Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.
Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.
Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Ia membuka chat Bryan.
Layar putih dengan gelembung pesan biru dan abu-abu muncul di hadapannya.
Jari-jarinya berhenti di atas keyboard.
Tidak langsung bergerak.
Ia menarik napas perlahan.
Lalu mulai mengetik.
Yusa:
> Aku mau ngomong sesuatu.
Ia menatap kalimat itu.
Sederhana.
Tapi terlalu berat.
Ia menghapusnya.
Satu huruf.
Dua.
Sampai layar kembali kosong.
Yusallia menggigit bibir bawahnya pelan.
Jarinya kembali bergerak.
Yusa:
> Bryan, lo lagi sibuk ga?
Ia menatap pesan itu beberapa detik.
Tidak seberat kalimat pertama.
Lebih aman.
Lebih biasa.
Namun justru terasa terlalu biasa.
Terlalu ringan untuk sesuatu yang sedang menekan dadanya begitu kuat.
Ia menghapusnya lagi.
Layar kosong.
Kepalanya menunduk.
Napasnya terasa pendek.
Ia mencoba lagi.
Yusa:
> Gue butuh ngomong sama lo.
Kalimat itu berhasil bertahan sedikit lebih lama.
Yusallia menatapnya.
Lalu merasa tenggorokannya kembali mengering.
Butuh ngomong sama lo.
Bryan pasti akan tahu ada yang salah.
Bryan memang bukan orang bodoh. Ia cukup mengenal dirinya untuk bisa membaca perbedaan kecil dari susunan kata.
Kalimat itu tidak akan terdengar biasa.
Ia menekan layar lebih lama.
Lalu menghapus semuanya lagi.
Sekarang ponselnya kembali kosong untuk ketiga kalinya.
Yusallia menutup mata.
Jari-jarinya mulai dingin.
Ia tidak tahu kenapa mengetik beberapa kata sederhana bisa terasa sesulit ini.
Mungkin karena setelah ini, ia tidak akan bisa mundur lagi.
Mungkin karena ia takut pada reaksi pertama Bryan.
Mungkin karena ia takut mendengar dirinya sendiri akhirnya mengakui semuanya.
Beberapa detik berlalu.
Lalu tanpa banyak berpikir lagi, ia mematikan keyboard dan menatap nama Bryan di bagian atas layar.
Jarinya bergerak ke ikon panggilan.
Yusallia menghembuskan napas pelan, lebih panjang dari sebelumnya.
“Kalau bukan sekarang… kapan lagi?” gumamnya sangat kecil.
Tidak ada yang menjawab, tentu saja.
Hanya kesunyian kamar yang tetap sama.
Lalu, sebelum dirinya sempat ragu lagi, ia menekan tombol panggil.
Suara sambung terdengar.
Yusallia menahan napas.
Tangannya mulai mencengkeram ponsel sedikit lebih erat.
Setiap bunyi terasa seperti detik yang terlalu panjang.
Lalu sambungan itu terangkat.
“Hallo?” Suara Bryan terdengar jelas di seberang sana.
Hangat.
Sedikit berat, mungkin karena malam sudah cukup larut.
Namun tetap sama seperti biasanya.
Dan hanya dari satu kata itu saja, tenggorokan Yusallia langsung terasa sesak.
Ia membuka mulut.
Namun suaranya tidak langsung keluar.
“Yusa?” Nada suara Bryan berubah sedikit. Lebih waspada.
“Lo kenapa?” tanya Bryan.
Yusallia menutup matanya.
Bryan selalu begitu.
Langsung tahu ketika ada sesuatu yang tidak beres.
“Gue…” suaranya keluar lebih pelan dari yang ia kira. “Lo lagi sibuk?”
Di seberang sana terdengar suara kecil, seperti Bryan sedang berpindah tempat atau duduk lebih tegak.
“Enggak,” jawabnya cepat. “Gue enggak sibuk.”
Lalu jeda sepersekian detik.
“Kenapa?” tanya Bryan lagi.
Pertanyaan itu tidak ditekan.
Tidak memaksa.
