NovelToon NovelToon
A Feeling Rising In Chaos

A Feeling Rising In Chaos

Status: tamat
Genre:Sci-Fi / Misteri / Hari Kiamat / Fantasi / Romansa / Action / Tamat
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.

Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga Puluh Tiga — Kehidupan yang Baru

Selamat membaca semoga kalian suka dengan ceritaku yaa

Setelah melewati begitu banyak ujian, luka, dan kehilangan, Kota Ceria tidak lagi hanya menjadi tempat berlindung. Ia tumbuh menjadi simbol.

Awalnya mereka hanya menerima para penyintas dari kota-kota sekitar. Lalu kabar tentang kota kecil yang damai tanpa tirani itu menyebar lebih jauh–menembus perbatasan, bahkan sampai ke luar negeri.

Beberapa datang dengan kapal kecil.

Beberapa berjalan berbulan-bulan.

Beberapa membawa cerita yang tak kalah kalem.

Dan untuk pertama kalinya, warga Kota Ceria tidak menutupi diri.

Mereka berkumpul di balai kota—yang kini jauh lebih besar dari meja kayu pertama milik Vino dulu. Di sana, Jay dan yang lain menceritakan semuanya.

Tentang Kota Abadi

Tentang eksperimen.

Tentang manusia-manusia ambisi yang menganggap nyawa sebagai data.

Tentang Kanihu.

Tentang raksasa.

Tentang pilihan.

Mereka tidak menghapus bagian menyakitkan dari cerita itu, karena justru dari situlah maknanya lahir.

Anak-anak muda mendengarkan dengan mata membesar. Orang-orang tua mengangguk pelan, memahami harga dari kebebasan yang kini mereka rasakan. Kota Ceria menjadi lambang kemenangan—bukan karena mereka memusnahkan semua musuh, melainkan karena mereka memilih tidak menjadi musuh mereka.

Negara mereka memang hancur.

Sistemnya runtuh.

Namun dari puing-puing itu lahir satu kota kecil yang berdiri bukan atas kesempurnaan, melainkan atas penerimaan. Mereka tidak lagi menyebut makhluk-makhluk itu “tak sempurna”. Karena mereka tahu—ketidaksempurnaanlah yang membuat seseorang tetap manusia.

Arsya sering berdiri di depan warga baru, menceritakan bagaimana ia pernah hampir membenci segalanya. Jay selalu di sampingnya, tidak lagi perlu bersembunyi menggenggam tangannya. Max juga mengajarkan literasi dan sejarah agar generasi berikutnya tidak mudah dibutakan ambisi.

Niki memastikan teknologi digunakan seperlunya—tanpa pengawasan tersembunyi. Vano menjaga sistem pemerintahan tetapi terbuka dan transparan. Dan setiap kali ada pendatang baru bertanya, “bagaimana kalian bisa bertahan?”

Jawaban mereka selalu sama:

“Kami tidak bertahan sendirian.”

Di kejauhan, matahari terbenam di atas Kota Ceria. Tawa anak-anak bercampur dengan suara pasar sore.

Tidak ada sirine.

Tidak ada ruang steril.

Tidak ada chip dalam kepala siapa pun.

Hanya manusia—dengan segala luka dan harapan mereka yang memilih hidup berdampingan. Dan itulah kemenangan sesungguhnya.

Kota Ceria semakin ramai dari hari ke hari.

Arsya berdiri di depan papan besar bertulisan “PENDAFTARAN TENAGA PEMBANGUNAN – KOTA AMAN”. Kota Aman adalah wilayah baru yang sedang mereka siapkan—letaknya cukup jauh, bekas kota kecil yang masih menyisakan banyak bangunan layak pakai.

“Yang punya pengalaman bangunan, tulis di kolom ini ya!!” ujar Arsya sambil menunjuk daftar.  “Yang mau tim logistik, nanti kumpul sama Regan.”

“Tim pengambilan barang bekas pakai, berangkat besok pagi!”

Ia bergerak cepat dari satu orang ke orang lain. Rambutnya diikat tinggi, wajahnya serius tapi tetap hangat.

Jay memperhatikan dari kejauhan, senyumnya tidak pernah lepas. Dengan langkah pelan, ia mendekat. Lalu—tanpa banyak bicara, ia menarik pelan pergelangan tangan Arsya.

“Sya, sebentar.”

Arsya menoleh, masih memegang buku daftar. “Apa? Aku lagi—” belum selesai bicara, beberapa warga yang melihat langsung bersorak. “Wihh… ka Arsya mau dibawa ke mana, Bang Jay?”

“Jangan digantung dong, kayak jemuran aja digantung!” timpal yang lain.

“Seriusin dong, kaa!! Banyak orang siap jadi pendeta nih!” celetuk seorang ibu sambil tertawa.

Gelak tawa langsung pecah. Arsya membeku sejenak pipinya memerah cepat. Jay malah tertawa lebar, tidak sedikit pun terlihat malu. “Ditunggu aja yaa…” balasnya santai.

Warga makin riuh.

Jay akhirnya berhasil membawa Arsya menjauh sedikit dari kerumunan ke sisi balai yang lebih sepi, di bawah pohon besar tempat mereka dulu sering duduk saat Kota Ceria masih setengah jadi. Arsya melipat tangan. “Cepat ya, aku masih banyak kerjaan.” jay menatapnya beberapa detik. Tatapan yang membuat Arsya salah tingkah.

“Kamu capek, istirahat dulu.” ujar Jay pelan.

“Aku biasa aja.”

“Kamu selalu bilang gitu.”

Hening sebentar.

