Di tengah gemerlap Jakarta yang kontras, Nara Indira (25) menjalani kehidupan ganda yang berbahaya. Di bawah cahaya aula megah, ia adalah penari tradisional yang agung, namun di kegelapan Club Black Rose, ia bertransformasi menjadi penari erotis demi membiayai pengobatan kanker darah ibunya. Nara adalah wanita yang dingin, efisien, dan sangat menjaga harga dirinya di tengah profesi yang dianggap nista oleh dunia.
Takdir mempertemukannya dengan Bagaskara, CEO muda dari Prawijaya Group yang baru saja melangsungkan pertunangan bisnis dengan Sinta Mahadewi. Pertemuan tak sengaja di klub malam memicu obsesi gelap dalam diri Bagaskara. Terpesona oleh misteri dan ketegasan Nara, Bagaskara menawarkan harta demi satu malam bersama, sebuah tawaran yang ditolak mentah-mentah oleh Nara meski ia sedang terhimpit kebutuhan medis yang mendesak.
Konflik memuncak saat rahasia Nara mulai terancam dan Sinta menyadari perhatian tunangannya terbagi. Di antara perbedaan status sosial yang jurang dan tekanan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lemari Kertas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lebih Baik Jadi Perawan Tua!
Malam di pinggiran Jakarta tidak pernah benar-benar sunyi, namun bagi Romi, kesunyian di dalam rumah besarnya terasa mencekam sekaligus menggairahkan. Di tangannya, selembar foto hasil cetakan kasar yang sebarkan Sinta siang tadi dan dipungut oleh warga yang lalu sampai ke dirinya, menjadi pusat dunianya. Foto itu menangkap sosok Nara dalam pencahayaan remang-remang klub malam, tubuhnya meliuk elastis membelit tiang tari, kulitnya yang berkeringat memantulkan cahaya neon, dan matanya, meski tertutup riasan tebal, memancarkan aura sensual yang mematikan.
Romi menyeringai. Ibu jarinya mengusap permukaan kertas foto itu seolah sedang menyentuh kulit asli Nara.
"Jadi ini rahasiamu selama ini, Nara?" bisiknya dengan nada serak yang menjijikkan.
"Pantas saja kau selalu jual mahal padaku. Ternyata kau simpan tubuh indahmu itu untuk para pria hidung belang di pusat kota."
Romi merasa menang. Selama ini, ia selalu merasa kerdil setiap kali Nara menatapnya dengan pandangan menghina. Sebagai anak juragan tanah terkaya di kampung itu, Romi merasa bisa membeli apa saja, kecuali kehormatan Nara. Namun sekarang, kehormatan itu baginya hanyalah sebuah lelucon yang sudah terbongkar.
"Mas! Apa-apaan kamu ini?!"
Suara melengking Sarah memecah lamunan obsesif Romi. Istrinya itu berdiri di ambang pintu kamar dengan wajah yang sembap dan mata merah. Sarah sudah lama mencium gelagat suaminya yang masih mengejar-ngejar Nara, tapi melihat Romi memandangi foto kotor itu di tengah malam adalah puncak penghinaannya.
Sarah merampas foto itu dengan kasar. Matanya membelalak saat melihat isi gambar tersebut.
"Astaga, Mas! Kamu masih memikirkan perempuan ini? Kamu lihat sendiri, kan? Dia ini jalang! Perempuan murahan yang menjual tubuhnya demi uang!"
Romi tidak marah fotonya dirampas. Ia justru bersandar di kursi kayu jati besarnya dengan santai.
"Jaga mulutmu, Sarah. Dia bekerja untuk mencari uang."
"Uang haram, Mas! Uang haram!" teriak Sarah histeris. "Seluruh kampung sudah tahu. Ibunya kritis karena tahu anaknya jadi pemuas nafsu di klub malam! Dia sudah membuat ibunya sekarat karena malu. Apa kamu tidak punya otak? Kamu mau menikahi perempuan yang sudah bekas dipakai banyak orang?"
Romi berdiri, tinggi badannya menjulang mengintimidasi Sarah.
"Aku tidak peduli. Bekas atau bukan, dia punya daya tarik yang tidak akan pernah kamu miliki. Dan asal kamu tahu, statusnya yang sudah 'jatuh' ini justru menguntungkanku. Sekarang dia tidak punya harga diri lagi untuk menolakku."
