sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: JALAN KE TIMUR
BAB 34: JALAN KE TIMUR
Perjalanan ke timur tidak pernah ramah.
Tiga hari pertama, mereka melewati desa-desa yang mulai pulih—ladang-ladang yang mulai menghijau, rumah-rumah yang diperbaiki, orang-orang yang kembali tersenyum. Aldric disambut sebagai pahlawan di setiap desa yang mereka lewati. Para petani berlutut, para ibu menangis bahagia, dan anak-anak berlarian di belakang kudanya, berteriak "Raja Aldric! Raja Aldric!"
Ren tertawa kecil melihat keramaian itu. "Om, mereka sayang Om."
Aldric tersenyum tipis. "Mereka sayang pada gagasan tentang raja, Nak. Bukan padaku."
Tapi Varyn, yang berjalan di sampingnya dengan kuda abu-abu tua, menggeleng. "Mereka sayang padamu, Aldric. Kau menyelamatkan mereka. Itu tidak akan pernah dilupakan."
Aldric tidak menjawab. Ia hanya melambai pada kerumunan, lalu memacu kudanya lebih cepat.
Memasuki hari keempat, pemandangan berubah.
Hijau mulai menghilang, digantikan oleh semak-semak kering dan tanah retak. Rumah-rumah semakin jarang, dan ketika mereka berhenti di sebuah sumur tua untuk mengisi persediaan air, seorang pria tua dengan wajah berkerut mendekati mereka.
"Kalian tidak akan ke timur, kan?" tanyanya, mata cemas.
Aldric mengangguk. "Kami harus."
Pria tua itu menggeleng. "Tidak ada yang ke timur. Sejak musim panas lalu, semua yang pergi ke timur tidak pernah kembali. Katanya, di sana ada... sesuatu. Sesuatu yang menyerap cahaya."
"Kegelapan Purba," gumam Varyn. "Ia mulai mempengaruhi wilayah sekitarnya."
Pria tua itu menatap Varyn dengan curiga—mungkin merasakan aura iblisnya. Tapi ia tidak bertanya lebih jauh. Hanya menghela napas.
"Aku sudah tua. Aku tidak bisa melarang kalian. Tapi setidaknya, bawalah ini."
Ia memberikan sebuah kantong kecil berisi garam—garam kasar, tapi bercahaya samar di bawah sinar matahari.
"Garam pemberkatan dari pendeta desa. Konon bisa mengusir roh jahat. Mungkin berguna."
Aldric menerimanya dengan hormat. "Terima kasih."
Mereka melanjutkan perjalanan.
Hari kelima, gurun mulai terlihat.
Bukan gurun pasir seperti yang dibayangkan Aldric, tapi gurun batu—hamparan bebatuan hitam yang membentang sejauh mata memandang, dengan langit kelabu di atas dan angin kering yang menyengat. Tidak ada satu pun pohon, tidak ada satu pun rumput. Hanya batu, debu, dan kehampaan.
Dan di kejauhan, samar-samar terlihat puing-puing bangunan kuno—reruntuhan Aeloria.
Ren menggigil di pelukan Aldric. "Om... dingin..."
"Dingin?" Aldric merasakan suhu udara—panas, sangat panas. Tapi tubuh Ren terasa dingin, seperti es.
Varyn mengendus udara. "Itu bukan dingin biasa. Itu dingin dari dalam. Kegelapan Purba menyerap kehangatan, menyerap kehidupan."
Aldric membuka kantong garam pemberian pria tua itu. Garam itu masih bercahaya, dan saat ia menaburkannya sedikit ke tubuh Ren, anak itu berhenti menggigil.
"Lepas."
"Terima kasih, Om."
Varyn menatap garam itu dengan rasa ingin tahu. "Garam pemberkatan. Sederhana, tapi efektif melawan kegelapan tingkat rendah. Tapi untuk yang di dalam sana..." ia menunjuk reruntuhan, "...kita butuh lebih dari itu."
Aldric menghela napas. "Ayo. Semakin cepat kita masuk, semakin cepat kita keluar."
Mereka meninggalkan kuda-kuda di tepi gurun—kuda-kuda itu tidak mau maju, ketakutan. Aldric, Varyn, dan Ren berjalan kaki memasuki lautan batu hitam.