Namun cukup untuk membuat dada Yusallia terasa semakin berat.
Ia menarik napas.
Mencoba bicara.
“Gue… butuh ngomong sama lo.” Kalimat itu akhirnya keluar.
Suara Yusallia terdengar aneh di telinganya sendiri.
Lebih kecil.
Lebih rapuh.
Tidak seperti dirinya.
Dan Bryan langsung menangkapnya.
“Yusa.” Kali ini namanya dipanggil lebih pelan.
“Ada apa?” tanya Bryan lebih serius.
Yusallia menunduk.
Satu tangannya menekan ujung selimut di sampingnya, seolah ia butuh sesuatu untuk ditahan.
Ia ingin langsung bicara.
Ingin langsung mengatakan semuanya.
Tapi kalimat itu terasa seperti batu besar yang tersangkut di tenggorokannya.
“Gue…” ia berhenti.
Membuka mulut lagi.
Menutupnya lagi.
Bryan tidak menyela.
Tidak memaksa.
Namun keheningan di seberang sana justru terasa lebih berat.
Karena ia tahu Bryan sedang menunggu.
Benar-benar menunggu.
“Yusa, lo bikin gue khawatir.” Nada suara Bryan tetap lembut.
Tapi sekarang jelas terdengar ada ketegangan tipis di dalamnya.
“Lo di rumah?” tanya Bryan.
“Iya.”
“Lo sendirian?”
“Iya…”
“Lo nangis?” Pertanyaan itu membuat Yusallia terdiam.
Ia menyentuh wajahnya dengan tangan bebas. Tidak ada air mata di sana.
Namun entah kenapa, pertanyaan itu justru membuat matanya terasa panas.
“Enggak,” jawabnya cepat.
Terlalu cepat.
Bryan menarik napas di seberang sana.
“Yusa, dengerin gue.” Suaranya kini lebih tenang. Lebih stabil. Seperti seseorang yang sedang berusaha menjadi tempat pijakan.
“Apa pun itu, lo ngomong aja pelan-pelan. Gue dengerin.”
Kalimat itu sederhana.
Namun justru karena sederhana, dada Yusallia terasa semakin sesak.
Ia menutup matanya.
Bryan dengerin.
Bryan memang akan mendengarkan.
Dan tiba-tiba, kesadaran itu terasa seperti sesuatu yang hampir membuat pertahanannya runtuh.
“Gue takut…” Kalimat itu akhirnya lepas.
Sangat pelan.
Sangat jujur.
Dan begitu keluar, Yusallia langsung menunduk lebih dalam. Seolah malu karena akhirnya suara hatinya terdengar begitu telanjang.
Di seberang sana, Bryan langsung diam.
Sunyi beberapa detik.
Lalu ia bertanya, lebih pelan dari sebelumnya. “Takut kenapa?”
Yusallia menggenggam ponselnya lebih erat.
Jantungnya berdetak sangat cepat sekarang.
Ia sudah sejauh ini.
Ia tidak bisa mundur.
Tidak sekarang.
Bibirnya terbuka, tapi suara yang keluar tetap kecil.
“Bryan…” Ia memanggil nama itu dulu, seolah butuh memastikan bahwa orang di seberang benar-benar ada.
“Iya?”
“Gue…” napasnya bergetar sedikit. “Aku enggak bisa bilang ini lewat chat.”
Bryan langsung menjawab tanpa jeda. “Yaudah. Gue ke sana sekarang.”
Yusallia buru-buru menggeleng, meskipun Bryan tidak bisa melihatnya. “Jangan.”
“Kenapa?”
“Jangan ke rumah.”
“Terus?”
Yusallia menelan pelan.
Pikirannya berusaha mencari bentuk paling aman untuk percakapan ini.
“Aku mau ketemu… tapi bukan di rumah.”
“Sekarang?” Pertanyaan itu lembut, tapi jelas.
Yusallia melirik jam di layar ponselnya.
Malam sudah cukup larut.
Namun rasanya ia tidak sanggup menunggu sampai besok siang.
Kalau ia menunggu terlalu lama, ia takut keberaniannya hilang lagi.