"Kamu gila, Mas! Aku istrimu! Aku yang menemanimu dari nol!" Sarah mulai terisak, dadanya naik turun menahan sesak. "Jika kamu nekat membawa perempuan kotor itu ke rumah ini sebagai istri kedua, lebih baik kita cerai!"
Romi tertawa, tawa yang dingin dan tidak berperasaan. Ia melangkah mendekati istrinya dan berbisik tepat di telinganya.
"Silakan, Sarah. Urus surat cerainya besok. Aku tidak akan menghalangimu. Harta bapakku cukup untuk menghidupi sepuluh istri seperti Nara, dan aku tidak butuh istri yang kerjanya hanya mengeluh dan menangis seperti kamu."
Sarah jatuh terduduk di lantai, tangisnya pecah menjadi raungan yang memilukan.
"Kamu akan menyesal, Mas! Kamu akan menyesal karena menggilai setan berwajah malaikat itu! Dia akan menghancurkanmu!"
Romi tidak mengindahkan sumpah serapah istrinya. Ia mengambil kembali foto itu dari lantai, menyimpannya di saku kemeja, dan melangkah keluar rumah. Pikirannya sudah terbang ke rumah kecil di ujung gang tempat Nara tinggal. Ia tahu, dalam kondisi terjepit seperti ini, Nara pasti akan menyerah pada kekuatan uangnya.
Hujan baru saja reda menjadi gerimis tipis saat sebuah taksi berhenti di depan gang sempit menuju rumah Nara. Nara turun dengan langkah gontai. Wajahnya yang pucat tampak semakin layu di bawah temaram lampu jalan yang berkedip-kedip. Ia harus mengambil pakaian ganti untuk ibunya dan beberapa keperluan pribadi. Pikirannya masih tertinggal di ruang ICU, membayangkan bunyi mesin EKG yang terus menghantui pendengarannya.
Ia membuka pintu rumah yang terasa asing sejak kejadian serangan jantung ibunya. Setiap sudut ruangan itu seolah meneriakkan dosa-dosanya. Dengan cepat, Nara memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas kain, tidak ingin berlama-lama di sana. Rasa sesak itu hampir membuatnya pingsan jika ia tidak segera pergi.
Namun, saat ia keluar dari pintu depan dan hendak mengunci rumah, sebuah bayangan besar menghalangi jalannya.
"Mau buru-buru ke mana, Cantik? Rumah sakit atau kembali ke tiang tari?"
Nara tersentak. Jantungnya berdegup kencang karena kaget. Ia mendongak dan menemukan wajah licik Romi yang tersenyum penuh kemenangan.
"Pergi, Romi. Aku tidak punya waktu untuk meladeni kegilaanmu," ujar Nara dingin, suaranya parau namun tetap tegas.
Romi tidak bergeming. Ia justru melangkah maju, mempersempit jarak hingga Nara terdesak ke pintu kayu rumahnya. "Jangan galak-galak, Nara. Aku sudah tahu semuanya. Tentang pekerjaanmu diklub malam, tentang ibumu yang sekarang sekarat karena kelakuanmu. Aku tahu kamu butuh banyak uang sekarang untuk biaya rumah sakit, bukan?"
Nara mengepalkan tangannya. "Bukan urusanmu."
"Tentu saja jadi urusanku," Romi merogoh sakunya, mengeluarkan segepok uang tunai yang diikat karet, lalu menggoyang-goyangkannya di depan wajah Nara. "Biaya ICU itu mahal. Obat-obatan itu mahal. Belum lagi jika ibumu... yah, butuh biaya pemakaman jika dia tidak selamat. Kenapa kamu harus susah-susah membelit tiang di depan banyak lelaki kalau kamu bisa mendapatkan ini semua hanya dengan melayaniku di rumah?"
"Jaga bicaramu, brengsek!" desis Nara. Matanya mulai berkilat penuh amarah.
"Ayolah, Nara. Buang harga dirimu yang sudah tidak ada itu. Jadilah istri keduaku. Aku akan menjamin hidupmu, biaya rumah sakit ibumu, bahkan aku akan membelikan rumah ini dan merenovasinya jadi istana. Kamu tidak perlu lagi jadi tontonan laki-laki di klub. Cukup jadi tontonanku saja."
Nara menatap Romi dengan pandangan yang begitu tajam, seolah ingin melubangi kepala pria itu.
"Kau pikir semua wanita bisa kau beli dengan uang tanah bapakmu itu?"
"Dalam kondisimu sekarang? Ya," jawab Romi percaya diri. Ia mencoba menyentuh pipi Nara. "Jangan munafik. Kamu sudah menjual dirimu di sana, kenapa menolakku yang jelas-jelas ingin menikahimu?"