Setiap langkah terasa berat. Bukan karena fisik, tapi karena sesuatu yang menekan jiwa. Udara terasa pekat, seperti berjalan di dalam air kental. Bayangan-bayangan di sudut mata terus bergerak, menghilang saat mereka menoleh.
Ren memejamkan mata, menggenggam tangan Aldric erat.
"Om, Ren lihat mereka lagi."
"Siapa?"
"Orang-orang yang pergi ke timur. Mereka... mereka masih di sini. Tapi tidak utuh."
Aldric mengerutkan dahi. Ia tidak melihat apa pun. Tapi Varyn mengangguk.
"Dia benar. Aku juga merasakannya. Jiwa-jiwa yang tersesat, terjebak di antara dunia."
Mereka terus berjalan. Reruntuhan Aeloria semakin dekat.
Sore harinya, mereka tiba di gerbang kota kuno.
Aeloria dulu pasti megah. Gerbangnya saja—yang masih berdiri meskipun retak—setinggi tiga puluh meter, dengan ukiran-ukiran rumit yang menggambarkan kejayaan peradaban yang sudah lama mati. Di atas gerbang, tulisan kuno masih terbaca samar.
"Kota Abadi, tempat para dewa berjalan," baca Varyn. "Ironis. Sekarang jadi kuburan."
Mereka masuk.
Di dalam, kehancuran total. Rumah-rumah roboh, jalanan terbelah, dan di mana-mana, patung-patung pahlawan berserakan—patah, terlindas waktu. Di tengah kota, sebuah piramida besar menjulang—satu-satunya bangunan yang masih utuh. Dari puncaknya, cahaya merah samar terpancar.
"Heart of Darkness," bisik Varyn. "Di sana."
Aldric melangkah maju—tiba-tiba, tanah berguncang.
Dari celah-celah jalan, bayangan-bayangan mulai keluar. Bukan bayangan biasa—mereka berbentuk manusia, tapi hitam pekat, tanpa wajah, dengan mata putih menyala. Puluhan, lalu ratusan. Mereka mengelilingi Aldric, Varyn, dan Ren.
"Jiwa-jiwa yang terjebak," kata Varyn. "Mereka tidak bisa dibunuh, karena mereka sudah mati."
"Lalu bagaimana?"
"Kita harus melewati mereka. Jangan tunjukkan rasa takut. Jangan tunjukkan keraguan."
Aldric mengangkat pedangnya—bukan Soulrender, tapi pedang besi biasa. Ia tidak yakin ini akan efektif.
Tapi Ren tiba-tiba berlari ke depan.
"REN!" teriak Aldric.
Anak kecil itu berdiri di tengah kerumunan bayangan. Matanya bersinar merah—Varyn ada di dalamnya. Dan dari mulutnya, suara aneh keluar—suara yang tidak pernah didengar Aldric sebelumnya. Suara kuno, bahasa sebelum bahasa manusia ada.
Bayangan-bayangan itu berhenti. Mereka menatap Ren, lalu perlahan membungkuk—seperti hormat, seperti takut.
Ren berbalik, tersenyum pada Aldric. "Om, ayo. Mereka kasih jalan."
Aldric terpaku. Varyn menepuk bahunya. "Aku sudah bilang, anak ini istimewa."
Mereka berjalan melewati lautan bayangan yang membungkuk, menuju piramida di tengah kota.
Piramida itu terbuat dari batu hitam yang sama dengan gurun di luar, tapi lebih gelap, lebih pekat. Seolah batu itu sendiri adalah kegelapan yang membeku. Pintu masuknya—lengkungan tinggi dengan ukiran makhluk-makhluk mengerikan—menganga seperti mulut raksasa yang siap menelan.
Varyn mengintip ke dalam. "Aku tidak bisa merasakan apa pun di sana. Kosong. Tapi tidak benar-benar kosong."
Aldric menghunus pedangnya. "Aku masuk duluan. Kalian di belakangku."
"Om, Ren di depan."
Aldric menatap anak itu. "Apa?"
"Mereka takut sama Ren. Varyn bilang, karena Ren kecil, mereka pikir Ren lebih dekat dengan... dengan yang di dalam."
