekali nasibmu, selalu saja kehilangan pria yang mencoba melindungimu."

Sulfi mengepalkan tangannya di bawah meja, kuku-kukunya menekan telapak tangan untuk menahan diri agar tidak meledak saat itu juga. Namun, di balik kemarahannya, otak pengacaranya bekerja dengan dingin.

Di dalam tas yang ia letakkan sedikit terbuka di atas pangkuannya, ponselnya dalam posisi aktif.

Sulfi merekam semuanya tanpa sepengetahuan Bima—setiap kata, setiap nada sombong, dan setiap pengakuan terselubung yang keluar dari mulut iblis itu.

Bima memajukan tubuhnya, menempelkan wajahnya ke kaca pembatas, matanya berkilat penuh kegilaan.

"Jangan kira tembok ini bisa menghentikanku, Sulfi. Anak buahku masih banyak di luar sana," bisik Bima dengan seringai lebar.

"Ledakan itu hanyalah salam pembuka. Jika Zaidan mati, itu adalah hadiah kecil dariku untuk pernikahan kalian yang singkat itu."

Sulfi tetap diam, membiarkan Bima terus bicara karena merasa di atas angin.

Ia tahu pria ini sedang terjebak dalam kesombongannya sendiri.

Rekaman ini akan menjadi bukti kunci bahwa meskipun Bima berada di penjara, ia tetaplah otak di balik serangan teror yang melukai suaminya.

Setelah merasa cukup mendapatkan bukti, Sulfi berdiri dengan tenang.

Ia menatap Bima dengan pandangan penuh penghinaan.

"Kamu pikir kamu menang, Bima?" suara Sulfi terdengar rendah namun sangat tajam.

"Kamu hanya baru saja menggali lubang kuburmu sendiri lebih dalam. Mas Zaidan kuat, dan aku tidak akan pernah membiarkanmu melihat cahaya matahari lagi, bahkan dari balik jeruji ini."

Tanpa menunggu balasan dari Bima, Sulfi berbalik dan melangkah keluar dengan kepala tegak.

Ia harus segera kembali ke rumah sakit, membawa bukti ini kepada tim penyidik, sembari terus berdoa agar keajaiban membangunkan Zaidan dari komanya.

Perang ini belum berakhir, dan Sulfi baru saja mendapatkan senjata yang paling mematikan.

Di depan ruang ICU yang dingin dan berbau antiseptik, waktu seolah berhenti berputar.

Yuana duduk di depan ruang ICU, tubuhnya tampak sangat rapuh dengan wajah yang masih pucat pasi. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding tembok yang kaku, sementara kedua tangannya mendekap perutnya yang masih rata—mencoba mencari kekuatan dari nyawa kecil yang baru saja diketahuinya semalam.

Keheningan koridor itu hanya dipecah oleh suara mesin monitor yang terdengar samar dari balik pintu kaca.

Yuana menatap kosong ke arah pintu ruangan tempat suaminya dan Zaidan sedang berjuang melewati masa kritis.

"Kenapa mereka masih belum sadarkan diri?" ucap Yuana dengan suara parau yang nyaris hilang. Air mata kembali merembes di sudut matanya.

"Kemarin malam kita masih tertawa bersama, Mas Hendrawan masih menyuapi aku. Kenapa sekarang jadi begini?"

Kesedihan Yuana terasa begitu menyesakkan. Baginya, penantian ini jauh lebih menyiksa daripada debat hukum mana pun di ruang sidang.

Sebagai seorang pengacara, ia terbiasa mengendalikan keadaan, namun di sini, di depan maut yang mengintai, ia merasa benar-benar tak berdaya.

Tak lama kemudian, langkah kaki yang mantap terdengar mendekat.

Sulfi kembali dari penjara dengan tatapan yang sudah berubah.

Ia melihat sahabatnya yang sedang hancur itu dan segera duduk di sampingnya, merangkul bahu Yuana dengan erat.

"Mereka kuat, Yuana. Mas Zaidan dan Kompol adalah pejuang," bisik Sulfi, mencoba menguatkan meski hatinya sendiri juga tercabik.

"Mereka akan bangun, karena mereka tahu ada kita dan anak-anak mereka yang sedang menunggu di sini."

Sulfi menggenggam tangan Yuana, merasakan getaran ketakutan yang sama. Namun, di dalam saku jasnya, rekaman pengakuan Bima tersimpan rapat.

Sambil menunggu suami mereka membuka mata, Sulfi sudah menyiapkan rencana besar untuk memastikan siapa pun yang terlibat dalam kejadian ini akan menerima balasan yang jauh lebih menyakitkan.

1
Hilmiya Kasinji
Luar biasa
Hilmiya Kasinji
ijin baca kak
my name is pho: iya kak, terima kasih 🥰
total 1 replies
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!