Nara menepis tangan Romi dengan kasar. Kelelahan dan kesedihan yang ia pendam sejak tadi sore meledak menjadi kemarahan yang murni.
"Dengar baik-baik, Romi," suara Nara bergetar karena emosi yang meluap. "Walaupun di dunia ini laki-laki yang tersisa hanya kau, aku bersumpah demi nyawa ibuku, aku lebih rela tidak menikah seumur hidup! Aku lebih rela membusuk sendirian daripada harus menyentuh kulitmu yang menjijikkan itu!"
Wajah Romi berubah merah padam. Egonya sebagai penguasa kecil di daerah itu tercoreng hebat.
"Kau! Perempuan jalang tidak tahu diuntung! Kau sudah kotor, masih berani berlagak suci?!"
Romi kehilangan kendali. Ia mencengkeram lengan Nara dengan kuat, mencoba menarik gadis itu ke dalam dekapannya secara paksa.
"Kau harus ikut aku! Aku akan mengajarimu cara menghargai laki-laki yang ingin menolongmu!"
"Lepaskan!" teriak Nara.
"Tidak akan! Kau butuh pelajaran, Nara!"
Nara merasa seperti hewan yang terpojok, namun dia bukan mangsa yang lemah. Ingatannya kembali pada hinaan Sinta, tatapan dingin para warga dan sekarang keberandalan Romi. Semua amarah itu berkumpul di satu titik. Saat Romi menariknya semakin kuat, Nara mengambil ancang-ancang.
Dengan gerakan cepat dan bertenaga yang ia latih selama bertahun-tahun sebagai penari yang harus memiliki otot kaki yang kuat, Nara mengayunkan kakinya.
Bugh!
Tendangan keras tepat mengenai ulu hati Romi. Pria itu tidak menyangka Nara akan melawan sekuat itu. Napas Romi terhenti seketika, matanya membelalak kaget sebelum tubuh tambunnya tersungkur ke tanah becek, memegangi perutnya yang terasa seperti dihantam palu godam.
"Ugh... kau... kau..." Romi terbatuk-batuk, wajahnya pucat karena rasa sakit yang luar biasa.
Nara tidak menunggu pria itu bangkit. Ia segera menyambar tasnya, berlari secepat kilat menuju mulut gang. Beruntung, taksi yang ia pesan tadi masih menunggu di sana karena sopirnya merasa khawatir melihat perdebatan di depan rumah tadi.
Nara masuk ke dalam taksi dengan napas memburu.
"Jalan, Pak! Cepat jalan ke Rumah Sakit!"
Taksi itu meluncur membelah kegelapan malam, meninggalkan Romi yang masih mengerang di atas tanah, memaki dalam kesakitan.
Di dalam mobil, Nara menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Bukan karena takut pada Romi, tapi karena ia merasa dunia benar-benar sedang mengeroyoknya tanpa ampun.
Di satu sisi ada Bagas dengan dunianya yang megah namun beracun, dan di sisi lain ada Romi dengan obsesinya yang rendahan.
"Ibu... bangun, Bu..." bisiknya lirih di tengah isak tangis yang tertahan. "Nara sendirian... Nara takut tidak bisa bertahan lebih lama lagi."
Sementara itu, di sebuah hotel mewah tak jauh dari rumah sakit, Bagas masih terjaga. Ia menatap layar ponselnya, menunggu kabar dari Suster Rahmi. Ia tidak tahu bahwa saat ia sedang merencanakan perlindungan untuk Nara, musuh-musuh baru mulai bermunculan dari masa lalu gadis itu, siap untuk mencabik-cabik apa yang tersisa dari hati Nara yang kini sudah retak seribu.
Malam itu, Jakarta tetap dingin, menyimpan rahasia tentang dendam yang membara, cinta yang obsesif, dan perjuangan seorang wanita yang nyaris kehilangan segalanya demi mempertahankan sisa-sisa martabatnya. Perang ini memang baru dimulai, dan bagi Nara, menyerah bukanlah sebuah pilihan, meski kakinya sudah sangat lelah untuk melangkah.
Cerita nya gak terlalu ngawang, khas Dan gak mudah ditebak next chapter nya. meskipun genre sama tapi aku selalu menemukan yg berbeda Dan itu bikin aku selalu nunggu Update nya.
semangattt, aku selalu nunggu...
Jatuh hati sama Nara, stay strong and be yourself♥️😊