Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.
Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.
Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.
Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35.
Suasana di dalam rumah perlahan menjadi lebih tenang, walaupun masih ada sedikit kecanggungan.
Sofia masih duduk di ujung sofa, kedua tangannya menggenggam gelas dengan hati-hati.
Dia meminum sedikit demi sedikit, seolah takut sesuatu yang baik itu akan tiba-tiba menghilang.
Zee duduk di hadapannya, memperhatikan dengan tenang.
Lia berdiri tidak jauh dari mereka, tetap waspada, namun kali ini sorot matanya lebih lembut.
Beberapa saat berlalu dalam diam, sebelum akhirnya Zee membuka pembicaraan. "Kamu tinggal di mana, Fia?" tanyanya pelan.
Sofia menatapnya, ragu sejenak, lalu menjawab. "Di kaki pegunungan, tidak terlalu jauh dari sini. Kalau jalan kaki mungkin sekitar satu jam." ucapnya dengan lirih.
Zee mengangguk pelan. "Kamu tinggal dengan keluarga?"
"Iya... Ayah dan Bunda," jawab Sofia, sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
Zee bersandar ringan. "Dan apakah kamu sering ke hutan ini untuk mencari makanan?"
Sofia mengangguk. "Iya, biasanya cari sayur liar, kadang buah yang bisa dimakan, dan kalau beruntung bisa dapat kelinci atau ayam hutan."
Percakapan itu mulai mengalir dengan lancar. Yang awalnya canggung, namun semakin lama, Sofia mulai terbiasa.
Meski masih menjaga jarak, setidaknya dia tidak lagi terlihat ingin melarikan diri setiap saat.
Namun di tengah percakapan itu... Suara notifikasi pesan masuk di ponselnya.
Ting!
Zee sedikit terkejut. Dia segera mengeluarkan ponselnya, lalu melihat layar yang menyala. Ada sebuah pesan.
AetherShop System Notification
* Terdeksi pengguna terdaftar di sekitar Anda.
*Nama: Sofia
*Riwayat Transaksi: Pembelian buah dan bibit tanaman
*Status: Pengguna Aktif.
Zee sedikit terkejut sesaat. Matanya menyipit, pelan-pelan Dia mengangkat pandangannya menatap Sofia.
"Sofia..." ucapnya pelan.
Sofia pun menoleh. "Iya, Kak?'
Zee sedikit ragu, lalu bertanya. "Kamu, pernah membeli buah atau bibit tanaman dari sesuatu yang aneh?"
Sofia terdiam. Pertanyaan itu membuatnya langsung menegang, matanya sedikit membesar.
Dia tahu tidak ada orang yang tahu selain kedua orangtuanya. Mereka juga sering mengingatkannya agar jangan sampai orang-orang di desa ini tahu, tapi kenapa perempuan di depannya ini tahu.
"Kak Zee... tahu?" suaranya hampir berisik.
Zee tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tenang, namun lebih serius.
"Sesuatu seperti... benda kecil? Mungkin berbentuk batu?"
Sofia langsung menegakkan tubuhnya. Tangannya yang memegang gelas sedikit bergetar.
"Iya Kak, Aku menemukannya di hutan."
Lia sedikit terkejut, namun tetap diam.
Zee melanjutkan, "Batu seperti apa?"
"Seperti kristal kecil. Warnanya bening, tapi kalau kena cahaya... seperti ada warna di dalamnya."
Zee dan Lia saling bertukar pandang, itu bukan kebetulan.
Sofia melanjutkan dengan suara pelan, namun kali ini ada sedikit semangat dalam nadanya.
"Waktu pertama kali aku sentuh... tiba-tiba muncul gambar di depanku."
Dia mengangkat tangannya, seolah mencoba menggambarkan sesuatu.
"Seperti jendela. Ada banyak gambar buah, sayur, dan bibit tanaman. Ada juga beberapa yang belum terbuka."
Zee menatapnya tanpa berkedip. "Itu pasti dari AetherShop," gumamnya pelan
Sofia mengangguk. "Aku tidak tahu namanya, tapi aku bisa memilih di sana. Kalau aku tekan, beberapa hari kemudian barangnya muncul di tempat yang sama aku menemukan batu itu."
Lia sedikit mengernyit. "Barangnya muncul begitu saja?"
Sofia mengangguk cepat. "Iya tiba-tiba ada, seperti dikirim dari langit."
Zee menghela napas pelan. Sekarang semuanya mulai masuk akal. Orang yang pernah memesan buah-buahan dan bibit itu ternyata Sofia.
Zee menatap Sofia lebih dalam. "Batu itu... masih kamu simpan?"
Sofia ragu sejenak. Lalu perlahan, dia mengangguk. "Iya Kak, aku simpan di rumah."
Jawaban itu membuat suasana kembali hening sejenak.
Namun kali ini, bukan karena canggung. Melainkan karena sesuatu yang jauh lebih besar.
Sebuah hubungan yang tidak terduga... kini mulai terungkap.
Di luar rumah, angin kembali berhembus pelan. Daun-daun bergesekan, menciptakan suara lirih yang nyaris tak terdengar.