Aldric mengerutkan dahi, tapi Varyn mengangguk. "Dia benar. Kegelapan Purba adalah entitas purba. Ia tidak mengerti konsep usia, kekuatan, pengalaman. Yang ia mengerti adalah kemurnian. Dan tidak ada yang lebih murni dari anak kecil."
Aldric ragu, tapi Ren sudah melangkah masuk.
"Om, ayo."
Mereka masuk ke dalam piramida.
Di dalam, gelap total.
Bukan gelap biasa—gelap yang menekan, gelap yang mencoba memasuki pikiran, mencoba menaklukkan. Aldric merasakan bisikan-bisikan di kepalanya—bukan kata-kata, tapi perasaan. Takut, marah, putus asa. Semua emosi negatif yang pernah ia rasakan, bangkit kembali.
Kau gagal melindungi keluargamu.
Kau gagal menyelamatkan Mira.
Kau gagal menjadi raja yang baik.
Ia menggeleng, mencoba mengusir suara-suara itu.
Di depannya, Ren berjalan dengan tenang. Anak itu tidak terpengaruh. Atau mungkin terpengaruh, tapi ia punya cara sendiri untuk melawannya.
"Om," bisiknya, "mereka hanya bicara omong kosong. Ren cuekin aja."
Aldric tersenyum getir. Anak kecil memberinya pelajaran tentang ketabahan.
Varyn berjalan di belakang, matanya merah menyala—satu-satunya cahaya di kegelapan itu. "Kita hampir sampai. Aku bisa merasakan jantung itu."
Lorong piramida berkelok-kelok, turun ke bawah. Semakin dalam mereka berjalan, semakin kuat tekanannya. Udara terasa seperti batu, napas terasa seperti berjuang melawan arus.
Akhirnya, mereka sampai.
Sebuah ruangan besar, bundar, dengan langit-langit tinggi menjulang. Di tengah ruangan, sebuah batu hitam raksasa—sebesar rumah—terapung di udara, berputar perlahan. Di permukaannya, urat-urat merah berdenyut seperti pembuluh darah. Dan dari dalamnya, suara berdetak—dum... dum... dum...—seperti jantung raksasa.
Heart of Darkness.
"Jantung Kegelapan Purba," bisik Varyn. "Masih tidur. Tapi detaknya... semakin cepat."
Aldric mendekat. Pedang di tangannya terasa berat, seperti tidak berguna.
"Bagaimana kita menghancurkannya?"
"Tidak bisa. Ia abadi. Tapi kita bisa memperlambat kebangkitannya." Varyn mengamati jantung itu. "Master Elian bilang, ada mantra pengikat kuno. Tapi butuh pengorbanan."
"Pengorbanan lagi?" Aldric hampir tertawa getir.
"Bukan nyawa. Tapi... sesuatu yang berharga. Kenangan, perasaan, ikatan." Varyn menatapnya. "Kau harus rela melepaskan sesuatu."
Aldric terdiam. Ia memikirkan Soulrender, memikirkan pelepasan dendam di makam Liana. Dan sekarang, harus melepaskan sesuatu lagi.
Ren tiba-tiba melangkah maju.
"Ren?"
Anak itu menatap jantung hitam itu. Matanya bersinar—bukan merah seperti saat Varyn, tapi putih, terang, seperti cahaya.
"Aku tahu apa yang harus kulakukan, Om."
"Ren, jangan—"
Tapi Ren sudah mengangkat tangannya. Dari tubuh kecilnya, cahaya putih menyebar—sangat terang, sangat hangat. Ia seperti matahari kecil di tengah kegelapan.
"Dia... dia menggunakan kemurniannya," bisik Varyn takjub. "Dia mengorbankan... kenangan tentang ibunya."
Aldric terpaku. Ren mengorbankan kenangan tentang Sera? Tentang ibunya sendiri?
Cahaya putih itu menyentuh jantung hitam. Urat-urat merah di permukaannya berhenti berdenyut. Detaknya melambat—dum... dum... lalu lebih lambat—dum... lalu berhenti.
Hening.
Jantung itu berhenti berputar. Ia membeku di udara, berubah menjadi batu biasa—hitam, mati, tidak bernyawa.
Ren jatuh.
Aldric berlari menangkapnya. "Ren! Ren!"
Anak itu membuka mata—sayu, lelah, tapi tersenyum.
