Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simfoni Waktu yang Baru
Debu konstruksi di Sektor Tujuh mulai mengendap, namun getaran dari The Chronosphere di kedalaman tanah masih terasa hingga ke permukaan, seolah-olah bumi sendiri memiliki detak jantung baru. Kabar mengenai penemuan "Ruang Arsip Waktu" milik Aris Kalani menyebar seperti api di musim kering, menjangkau markas-markas besar kepolisian internasional hingga ke meja para kolektor horologi paling berpengaruh di dunia.
Pagi itu, Jakarta tidak lagi terasa seperti kota yang menyesakkan bagi Sora. Ia berdiri di tepi lubang galian yang kini telah diperkuat dengan struktur baja modern, menatap ke bawah di mana para ahli forensik digital dan tim ahli horologi dari Swiss bekerja di bawah pengawasannya dan Hael.
"Ini adalah bukti fisik paling akurat dalam sejarah hukum modern, Sora," ucap Detektif Januar, yang baru saja naik dari ruang bawah tanah dengan wajah yang tampak sangat letih namun puas. "Setiap getaran suara yang terekam dalam roda gigi The Chronosphere telah kami konversi menjadi data audio. Alistair Vance tidak bisa membantah lagi. Rekaman suaranya saat memerintahkan pembakaran bengkel sepuluh tahun lalu terdengar sangat jernih."
Sora mengangguk, namun matanya tetap tertuju pada Hael yang sedang berbicara serius dengan seorang pria asing berpakaian militer di sudut area konstruksi. Pria itu memiliki lambang khusus di kerahnya—sebuah roda gigi yang dikelilingi pedang.
"Siapa dia, Hael?" tanya Sora saat Hael mendekat.
Hael menarik napas panjang, wajahnya tampak lebih tegang dari biasanya. "Itu Kolonel Draken dari Unit Keamanan Horologi Global. Mereka adalah organisasi bayangan yang selama ini mengawasi teknologi-teknologi waktu yang dianggap terlalu berbahaya untuk publik. Mereka tahu tentang The Infinite Spring, tapi mereka tidak pernah menyangka ayahmu sejauh ini menciptakan The Chronosphere."
"Apa maksudmu berbahaya?" Sora mengerutkan kening. "Ayahku menciptakan ini untuk keadilan."
"Keadilan bagi kita, Sora. Tapi bagi pemerintah dan kekuatan besar dunia, mesin yang bisa menyadap setiap pembicaraan melalui jam tangan adalah senjata pemusnah massal bagi privasi dan diplomasi," Hael merendahkan suaranya. "Mereka ingin menyita Chronosphere. Mereka ingin membawanya ke fasilitas rahasia di pegunungan Alpen."
Sora merasakan kemarahan lama mulai memercik kembali. "Mereka ingin mencurinya lagi? Sama seperti keluarga Vance? Aku tidak akan membiarkan karya ayahku menjadi alat politik siapa pun."
"Itu sebabnya aku meminta bantuan Liora," Hael menunjuk ke arah gerbang.
Sebuah sedan mewah berwarna hitam masuk ke area proyek. Liora Thalassa turun dengan anggun, kali ini tanpa tongkat penyangga. Ia tampak jauh lebih sehat, meski tatapan matanya tetap menyimpan kedalaman misteri yang sulit ditebak. Di belakangnya, berdiri seorang pria paruh baya yang memiliki aura kekuasaan yang sangat kuat.
"Sora, kenalkan ini Tuan Henri Dunant, ketua Dewan Horologi Internasional yang asli," Liora memperkenalkan pria itu. "Dia adalah satu-satunya orang yang memiliki wewenang hukum untuk mendeklarasikan Sektor Tujuh sebagai 'Situs Warisan Teknologi Terlindung'. Jika dia menandatangani dekrit ini, militer atau organisasi bayangan mana pun tidak bisa menyentuh mesin ayahmu tanpa memicu skandal global."
Sora menatap Tuan Dunant. Pria itu mendekati bibir lubang galian, menatap The Chronosphere yang berdenyut keemasan di bawah sana. Ia terdiam selama beberapa menit, sebelum akhirnya menoleh ke arah Sora dengan air mata menggenang di matanya.
"Aris Kalani bukan hanya seorang jenius, Mademoiselle," ucap Dunant dengan suara bergetar. "Dia adalah nabi bagi kami para tukang jam. Dia menciptakan keadilan yang tidak bisa disuap oleh detik yang palsu. Saya akan menandatangani dokumen itu sekarang juga."
Namun, di tengah momen haru itu, sebuah ledakan kecil terdengar dari arah gedung pencakar langit di seberang Sektor Tujuh. Asap hitam mengepul, dan sirene peringatan keamanan akademi mulai meraung.
Hael segera menarik Sora ke belakang pilar beton. "Mereka tidak akan menyerah dengan dokumen, Sora! Alistair Vance mungkin di penjara, tapi faksi-faksi gelap yang mendukungnya selama sepuluh tahun ini masih bebas. Mereka lebih suka menghancurkan The Chronosphere daripada membiarkannya mengungkap rahasia mereka!"
Sora mencengkeram jam saku ibunya. Ia menyadari bahwa peresmian akademi ini bukan sekadar seremoni pemotongan pita. Ini adalah awal dari perang yang lebih besar—perang untuk melindungi integritas waktu itu sendiri.
"Hael, nyalakan sistem pertahanan resonansi yang kita buat di Paris!" teriak Sora.
"Tapi itu akan mematikan seluruh listrik di sektor ini, Sora! Kita akan terjebak dalam kegelapan bersama mereka!"
Sora menatap mesin ayahnya yang abadi di bawah sana. "Mesin itu tidak butuh listrik, Hael. Dia butuh kita. Jika duniaku yang lain harus gelap agar kebenaran tetap bersinar, maka biarlah begitu."
Hael mengangguk, memberikan senyum tipis yang penuh keyakinan. Ia berlari menuju panel kontrol utama, sementara Sora berdiri tegak di depan The Chronosphere, bersiap menghadapi gelombang serangan pertama dari musuh-musuh barunya.
Angin kencang mulai berhembus di Sektor Tujuh, membawa aroma mesiu dan masa depan yang tak menentu. Babak baru dalam hidup Sora Kalani baru saja dimulai. Musuhnya bukan lagi seorang pengkhianat cinta, melainkan raksasa-raksasa yang bersembunyi di balik detik-detik dunia.
Sora memutar jarum jam di pergelangan tangannya. Tik. Tok. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, sang nakhoda waktu memiliki seluruh lautan kebenaran di bawah kendalinya.