NovelToon NovelToon
Zayn'S Obsession

Zayn'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ValerieKalea

Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam yang Dipenuhi Peluru

Malam itu terasa semakin gelap saat dua mobil melaju cepat menuju ujung kota. Jalanan mulai sepi, lampu-lampu perkotaan perlahan menghilang, berganti gang panjang yang nyaris tidak tersentuh manusia. Di tengah dinginnya malam, satu hal memenuhi kepala Zayn, Aurora harus selamat, apa pun yang terjadi malam ini.

Di dalam mobilnya, Zayn menekan earphone kecil di telinganya. Alat komunikasi itu langsung tersambung dengan anak buahnya.

“Evan” suara Zayn dingin.

“Ya, Bos.”

“Bawa beberapa orang ke alamat yang gue kirim. Hati-hati. Jangan sampai ketahuan kalau kita bawa pasukan.”

“Siap.”

Telepon langsung terputus.

Mobil Zayn terus melaju di depan, sementara mobil Rakha mengikuti dari belakang. Semakin jauh mereka masuk ke wilayah pinggir kota, suasana semakin sunyi.

Hingga akhirnya dua mobil itu berhenti di depan sebuah bangunan besar.

Markas Retno berdiri megah di ujung gang gelap tanpa lampu jalan. Gedung dua lantai itu didominasi warna hitam dengan sentuhan emas di beberapa sisi dindingnya. Dari luar terlihat mewah, tapi juga menyeramkan.

Rakha turun lebih dulu.

Zayn menyusul sambil membenarkan topeng hitamnya.

Belum sempat mereka melangkah jauh, beberapa anak buah Retno sudah menghadang di depan pintu masuk.

“Saya mau ketemu Retno” ucap Zayn dingin.

Salah satu pria itu tersenyum tipis, “Bos sudah nunggu.”

Ia lalu menyingkir sedikit, “Silakan langsung ke ruang utama.”

Rakha dan Zayn berjalan masuk.

Lorong markas itu remang-remang. Suasana di dalam terasa dingin dan sunyi.

Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan luas yang biasa dipakai berkumpul dan membahas rencana.

Dan saat itulah langkah Zayn langsung terhenti.

Aurora terbaring di atas sofa.

Tangan dan kakinya terikat. Matanya tertutup. Tubuhnya sama sekali tidak bergerak.

“Aurora…” gumam Zayn pelan.

Retno duduk santai di kursi sambil menyilangkan kaki.

Zayn langsung menatap tajam, “Lo apain dia?”

Nada suara Zayn jelas dipenuhi amarah.

Retno malah tersenyum santai, “Dia terlalu berisik. Dari tadi minta dilepasin terus.”

“Jadi gue kasih obat bius lagi.”

Rahang Zayn langsung mengeras, “Lo sadar kebanyakan obat bius itu bahaya?”

Retno mengangkat bahu santai, “Tau.”

“Tapi gue nggak peduli.”

“Kalau dia kenapa-kenapa juga bukan urusan gue.”

Tatapan Zayn berubah semakin gelap.

Sementara itu Rakha sedari tadi hanya memperhatikan Retno dengan tatapan penuh benci.

Ia akhirnya melangkah maju sedikit.

“Kenapa?” tanya Rakha tiba-tiba.

Retno menoleh santai.

“Kenapa lo bunuh ayah gue?” lanjut Rakha.

Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin.

Rakha berusaha menahan emosinya, meskipun suaranya mulai bergetar marah, “Ayah gue nggak pernah punya masalah sama lo.”

Retno tersenyum kecil, “Karena gue punya masalah sama keluarga kalian.”

“Nggak cuma keluarga lo. Tapi juga keluarga Zayn.”

Rakha mengernyit kesal, “Keluarga gue nggak pernah ganggu siapa-siapa.”

“Gue bahkan nggak kenal lo.”

Retno tertawa pelan, “Itulah masalahnya.”

“Dua keluarga kalian terlalu besar. Terlalu kuat. Dan terlalu sulit disingkirkan.”

Zayn yang berdiri di dekat Aurora tiba-tiba berbisik pelan ke Rakha.

“Dia keluarga terkaya nomor tiga.”

Rakha langsung tertawa sinis, “Oh…” gumamnya.

“Jadi cuma iri.”

Retno menatap tajam.

Rakha malah semakin santai, “Pantes aja.”

“Mau usaha sekeras apa pun tetep kalah sama keluarga gue dan keluarga Zayn.”

Wajah Retno mulai berubah.

Rakha menambahkan lagi dengan nada mengejek, “Bukan kita yang bermasalah.”

“Lo aja yang iri.”

“Makanya sibuk jatuhin orang lain.”

Retno langsung berdiri, “Jaga mulut lo.”

Rakha tertawa miring, “Kenapa? Kepanasan?”

