Nayara Almeera adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, wanita yang saat ini sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri setelah drama dikhianati oleh kisah masa lalunya membuat Nayara menjadi sosok yang lebih tertutup.
Sampai akhirnya sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, mempertemukan Nayara dengan Adrian seorang CEO yang lebih tenang, dewasa dan sulit untuk ditebak atas akan yang dilakukan olehnya.
Berawal dari sebuah kesepakatan yang perlahan berubah menjadi sebuah kisah yang tidak pernah
Nayara bayangkan.
Mendapatkan kasih sayang dan dicintai dengan cara yang begitu tulus, tanpa Nayara sadari perjodohan itu tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga telah mengubah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Full Narasi Lagi Penyesalan Yang Datang Terlambat
Pintu ruang meeting kini tertutup perlahan sempurna dibelakang tubuh Kevin, langkah terasa berat saat ia berjalan perlahan menyusuri koridor kantor Almeera Group.
Suasana kantor tetap berjalan seperti biasanya, sibuk dengan segala aktivitas yang tidak ada habisnya. Beberapa karyawan berjalan cepat dengan tangan yang membawa dokumen, suara obrolan terdengar samar bahkan telpon berdering nyaring dibeberapa ruangan.
Semua terlihat normal namun bagi Kevin, dunia seolah mendadak menjadi sunyi. Suara-suara disekelilingnya seperti menjauh, yang tersisa hanya gema kalimat Damar yang terus berputar dikepalanya.
" Aku melihat adikku menangis karena kamu"
Langkah Kevin terhenti sesaat, dadanya terasa sesak bahkan. Kalimat yang keluar dari mulut Damar sederhana, namun menghantam jauh lebih keras dari amarah. Karena Damar tidak berteriak, tidak mengambil, apalagi melakukan kekerasan kepada Kevin. Tapi, justru ketenangan itulah yang membuat semuanya terasa lebih menyakitkan.
"Aku melihat adikku menangis karena kamu"
Kalimat itu terus berputar dikepala Kevin secara berulang, dan setiap kali terngiang dadanya terasa semakin sesak. Kevin selalu tahu bahwa ia pernah menyakiti Nayara begitu dalam, ia telah mengkhianati perempuan terbaik yang pernah ia miliki.
Tapi mendengar luka itu dari sudut pandang keluarganya, membuat Kevin merasa semua terasa lebih nyata dari apa yang selama ini ia bayangkan. Bukan hanya Nayara yang terluka, ternyata keluarganya ikut merasakan, menyaksikan, Dan Kevin benar-benar baru menyadarinya sekarang.
Kevin masuk kedalam lift dengan langkah yang lemas, saat pintu lift tertutup Kevin bersandar di dinding logam tepat dibelakangnya. Tangannya meremas tas kerja, matanya menatap kosong kedepan, pikirannya penuh apalagi setiap kata Damar yang keluar begitu tajam.
" Penyesalanmu sudah terlambat"
Kevin memejamkan matanya, dadanya terasa sesak karena ia tahu... apa yang diucapkan oleh Damar itu kenyataan.
Aku memang terlambat bahkan sangat terlambat menyadari siapa Nayara,
Terlambat menghargai cintanya yang begitu tulus dan besar,
Kini, semua sudah terlambat untuk diperbaiki.
Saat pintu lift terbuka, Kevin melangkahkan kakinya menuju parkiran basement. Setiap langkahnya terasa berat, bukan karena rasa lelah tapi Karana hatinya dipenuhi rasa bersalah.
Begitu masuk kedalam mobil Kevin langsung termenung dibalik kemudi, tangannya menggenggam setir tapi tidak ada pergerakan lainnya. Tatapannya kosong menatap kaca depan, bayangan Nayara dimasa lalu kini terlihat jelas dihadapannya sebagai penguat bukti kebodohannya dimasa lalu.
Kevin masih ingat saat Nayara selalu ada untuknya,
Saat ia sibuk, Nayara menunggu tanpa mengeluh,
Saat ia marah, Nayara dengan sabar mengalah,
Saat ia dingin, Nayara tetap bertahan,
Dan dulu semua itu terasa biasa saja.
Seolah cinta dari Nayara akan selalu ada apapun yang terjadi, seolah ia bebas memperlakukan Nayara semaunya. Dan justru karena merasa selalu memiliki, Kevin tidak pernah benar-benar menghargai Nayara.
