Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan
Tanpa banyak kata, para warga lokal itu menyediakan sebuah truk tua pengangkut hasil bumi. Helen dan Ario dibaringkan di atas tumpukan karung kopi yang kasar namun beraroma menenangkan. Selama berjam-jam, truk itu melintasi jalanan berbatu yang berkelok-kelok, mendaki pegunungan menuju jantung Kolombia: Bogota.
Di dalam bak truk yang berguncang, Helen mendekap kepala Ario. Ia menatap langit Kolombia yang mulai memerah. Di tengah derita ini, ia teringat kehidupan lamanya—bagaimana ia dulu mengeluh jika air mandinya kurang hangat atau jika pelayannya terlambat membawakan teh. Kini, ia hanya ingin satu hal: keselamatan suaminya.
"Ario, bertahanlah," bisik Helen, air matanya jatuh membasahi pipi Ario yang kotor. "Kita akan ke KBRI. Kita akan pulang."
****
Sementara itu, di Jakarta, Beatrix van Amgard sedang memegang sebuah map hitam berisi dokumen pembatalan hak waris. Di depannya, layar monitor menampilkan berita utama tentang "Kebangkrutan Total Keluarga Kusuma".
"Nyonya, mereka sudah melintasi perbatasan Kolombia," lapor Bambang dengan suara rendah. "Andre melaporkan bahwa mereka menuju Bogota untuk meminta perlindungan diplomatik."
Beatrix tidak marah. Sebaliknya, ia tertawa dingin—sebuah suara yang lebih mengerikan daripada ledakan amarah.
"Biarkan mereka pulang, Bambang," ucap Beatrix sambil menyesap anggur merahnya. "Jangan halangi mereka lagi. Bahkan, gunakan koneksiku di kementerian untuk mempermudah dokumen perjalanan mereka. Aku ingin Helen Kusuma segera menginjakkan kakinya di tanah Jakarta."
Bambang mengerutkan kening. "Tapi Nyonya, bukankah itu berbahaya?"
"Bahaya?" Beatrix berdiri, berjalan menuju jendela yang memperlihatkan pemandangan kota. "Dia akan pulang tanpa uang sepeser pun. Dia akan pulang ke rumah yang sudah aku sita. Dia akan pulang ke perusahaan yang sudah aku hancurkan namanya. Aku ingin dia melihat setiap jengkal kerajaan ayahnya kini menjadi tempat sampah bagi namanya sendiri."
Beatrix meremas gelas anggurnya hingga retak. "Aku tidak ingin dia mati di hutan Kolombia sebagai martir. Aku ingin dia menjadi gelandangan di jalanan Jakarta. Aku ingin dia mengemis di depan gedung yang dulu milik ayahnya. Aku ingin melihat kebanggaan di matanya hancur saat ia menyadari bahwa ia bukan lagi siapa-siapa. Kematian adalah hadiah yang terlalu murah untuknya."
****
Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, truk itu akhirnya berhenti di depan sebuah gedung dengan gerbang tinggi yang dijaga ketat di pusat kota Bogota. Di sana, berkibar dengan gagahnya bendera Merah Putih di bawah langit Amerika Selatan yang kelabu.
"KBRI..." suara Helen bergetar. Ia merasa seolah-olah baru saja melihat oase di tengah gurun.
Beberapa petugas keamanan KBRI Bogota segera berlari keluar saat melihat seorang wanita muda turun dari truk dengan tubuh penuh luka, menggendong seorang pria yang tak sadarkan diri.
"Tolong!" teriak Helen dalam bahasa Indonesia, sebuah kata yang terasa sangat manis di lidahnya setelah sekian lama. "Tolong suami saya! Kami warga negara Indonesia!"
Suasana di depan KBRI seketika menjadi guncang. Para diplomat dan staf kedutaan segera berhamburan keluar. Mereka terkejut melihat sosok yang sangat dikenal di berita nasional—putri tunggal Aditya Kusuma—berada dalam kondisi seperti itu.
"Ibu Helen? Ibu Helen Kusuma?" tanya salah satu staf dengan nada tak percaya.
Helen tidak lagi mampu menjawab. Tubuhnya lemas, ia jatuh berlutut di aspal dingin tepat di bawah tiang bendera. "Tolong... Ario..."