"Om... Ren lupa... sedikit tentang Ibu... tapi... tapi Ren ingat Ibu sayang Ren... itu cukup..."
Ia tertidur.
Aldric memeluknya erat, air mata mengalir.
Varyn berdiri di sampingnya, menatap jantung yang telah membatu. "Dia anak yang hebat, Aldric. Kau beruntung memilikinya."
Aldric tidak menjawab. Ia hanya menggendong Ren, berdiri, dan berjalan keluar dari piramida.
Di belakang mereka, jantung kegelapan tetap membatu—tertahan untuk sementara waktu.
Berapa lama? Tidak ada yang tahu.
Mereka keluar dari piramida saat fajar menyingsing. Untuk pertama kalinya sejak memasuki Aeloria, langit terlihat—bukan biru, tapi abu-abu keemasan, seperti senja yang tertunda.
Bayangan-bayangan hitam yang tadi mengelilingi mereka sudah menghilang. Mungkin mereka bebas. Mungkin hanya bersembunyi.
Aldric menatap Ren yang masih tertidur di pelukannya. Wajah anak itu tenang, tapi ada kerutan kecil di keningnya—seolah sedang berusaha mengingat sesuatu yang hilang.
"Varyn."
"Ya?"
"Apakah ia akan lupa? Tentang Sera?"
Varyn diam sebentar. "Tidak sepenuhnya. Ia akan lupa momen-momen kecil—warna baju ibunya, aroma masakannya, suaranya saat mendongeng. Tapi cintanya... cinta tidak bisa dilupakan. Bahkan oleh kemurnian sekalipun."
Aldric menghela napas. "Kita harus pulang. Sera pasti cemas."
"Ya. Tapi perjalanan pulang akan lebih mudah. Jantung sudah membatu. Kegelapan di sekitarnya mulai surut."
Mereka berjalan meninggalkan reruntuhan Aeloria, meninggalkan piramida hitam, meninggalkan jantung yang tertidur.
Di belakang mereka, angin gurun mulai bertiup—mengikis jejak kaki mereka, menutup pintu kota kuno untuk selamanya.
Setidaknya, untuk saat ini.
Perjalanan pulang terasa lebih ringan. Bukan hanya karena beban yang berkurang, tapi karena langit mulai cerah, tanah mulai pulih, dan di beberapa tempat, rumput-rumput liar mulai tumbuh di antara bebatuan hitam.
Ren terbangun dua hari kemudian. Ia tersenyum pada Aldric, lalu pada Varyn. Tapi ketika ditanya tentang ibunya, ia hanya terdiam sebentar, lalu berkata, "Ibu baik. Ibu sayang Ren."
Ia lupa detailnya. Tapi esensinya tetap.
Sera menangis saat melihat mereka kembali. Ia memeluk Ren erat-erat, tidak mau melepaskan. Ren tertawa dalam pelukannya, meskipun matanya sedikit kosong.
"Bu, Ren kangen."
"Ibu juga, Nak. Ibu juga."
Elara menyambut Aldric dengan pelukan hangat. "Kau berhasil."
"Ren yang berhasil. Aku hanya mengawalnya."
Malam itu, mereka berkumpul di ruang makan istana—Aldric, Elara, Ren, Sera, Mira, dan Varyn yang mengecil. Master Elian datang terlambat, membawa kabar baru.
"Jantung membatu. Tapi tidak hancur. Ia akan bangkit lagi. Mungkin dalam seratus tahun, mungkin seribu. Tapi kita punya waktu."
Aldric menghela napas. "Waktu untuk apa?"
"Waktu untuk mempersiapkan. Untuk memastikan bahwa saat ia bangkit, dunia ini siap." Elian menatap Ren. "Dan waktu bagi anak ini untuk tumbuh. Karena ia akan menjadi kunci, lagi."
Ren tersenyum—masih polos, meskipun matanya tidak lagi sepolos dulu.
"Ren akan siap, Kakek."
Elian tertawa. "Kakek? Aku sudah ribuan tahun, anak kecil. Tapi baiklah. Kakek."
Semua tertawa.
Di luar, langit malam dipenuhi bintang-bintang—terang, berkelap-kelip, seolah ikut bersyukur.
Perang telah usai.