Dunia ini kejam, tak ada kebahagiaan yang kekal, ujian selalu datang, maka jangan jadi orang yang lemah.
Di tengah hutan terpencil terdapat tempat pelatihan pembunuh bayaran, suatu organisasi dunia gelap yang dibentuk oleh bos mafia besar asia yaitu Bos Jamal.
disanalah tempat tinggal seorang pemuda bernama Bayu yang telah ditinggalkan orang tuanya sejak masih berumur sepuluh tahun. kini 12 belas tahun telah berlalu namun bayangan tragedi kematian kedua orang tuanya masih terngiang dikepalanya.
Ditempat pelatihan pembunuh bayaran ini lah ia dilatih oleh sang paman menjadi mesin pembunuh yang jenius untuk membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya.
kehidupannya mulai berubah saat ia mengenal seorang gadis yang bernama Anita, sosok dosen cantik yang dapat menyentuh hatinya.
ideologinya sedikit demi sedikit mulai berbeda, tentang asmara, balas dendam, maupun apa yang telah diwariskan, semua memiliki batu sandungan yang harus diterjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pena pedang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghapus jejak.
Air hujan membasahi rambut dan baju Anita.
Mata itu memerah, namun tak ada yang tahu apakah genangan air yang tumpah dari mata Anita adalah air mata tangis atau air hujan.
Satu hal yang pasti dadanya terasa sakit meski ia tahu tak ada luka yang nyata diluar, namun sakit itu memang nyata dan terasa sesak.
"Apakah aku mulai mencintainya?".
"Apakah aku mulai sadar bahwa aku takut kehilangannya?."
Pertanyaan demi pertanyaan muncul dibawah tetesan air hujan,
Langkah kakinya tertatih-tatih, berjalan dibawah guyuran air hujan.
Bibir merah itu meleleh, hidung mancung yang kini sedikit tersumbat, ia menangis terisak-isak.
Dari balik pohon di samping jalan setapak, pinggiran jalan raya, Bayu berdiri terdiam ditengah guyuran air hujan.
Ia menatap Anita yang sedang melangkah sedikit terhuyung dari jauh, kini hanya itu yang mampu ia lakukan, demi keselamatannya, demi rasa takut dari bahaya yang mengintai, dari ancaman yang membayanginya, sebab ia sadar kakeknya gak akan main-main tentang semua yang telah diucapkan,
Tiga foto, ancaman itu kembali muncul dalam ingatannya, "aku akan mengambil semua yang telah kamu genggam", ancaman itu semakin terasa nyata.
"hiduplah sebagaimana kamu hidup sebelum mengenalku, maaf, aku telah hadir di hidupmu... Itu sebuah kesalahan terbesarku," gumam Bayu pelan, bibirnya sedikit bergetar.
Waktu berlalu sekejap mata.
Malam itu terasa ada sesuatu yang hilang.
Anita duduk di atas kasur memakai handuk.
Tatapannya menatap tembok.
Hanya menatap kosong kedepan, namun genangan air matanya tumpah kembali melewati pipinya.
Ia tak menghapusnya, "apa yang terjadi padanya, kenapa tiba-tiba kau berubah saat aku....," tangannya menggenggam erat pada seprai kasur, "saat aku mulai menyukaimu", gumamnya pelan, sangat pelan dalam tangisan yang hampir tak terdengar oleh telinga.
........
Diluar rumah, hujan semakin deras, seolah langit tahu, bahwa malam ini memang ada sebuah jejak langkah yang seharusnya dihapus.
Bayu terdiam duduk di sofa.
Matanya menatap kearah layar ponselnya yang dari tadi menyala.
Sebuah nama kontak yang tercetak di sana.
Anita.
Nama itu ia tatap begitu lama, sampai waktu tak ia hitung berapa lama ia terdiam disana.
Blokir kontak, kata itu terpampang jelas dilayar ponselnya, namun ketika jarinya hampir menyentuh layar, jari itu berhenti untuk sesaat.
"Aku akan mengambil semua yang telah kamu genggam", kata itu kembali muncul.