Saat tim medis kedutaan membawa Ario masuk ke dalam, Helen merasakan beban berat di pundaknya sedikit terangkat. Ia menatap bendera yang berkibar tertiup angin pegunungan Andes. Di sanalah, di tengah dinginnya Bogota, Helen menyadari bahwa babak pelarian telah usai, namun babak peperangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
****
Malam itu, di ruang perawatan KBRI, Helen duduk di samping ranjang Ario. Bau antiseptik menggantikan bau tanah hutan. Ia telah mandi, mengenakan pakaian bersih yang dipinjamkan oleh istri staf kedutaan, namun matanya tetap kosong.
Salah satu pejabat kedutaan mendekatinya. "Ibu Helen, kami sudah berkoordinasi dengan Jakarta. Instruksi dari pusat adalah memfasilitasi kepulangan Ibu dan Pak Ario secepat mungkin. Tiket pesawat sudah disiapkan untuk penerbangan besok malam."
Helen menatap pejabat itu. Ia tahu, "instruksi dari pusat" itu pasti sudah dicampuri tangan Beatrix. Ia tahu ada jebakan yang menantinya di Jakarta. Beatrix ingin dia pulang untuk dihina, untuk diinjak, dan untuk dibuang ke selokan.
"Terima kasih," jawab Helen pendek, suaranya sedingin baja.
Ia berbalik menatap Ario yang masih bernapas dengan bantuan oksigen. Tangannya yang kasar kini menggenggam tangan Ario.
"Tante Beatrix pikir dia bisa menjadikanku gelandangan," bisik Helen pada Ario yang terlelap. "Dia pikir tanpa uang dan tanpa rumah, aku tidak punya taring."
Helen menatap bayangannya di kaca jendela—seorang wanita yang telah kehilangan kalung ibunya, kehilangan harta ayahnya, namun menemukan jiwanya yang sebenarnya di dalam hutan maut.
"Dia lupa, bahwa gelandangan tidak punya beban. Dan orang yang tidak punya apa-apa lagi untuk dihilangkan... adalah orang yang paling berbahaya di dunia."
Penerbangan menuju Jakarta sudah di depan mata. Kepulangan yang dirancang Beatrix sebagai penghinaan, akan dijadikan Helen sebagai serangan balik yang tak terduga. Di bawah langit Bogota yang tenang, sebuah sumpah kematian terucap dari bibir sang putri yang telah bangkit.
****
Roda pesawat komersial itu menyentuh landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta dengan dentuman yang terasa hingga ke ulu hati Helen Kusuma. Suara mesin jet yang melambat terdengar seperti raungan duka di telinganya. Setelah berminggu-minggu bertaruh nyawa di pedalaman Venezuela dan kedinginan di Bogota, akhirnya tanah air berada di bawah kakinya. Namun, tidak ada rasa hangat dalam kepulangan ini. Jakarta menyambutnya dengan langit abu-abu yang pengap dan aroma polusi yang menyesakkan.
Helen menoleh ke arah Ario Diangga yang duduk di sebelahnya. Pria itu tampak lebih segar setelah perawatan intensif di KBRI, meski bahunya masih dibalut perban tebal di balik kemeja flanel yang dipinjamkan staf kedutaan. Mata Ario tidak pernah lepas dari jendela, menatap gedung-gedung pencakar langit yang mulai bermunculan seiring pesawat menuju terminal.
"Kau siap?" bisik Ario, suaranya rendah dan penuh kewaspadaan.
Helen menggenggam pegangan kursi hingga buku jarinya memutih. "Aku tidak punya pilihan lain selain siap, Ario. Dia sudah membukakan pintu untuk kita. Dia ingin kita masuk ke sarangnya."
Begitu mereka melewati pintu kedatangan internasional, suasana mendadak berubah mencekam. Tidak ada kerabat yang menyambut, tidak ada karangan bunga untuk putri sang legenda tekstil. Yang ada hanyalah empat pria berjas hitam dengan tubuh tegap dan tatapan tanpa emosi. Di tengah mereka, berdiri seorang pria berambut klimis dengan senyum sinis yang sangat dikenal Helen: Bambang.
"Selamat datang kembali, Nyonya Helen Ario Diangga," ucap Bambang dengan nada yang dibuat-buat sopan, namun sarat akan penghinaan. "Nyonya Beatrix sudah menunggu. Kendaraan sudah disiapkan."
Ario melangkah maju, menghalangi pandangan Bambang terhadap Helen. "Kami bisa pergi sendiri."
Bambang terkekeh pelan. "Ke mana, Tuan Ario? Ke rumah Menteng yang sudah diganti kuncinya? Atau ke hotel yang akunnya sudah dibekukan? Di Jakarta ini, kalian tidak lebih dari bayang-bayang. Ikutlah dengan kami, atau kalian akan tidur di trotoar bandara malam ini."