Angin sore berhembus lembut, Jay mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya, sebuah cincin sederhana. Bukan emas mewah, hanya perak tipis dengan ukuran kecil berbentuk matahari simbol Kota Ceria.

Arsya membeku.

“Jay…”

“Aku ga mau nunggu sampai warga benar-benar cari pendeta,” katanya santai tapi suaranya lebih lembut dari biasanya. “Kita udah lewatin perang, eksperimen, raksasa, alpha, masa soal ini aja aku harus kalah berani?”

Arsya menahan nafas, Jay melangkah sedikit lebih dekat. “Kamu mau bangun Kota Aman bareng aku,” lanjutnya, “bukan cuma sebagai wakil pemimpin.. Tapi sebagai pasangan?”

Sunyi.

Beberapa warga yang ternyata diam-diam mengintip dari jauh langsung menahan nafas. Arsya, gadis itu menatap cincin itu lalu menatap pria yang berdiri di depannya. Air matanya menggenang bukan karena sedih melainkan bahagia dan lega.

Setelah semua kekacauan hidupnya, akhirnya ia sampai di titik di mana ia bisa memilih cinta tanpa rasa takut. Ia mengangguk, pelan.

Tapi pasti.

“Iya.”

Seketika sorakan meledak dari belakang pohon.

“WOOOOOOOOO!”

“Tuh kan bener!”

“Siapin kursi! Siapin makanan!”

Arsya menutup wajahnya karena malu, sementara Jay tertawa puas dan langsung memeluknya. “Eh jangan peluk lama-lama! Kalian belum resmi!” teriak seseorang.

Jay berbisik di telinga Arsya, “tenang. Yang penting kamu ga kabur.” Arsya terkekeh pelan. “Ke mana lagi aku harus pergi?”

Di tengah tawa warga dan langit senja yang hangat—Kota Ceria bukan hanya menjadi simbol kemenangan. Ia menjadi tempat lahirnya awal baru, masa depan tidak terasa menakutkan melainkan penuh janji.

Malam itu suasana rumah Jay jauh lebih ramai dari biasanya. Lampu ruang tamu menyala hangat, di atas meja sudah ada teh panas, pisang goreng, dan beberapa cemilan hasil dapur Arsya sore tadi.

Niki duduk paling depan, bersandar santai tapi wajahnya penuh ekspresi dramatis. “Asli ya,” katanya sambil menunjuk Jay, “aku tuh udah bosen lihat kalian mesra-mesra.”

Jay yang sedang menuang teh hanya mengangkat alis. “Oh ya?”

“Iya! Waktu Kanihu ngejar kita bertiga dan kita bersembunyi di rumah kosong, itu loh—di tengah bau darah dan suara aneh-aneh—mereka sempat-sempatnya gandengan tangan!” Niki mengangkat kedua tangannya lebay. “Aku pengen teriak, ‘WOI INI BUKAN WAKTUNYA!’ Tapi situasinya tidak memungkinkan!”

Ruangan langsung meledak tawa. Asa sampai menutup wajahnya. “Parah banget sih kalian, kak.” dazzle ikut menyahut, “Berarti cintanya tahan uji, Nik.”

“Bukan tahan uji, itu nekat!” balas Niki cepat. “Aku trauma tau lihatnya!”

Jay tertawa lebar. “Kamu aja yang jomblo kebanyakan komentar.”

“EH!” Niki langsung menunjuk dirinya sendiri. “Ini bukan soal jomblo! Ini soal profesionalisme di medan perang!” Regan yang duduk santai hanya menggeleng sambil tersenyum. “Padahal kamu juga sempat senyum-senyum waktu itu.”

“Itu reflek!” bantah Niki cepat, membuat Vano dan Vino ikut terkekeh. Di tengah keramaian itu, Lyno duduk agak diam. Tatapannya mengarah pada Jay. bukan tatapan benci, bukan curiga, tapi serius.

Jay menyadarinya. “Kenapa?” tanya Jay pelan.

Lyno mengingat sore tadi. Saat ia pulang membantu di ladang, ia melihat kakaknya di dapur. Arsya memasak seperti biasa, tenang dan sederhana. Namun ada yang berbeda.

Di jarinya terpasang cincin kecil, dan senyum kakaknya.. Berbeda. Lebih ringan dan lebih bahagia.

“Aku cuma mau tanya satu,” ujar Lyno akhirnya.

Ruangan sedikit lebih hening.

“Kak Jay serius kan?”

Niki langsung bersiul pelan. “Wih, sidang ipar.” Jay tidak bercanda kali ini, ia duduk lebih tegak. “Serius.”

Satu kata. Tegas.

Lyno menatapnya lama. “Kakakku sudah banyak kehilangan,” lanjut Lyno pelan. “Aku nggak mau dia kehilangan lagi.” Jay mengangguk pelan, “aku juga nggak mau.”

Hening sebentar.

Lalu Jay menambahkan, lebih lembut, “Aku ga janji hidup kita bakal selalu mudah. Tapi aku janji, dia ga akan jalan sendirian lagi.”

Tatapan Lyno akhirnya melunak. Ia mengangguk kecil, “kalau gitu…” katanya, lalu sedikit tersenyum, “aku titip kakakku.”

Niki langsung berdiri pura-pura terharu. “YA AMPUN INI ADEGAN KELUARGA BANGET!!” Asa melempar bantal ke arah NIki. “Duduk kamu!”

Tawa kembali memenuhi ruangan.

Terima kasih sudah membaca jangan lupa tinggalkan jejak support aku dengan klik Like dan Vote yaa

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!