Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.
Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Hujan di luar masih turun perlahan, tetapi kehangatan yang sebelumnya memenuhi ruang keluarga seolah menghilang dalam sekejap. Cameron berdiri diam sambil menggenggam ponselnya erat. Tatapannya tajam dan penuh perhitungan, seolah pikirannya sedang bergerak cepat memikirkan sesuatu.
Sementara itu, Giana mulai merasa gelisah. Ia belum pernah melihat ekspresi Cameron sedingin itu sebelumnya. “Ada apa? Apa … apakah terjadi sesuatu?” tanyanya sekali lagi, kali ini dengan suara lebih pelan.
Cameron mengangkat pandangannya menatap Giana beberapa saat sebelum akhirnya berjalan mendekat. Cayden masih tertidur tenang, sama sekali tidak menyadari bahwa sesuatu mulai bergerak mengancam mereka.
“Mulai malam ini, jangan pernah keluar rumah sendirian. Jikapun kau memiliki urusan penting di luar, pergilah bersama salah seorang pengawal. Kau mengerti, kan? Ini semua demi keselamatan Cayden,” ucap Cameron tegas.
Kening Giana langsung mengernyit. “Ta-tapi kenapa harus begitu? Apakah kau memiliki musuh berbahaya? Apakah seseorang mulai menargetkan Cayden?” tanyanya lagi dengan cemas, ia mulai mengkhawatirkan Cayden dan keselamatan bayi itu.
Cameron menghela napas lalu mengangguk singkat. “Ada kemungkinan seseorang sudah mengetahui tempat ini dan sedang mengawasi kita.”
Jawaban itu membuat wajah Giana perlahan pucat. Refleks, ia menatap Cayden yang masih tertidur. Perasaan takut yang selama ini sempat mereda perlahan muncul kembali di dalam dadanya.
“Si-siapa yang sedang mengawasi kita? Apakah … apakah dia berniat mencelakai Cayden?” tanyanya lirih.
Cameron terdiam sejenak.Ia tidak ingin membuat Giana semakin takut, tetapi ia juga tidak bisa terus menutupinya.
“Bukan Cayden, tapi kau, Giana. Bisa jadi dia tengah mengawasimu,” jawab Cameron pada akhirnya. “Dan kemungkinan besar orang yang sama yang membuatmu terus berada dalam bahaya.”
Giana langsung memahami siapa yang dimaksud Cameron. Entah mengapa, hanya dengan memikirkan wanita itu saja sudah cukup membuat tubuhnya menegang. Regina membencinya, dan Giana mengetahui hal itu dengan sangat jelas.
“Kalau begitu, aku dan Cayden sebaiknya pergi saja dari sini,” ucap Giana pelan. “Aku … aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi.” Giana refleks menarik ujung lengan kemeja Cameron tanpa sadar.
Kalimat itu langsung membuat Cameron menatapnya tajam.
“Kau mau pergi ke mana?”
“Aku tidak tahu.” Giana menunduk. “Tapi aku tidak ingin terus merepotkan Anda.”
“Merepotkan apa maksudmu? Justru menjagamu tetap aman adalah tugas dan tanggung jawabku sekarang, Giana.” Nada suara Cameron berubah rendah. Ia berbalik dan melangkah semakin dekat hingga membuat Giana refleks menahan napas.
“Kau pikir aku melakukan semua ini karena terpaksa?” Tatapan pria itu terlalu dalam hingga membuat Giana kesulitan menjawab.
“Aku hanya … aku,” ucap Giana menggigit bibirnya pelan. “Aku tidak ingin hidup Anda semakin rumit hanya karena aku. Jika aku pergi, bukankah semuanya akan baik-baik saja?”
Cameron mengembuskan napas kasar lalu mengusap wajahnya sendiri. Untuk beberapa detik, ia terlihat seperti sedang menahan sesuatu di dalam dirinya.
“Sudah terlambat untuk itu,” gumamnya pelan.
Giana mengernyit bingung. “Apa?”
Namun Cameron tidak menjawab. Pria itu justru mengalihkan pandangannya pada Cayden yang mulai bergerak kecil dalam tidurnya. Dengan sangat hati-hati, Cameron meraih bayi itu dan memberikannya kepada pelukan Giana.
“Bawa dia ke kamar,” katanya pelan. “Aku akan bicara dengan Abraham.”
Giana ingin bertanya lebih jauh, tetapi ekspresi Cameron membuatnya mengurungkan niat. Ia akhirnya hanya mengangguk kecil lalu membawa Cayden ke lantai atas.
Tatapan Cameron mengikuti langkah wanita itu sampai menghilang di balik tangga. Dan ia mulai menyadari sesuatu yang selama ini terus berusaha ia abaikan. Ia tidak hanya ingin melindungi Cayden, tetapi juga ingin melindungi Giana.
Satu jam kemudian, rumah itu mulai dipenuhi penjagaan tambahan. Beberapa pria berpakaian hitam terlihat berjaga di area luar rumah. Mobil-mobil keamanan juga mulai berdatangan secara bergantian.
