Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).
Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."
Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.
Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.
"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.
Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Bos vs Akuntan
"Geser," perintah suara bariton itu dengan nada mutlak tanpa bisa dibantah sedikitpun oleh lawan bicaranya.
Aluna mematung terkejut luar biasa. Belum sempat memungut sumpitnya yang jatuh berbunyi nyaring ke lantai keramik, tubuh jangkung Elvano sudah menyempil paksa duduk di kursi panjang bersamanya. Pria itu meletakkan map biru tebal dengan bantingan sangat keras di antara piring daging mentah dan saus celup.
"Bapak ngapain ke mari beneran?!" desis Aluna panik setengah mati, menatap horor bosnya yang tampak sangat salah tempat berada di restoran penuh asap panggangan daging ini.
Elvano mengabaikan protes asistennya. Mata tajam bagai elang miliknya menembak lurus ke pria berkacamata di seberang meja. Dika menelan ludah, refleks memundurkan punggungnya menempel erat ke sandaran kursi.
"Jadi ini alasan kamu mematikan teleponku dan mengabaikan selisih dua ribu perak milik perusahaan?" tanya Elvano sinis, memindai Dika dengan pandangan menilai. "Siapa kamu?"
"Selamat malam, Pak Elvano. Namaku Dika," sapa Dika kikuk, mengulurkan tangan kanannya yang gemetar melintasi meja pemanggang. "Aku sepupunya teman Elora. Kerjaku akuntan pajak."
Elvano tidak sudi menyambut uluran tangan itu. Dia bersedekap dada penuh arogansi. "Akuntan pajak? Coba kamu analisis efisiensi pengeluaran perusahaan jika debt to equity ratio (rasio utang terhadap ekuitas) menyentuh angka enam puluh persen di tengah lonjakan inflasi pasar."
Dika menarik tangannya canggung dan menyeka keringat di pelipis. "Itu tergantung sektor industrinya, Pak. Tapi biasanya risiko likuiditas perusahaan mulai tinggi."
"Jawaban dangkal," potong Elvano tajam tanpa ampun. "Kamu sama sekali tidak memperhitungkan opportunity cost (biaya peluang) dari pemotongan pajak bunga pinjaman. Pantas saja kamu cuma bisa traktir karyawanku di tempat makan kelas menengah ini."
"Pak! Jangan sembarangan ngehina orang ya!" bela Aluna memukul lengan kemeja hitam Elvano cukup keras. "Mas Dika ini orang baik sekali! Dia mau bayarin aku makan daging sepuasnya malam ini! Bapak malah datang tiba-tiba dan merusak suasana bahagia orang lain!"
"Membayari makan malam dengan gaji yang cuma setara harga satu buah ban mobilku?" cibir Elvano sadis. Dia mencondongkan tubuhnya, menatap Dika mengintimidasi. "Jujur padaku, Dika. Bagaimana profil risiko investasimu? Tipe konservatif kuno yang hanya menimbun uang di deposito bank? Atau berani bermain di pasar saham blue chip (saham lapis satu)?"
Dika semakin pucat pasi. Keringat dingin menetes deras dari pelipisnya. Kencan buta ini mendadak berubah menjadi sidang skripsi paling mengerikan sedunia.
"A-aku lebih suka menabung di reksadana pasar uang, Pak. Jauh lebih aman dan stabil," jawab Dika terbata-bata menahan rasa gugup.
Elvano tertawa pendek penuh ejekan. "Reksadana pasar uang? Itu murni tempat penampungan orang pengecut yang takut miskin tapi sama sekali tidak mau repot kaya. Return on investment (tingkat pengembalian investasi) kamu pasti sangat menyedihkan. Bagaimana menjamin masa depan panjang kalau melawan inflasi tahunan saja kalah telak begini?"
Aluna melotot lebar mendengarnya. "Pak Elvano! Stop (berhenti) merundung anak orang pakai istilah ekonomi tingkat tinggi!"
Mental Dika hancur lebur. Akuntan muda itu buru-buru berdiri dari kursi, membereskan tas kerjanya dengan tangan bergetar hebat.
"Maaf banget, Aluna. Aku baru saja ingat ada laporan pajak klien besar yang harus dikirim malam ini juga ke pusat," pamit Dika terburu-buru, suaranya pecah karena ketakutan. "Aku terpaksa pamit pulang duluan sekarang. Permisi, Pak Elvano."
Tanpa menoleh lagi, Dika berlari keluar dari restoran seperti dikejar anjing gila. Dia bahkan berlari melewati meja kasir begitu saja.
Aluna mematung diam. Matanya menatap kosong punggung Dika yang menghilang sangat cepat, beralih menatap tagihan panjang di sudut meja, lalu menatap nanar tumpukan daging mentah yang belum dibakar.
Hening sejenak menyelimuti. Hanya terdengar suara mendesis keras dari panggangan tembaga.
Elvano merapikan kerahnya dengan raut wajah puas tiada tara. "Nah, pengganggu jam kerja sudah pergi. Buka map biru ini dan jelaskan padaku soal selisih nota itu."
Bukannya menuruti perintah, Aluna justru mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di pangkuan. Wajah cantiknya memerah padam seketika, urat lehernya menonjol jelas. Emosinya benar-benar meledak menembus ubun-ubun.
"Bapak..." desis Aluna dengan suara bergetar hebat menahan amarah.
"Ya? Ada apa lagi sekarang?" tanya Elvano sangat polos tanpa dosa.
"Mas Dika kabur sebelum ke kasir! Padahal janjinya malam ini dia yang traktir biar aku bisa makan gratis!" jerit Aluna menggelegar hebat, sama sekali tidak peduli pada tatapan aneh para pengunjung restoran lain di sana. "Sekarang siapa yang harus bayar tagihan sepanjang jalan kenangan ini?! Aku nggak bawa uang lebih! Makan gratisanku hancur berantakan total karena mulut pedas Bapak! Bapak harus bayar tagihan ini dan Bapak berutang satu kali makan enak sama aku! Ganti rugi sekarang juga!"
🤣🤣🤣🤣🤣
kasihan tu artis ny (elvano) salah skrip ,, 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
aduuh aduuuh malu nyaaaaaa🤣🤣🤣🤣🤣
astaga naga.....yang bener aja...
tanya mbah gogo......?