“Iya,” jawabnya pelan.
Bryan diam sebentar.
Lalu bertanya, “Lo yakin?”
Yusallia menutup mata.
Tidak sepenuhnya yakin.
Tapi ia lebih tidak yakin lagi kalau harus menahan semuanya sampai besok.
“Iya.”
Di seberang sana terdengar suara Bryan bergerak. Seperti mengambil kunci atau berdiri dari tempat duduknya.
“Oke,” katanya cepat. “Lo mau ketemu di mana?”
Yusallia berpikir sebentar.
Lalu menyebut sebuah cafe yang cukup sepi dan buka sampai larut, tempat yang pernah beberapa kali ia datangi bersama Bryan saat mereka masih kuliah.
Tempat netral.
Tempat aman.
Bryan langsung mengiyakan. “Gue ke sana sekarang.”
Lalu, sebelum ia sempat menutup panggilan, suaranya berubah sedikit lebih lembut. “Yusa.”
“Iya?”
“Gue enggak tahu ada apa. Tapi dari suara lo aja gue tahu ini serius.”
Jantung Yusallia menegang.
Bryan melanjutkan, pelan dan mantap. “Jangan takut datang sendiri. Gue bakal ada di sana.”
Untuk beberapa detik, Yusallia tidak bisa menjawab.
Dadanya terasa sangat penuh.
Bukan karena masalahnya jadi lebih ringan.
Tapi karena untuk pertama kalinya sejak melihat dua garis itu, ia merasa tidak sepenuhnya sendirian.
“Iya…” jawabnya akhirnya, pelan.
Bryan menarik napas kecil. “Oke. Hati-hati di jalan.”
“Iya.”
“Kalau lo merasa enggak sanggup nyetir, bilang ke gue. Gue jemput.” kata Bryan menawarkan.
“Gue masih bisa nyetir.”
“Yakin?”
Yusallia hampir tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu.
Bahkan di saat seperti ini, Bryan masih tetap Bryan.
“Iya.”
“Oke.”
Lalu jeda kecil.
Namun sebelum telepon benar-benar ditutup, Bryan berkata lagi—lebih hati-hati kali ini. “Yusa…”
“Hm?”
“Apapun yang mau lo bilang nanti… gue harap lo tahu satu hal dulu.”
Yusallia menunggu.
Suara Bryan terdengar lebih rendah.
Lebih tulus.
“Lo enggak sendiri.”
Napas Yusallia tertahan.
Kalimat itu masuk terlalu dalam.
Tepat ke bagian dirinya yang sejak tadi paling merasa rapuh.
Untuk sesaat, ia tidak bisa bicara.
Hanya menggenggam ponselnya lebih erat dan menatap kosong ke depan.
“Iya,” jawabnya akhirnya. Sangat pelan.
Telepon berakhir setelah itu.
Layar ponsel perlahan meredup di tangannya.
Kamar kembali sunyi.
Namun kesunyian kali ini terasa sedikit berbeda.
Masih berat.
Masih penuh.
Tapi tidak setajam tadi.
Yusallia menurunkan ponselnya pelan ke atas tempat tidur.
Ia menatap ke depan beberapa detik.
Bryan akan datang.
Tidak.
Bryan akan menunggu di sana.
Dan ia harus pergi.
Ia harus benar-benar mengatakan semuanya.
Bukan ke cermin.
Bukan ke dalam hati.
Tapi ke orang lain.
Ke seseorang yang akan mendengar setiap kata itu dengan jelas.
Dadanya kembali berdebar cepat.
Namun kali ini bukan hanya karena takut.
Ada juga rasa gentar yang datang bersama keputusan.
Yusallia berdiri perlahan dari tempat tidur.
Kakinya masih terasa sedikit lemas.
Tapi ia tetap bergerak.
Menuju lemari.
Menuju tas kecilnya.
Menuju malam yang, ia tahu, akan mengubah banyak hal begitu ia membuka mulut nanti.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia tidak lagi hanya duduk diam bersama ketakutannya.
Ia mulai berjalan menemuinya.