Aku pikir dia akan selalu ada, itulah kesalahan terbesarku. Aku terlalu yakin jika Nayara tidak akan pergi, aku terlalu percaya diri bahwa Nayara akan selalu memaafkan apapun kesalahanku. Sampai akhirnya aku nelikai perasaan Nayara terlalu dalam... Dan ia pergi.
Setelah kehilangan Kevin baru menyadari bahwa penyesalan itu perasaan yang nyata, kini wajah Nayara sesaat terakhir bertemu terlintas dipikirannya, begitu tenang, dingin, bahkan jauh dari kesan lembut yang dulu hanya untuknya.
Tidak ada lagi tatapan penuh cinta, yang ada hanyalah perempuan yang telah sembuh dan kesadaran itu menghancurkannya.
Dia benar-benar sudah pergi, bukan hanya secara fisik tapi hatinya benar-benar sudah pergi... Tidak ada lagi ruang untukku dihati Nayara.
" Dia sudah menikah"
Kalimat sederhana itu begitu tegas dan sudah final, kini setelah pembicaraan dengan Damar berakhir Kevin semakin sadar bahwa pernikahan Nayara bukan hanya sebuah status saja.
Nayara benar-benar sudah bahagia, ia memiliki seseorang yang menjaganya dengan sangat baik dan ternyata orang itu bukan dirinya. Kevin tertawa kecil yang sangat pahit, matanya mulai panas, bahkan kini kedua tangannya menutup wajahnya dengan sempurna.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Kevin merasa benar-benar kalah, bukan kalah dari Adrian tapi kalah oleh kesalahannya sendiri.
Aku kehilangan perempuan terbaik karena kebodohanku sendiri, bukan karena orang lain merebutnya, bukan karena keadaan, tapi karena aku gagal menghargai apa yang telah aku miliki... Dan penyesalan itu kini sangat menyakitkan, karena tidak ada yang bisa disalahkan selain dirimu sendiri.
" Sekarang Nayara sudah sangat bahagia"
Dan anehnya kalimat itu membuat hatinya terasa sakit sekaligus lega, sakit karena ia tahu jika kebahagiaan itu bukan lagi bersamanya. Tapi, lega karena perempuan yang pernah ia sakiti akhirnya mendapatkan kebahagiaan yang layak ia dapatkan.
Kevin menyadarkan kepalanya ke kursi dengan mata yang menatap langit-langit mobil, air matanya jatuh pelan bukan sebuah tangisan keras. Hanya air mata sunyi yang lahir dari sebuah penyesalan yang datang terlambat.
Mungkin inilah hukuman dari menyia-nyiakan seseorang, saat kita sadar betapa berharganya dia... Ternyata dia sudah bahagia dengan orang lain. Dan kita hanya bisa hidup dalam penyesalan.
Damar benar kalau ia benar-benar menyesal maka ia harus benar-benar menjaga jarak, berhenti muncul apalagi berharap. karena kehadirannya hanya akan membuka luka lama, dan jika ia masih memiliki sedikit cinta untuk Nayara... Seharusnya ia membiarkan Nayara hidup dengan tenang.
T28J membaca kalimat terakhir itu dalam diam. Tentang cinta yang tidak sempurna. Tentang dua manusia yang tetap memilih bertahan. Tentang rumah… yang perlahan dibangun dari luka dan pengertian.
“Ini bukan sekadar akhir cerita. Ini bukti… bahwa karakter-karakter itu pernah hidup.”
“Dan sebagai sesama pencipta dunia… aku tahu tidak mudah membawa mereka sampai sejauh ini.”
Terakhir, T28J menatap langit kosong.
“Selamat.”
“Duniamu berhasil menyentuh seseorang.”
“…jadi begini rasanya.” Ia berdiri, menghela napas panjang. “Ceritamu… tidak sempurna.”
Sejenak, ia terdiam. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis. “Tapi justru itu yang membuatnya hidup.”
Liora mengangkat tangannya. Lima cahaya kecil muncul satu per satu di udara.
★ ★ ★ ★ ★
“Ambil ini.” Ia menatap lurus ke depan. “Teruskan ceritamu. Aku akan membaca sampai akhir.”
—T28J