Bayu kembali diam tak bergerak namun tatapannya masih terkunci pada layar.
Akhirnya ia mengurungkan niatnya, kemdian mematikan layar ponsel lalu keluar dari rumah.
Ia berdiri didepan teras, hujan masih deras, sesekali cipratan air hujan itu membasahi wajahnya.
Bola mata yang hitam di kelilingi genangan air mata yang dihiasi warna merah, membuat ia sadar dan menyesali semua yang terjadi, bahwa tak seharusnya dia memiliki perasaan pada wanita, tak seharusnya ia menyeret wanita yang tak tahu apa-apa dalam hidupnya memasuki kehidupannya yang penuh bahaya.
Bayu menutup matanya yang mulai terasa perih.
.....
"Jangan bersuara, ibu akan kembali" wajah cantik keibuan memegang erat pundak dan pipi Bayu kecil.
Tangan itu masih terasa lembut dan hangat, seperti sebelumnya saat tragedi itu belum terjadi.
Pelukan hangat seorang ibu melindunginya dan berusaha menyembunyikan tubuh mungilnya.
Bayu kecil tak berhenti menangis berusaha tak bersuara saat ibu dan ayahnya dibunuh dengan kejam.
Dan mata kecil anak itu terpejam, hitungan waktu yang berjalan terlihat gelap, hingga kesadaran sedikit demi sedikit menjadi hilang.
.........
Bayu membuka matanya pelan.
Hujan telah berubah menjadi gerimis lalu menjadi tetesan yang sedikit demi sedikit menghilang sepenuhnya.
Bayu mengambil tempat duduk di teras.
Matanya mulai terpejam kembali, kali ini bukan tentang sebuah beban atau mengingat tentang ancaman, melainkan karena hari-hari ini terasa sangat melelahkan.
.........
Pagi datang secepat kedipan mata.
Sinar matahari menyentuh tubuh Bayu.
Sentuhan itu terasa hangat, setelah melewati dinginnya air hujan semalam.
Tanah dihalaman masih sedikit basah.
Bayu berjalan keluar rumah.
......
Hari ini hari dimana kampanye besar digelar.
Pertunjukan konser amal.
Di lapangan besar salah satu tempat pagelaran konser telah dipenuhi orang-orang. Para penonton dengan memakai kaos seragam pemilu bergambar foto wajah pak Herman calon walikota baru.
Tak luput juga para wartawan yang telah bergerombolan mengambil tempat disudut setiap lapangan, menyiapkan diri mengambil berita yang terbaik.
Bayu membaur di tengah-tengah para penonton. Tatapannya tajam menyapu kearah panggung.
Disana banyak penyanyi terkenal yang sedang berkumpul, para model dan para orang-orang penting.
Konser digelar tiga jam penuh.
Sedang mata Bayu terus mengamati dari jauh.
Setelah pertunjukan itu selesai Bayu tak langsung pulang seperti penonton pada umumnya, namun ia berjalan masuk dengan santai ke ruang ganti menyamar sebagai petugas keamanan.
Langkahnya santai dan meyakinkan,
"Berhenti", teriak salah satu petugas dari arah samping.
Bayu berhenti dan menoleh.
"Petugas dilarang masuk ruang ganti", lanjut petugas itu.
Bayu terdiam.
Petugas itu berjalan mendekat, namun ketika tangannya mencoba menggapai kalung tanda pengenal.... "Plak", pukulan tangan Bayu tepat kearah leher petugas.
Petugas itu jatuh tak sadarkan diri, Bayu segera menyerat dan menyembunyikan tubuh petugas itu.
Di dalam ruangan, pak Herman duduk santai, membawa kertas pidato mencoba menghafal isinya untuk pertemuan kampanye selanjutnya.
Tatapannya terus mengunci pada kertas pidato.
Pintu terbuka.
"Kalimat bagus tak menentukan hasil yang bagus tanpa dibarengi tingkah yang baik", Bayu berdiri ditengah pintu ruang ganti yang telah terbuka lebar.
Wajah pak Herman berubah mengeras, "kamu siapa?" Teriaknya geram.
