"Layani aku, Pria tampan... aku terpengaruh obat." Shanum berjalan mendekat dengan langkah limbung, memojokkan seorang pria yang bahkan tidak berani menatap matanya.
"Siapa kamu, Nona?! Keluar dari sini, aku bukan pelayanmu!" Rasyid mundur hingga punggungnya membentur tembok. Ia adalah seorang Kyai muda yang baru saja kembali dari Mesir, namun malam ini, kesuciannya terancam oleh wanita asing yang aroma alkoholnya menusuk indra penciuman.
Satu malam yang salah membawa Shanum ke dalam pelukan lelaki yang paling tidak mungkin ia sentuh. Niat hati melarikan diri dari kejaran pria hidung belang di penginapan itu, Shanum justru terjebak di kamar Rasyid—permata keluarga pesantren yang kehormatannya tak bercela.
Pintu yang tak terkunci menjadi saksi bisu saat keluarga besar dan guru spiritual Rasyid memergoki mereka dalam posisi yang mematikan reputasi. Tak ada pilihan lain selain pernikahan siri. Rasyid terpaksa memeluk 'noda' dan Shanum terpaksa menelan hinaan di pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlyn_2309 Lyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Di Atas Silsilah
Malam di pondok Hikmah tak lagi membawa kedamaian. Angin yang berhembus melalui celah celah ventilasi terdengar seperti rintihan panjang dari masa lalu yang terkubur. Di tengah keheningan yang mencekam, dua bayangan bergerak dalam senyap menuju ruang arsip di kediaman utama keluarga Al-Habsyi.
Shanum memimpin di depan. Langkah kakinya tak bersuara, sebuah keahlian yang ia asah dari jalanan keras bertahun-tahun dahulu. Di belakangnya, Zaki mengikuti dengan napas tertahan di kerongkongan. Hanya cahaya redup dari ponsel yang membelah kegelapan, menyoroti rak-rak kayu jati yang dipenuhi debu dan aroma khas kertas tua yang mulai lapuk.
"Mbak, jika kita ketahuan ...." bisik Zaki, keringat dingin membasahi pelipisnya. "Aapa kau bisa berkata hal lain? Kau tahu kau telah mengucapkan kaliamt yang sama sejak tadi sore." Shanum menatap sinis Zki dari atas sampai bawah. "Kau ini sangat payah, ingin menolong tuanmu tapi keberanian saja tidak ada."
"Aku hanya tidak terbiasa dengan cara seperti pencuri begini, Mbak. Aku merasa kita telah berdosa." Zaki mencoba membela dirinya. Seketika Shanum berkecak pinggang dengan mata melotot seoalh ingin menelan Zaki hidup-hidup. "Lalu kau ingin kita bagaimana,huh?"
"Mungkin kita bisa meminta izin."
Shanum memijit pelipisnya yang berdenyut mendengar jawaban dari orang kepercayaan suaminya. "Ya, baiklah. Ayo kita izin." Kata Shanum. Tubuhnya sudah berbalik ke arah luar.
"Beneran, Mbak?" Zaki menatap Shanum dengan mata berbinar dan ekspresi wajah penuh harap.
"Ya, nanti kita akan bilang seperti ini. Nuwun sewu, Abah, ijin nggih bdhe nggledah omahe Al-Habsyi. Kula ajeng ngindik dhot-dhotan arsip rahasiane. Yok, Zaki melu aku. ben sisan ngrasakne dadi samsak bareng!"(Permisi, Abah aku izin ingin memasuki rumah utama keluarga Al-Habsyi dan mengintip arsip rahasianya. Ayok, Zaki sekalian kita rasain jadi samsak barengan!)
Tanpa rasa besalah Zaki hanya tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi lalu bertanya. "Mbak bisa bahasa Jawa sejak kapan? Dan siapa yang mengajarmu?"
"BUAPAKMU!"
"Ojo ngamuk toh yo. Inyong kan, cuma nanya, Mbak."(Jangan marah dong. Aku kan, hanya bertanya, Mbak.)
"Pertanyaanmu iku gak pantes\, Zak! J*ncuk tenan kowe iki. Nek pisan engkas kowe kakehan cangkem\, gak usah nunggu Abah\, Tak cincang dhisik kowe!"(Pertanyaanmu itu tidak pantas\, Zak! Si*l*n sekali. Kalau sekali lagi seperti ini\, tidak perlu menunggu Abah\, aku sendiri yang akan mencincangmu!")
Emosi Shanum sudah kepalang meluap. Ia sampai memcondongkan wajahnya dengan mata melotot dan jari telunjuk yang mengarah tepat ke arah Zaki.
