NovelToon NovelToon
Diam-diam Membalaskan Dendam

Diam-diam Membalaskan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Balas Dendam
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: nita kinanti

Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.

Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.

Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.

Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.

Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Jebakan

Alvaro duduk di kursi plastik di teras rumah Suci. Dia melirik Suci dan tahu Suci sudah berusaha dandan semenarik mungkin, tetapi itu justru membuat Alvaro semakin merasa tidak enak.

Bagaimana kalau gadis licik ini benar-benar mengira kalau dia telah jatuh cinta kepadanya. Padahal ini hanya drama saja. Kalau bukan karena permintaan Zivanna dia tidak sudi melakukannya.

Sementara itu Suci tengah menikmati minuman kekinian yang tadi Alvaro bawa. Sesungguhnya, Alvaro sendiri tidak tahu minuman apa itu. Tadi Zivanna yang mempersiapkannya.

Sebelum ke sini, Alvaro mampir dulu ke rumah Zivanna. Di sana, gadis itu sudah menyiapkan minuman yang yang harus dia bawa dan dia serahkan kepada Suci, dan satu lagi, Alvaro harus memastikan Suci meminumnya.

Alvaro pikir itu akan sulit, tetap ternyata tidak sama sekali. Suci langsung meminumnya bahkan tanpa diminta.

"Ini enak, Dok. Rasa Red Velvet kesukaanku," ucap Suci sambil meletakkan cup yang isinya tinggal separuh ke atas meja plastik.

Alvaro tersenyum kaku. Dia merasa begitu tersiksa. Di dalam hatinya dia mengutuk dirinya sendiri kenapa mau saja dijadikan tumbal oleh gadis keras kepala itu. Kalau bukan karena cinta apalagi ini namanya?

Sebenarnya Alvaro tidak datang sendirian. Tadi dia berboncengan dengan Zivanna, tetapi gadis itu minta turun sebelum belokan ke arah rumah Suci. Dia tidak mengatakan akan kemana. Dia hanya memberitahu kalau Alvaro harus tetap di rumah Suci sampai Cahyo datang.

Diam-diam Alvaro melirik jam tangannya. Belum juga genap lima menit dia berada di rumah itu, tetapi rasanya seperti sudah lima jam. Dia terus menatap ke arah jalan setapak berharap laki-laki bernama Cahyo itu segera kelihatan agar dirinya bisa pergi dari sana.

"Kamu sendirian di rumah?" tanya Alvaro. Tiba-tiba dia kepikiran jika seandainya terjadi sesuatu dan mereka hanya berdua di rumah itu. Bagaimana kalau dia dijebak lalu dipaksa menikahinya?

"Iya, Dok. Ibu sedang ada urusan."

Jawaban Suci membuat Alvaro menjadi gelisah. Bagaimana kalau tiba-tiba warga desa datang lalu menuduh mereka berbuat yang tidak? Alvaro tahu betul bagaimana ketatnya norma susila di desa ini dan apa hukumannya jika melanggar norma itu.

Lima belas menit berlalu tanpa ada percakapan berarti. Rasanya sangat kaku. Suci terlihat gelisah. Tubuhnya mulai terasa panas. Tenggorokannya juga tiba-tiba terasa sangat kering.

Suci berpikir mungkin yang dia rasakan ini karena dirinya terlalu gugup jadi dia kembali meminum minuman yang tadi dibawa oleh Alvaro untuk mengusir rasa panas di dalam tubuhnya.

Bukannya menghilang, rasa panas itu justru menjalar ke seluruh tubuhnya. Ada sesuatu dalam diri Suci yang tidak bisa dia tahan. Tubuhnya tidak bisa tenang.

Seperti ada jiwa lain yang merasukinya, Suci tiba-tiba meraih tangan Alvaro. "Dok... "

Alvaro terkejut lalu segera menarik tangannya. Suci pun juga terkejut dengan ulahnya sendiri. Dia seperti tidak sadar dengan apa yang dia lakukan.

"Ma.. Maaf, Dok," kata Suci gugup sekaligus malu. Dia teringat kata-kata ibunya agar tidak bersikap memalukan tetapi ini dia malah menyambar tangan Alvaro lebih dulu.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Alvaro.

Suci menggeleng. "Maaf Dok, saya masuk dulu sebentar," ucapnya lalu bergegas pergi.

Suci benar-benar tidak tahan. Dia segera pergi ke kamar mandi dan sesampainya di sana dia langsung membasuh wajahnya dengan air, tidak peduli dengan make up-nya yang mungkin saja luntur. Saat ini yang dia inginkan hanya mengusir rasa panas yang dia sendiri tidak tahu dari mana datangnya.

Keluar dari kamar mandi, rasa panas itu tidak juga hilang. Suci justru semakin gelisah. Ada sensasi aneh di dalam tubuhnya yang dia tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya.

Suci masuk ke kamarnya. Dia ingin memoles ulang wajahnya dengan make up karena yang tadi sudah luntur ketika tadi dia mencuci muka.

Sementara di luar, Alvaro juga gelisah. Tetapi kemudian dia melihat Cahyo yang datang, diikuti Zivanna di belakangnya.

"Ada apa, Dok? Katanya Suci sakit dan butuh bantuan?" tanya laki-laki itu tanpa sedikitpun rasa curiga. Sebenarnya Suci mau sekarat pun Cahyo tidak begitu peduli. Tetapi karena Zivanna yang memintanya untuk datang dan melihat kondisi Suci, Cahyo pun melakukannya. Cahyo sedikit takut kepada Zivanna karena gadis itu mengetahui rahasianya, jadi dia menurut saja.