“Kalau mau kaya ya kerja keras. Bukan malah kayak orang gagal yang sibuk ngurusin hidup orang.”

“ANAK KECIL!” bentak Retno marah.

Ia melangkah mendekati Rakha.

Dan di saat bersamaan, Rakha diam-diam melirik Zayn.

Tatapan itu memberi isyarat singkat.

Zayn langsung mengerti.

Pelan-pelan Zayn mendekati sofa tempat Aurora terbaring. Retno terlalu fokus pada Rakha.

Dan saat jarak mereka cukup jauh. Zayn langsung mengangkat tubuh Aurora ke dalam gendongannya lalu berlari keluar ruangan.

“BRENGSEK!” teriak Retno sadar.

Beberapa anak buah Retno langsung mengejar.

Zayn hampir keluar markas saat puluhan pria menghadangnya sambil mengarahkan pistol.

Tangannya tidak bisa bebas menyerang karena menggendong Aurora.

Zayn langsung menekan earphone di telinganya.

“Sekarang. Keluar.”

Dan dalam hitungan detik, suara tembakan meledak dari luar markas.

Dor!

Dor! Dor!

Anak buah Zayn bermunculan dari berbagai sudut gelap bersama Evan di garis depan. Peluru melesat tanpa henti, memecah malam yang sunyi. Anak buah Retno langsung panik dan membalas serangan. Suasana berubah kacau. Pecahan kaca berserakan. Suara langkah kaki dan tembakan bercampur jadi satu. Beberapa pria tumbang di lantai, sementara sisanya terus saling menyerang tanpa ampun.

Di tengah kekacauan itu, Zayn berhasil membawa Aurora keluar.

Ia membuka pintu mobil belakang dan merebahkan Aurora dengan hati-hati di kursi penumpang belakang.

Zayn menatap wajah Aurora beberapa detik.

Dadanya terasa sesak melihat gadis itu tak sadarkan diri. Namun ia tidak punya waktu lama.

“Apa gue tinggalin dia…” batin Zayn ragu.

Tapi masalah itu belum selesai, dan Zayn harus menyelesaikannya.

Zayn kembali menekan earphone, “Lynda. Ke mobil gue.”

Tak lama kemudian, seorang wanita datang menghampiri.

Lynda memiliki rambut hitam panjang yang diikat rendah rapi. Tatapannya tajam dan dingin. Tubuhnya tinggi dengan pakaian serba hitam yang membuat auranya terlihat tegas. Wajahnya cantik, tapi ekspresinya sulit ditebak. Ia termasuk salah satu orang paling dipercaya Zayn karena kemampuannya yang tenang dalam situasi berbahaya.

Zayn menutup pintu mobil, “Jaga dia.”

“Jangan sampai Aurora kenapa-napa lagi.”

Lynda hanya mengangguk singkat.

Zayn menatap Aurora sekali lagi sebelum akhirnya kembali masuk ke markas.

Sementara itu, Lynda berdiri di dekat mobil sambil melihat Aurora melalui kaca jendela. Tatapannya dingin.

“Cuma sekretaris…” gumam Lynda pelan.

“Kenapa harus sampai segininya.”

Baginya, Aurora hanyalah gadis biasa yang terlalu merepotkan.

Dan ia tidak mengerti kenapa Zayn bisa terlihat sekhawatir itu.

Di dalam markas, suasana semakin kacau.

Dor!

Seorang anak buah Retno menembak ke arah Zayn.

Namun Zayn bergerak cepat.

Dor!

Satu peluru langsung mengenai pria itu tepat di dada.

Zayn terus berjalan tanpa ragu. Setiap peluru yang ia lepaskan selalu mengenai sasaran.

Satu peluru. Satu orang tumbang.

Tatapannya dingin tanpa ampun.

Tak lama kemudian ia kembali sampai ke ruang utama.

Rakha dan Retno sedang baku hantam.

“Pak tua bajingan!” bentak Rakha sambil menghantam Retno.

Retno membalas pukulan itu dengan keras.

Zayn awalnya hanya melihat.

Namun saat salah satu anak buah Retno diam-diam mengarahkan pistol ke arah Rakha.

Dor!

Zayn menembak tangan pria itu lebih dulu hingga pistolnya jatuh.

Rakha langsung menoleh.

Dan tanpa banyak bicara, Zayn berdiri di samping Rakha, melindunginya dari arah belakang.

Peluru kembali melesat dari berbagai arah.

Zayn bergerak cepat menembak satu per satu anak buah Retno yang mencoba mendekat.

Sementara Rakha terus menghajar Retno tanpa menahan emosinya.

“Lo cuma tua bangka iri!” bentak Rakha.

“Bisanya jatuhin orang!”

Retno marah besar dan kembali menyerang.

Mereka saling pukul tanpa ampun.

Dan malam itu, dendam sepuluh tahun akhirnya benar-benar pecah di tempat yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!