Dan lelaki itu mundur. Membekap mulutnya sambil mengangguk cepat dengan keringat dingin yang seketika mengalir deras.
Shanum kembali memasang wajah seriusnya. Matanya yang tajam tertuju pada seubah lemari besi kuno yang tersembunyi di balik lukisan kaligrafi tua.Dengan gerakan jemari yang presisi, ia mencoba memutar sandi brankas, mendengarkan dentungan halus di balik baja itu seolah sedang mendengarkan detak jantung rahasia.
Klik.
Pintu berat itu terbuka sedikit. Shanum menarik sebuah map kulit yang sudah mengeras. Di dalamnya, tumpukan kertas berwarna kekuningan tergeletak seperti saksi bisu yang menunggu untuk berbicara. Zaki membantu menerangi saat Shanum membuka lembar demi lembar.
Mata Shanum memebelalak. Itu adalah dokumen pengadilan dari dua dekade silam. Sebuah gugatan pencemaran nama baik yang diajukkan oleh seorang wanita berkebangsaan asing terhadap almarhum Kyai Besar. Gugatan itu menuntut pengakuan atas seorang anak laki-laki yang lahir dari sebuah "perjalanan rahasia" dari masa lalu. Na,un, catatan itu terhenti begitu saja. Kasus itu seperti ditelan bumi. Atau lebih tepatnya, dibungkam dengan kekuasaan dan harta.
Tetapi, bukan itu yang membuat jantung Shanum terpacu.Sebab, tepat di bawah dokumen hukum itu, terselip sebuah silsilah keluarga yang diga,bar tangan dengan tinta emas yang mulai pudar. Shanum terus menelusuri silsilah keluarga itu dengan jari yang gemetar.
Garis itu ditarik jauh melampaui kakek dan buyut Rasyid,hingga bermuara pada sebuah lambang yang sangat ia kenali dengan sangat baik; lambang yang sama persis seperti lambang yang terukir di punggungnya. Bedanya, pada lambang itu terdapat seekor singa putih yang berdiri gagah di depan simbol matahari terbit itu.
"Uthmaniyya-Aslan" bisik Shanum.Suaranya pecah.
Nama itu menghantam ingatannya seperti palu godam. Nama belakang "Usman" yang tercantum di sana bukanlah sekedar nama biasa. Itu adalah nama salah satu cabang paling berpengaruh dari kekaisaran Al-Sultanbeyli, penguasa bayangan di tanah Turki yang memiliki hubungan darah dengan para sultan.
Shanum memegang kepalanya yang mendadak berdenyut hebat. Nama itu .... ia pernah mendengarnya dalam kilasan memori masa kecilnya yang belum utuh.
"Ada apa ini, Zaki? Apa semua ini? Kita ingin mengetahui penyebab Kyai Besar membuangku dan membantu Rasyid bangkit dari keterpurukannya serta menyelamatkan pernikahan ini. Tapi, kenapa semakin banyak teka-teki yang muncul? Kenapa kekaisaran Turki ini tidak pernah berhenti mengganggu hidupku tetapi juga tidak memberkan jawaban yang lengkap?"
Zaki hanya terdiam mendengar rentetan pertanyaan dari istri tuannya. Ini adalah kali pertama sepanjang hidupnya dalam melayani Rasyid dia menemukan banyak sekali hal-hal yang besangkutan engan negeri Turki. Dan ini semua dimulai semenjak Shanum datang ke dalam hidup tuannya. Entah Shanum yang menjadi penyebab, atau takdir sendiri yang sedang bermain peran.
Setelah investigasi yang memusingkan itu, Shanum tidak kembali ke rumah Joglo. Ia melangkah masuk menuju kediaman Nyai Salamah. Ia tidak peduli dengan waktu yang sudah larut. Luka di hatinya butuh jawaban, atau dia akan gila dalam ketidakpastian.
Ia menemukan Nyai Salamah sedang duduk bersimpuh di atas sajadah, tasbih kayu cendana berputar cepat di jemarinya. Wajah Nyai Salamah tampak layu, seperti bunga yang kehilangan air selama berbulan-bulan. Semenjak ia menyadari kesalahannya terhadap menantunya serta kasus Rasyid yang menggemparkan kampung, membuat ia semakin terpuruk dalam lembah penyesalan.
"Nyai," suara Shanum datar, namun penuh tuntutan.
Nyai Salamah tidak menoleh. "Malam bukan waktu yang tepat untuk bertamu, Shanum."