"Dia ada di dalam, kamu lihat saja. Saya tidak berani masuk karena saya orang asing," jawab Alvaro yang sudah di beri kode kedipan mata oleh Zivanna.

"Oh... Kalau begitu biar saya lihat ke dalam," ucap Cahyo. Laki-laki itu segera masuk ke dalam rumah tanpa berpikir dua kali.

Di tempat lain,

Ida tampak tersenyum puas. Minah memberinya sejumlah uang dan juga satu kresek besar berisi sembako sebagai tanda permintaannya maaf karena telah memecatnya tanpa sebab.

"Makanya, jadi orang jangan semena-mena. Mentang-mentang kaya lalu bisa bersikap seenaknya pada pegawainya. Hasilnya? Ladang jagungnya langsung kebakaran. Itu yang namanya karna dibayar kontan!" ucapnya sambil berjalan pulang. Dia sama sekali tidak memperhatikan jika jalan yang biasanya sangat sepi itu kini sedikit ramai.

Ida baru merasa janggal ketika melihat orang berbondong-bondong pergi ke arah yang sama dengannya dan sepertinya mereka sedang tergesa-gesa.

"Eh... Ada apa? Pada mau kemana ini?" tanyanya kepada salah seorang warga yang mendahuluinya.

"Itu mau lihat sidang. Katanya warga RT.5 ada yang tertangkap basah sedang berbuat mesum di dalam rumah," jawab orang itu sambil berlalu.

"Siapa warga RT.5 yang berbuat mesum itu?" gumam Ida sambil menebak siapa gerangan orang itu. "Apa jangan-jangan Suci dan dokter itu?" lanjutnya. Bukannya sedih, Ida justru terlihat sangat bahagia. Dia membayangkan warga desa meminta Alvaro untuk bertanggung jawab dan menikahi Suci.

"Ah... Senangnya... "

Bagi Ida itu bukanlah sesuatu yang memalukan, bahkan sebenarnya sangat dia harap-harapkan. Dia memang meminta Suci untuk menjaga sikap, tetapi kalau Alvaro yang memaksa mana mungkin Suci menolaknya.

Ida berjalan pulang dengan semangat. Membayangkan akan segera memiliki menantu seorang dokter membuat langkahnya terasa begitu ringan.

Sampai di rumah Ida mendapati orang-orang sudah mengerumuni rumahnya. Tanpa sedikitpun merasa malu Ida melewati orang-orang itu sambil bertanya "Ada apa?" dengan santainya.

"Saya mendapat laporan kalau anakmu membawa laki-laki ke dalam rumah. Dan ketika kami datang, kami mendapati Suci sedang berbuat mesum dengan seorang laki-laki di dalam kamarnya," terang ketua RT dengan wajah garang karena perbuatan seperti ini sangat memalukan.

"Ya sudah, Pak RT, tinggal dinikahkan saja. Kenapa begitu saja jadi masalah besar?" jawab Ida tenang.

"Apa mereka sudah berpakaian?" teriak Pak RT.

"Sudah," sahut suara dari dalam rumah.

"Kalau begitu, bawa mereka keluar! Kita harus menikahkan mereka secepatnya."

Tiba-tiba Suci berlari keluar lalu menangis sejadi-jadinya. "Ibu... Aku tidak mau menikah dengannya. Aku hanya mau menikah dengan dokter Alvaro," ruangnya.

"Kamu memang akan menikah dengannya, kan? Memangnya dengan siapa lagi?"

1
Ma Em
Zivana jebak Suci dgn Cahyo sama seperti waktu Suci sengaja menjebak Ayu dgn Cahyo , biar Suci merasakan bagaimana rasanya dijauhi orang2 karena sdh berbuat maksiat di kampungnya .
Ma Em
Balas perbuatan Suci buat Suci menyesal seumur hdp nya karena sdh merusak hdp Ayu , dan buat Suci merasakan nasibnya seperti Ayu agar Suci mengingat semua perbuatan nya pada Ayu .
Ma Em
Suci mau balas pada Bu Minah karena sdh pecat Bu Ida coba saja kalau berani , pasti Zivana langsung bertindak dan akan membalaskan dendam Ayu pada Bu Ida dan Suci .
Ma Em
Ayo Zivana balaskan dendam Ayu pada Suci juga pada Ida karena perbuatan mereka hdp Ayu jadi menderita .
Ma Em
Ayo Alvaro cari bukti yg kuat agar orang2 yg sdh jahat pada Ayu akan dapat hukuman yg setimpal ,terutama Bu Ida dan Suci hrs di beri pelajaran itu agar dia sadar dan sekalian masukan ke penjara .
Ds Phone
itu lah sebab nya
Ma Em
Semangat ga Alvaro segera membuka semua tabir yg Zivana hadapi dan Zivana bisa sehat kembali tdk diteror dgn mimpi mimpinya .
Ds Phone
dia jahat dengan ayu
Ds Phone
rasa mata tu dia punya
Ds Phone
cucu sorang memang susah hati
Ds Phone
dia ingat dia ayu
Ds Phone
cari kesepatan
Ds Phone
memang jahat perumpuan tu
Ds Phone
mimpi teruk lagi lah tu
Ds Phone
orang jahat dah cemburu
Ds Phone
dia melihat semus nya
Ds Phone
dia lihat apa perbuatan jahat meraka
Ds Phone
maaf sebab dah buat jahat
Ds Phone
muking dia kena rogol
Ds Phone
semua nya ada kaitan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!