Giana yang melihat semua itu dari balik jendela kamar mulai merasa semakin tidak tenang. Situasi ini terasa terlalu besar untuknya. Ia hanyalah perempuan biasa yang kehilangan anak dan rumah tangganya dalam waktu bersamaan. Namun sekarang, hidupnya justru terjebak dalam rahasia keluarga besar yang rumit dan penuh kekuasaan.
Dan yang paling membuat Giana takut adalah kenyataan bahwa ia mulai terlalu terikat pada semua ini. Pada Cayden dan juga Cameron. Pikiran itu membuat dadanya terasa sesak. Ia berdiri diam di dekat jendela kamar sambil memandangi hujan yang masih turun di luar rumah. Suasana malam terasa tenang, tetapi justru ketenangan itulah yang membuat isi kepalanya semakin berisik.
Ketukan pelan di pintu membuat Giana tersentak dari lamunannya. “Masuk,” ucapnya pelan.
Pintu kamar terbuka perlahan dan Cameron masuk ke dalam. Pria itu sudah melepas jasnya. Kemeja putih yang dikenakannya sedikit terbuka di bagian atas, memperlihatkan kesan lelah yang jarang terlihat jelas di wajahnya. Rambutnya terlihat sedikit berantakan, seolah ia terlalu sibuk memikirkan banyak hal sampai tidak sempat memperdulikan penampilannya sendiri.
“Cayden masih tertidur, kan?” tanyanya pelan.
Giana mengangguk kecil sebagai jawaban.
Lalu, perlahan Cameron berjalan mendekat eab berdiri di samping ranjang bayi kecil itu. Tatapannya perlahan melembut saat melihat Cayden tertidur pulas sambil memeluk selimut kecilnya.
Untuk beberapa saat, suasana di antara mereka terasa sunyi. Kesunyian yang justru membuat jantung Giana berdetak semakin tidak karuan. Kehadiran Cameron di ruangan itu entah mengapa selalu membuat suasana berubah menjadi berbeda.
“Aku sudah meminta Abraham memperketat keamanan,” ujar Cameron akhirnya. “Jadi kau tidak perlu merasa takut.”
Giana menunduk pelan sebelum menjawab dengan suara lirih, “Aku tidak takut jika sesuatu terjadi pada diriku sendiri. Aku hanya takut jika sesuatu terjadi pada Cayden.”
Jawaban itu membuat Cameron menoleh menatapnya.
Dan lagi-lagi, perasaan aneh itu kembali muncul di dalam dirinya. Cara Giana menyayangi Cayden terasa begitu tulus hingga terkadang Cameron lupa bahwa wanita itu bukan ibu kandung bayi tersebut. Tidak ada kepura-puraan dalam setiap sentuhan dan tatapan Giana pada bayi itu. Semuanya terasa begitu nyata.
“Kau benar-benar menyayanginya,” gumam Cameron tanpa sadar.
Giana tersenyum kecil sambil menatap Cayden yang masih tertidur tenang. “Dia membuatku merasa hidup lagi.”
Kalimat sederhana itu justru membuat dada Cameron terasa sesak. Untuk kali itu, ia baru mulai benar-benar memahami seberapa dalam luka yang selama ini disembunyikan wanita itu. Secara tak langsung, Cayden tanpa sadar menjadi alasan baginya untuk tetap bertahan sampai sekarang.
Tatapan Cameron perlahan berubah lebih lembut. Ia tidak tahu kenapa, tetapi setiap kali melihat Giana bersama Cayden, ada bagian dalam dirinya yang ikut terasa hangat sekaligus nyeri.
“Kalau suatu hari nanti keluarga Anda mengambil Cayden dariku, apa yang harus aku lakukan?” tanya Giana tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat Cameron membeku sesaat. Tatapannya langsung tertuju pada wanita di hadapannya. Lisannya terkatup rapat, ia sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana jika Giana benar-benar pergi dari hidup mereka.
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi,” jawab Cameron tegas.
Jawaban spontan itu membuat keduanya sama-sama terdiam. Karena mereka sadar kalimat tersebut terdengar terlalu personal.
Giana buru-buru memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang kembali berdegup kacau. Ia tidak berani menatap Cameron terlalu lama karena takut pria itu menyadari sesuatu yang bahkan dirinya sendiri mulai kesulitan menyangkal.
Sementara itu, Cameron justru semakin sadar bahwa garis di antara mereka mulai kabur. Dan semakin lama ia berada di dekat wanita itu, semakin sulit baginya untuk kembali menganggap semua ini hanya sekadar tanggung jawab.
kami aman bersama cay (cucu rutherford family). jangan cari kami. kami akan pulang jika ayah sudah memahami.
abis tu...lost contact ke siapapun. kec org2 yg dipercaya. buat regina makin terpuruk krn obsesinya. menghilang smp cay blajar berdiri dan regina udh bangkrut bin rada waras😄😄😄krn...saham dibeli kelg giana yg baru ditemukan stl sekian lama. alias.. konglo ketemu konglo dan...remahan...hrus minggir lah😄😄😄