Bayu tak menjawab, hanya melangkah maju kedepan.
Pak Herman mulai panik, "penjaga-penjaga", teriaknya spontan,
Namun tak ada satu penjaga pun yang datang memenuhi panggilannya.
Ia semakin panik, melangkah mundur perlahan,
satu langkah dua langkah gemetar.
Bayu tanpa kata yang tak perlu, langsung memukul leher pak Herman.
"Buk" pukulan itu tertahan oleh tangan.
Bukan tangan pak Herman, melainkan tangan salah satu orang yang memakai topi.
Orang itu tersenyum pada Bayu.
"Menyingkirlah, aku gak ingin melukai kalian" mata Bayu menyipit.
Dari arah cendela, masuk dua orang lagi.
Bayu mengenal wajah-wajah ketiga orang ini.
"Bos ingin menangkap orang ini" jawab salah satu dari mereka.
Bayu terdiam dan juga tak marah, wajahnya datar tanpa ekspresi hanya menatap lurus ke depan.
"Pantas sebagai cucu bos", ucap mereka tiba-tiba menyerang.
Bayu menahan tinju itu dengan satu tangan, namun yang lain menyerang lagi, serangan itu hampir bersamaan hanya selisih beberapa detik saja, itulah Bayu, ia sanggup menghindari serangan demi serangan itu dengan cermat.
Pertarungan terus berjalan hampir seimbang, walau Bayu dikeroyok tiga orang pembunuh bayaran elit.
Namun tanpa disadari oleh mereka, pak Herman telah menghilang dari ruangan melarikan diri.
Setelah menghadapi pertarungan sengit yang hampir membutuhkan setengah jam tanpa pemenang, walau lawan sudah sedikit terluka memar, sedang Bayu masih bersih tanpa luka.
Bayu lebih memilih lari menghindari pertarungan yang bisa jadi lama dan melelahkan tanpa keuntungan.
"Orang-orang ini, demi menahanku bahkan melepaskan mangsa", Bayu dengan cepat memecah kaca cendela melarikan diri.
Kali ini penangkapannya gagal.
.........
Di dalam mobil.
Pak Herman meremas kertas pidato ditangannya, "periksa mereka, siapa yang menyuruh mereka" teriaknya pada tangan kanannya.
Kejadian malam itu tersebar di berita nasional membuat namanya semakin melejit.
Polisi memeriksa semua calon walikota saingannya, namun tak ada bukti yang failed mengarah kepada mereka sebagai rival.
...........
Tiga hari berlalu setelah kejadian itu.
Pagi itu Bayu berjalan santai di taman,
Jalan pagi sebagai aktivitas hidup sehat.
Langkahnya berhenti saat melihat Vivi yang tiba-tiba datang menghampiri dirinya.
"Aku tahu hubunganmu dengan Anita kini gak baik-baik saja".
Bayu masih terdiam tanpa menjawab satu kata.
"Tapi lebih baik memang seperti itu" lanjutnya lagi.
Bayu mengangkat kedua Alisnya, kata itu sedikit membuatnya terkejut, bisa jadi orang didepannya ini sudah mengetahui sedikit identitasnya.
Namun Bayu masih terdiam, menunggu Vivi melanjutkan ucapannya.
Vivi tersenyum, "semalam aku bertemu April tanpa sengaja, katanya kamu bangkrut, sudah gak sekaya dulu", Vivi menyipitkan matanya, "dan aku langsung menemui Anita, tapi aku bersyukur, ternyata kamu orang yang sadar diri tanpa memberi tahu kebenaran pada Anita, kamu lebih memilih pergi dari kehidupannya", lanjutnya.
Bayu sudah menangkap dan mencerna kemana arah perkataan itu, ia tersenyum, "jika udah gak ada perlu, maka menyingkirlah dari pandanganku" jawab Bayu dingin.
Vivi mengerutkan kening.
Bayu melanjutkan aktivitasnya.
"Dasar orang kaya yang baru jatuh, tetap aja sombong walau udah gak punya apa-apa" grutunya pelan dengan lirikan tajam dan sinis.
Bersambung.