"Malam adalah waktu yang paling tepat untuk membicarakan hal-hal gelap, Nyai." Shanum melangkah mendekat, melemparkan selembar salinan dokumen silsilah ke atas sakadah. "Siapa wanita bernama Maryam ini? Dan mengapa nama keluarga Al-Habsyi bersanding dengan nama besar Uthmaniyya-Aslan di silsilah ini?"
Tasbih di tanganNyai Salamah berhenti berputar. Bahunya yang tegap mendadak merosot, seolah beban seluruh pesantren kini menindih punggungnya. Ia menatap kertas itu dengan mata yang dipenuhi trauma masa lalu yang belum sembuh.
Nyai Salamah mendongak, matanya yang berkaca-kaca menatap Shanum dengan kepedihan yang murni. "Aku tidak mau membahas tentang hal ini, Shanum. Cukup tahu bahwa suamimu adalah orang yang baik."
Shanum terdiam. Ia melihat seorang istri yang dikhianati tetapi ada binar lain yang membuat misteri semakin luas. Tetapi guratan kecewa itu kini menular padanya. Sementara itu, di luar sana, dunia maya sedang membara. Yusuf berhasil mengibarkan bendera kemenangannya.
Berita tentang "Kyai Narkoba Berwajah Malaikat" merajai portal berita nasional. Opini publik benar-benar hancur. Di depan gerbang pesantren, beberapa warga mulai melakukan aksi bakar ban, menuntut agar Rasyid segera dipenjarakan.
Namun, di sebuah bar mewah yang tertutup bagi publik, Zein sedang menyesap wiskinya dengan tatapan bosan. Ia melihat layar televisi yang menampilkan wajah Rasyid yang menampilkan wajah Rasyid yang sedang tertunduk.
"Terlalu lambat," gumam Zein. Ia memutar-mutar pisau lipat di jemarinya yang pucat. "Rasyid masih punya pengikut yang percaya padanya. Dia masih punya 'cahaya' di mata beberapa orang."
Yusuf, yang duduk di sampingnya, mengerutkan kening. "Lalu apa rencana Anda, Tuan Zein? Bukankah reputasinya sudah hancur?"
Zein tersenyum, sebuah senyuman sosiopat yang tidak mencapai matanya. "Hancur di layar maya,Yusuf. Aku ingin menghancurkaknnya secara fisik di depan mata jemaahnya. Aku ingin mereka melihat 'Kyai' kesayangannya mereka melakukan dosa besar di depan mimbar sucinya."
Yusuf terbelalak. "Maksud Anda?"
"Besok adalah Jumat," Zein bangkit, merapikan setelan jasnya yang tak bercela. "Aku akan menampakkan diriku di sana. Bukan sebagai Zein, tapi sebagai Rasyid. Dengan wajah ini, dengan suara ini, aku akan menunjukkan pada mereka betapa nistanya seorang Kyai saat ia melepaskan topeng sucinya di bawah kubah masjid."
"Tapi itu terlalu berisiko!" Yusuf menelan ludah, ketakutan mulai merambat di hatinya melihat kegilaan pria di depannya.
Zein mencengkeram rahang Yusuf dengan kuat, memaksa pria itu menatap mata birunya yang sedingin es. "Risiko adalah bumbu untuk sebuah mahakarya, Yusuf. Besok, sejarah Pondok Hikmah akan berakhir dengan darah dan kehinaan. Dan aku akan menikmatinya sambil melihat kakakku membusuk dalam penyesalan yang tidak akan pernah berakhir."
Zein melangkah keluar menuju kegelapan malam, meninggalkan Yusuf yang gemetar sendirian. Sang bayangan iblis siap untuk mengambil alih tahta sang malaikat, dan tak ada satu pun orang di pesantren itu yang menyadari bahwa badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.
biarkan shanum bertemu keluarganya dulu, smua orang mengganggapmu rendah tapi shanum anggap kamu suami yg baik dan pantas dihormati...
shanum berharap pulang keturkey bisa hamil....
zein ingin menghancurkan nama baik rasyid Zen punya dendam kesumat kayaknya...
semoga aja rasyid segera kembali, mencari bukti-bukti akurat agar baik bersih...
yusuf dan zein jebloskan aja kepenjara, ada bukti-buakti yg kuat...
💪
apakah rasyid fan zein ada hubungan saudara....
rasyid sangat terpuruk telah difitnah sama yusuf, apalagi shanum cuekin rasyid tidak terima ulah ayah rasyid dulu sampai tega membuang shanum dirumah bordir🤭
kayaknya yusuf punya dendam kesumat sama rasyid, yusuf berusaha menjatuhkan rasyid...
shanum dan rasyid lebih hati-hati sama yusuf sangat jahat dan licik..